Ketika bayi baru lahir mengalami perubahan warna kulit menjadi kekuningan, orang tua tentu akan merasa khawatir. Penyakit kuning sendiri cukup umum terjadi pada bayi baru lahir dan dalam banyak kasus dapat membaik seiring tubuh bayi beradaptasi. Namun, ada kemungkinan kondisi tersebut disebabkan oleh bilirubin tinggi pada bayi.
Kadar bilirubin yang terlalu tinggi pun perlu dipantau agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Lantas, apa yang menyebabkan bilirubin bayi meningkat? Apa efeknya jika kadarnya terlalu tinggi? Berikut penjelasan yang perlu Anda ketahui!
Apa Itu Bilirubin Tinggi pada Bayi? (Bayi Kuning)
Bilirubin adalah zat berwarna kuning yang terbentuk ketika tubuh memecah sel darah merah yang sudah tidak diperlukan. Setelah terbentuk, bilirubin akan diproses oleh hati, lalu dikeluarkan dari tubuh melalui empedu dan tinja.
Pada bayi baru lahir, fungsi hati masih berkembang, sehingga proses tersebut belum berjalan sebaik pada anak yang lebih besar atau orang dewasa. Akibatnya, bilirubin bisa menumpuk sementara di dalam darah dan membuat kulit atau bagian putih mata bayi terlihat kekuningan.
Dalam dunia medis, kondisi ketika kulit dan mata bayi tampak kuning disebut jaundice atau ikterus neonatorum. Pada kebanyakan bayi, kondisi tersebut hanya berlangsung sementara dan akan membaik seiring tubuh bayi beradaptasi. Namun, ada pula kasus di mana kadar bilirubin terlalu tinggi sehingga perlu mendapat perhatian khusus.
Penyebab Bilirubin Tinggi pada Bayi
Kondisi bilirubin tinggi pada bayi sebenarnya bukan berarti membahayakan. Sebagian besar bersifat ringan dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, ada beberapa kasus yang tidak bisa diabaikan. Anda pun harus memahami apa saja penyebab kondisi tersebut bisa terjadi.
1. Perkembangan Hati yang Belum Matang
Seperti yang sudah disinggung, salah satu alasan bayi lebih mudah mengalami peningkatan bilirubin adalah karena fungsi hatinya masih berkembang. Hati bertugas memproses bilirubin agar zat tersebut dapat keluar dari tubuh. Pada bayi baru lahir, proses ini belum berjalan sebaik orang dewasa.
Akibatnya, bilirubin bisa menumpuk sementara di dalam darah dan membuat kulit bayi terlihat kuning. Namun, seiring bertambahnya usia, fungsi hati akan semakin matang, sehingga kemampuan tubuh untuk memproses dan membuang bilirubin juga menjadi lebih baik.
2. Kurang Mendapatkan Asupan ASI
Pada beberapa hari pertama setelah lahir, bayi masih belajar menyusu sehingga terkadang asupan ASI belum cukup. Ketika asupan kurang, bayi menjadi lebih jarang buang air besar. Padahal, bilirubin yang sudah tubuh proses akan dikeluarkan melalui tinja.
Akibatnya, bilirubin dapat lebih lama berada di dalam tubuh dan membuat kulit bayi terlihat kuning. Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan sebagai penyebab bilirubin tinggi pada bayi.
Menurut American Academy of Pediatrics, bayi yang menyusu sebaiknya mendapatkan ASI sekitar 8–12 kali sehari selama beberapa hari pertama. Frekuensi menyusu yang cukup akan membantu memastikan bayi mendapatkan asupan yang mereka butuhkan sekaligus mendukung proses pengeluaran bilirubin melalui tinja.
3. Sel Darah Merah Lebih Cepat Mengalami Pergantian
Bayi baru lahir memiliki jumlah sel darah merah yang cukup banyak. Setelah lahir, tubuh bayi mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar rahim sehingga sebagian sel darah merah tersebut akan terpecah dan terganti dengan sel baru. Proses pemecahan inilah yang menghasilkan bilirubin.
Karena itu, salah satu penyebab bilirubin tinggi pada bayi adalah pemecahan jumlah bilirubin yang terbentuk jauh lebih banyak daripada yang mampu diproses dan dikeluarkan oleh tubuh. Kondisi ini umumnya menjadi bagian dari proses normal setelah bayi lahir, tetapi kadarnya tetap perlu mendapat perhatian.
4. Golongan Darah Ibu dan Bayi Tidak Cocok
Perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi juga dapat menjadi salah satu alasan bilirubin tinggi pada bayi. Pada kondisi tertentu, antibodi dari ibu dapat menyerang sel darah merah bayi sehingga sel tersebut lebih cepat rusak.
Kondisi ini dikenal sebagai ketidakcocokan golongan darah, termasuk inkompatibilitas ABO atau Rh. Karena sel darah merah yang terpecah menjadi lebih banyak, bilirubin pun dapat meningkat. Jika dokter mencurigai kondisi ini, bayi biasanya akan mendapatkan pemeriksaan dan pemantauan sesuai kebutuhannya.
5. Kandungan Tertentu Dalam ASI
Kondisi yang disebut breast milk jaundice adalah ketika bayi tetap mengalami kuning meskipun sudah mendapatkan ASI dengan baik dan pertumbuhannya berjalan sesuai harapan.
Kondisi ini berbeda dengan bayi yang kuning karena kurang mendapatkan asupan. Pada breast milk jaundice, bayi umumnya tetap menyusu dan tumbuh dengan baik, namun ada kandungan tertentu yang ada di dalam ASI yang memengaruhi cara hati bayi memecah bilirubin.
6. Infeksi, Gangguan Hati atau Penyumbatan Empedu
Selain berbagai kondisi yang umum terjadi setelah kelahiran, bilirubin tinggi pada bayi juga dapat disebabkan oleh masalah kesehatan tertentu. Misalnya, infeksi, gangguan pada fungsi hati, kelainan darah, atau gangguan pada saluran empedu yang membuat bilirubin sulit keluar dari tubuh.
Penyebab seperti ini perlu mendapat perhatian, terutama jika bayi tetap terlihat kuning dalam waktu yang lebih lama atau disertai tanda lain yang tidak biasa. Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab sebenarnya, sehingga langkah penanganannya dapat disesuaikan dengan kondisi bayi.
Efek Bilirubin Tinggi jika Tidak Ditangani
Meski tergolong kondisi yang tidak serius, Anda tetap harus waspada terhadap bilirubin. Sebab, ada beberapa efek bilirubin tinggi pada bayi yang cukup mengkhawatirkan jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Gangguan pendengaran, termasuk risiko kehilangan pendengaran secara permanen.
Gangguan pada gerakan dan fungsi otot.
Gerakan tubuh yang tidak terkendali atau tidak normal.
Cerebral palsy, terutama yang berkaitan dengan gangguan gerakan.
Gangguan perkembangan dan fungsi neurologis.
Kerusakan otak yang dapat bersifat permanen.
Kadar Bilirubin Normal Bayi Baru Lahir
Kadar bilirubin pada bayi baru lahir umumnya berada di sekitar 0,3–1,0 mg/dL dalam 24 jam pertama setelah kelahiran. Setelah itu, kadar bilirubin dapat meningkat seiring proses adaptasi tubuh bayi.
Sebagai gambaran, kadar bilirubin yang menjadi batas untuk pemberian fototerapi adalah lebih dari 15 mg/dL pada bayi usia 25–48 jam, lebih dari 18 mg/dL pada usia 49–72 jam, dan lebih dari 20 mg/dL pada bayi berusia lebih dari 72 jam.
Meski begitu, hasil pemeriksaan bilirubin tetap harus berdasarkan usia bayi dan kondisi kesehatannya. Jika kadar bilirubin meningkat hingga melewati batas yang ditentukan, dokter dapat mempertimbangkan fototerapi atau penanganan lain sesuai kondisi.
Cara Menurunkan Bilirubin (Fototerapi)
Salah satu cara menurunkan bilirubin tinggi pada bayi adalah melalui fototerapi. Dalam terapi ini, bayi ditempatkan di bawah lampu khusus yang memancarkan cahaya biru-hijau. Cahaya tersebut akan membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah tubuh keluarkan melalui urine dan tinja.
Selama fototerapi, bayi biasanya hanya mengenakan popok agar sebagian besar kulit dapat terkena cahaya. Mata bayi juga akan ditutup dengan pelindung khusus untuk menjaganya dari paparan cahaya. Pada kondisi tertentu, fototerapi dapat menggunakan perangkat tambahan seperti bantalan atau kasur yang juga memancarkan cahaya.
Fototerapi dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan bilirubin dan kondisi bayi, sehingga penggunaannya perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Selama terapi, kadar bilirubin biasanya dipantau secara berkala untuk memastikan pengobatan bekerja dengan baik dan kadar bilirubin terus menurun.
Selain itu, kulit bayi yang masih sensitif juga perlu mendapat perhatian selama perawatan, tujuannya untuk mencegah dan mengenali gejala dermatitis atopik pada bayi.
Pemeriksaan Penunjang untuk Deteksi Bilirubin Lebih Cepat
Mengetahui kadar bilirubin pada bayi dapat membantu orang tua dan tenaga kesehatan memahami kondisi kulit dan mata yang tampak kuning. Jika mengalami bilirubin tinggi, salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah Bilirubin Total (Neonatus) dari Bumame.
Pemeriksaan ini mengukur kadar bilirubin total pada bayi baru lahir untuk membantu mengevaluasi jaundice atau kondisi kuning pada kulit dan mata. Pemeriksaan ini tidak memerlukan puasa. Namun, orang tua tetap perlu menginformasikan obat, vitamin, atau suplemen yang rutin bayi dapatkan kepada tenaga kesehatan.
Hasil pemeriksaan dapat membantu dokter menentukan apakah bayi cukup dipantau atau membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Sebagai pemeriksaan pendamping, Bilirubin Direk Bumame juga dapat Anda lakukan untuk mengukur kadar bilirubin terkonjugasi.
Pemeriksaan ini dapat membantu dalam evaluasi fungsi hati dan saluran empedu. Dengan mempertimbangkan hasil bilirubin total dan bilirubin direk bersama kondisi bayi, dokter dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap dan menentukan langkah selanjutnya sesuai kebutuhan.
Kapan Harus Waspada dan ke Dokter?
Segera periksakan bayi ke dokter jika muncul tanda-tanda berikut.
Warna kuning terlihat dalam 24 jam pertama setelah lahir.
Warna kuning semakin pekat atau menyebar dari wajah ke dada, perut, lengan, hingga kaki.
Bayi tampak lemas, sulit bangun, atau tidak mau menyusu dengan baik.
Urine bayi berwarna gelap atau tinjanya terlihat pucat/keabu-abuan.
Warna kuning tidak membaik atau masih terlihat setelah 2 minggu, terutama pada bayi cukup bulan.
Jika bayi menunjukkan tanda di atas, sebaiknya jangan hanya mengandalkan perubahan warna kulit untuk memperkirakan kadar bilirubin. Pemeriksaan juga penting bila bayi menunjukkan tanda atau kondisi lain yang perlu diperhatikan, termasuk ciri-ciri bayi Down syndrome.
Pahami Tanda Bilirubin Tinggi pada Bayi!
Memahami bilirubin tinggi pada bayi dapat membantu orang tua mengetahui kapan kondisi kuning perlu diperiksa lebih lanjut. Selama kondisi mendapat penanganan yang tepat, tumbuh kembang bayi dapat tetap terjaga. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar pemeriksaan dapat sesuai dengan kondisi buah hati.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
KMNC. (2026). Bilirubin Tinggi pada Bayi: Kapan Berbahaya dan Bagaimana Cara Menanganinya.
American Academy of Pediatrics. (2024). Jaundice in Newborns.
Siloam Hospital. (2025). Berapa Kadar Bilirubin Normal pada Bayi? Ini Penjelasannya.
Redcliffe Labs. (2026). Bilirubin Normal Level in Newborn: Jaundice Range Guide.
Mandaya Hospital Group. (2025). Bayi Kuning, Kapan Perlu Waspada?.
Cleveland Clinic. (2022). Jaundice in Newborns.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
.png&w=3840&q=75)