Pernah merasakan dada tiba-tiba nyeri setelah makan terlalu banyak, saat sedang stres, atau mungkin setelah duduk seharian di posisi yang sama? Keluhan ini cukup sering dialami dan penyebabnya bukan hanya karena ada penyakit jantung. Dada sering sakit ini juga bisa karena masalah asam lambung atau gangguan di saraf dada.
Artikel ini akan membahas macam-macam penyebab sakit dada yang terus berulang dan kapan waktu yang tepat untuk periksa sehingga risiko komplikasi bisa Anda minimalisir.
Kemungkinan Penyebab Dada Sering Nyeri Berulang
Dada sering sakit bisa disebabkan karena beberapa faktor dan rasa sakitnya pun cenderung tidak sama. Ada yang seperti terbakar, tertusuk, diremas, hingga ditekan. Berikut beberapa kemungkinan penyebab nyeri dada yang mungkin Anda rasakan.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) atau asam lambung naik secara berulang ke kerongkongan, yang ditandai dengan rasa nyeri seperti panas dan terbakar di dada.
Otot dada tegang atau cedera, yang biasanya muncul setelah olahraga atau aktivitas fisik berat tertentu dan akan terasa nyeri tajam terutama ketika disentuh, ditekan, atau bahkan saat tubuh hanya digerakkan.
Gangguan saraf, yang rasa nyerinya seperti ada yang menusuk atau tersengat di dada.
Masalah jantung, seperti angina atau serangan jantung, yang secara umum ditandai dengan dada yang terasa nyeri saat ditekan atau tertindih, dan rasa sakitnya menjalar ke lengan kiri, leher, hingga rahang.
Gangguan pada paru-paru.
Stres, kecemasan, atau serangan panik juga bisa menimbulkan sesak, jantung berdebar, dan nyeri dada pada beberapa kasus.
Penyebab Terkait Pencernaan: Asam Lambung/GERD
GERD bisa menjadi salah satu sebab dada Anda sering sakit. Kondisi ini umumnya terjadi saat isi lambung, termasuk asam lambung, naik kembali ke kerongkongan.
Ketika asam lambung naik kemudian mengiritasi kerongkongan, inilah yang membuat munculnya rasa panas dan sensasi terbakar di dada. Keluhannya pun terasa mirip seperti masalah jantung, sehingga membuat orang sering salah menduganya sebagai penyakit jantung.
Karena berkaitan dengan sistem pencernaan, sakit dada ini biasanya muncul setelah makan terlalu banyak, salah makan, atau ketika langsung tidur setelah makan.
Namun, perlu diperhatikan bahwa sakit dada berkaitan dengan sistem pencernaan ini bisa juga karena masalah pencernaan lainnya seperti:
Pankreatitis, radang pada pankreas, dan umumnya menimbulkan nyeri di bagian atas perut kemudian menjalar ke dada atau punggung.
Batu empedu, yang terjadi karena endapan keras yang muncul di dalam kantung empedu. Adapun orang yang terkena penyakit ini akan merasakan nyeri di perut kanan atas dan bisa menjalar ke area dada, terutama setelah makan makanan berlemak.
Tukak lambung, yaitu luka yang muncul di lapisan lambung atau di duodenum (bagian pertama dari usus halus) dan biasanya terjadi karena infeksi bakteri Helicobacter pylori atau memakai obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) tertentu dalam jangka panjang. Gejala yang muncul biasanya berupa nyeri atau perih di bagian atas perut dan pada sebagian orang juga akan menimbulkan rasa nyeri di sekitar dada.
Gastritis, radang di lapisan lambung karena infeksi bakteri, pemakaian obat tertentu, hingga konsumsi alkohol yang terlalu banyak. Penyakit ini juga bisa menimbulkan sakit dada, terutama di daerah antara tulang dada dan pusar.
Penyebab Terkait Otot dan Saraf
Masalah pada otot dan saraf juga bisa menjadi salah satu sebab dada sering sakit. Adapun sakit dada karena otot biasanya terjadi setelah olahraga, angkat beban terlalu berat, batuk berkepanjangan hingga karena terlalu sering melakukan gerakan berulang. Ini memungkinkan karena semua aktivitas tersebut bisa membuat otot dan jaringan di sekitar dada bekerja lebih keras atau membuatnya menegang sehingga memunculkan rasa nyeri.
Sedangkan rasa sakit karena saraf biasanya berhubungan dengan iritasi atau radang saraf sekitar dada. Salah contohnya yaitu herpes zoster (cacar api), yakni infeksi virus yang bisa menyerang saraf serta memunculkan nyeri dan rasa seperti terbakar di bagian dada. Selain itu, ada juga saraf terjepit atau ada penekanan pada saraf di area tulang dada yang memunculkan rasa nyeri menusuk seperti tersengat listrik di area tersebut.
Penyebab Terkait Jantung dan Paru yang Perlu Diwaspadai
Masalah pada jantung dan paru-paru sering dianggap menjadi faktor utama penyebab dada sering sakit di kalangan masyarakat umum. Ini tidak sepenuhnya salah, karena memang masalah pada kedua organ ini bisa menjadi faktor penyebab nyeri dada. Berikut penjelasannya.
1. Gangguan pada Jantung
Dada sering sakit karena masalah pada jantung biasanya terjadi karena aliran darah dan oksigen ke jantung tidak lancar, akibat dari penyumbatan, atau penyempitan pembuluh darah koroner.
Masalah ini bisa berupa angina, yaitu nyeri atau rasa kurang nyaman di dada karena aliran darah ke otot jantung berkurang, akibat dari aktivitas fisik yang berat atau stres berkepanjangan.
Penyebabnya bisa juga berupa serangan jantung, yaitu kondisi dimana aliran darah ke bagian otot jantung terhenti atau sangat menurun, akibat dari penyumbatan pembuluh darah koroner karena darah yang membeku.
2. Gangguan pada Paru-Paru
Dada sering sakit juga bisa terjadi karena adanya gangguan pada paru-paru, dan rasa nyeri umumnya muncul ketika sedang menarik napas dalam atau batuk. Rasa sakit ini umumnya terjadi pada penderita pneumonia, yaitu infeksi paru-paru akibat virus atau bakteri yang membuatnya meradang.
Tidak hanya itu, sakit pada dada terkait gangguan pada paru-paru ini juga bisa karena penyakit lainnya, seperti:
Pleuritis, yaitu radang pada selaput pelapis paru-paru yang memunculkan rasa nyeri dada tajam dan parah saat tarik napas atau batuk.
PPOK, yaitu kelompok penyakit yang bisa menghambat aliran udara di paru-paru dan bisa membuat dada terasa sesak atau tertekan, terutama saat napas.
Pneumotoraks, yaitu kondisi saat ada udara yang masuk ke ruang antara dinding dada dan paru-paru yang membuat paru-paru menjadi mengempis dan menimbulkan nyeri dada.
Emboli paru, yaitu kondisi dimana pembuluh darah paru-paru menjadi tersumbat karena bekuan darah yang menimbulkan nyeri dada hingga sesak napas.
Asma, yaitu penyempitan di saluran pernapasan karena alergi atau polusi yang membuat dada terasa seperti tertekan dan sesak.
Hipertensi pulmonal, yaitu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah pada arteri, yang membuatnya menyempit dan tersumbat, sehingga memunculkan rasa nyeri dan sakit di dada.
Kanker paru-paru, yang pada kondisi tertentu bisa memunculkan nyeri dada, terutama saat tumor mengenai jaringan di sekitar paru-paru.
Gejala Penyerta yang Perlu Diperhatikan
Secara umum, dada sering sakit biasanya diikuti dengan keluhan keringat dingin, mual, hingga tubuh terasa lemas. Namun, gejala yang menyertai sakit dada ini akan berbeda tergantung dari penyebabnya. Berikut penjelasannya.
a. Terkait Masalah Pencernaan
Apabila nyeri dada berhubungan dengan GERD atau asam lambung, maka gejala yang mengikutinya yaitu:
Rasa panas dan terbakar di dada.
Rasa asam hingga pahit di mulut.
Makanan terasa seperti naik ke tenggorokan.
Sering sendawa.
Perut terasa tidak nyaman.
Mual.
Kesulitan menelan.
Batuk terus-menerus, terutama di malam hari.
b. Berhubungan dengan Otot atau Saraf
Jika nyeri dada yang Anda rasakan adalah akibat masalah otot dan saraf, gejala yang mengikutinya umumnya seperti:
Otot dada menjadi pegal, kaku, dan seperti ada yang menarik.
Pada herpes zoster, nyeri dada bisa diikuti ruam atau bintik-bintik berisi cairan di area kulit.
Pembekakan atau memar di area dada.
c. Terkait Gangguan Paru-Paru
Jika dada sering sakit karena gangguan paru-paru, maka gejala yang menyertainya bisa berupa:
Sesak atau sulit napas.
Batuk diikuti dahak.
Demam hingga menggigil, terutama pada penderita pneumonia.
Napas terasa lebih cepat.
Jantung berdebar.
Batuk berdarah, seperti pada emboli paru.
d. Behubungan dengan Gangguan Jantung
Apabila berhubungan dengan masalah pada jantung, maka gejala yang menyertainya bisa berupa:
Sesak napas.
Keringat dingin.
Mual atau muntah.
Pusing atau terasa seperti akan pingsan.
Jantung berdebar.
Tubuh lemas atau mudah sekali lelah.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Sakit dada yang muncul sekali atau dua kali mungkin belum tentu menjadi masalah serius. Tapi jika keluhannya terus berulang dan semakin berat, maka sebaiknya langsung periksa ke dokter. Selain itu, Anda juga perlu mempertimbangkan untuk periksa ke dokter jika:
disertai sesak napas, pusing, mual, keringat dingin, atau jantung berdebar;
menjalar ke bagian tubuh lainnya;
punya riwayat penyakit jantung, diabetes, atau tekanan darah tinggi;
wajah terlihat memucat;
denyut jantung melambat dan tekanan darah menurun.
MCU Metabolisme Tubuh Bumame: Cara Tepat Kenali Faktor Risiko Nyeri Dada
Dada sering sakit bisa berhubungan dengan berbagai kondisi, termasuk adanya gangguan metabolisme, pencernaan, hingga masalah jantung. Untuk itulah, sebagai langkah pencegahan dan penanganan awal, melakukan cek kesehatan atau Medical Check Up Metabolisme Tubuh di Klinik Bumame sangat dianjurkan.
Dalam jenis pemeriksaan ini, sudah mencakup pengecekan HbA1c, glukosa puasa, kolesterol, trigliserida, lipase, amilase pankreatik, hingga fungsi hati dan ginjal. Ini tentunya bisa membantu Anda mendeteksi kesehatan tubuh secara menyeluruh dan mengenali faktor risiko nyeri dada sejak dini.
Khusus untuk mengevaluasi keluhan nyeri dada, pemeriksaan profil lipid (kolesterol dan trigliserida) serta pemeriksaan gula darah (glukosa puasa dan HbA1c) membantu mendeteksi risiko penyumbatan pembuluh darah jantung disamping faktor risiko metabolik sejak dini. Dengan begitu, penanganan medis dapat dilakukan secara lebih tepat dan cepat.
Dari seluruh jenis pemeriksaan di dalam layanannya, Anda hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp1.780.000.
Saatnya Lebih Peduli pada Nyeri Dada!
Dada sering sakit bisa terjadi karena berbagai hal, seperti gangguan pada pencernaan, saraf atau otot, paru-paru, atau bahkan karena penyakit jantung. Jadi, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter jika nyeri dada sudah berlangsung lama dan terasa berat.
Akan lebih baik lagi, jika Anda melakukan cek kesehatan secara teratur agar bisa mencegah risiko sakit dada dan komplikasi. Saatnya lebih peduli dan proaktif dalam menjaga kesehatan tubuh dengan menjadwalkan pemeriksaan rutin secara konsisten. Hubungi Bumame sekarang untuk booking layanan!
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
Referensi:
Mayapada Hospital. (2025). Jantung Terasa Sehat tapi Dada Nyeri? Cek Penyebab Pastinya di Chest Pain Clinic.
Mandjur. (2026). Nyeri Dada Ringan Tapi Berulang: Aman atau Perlu Diperiksa?.
TLC Medical Group. (2026). How to Get to the Root of Your Frequent Chest Pain.
Eka Hospital. (2026). Cara Meredakan Nyeri Dada dan Pertolongan Pertamanya.
IHH Health Care. (2025). Mirip Serangan Jantung, Sensasi Gejala Asam Lambung Naik Kerap Bikin Panik.
Eka Hospital. (2025). 8 Penyebab Nyeri Dada.
Rumah Sakit Panti Nirmala. (2025). Penyebab Tulang Dada Sakit dan Cara Mengatasinya.
Lone Star Paid Medicine. (2026). How Shingles Can Lead to Non-Cardiac Chest Pain.
Rumah Sakit Pondok Indah Group. (2026). Nyeri Dada: Penyebab, Gejala, dan Tips Mengatasinya.
Exon Publication. (2025). Chest Pain: Types, Causes, Symptoms, Diagnosis, and Treatments.
Siloam Hospital. (2026). 10 Penyebab Sakit Dada Sebelah Kanan & Gejala yang Diwaspadai.
Info Sehat FKUI. (2022). Gejala GERD yang Disebut Asam Lambung Kronis, Apa yang Harus Dihindari?.
Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing
Frequently Asked Question
Apa saja penyebab dada sering sakit?
Bagaimana ciri nyeri dada akibat GERD?
Apa ciri nyeri dada yang berkaitan dengan gangguan jantung?
Kapan sakit dada perlu diperiksakan ke dokter?
Apa pemeriksaan yang dapat membantu mengetahui faktor risiko nyeri dada?
Medical Check-Up Metabolisme Tubuh mencakup pemeriksaan seperti HbA1c, glukosa puasa, kolesterol, trigliserida, serta fungsi hati dan ginjal untuk menilai kondisi kesehatan dan faktor risiko.
.jpg&w=3840&q=75)