Jadwal imunisasi anak bergeser karena libur panjang, lalu terlupa di tengah kesibukan. Banyak orang tua mengalaminya, apalagi bila polio terasa seperti penyakit masa lalu.
Virus polio masih beredar di beberapa bagian dunia dan bisa menyebar tanpa disadari. Pada sebagian kecil anak, infeksinya berujung pada kelumpuhan.
Kabar baiknya, polio bisa dicegah. Artikel ini membahas cara mencegah polio, mulai dari imunisasi lengkap, kebiasaan bersih di rumah, perbedaan vaksin tetes dan suntik, hingga gejala yang perlu segera diperiksakan ke dokter.
Apa Itu Polio dan Bagaimana Penularannya?
Polio atau poliomielitis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio. Virus ini menyerang sistem saraf dan bisa melemahkan otot hingga lumpuh. WHO mencatat polio umumnya menyerang anak balita.
Virus polio masuk lewat mulut, berkembang biak di usus, lalu keluar bersama tinja. Pola ini disebut penularan fekal-oral, yaitu perpindahan virus dari tinja orang yang terinfeksi ke mulut orang lain. Penularan umumnya terjadi dari orang ke orang, misalnya lewat tangan yang tercemar tinja. Air dan makanan yang tercemar juga bisa menjadi perantara, begitu pula batuk dan bersin orang yang terinfeksi.
Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak merasakan gejala apa pun. Mereka tetap bisa menularkan virus ke orang lain. Sebagian kecil mengalami kelumpuhan, biasanya di tungkai, dan kelumpuhan ini sering menetap.
Baca Juga: Penyebab dan Gejala Polio
Mengapa Polio Masih Perlu Dicegah?
Menurut WHO, polio belum bisa disembuhkan dan hanya bisa dicegah. WHO juga mengingatkan bahwa selama masih ada satu anak yang terinfeksi, anak di semua negara tetap berisiko tertular. Pada sebagian anak yang lumpuh, kelumpuhan bisa mengenai otot pernapasan dan mengancam nyawa.
Indonesia punya pengalaman langsung. Pada akhir 2022, Kemenkes menggelar Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) polio di Provinsi Aceh setelah kasus polio ditemukan di sana. Targetnya, 95% anak di wilayah sasaran menerima imunisasi polio untuk memutus rantai penularan.
Imunisasi polio sendiri termasuk imunisasi rutin Kemenkes untuk bayi dan anak. Makin banyak anak di satu lingkungan yang diimunisasi, makin sulit virus menyebar.
7 Cara Mencegah Polio untuk Anak dan Keluarga
Pencegahan polio bertumpu pada dua hal, yaitu imunisasi dan kebersihan. Imunisasi membantu tubuh anak membentuk perlindungan, sementara kebersihan memutus jalur virus dari tinja ke mulut.
1. Lengkapi Imunisasi Polio Sesuai Jadwal
Imunisasi polio adalah langkah utama untuk melindungi anak. Ada dua jenis vaksin yang dipakai, yaitu vaksin tetes atau OPV (oral polio vaccine) dan vaksin suntik atau IPV (inactivated polio vaccine). Menurut WHO, vaksin polio perlu diberikan beberapa kali, dan rangkaian dosis inilah yang membantu melindungi anak dari polio.
Jumlah dosis dan usia pemberiannya mengikuti jadwal imunisasi Kemenkes dan saran dokter anak. Simpan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan bawa setiap kali anak ke posyandu, puskesmas, atau dokter agar dosis berikutnya tidak terlewat.
2. Kejar Dosis yang Terlewat
Dosis yang terlewat masih bisa dilengkapi lewat imunisasi kejar. Konsultasikan dengan dokter atau petugas puskesmas, yang akan menyusun ulang jadwal sesuai usia dan riwayat vaksin anak. Makin cepat dosis dilengkapi, makin cepat pula perlindungan anak terbentuk.
Saat membuka buku imunisasi, periksa juga catatan vaksin lain seperti campak dan rubela. Anak yang pernah berobat di beberapa tempat kadang punya catatan yang belum lengkap.
3. Cuci Tangan dengan Sabun dan Air Mengalir
Tangan sering menjadi perantara penularan polio dari orang ke orang. Virus dari tinja bisa menempel di tangan lalu masuk ke mulut, apalagi pada anak kecil yang sering memasukkan jari atau mainan ke mulut. Gosok telapak, punggung tangan, sela jari, dan kuku dengan sabun, lalu bilas dengan air mengalir. Waktu penting untuk mencuci tangan antara lain:
Setelah buang air besar atau membersihkan anak yang buang air besar. Tangan orang dewasa yang merawat anak ikut berperan dalam penularan.
Setelah mengganti popok. Buang popok kotor ke tempat sampah tertutup, lalu cuci tangan sebelum menyentuh benda lain.
Sebelum menyiapkan makanan, menyuapi anak, dan makan. Kebiasaan ini membantu menahan perpindahan virus dari tangan ke makanan.
4. Pilih Air Minum dan Makanan yang Bersih
Air dan makanan yang tercemar tinja bisa membawa virus polio. Rebus air minum sampai mendidih atau pilih air minum kemasan yang segelnya utuh. Cuci buah dan sayur dengan air bersih, masak makanan sampai matang, dan simpan makanan dalam wadah tertutup.
Perhatikan juga kebersihan jajanan anak di sekolah atau tempat bermain. Siapkan botol minum dan bekal dari rumah bila sumber air di sekitar anak tidak jelas kebersihannya.
5. Gunakan Jamban Sehat dan Jaga Sanitasi
Tinja yang dibuang sembarangan bisa mencemari tanah dan sumber air di sekitar rumah. Biasakan seluruh anggota keluarga buang air besar di jamban sehat, buang tinja bayi ke jamban, dan bungkus popok sekali pakai sebelum dibuang.
Jaga jarak sumur atau sumber air dari tempat pembuangan limbah, dan bersihkan toilet secara rutin. Sanitasi yang buruk juga berkaitan dengan penyebaran penyakit lain yang menular lewat tinja, seperti hepatitis E.
6. Terapkan Etika Batuk dan Batasi Kontak Dekat
Virus polio juga bisa menyebar lewat batuk dan bersin orang yang terinfeksi. Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan atas saat batuk atau bersin, lalu cuci tangan. Kebiasaan yang sama membantu menahan penularan ISPA di rumah.
Hindari berbagi alat makan, botol minum, atau handuk. Bila ada anggota keluarga yang sedang diperiksa karena dugaan polio, ikuti arahan petugas kesehatan soal perawatan di rumah dan kebersihan toilet.
7. Cek Kebutuhan Vaksin Sebelum Bepergian
Orang dewasa yang imunisasinya lengkap saat kecil umumnya tidak memerlukan vaksin polio rutin. CDC menyebut beberapa kelompok dewasa perlu mempertimbangkan vaksinasi, yaitu orang yang akan bepergian ke negara dengan risiko polio lebih tinggi, pekerja laboratorium yang menangani sampel berisi virus polio, dan tenaga kesehatan yang merawat pasien terduga polio.
Konsultasikan kebutuhan vaksin dengan dokter jauh hari sebelum berangkat. Calon jamaah juga perlu mengecek ketentuan vaksin umroh dan haji yang berlaku. Bila bepergian bersama anak, bawa catatan imunisasinya agar dokter bisa menilai dosis yang perlu dilengkapi.
Vaksin Polio Tetes (OPV) vs Suntik (IPV)
Kedua vaksin membantu melindungi dari polio. Perbedaannya ada pada cara pemberian, isi vaksin, dan pemakaiannya di dunia:
Tabel ini merangkum perbedaannya secara umum. Jenis vaksin yang tepat ditentukan oleh dokter.
Di Indonesia, kedua jenis vaksin termasuk imunisasi rutin Kemenkes. Urutan dan jumlah dosisnya mengikuti jadwal Kemenkes dan saran dokter.
Gejala Polio yang Perlu Diwaspadai
Gejala awal polio mirip infeksi virus lain, sehingga mudah terlewat. WHO dan NHS menyebut beberapa keluhan yang bisa muncul:
Demam. Suhu tubuh naik seperti pada infeksi biasa. Demam yang muncul bersama keluhan lain dalam daftar ini perlu diperiksakan.
Lemas dan sakit kepala. Anak tampak lesu, lebih banyak berbaring, atau mengeluh pusing. Pada anak kecil, lemas bisa terlihat dari anak yang rewel atau enggan bermain.
Muntah. Muntah bisa muncul bersama demam di awal sakit. Beri minum sedikit demi sedikit agar anak tidak kekurangan cairan.
Kaku leher. Anak sulit menunduk atau menempelkan dagu ke dada. Keluhan ini perlu segera diperiksa dokter karena bisa menandakan infeksi yang mengenai sistem saraf.
Nyeri di lengan atau tungkai. Otot terasa nyeri atau pegal tanpa sebab yang jelas. Nyeri yang disertai demam perlu diperiksakan, apalagi bila imunisasi anak belum lengkap.
Kelemahan atau kelumpuhan mendadak. Kelumpuhan akibat polio umumnya mengenai tungkai, sehingga anak tiba-tiba sulit berdiri atau berjalan. Kondisi ini perlu penanganan darurat.
Kapan Harus ke Dokter?
Demam pada anak punya banyak penyebab. Kombinasi gejala, riwayat imunisasi, dan riwayat perjalanan membantu menentukan kapan anak perlu diperiksa. Segera bawa anak ke dokter atau IGD bila:
Anak tiba-tiba lemah atau tidak bisa menggerakkan lengan atau tungkai. Kelemahan otot yang muncul mendadak perlu segera ditangani di IGD.
Anak tampak sulit bernapas. Kondisi ini termasuk gawat darurat dan perlu ditangani di IGD.
Demam disertai kaku leher atau nyeri tungkai, khususnya pada anak yang imunisasinya belum lengkap. Dokter akan menilai perlu tidaknya pemeriksaan lanjutan.
Gejala muncul setelah bepergian ke daerah dengan kasus polio atau setelah kontak dekat dengan penderita. Sampaikan riwayat perjalanan dan kontak ini kepada dokter.
Jadwalkan juga konsultasi bila ada dosis imunisasi yang terlewat atau sebelum bepergian ke luar negeri.
Layanan Vaksin Polio Suntik di Bumame
Vaksin polio suntik berisi virus polio yang sudah dimatikan dan bekerja dengan melatih sistem kekebalan mengenali virus tersebut. Vaksin ini bisa menjadi bagian dari imunisasi rutin maupun imunisasi kejar, atas rekomendasi dokter.
Bumame menyediakan Vaksin Polio IPV, vaksin polio suntik yang membantu melindungi dari polio. Layanan vaksinasi di Bumame tersedia untuk anak mulai usia 1 tahun dengan datang langsung ke klinik. Bawa catatan imunisasi sebelumnya karena dosis disesuaikan dengan riwayat vaksin. Untuk menanyakan ketersediaan dan pendaftaran, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Lengkapi Imunisasi dan Rawat Kebiasaan Bersih
Cara mencegah polio sebenarnya sederhana, asal dijalankan dengan konsisten. Lengkapi imunisasi sesuai jadwal Kemenkes, kejar dosis yang terlewat, dan jadikan cuci tangan, air bersih, serta jamban sehat sebagai kebiasaan seluruh keluarga.
Buka buku imunisasi anak minggu ini dan cocokkan dengan jadwal yang berlaku. Imunisasi yang tepat waktu membantu melindungi anak Anda sekaligus anak-anak lain di sekitarnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Polio. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/imunisasi/polio
Kementerian Kesehatan RI, Sehat Negeriku. Kemenkes Gelar Sub Pekan Imunisasi Nasional di Provinsi Aceh, Targetkan 95% Anak Diimunisasi Polio. Retrieved 23 September 2026 from https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20221128/4241887/kemenkes-gelar-sub-pekan-imunisasi-nasional-di-provinsi-aceh-targetkan-95-anak-diimunisasi-polio/
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Lembar Fakta Poliomielitis, Rubela, dan Campak. Retrieved 23 September 2026 from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/lembar-fakta-poliomielitis-rubela-campak
World Health Organization. Poliomyelitis. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/poliomyelitis
Centers for Disease Control and Prevention. Polio Vaccination. Retrieved 23 September 2026 from https://www.cdc.gov/polio/vaccines/index.html
NHS. Polio. Retrieved 23 September 2026 from https://www.nhs.uk/conditions/polio/
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
