Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Disfagia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya
Kembali ke Artikel & Berita

Disfagia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya

SBAOthers

Pernah merasa makanan sulit ditelan atau seperti tersangkut di tenggorokan saat makan? Kondisi ini bisa menjadi tanda disfagia. Disfagia adalah gangguan yang membuat seseorang kesulitan menelan makanan atau minuman dengan nyaman. Kesulitan menelan dapat terjadi sesekali atau berulang, tergantung pada penyebabnya. 

Jika sering dialami, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas makan dan minum sehari-hari. Karena itu, penting untuk mengenali gejala dan penyebabnya agar penanganan yang tepat dapat dilakukan!

Apa Itu Disfagia?

Disfagia adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan menelan makanan atau minuman. Akibatnya, proses memindahkan makanan dari mulut ke lambung membutuhkan waktu dan usaha lebih. Sebagian orang juga merasakan makanan seperti tersangkut di tenggorokan atau dada saat menelan.

Penyakit ini bisa terjadi pada siapapun, tidak memandang usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kelainan sejak lahir, gangguan pada organ yang berperan dalam proses menelan, atau penyakit tertentu. 

Selain itu, disfagia juga lebih sering dialami oleh lansia serta orang-orang yang pernah mengalami stroke. Karena gejalanya terkadang tidak disadari, penting untuk mengenali kesulitan menelan yang terjadi berulang agar bisa mendapatkan penanganan yang sesuai.

Gejala dan Tanda Disfagia 

Dalam dunia medis, diketahui bahwa umumnya, gejala disfagia adalah kesulitan menelan makanan, minuman, bahkan air liur. Penderita juga merasakan sakit ketika menelan atau terdapat sensasi makanan tersangkut di tenggorokan. Namun, selain hal tersebut, berikut beberapa gejala-gejala yang bisa muncul.

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman saat menelan.

  • Sensasi makanan tersangkut di tenggorokan atau dada.

  • Batuk atau tersedak saat makan dan minum.

  • Produksi air liur berlebihan atau air liur keluar dari mulut.

  • Suara serak setelah makan atau minum.

  • Makanan atau asam lambung terasa naik kembali ke tenggorokan.

  • Sensasi terbakar di dada (heartburn).

  • Kesulitan memulai proses menelan.

  • Kesulitan mengontrol makanan atau air liur di dalam mulut.

  • Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

  • Peradangan paru-paru atau pneumonia berulang akibat makanan atau minuman masuk ke saluran pernapasan.

Penyebab dan Faktor Risiko Disfagia 

Penyebab paling umum disfagia adalah kelainan pada otak, saraf, gangguan otot, maupun kerongkongan. Berikut sejumlah penyebab yang perlu Anda waspadai agar tidak semakin memperburuk keadaan.

1. Gangguan Sistem Saraf dan Otak

Otak dan saraf berperan dalam mengatur gerakan otot saat menelan. Jika fungsi keduanya terganggu, proses menelan bisa menjadi kurang terkoordinasi. Kondisi yang dapat menyebabkan disfagia adalah sebagai berikut.

  • Stroke: Kerusakan pada bagian otak akibat stroke dapat mengganggu kemampuan mengendalikan otot untuk menelan.

  • Gangguan saraf parkinson: Penyakit ini dapat memengaruhi koordinasi gerakan, termasuk saat menelan.

  • Demensia: Penurunan fungsi kognitif dapat mengganggu koordinasi dan kemampuan mengendalikan proses menelan.

  • Penyakit Multiple Sclerosis: Penyakit yang menyerang sistem saraf pusat ini dapat mengganggu sinyal saraf yang mengatur gerakan otot.

  • Amyotrophic lateral sclerosis (ALS): Kerusakan sel saraf motorik dapat menyebabkan otot yang berperan dalam proses menelan melemah.

  • Tumor Otak: Tumor tertentu dapat mengganggu bagian otak yang mengatur gerakan menelan.

  • Cerebral Palsy: Gangguan perkembangan otak ini dapat memengaruhi koordinasi dan kontrol otot, termasuk otot untuk menelan. 

2. Gangguan pada Otot

Selain gangguan saraf, disfagia juga dapat disebabkan oleh masalah pada otot yang membantu mendorong makanan menuju lambung. Berikut sejumlah kondisi yang berhubungan dengan gangguan otot.

  • Akalasia: Otot di bagian bawah kerongkongan tidak dapat mengendur dengan baik sehingga makanan sulit masuk ke lambung.

  • Kejang Esofagus: Mengalami kontraksi pada otot kerongkongan yang terjadi secara tidak normal, sehingga mengganggu pergerakan makanan.

  • Kejang Krikofaring: Otot di bagian atas kerongkongan mengalami kontraksi berlebihan sehingga menimbulkan sensasi seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan.

  • Distrofi Otot: Penyakit yang menyebabkan otot melemah secara bertahap, termasuk otot yang terlibat dalam proses menelan.

  • Myasthenia Gravis: Penyakit autoimun yang mengganggu komunikasi antara saraf dan otot sehingga otot lebih mudah melemah.

  • Myositis: Peradangan otot yang dapat menyebabkan kelemahan pada otot yang membantu proses menelan.

  • Scleroderma: Penyakit yang menyebabkan jaringan ikat mengeeras dan menganggu pergerakan kerongkongan.

3. Penyempitan, Penyumbatan, atau Kelainan pada Kerongkongan

Kerongkongan atau esofagus merupakan saluran yang membawa makanan dari mulut menuju lambung. Apabila saluran ini mengalami kelainan, yakni penyempitan, makanan akan lebih sulit untuk melewatinya. Adapun yang menyebabkan disfagia adalah sebagai berikut.

  • Gastroesophageal Reflux Disease (GERD): Asam lambung yang berulang kali naik ke kerongkongan dapat menyebabkan peradangan dan jaringan parut yang berisiko mempersempit saluran tersebut.

  • Divertikulum Esofagus: Terbentuknya kantong abnormal pada dinding kerongkongan dapat membuat makanan terkumpul dan menimbulkan sensasi tersangkut.

  • Tumor atau Kanker: Pertumbuhan tumor di kerongkongan atau area kepala dan leher dapat menghambat jalur makanan. Terapi kanker tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan menelan.

4. Usia Lanjut

Selain kondisi medis di atas, usia dan riwayat kesehatan juga dapat meningkatkan risiko. Misalnya, lansia lebih rentan mengalami perubahan fungsi otot dan koordinasi menelan. 

Diagnosis dan Pemeriksaan Disfagia 

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis disfagia adalah sebagai berikut.

1. Endoskopi

Endoskopi merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan selang kecil yang dilengkapi kamera dan lampu untuk melihat kondisi saluran pencernaan. Pemeriksaan ini membantu dokter mendeteksi kelainan yang mungkin mengganggu proses menelan.

Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah Flexible Endoscopic Evaluation of Swallowing (FEES). Pemeriksaan ini bertujuan menilai kemampuan menelan sekaligus melihat apakah makanan atau minuman masuk ke saluran pernapasan.

2. Tes Barium

Pada pemeriksaan ini, pasien diminta menelan cairan yang mengandung barium, yaitu zat yang dapat terlihat melalui sinar-X. Dengan bantuan pencitraan, dokter dapat mengamati pergerakan cairan saat ditelan dan menilai kemungkinan adanya gangguan pada proses menelan.

Selain itu, hasil pemeriksaan dapat membantu dokter melihat bagian saluran menelan yang mengalami masalah. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.

3. Evaluasi Fungsi Saraf

Pemeriksaan ketiga disfagia adalah evaluasi fungsi saraf untuk menilai kerja saraf yang mengatur gerakan otot saat menelan. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter mengetahui apakah gangguan pada sistem saraf berperan dalam munculnya disfagia.

Jika ditemukan tanda gangguan saraf, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan sesuai kondisi pasien. Dengan begitu, penyebab kesulitan menelan dapat ditelusuri dan penanganannya bisa disesuaikan.

Pengobatan dan Penanganan Disfagia 

Pengobatan dan penanganan disfagia adalah persoalan yang tidak boleh Anda anggap remeh. Meski, penyakit ini tergolong ringan, tapi pemantauan medis tetap harus dilakukan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari. Berikut ini adalah sejumlah pilihan yang bisa disarankan.

1. Perubahan Pola Makan

Penanganan pertama mengubah pola makan. Caranya dengan mengelola tekstur makanan dan kekentalan minuman agar lebih mudah ditelan. Misalnya, pasien dapat mengonsumsi bubur atau makanan lunak sesuai anjuran tenaga kesehatan.

2. Pemberian Obat-obatan

Kemudian, dokter dapat memberikan obat untuk mengatasi penyebab disfagia, seperti antasida untuk masalah asam lambung atau obat tertentu untuk gangguan otot. Biasanya, jenis obat disesuaikan dengan kondisi pasien.

3. Prosedur Dilatasi

Prosedur berikutnya untuk mengatasi disfagia adalah dilatasi, yakni proses untuk melebarkan kerongkongan yang menyempit agar makanan lebih mudah melewatinya. Tindakan ini menggunakan alat khusus melalui endoskopi.

4. Operasi

Operasi dapat dilakukan untuk mengatasi penyumbatan atau kelainan struktur yang menyebabkan disfagia. Jenis tindakan ini ditentukan berdasarkan penyebab dan kondisi pasien.

Cara Mencegah Disfagia

Disfagia adalah penyakit yang tidak bisa selalu Anda cegah. Namun, Anda dapat mengurangi risiko gangguan menelan dengan beberapa kebiasaan berikut. 

1. Makan Secara Perlahan

Pertama, hindari makan terlalu cepat dan pastikan makanan dikunyah hingga cukup halus sebelum ditelan. Kebiasaan ini dapat membantu proses menelan menjadi lebih aman.

2. Jaga Kesehatan Mulut dan Gigi

Menjaga kebersihan mulut dan gigi secara rutin penting untuk membantu mengurangi risiko masalah kesehatan. Terutama yang berkaitan dengan masuknya bakteri ke saluran pernapasan.

3. Kendalikan Penyakit yang Berisiko

Disfagia adalah gangguan yang bisa saja disebabkan oleh beberapa kondisi seperti stroke, Parkinson, dan GERD. Karena itu, lakukan pemeriksaan dan pengobatan secara teratur jika Anda memiliki kondisi tersebut.

4. Periksa Jika Mengalami Kesulitan Menelan

Jika mulai sering mengalami batuk, tersedak, atau makanan terasa tersangkut saat makan, jangan mengabaikannya. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.

Kapan Harus ke Dokter?

Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika kesulitan menelan terjadi berulang, semakin memburuk, atau mulai mengganggu aktivitas makan dan minum. Terlebih jika keluhan disertai batuk atau tersedak saat makan, makanan terasa tersangkut di tenggorokan, nyeri saat menelan, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Untuk membantu memantau kondisi kesehatan secara menyeluruh, Anda juga dapat melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di Bumame melalui Paket MCU General Plus. Paket ini dilengkapi pemeriksaan EKG, HbA1c, dan Vitamin D untuk membantu mendeteksi risiko jantung, diabetes, serta defisiensi nutrisi sejak dini. 

Ingat! Pemeriksaan ini dapat menjadi bagian dari pemantauan kesehatan rutin, tetapi bukan pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis disfagia.

Ayo, Kenalai Gejalanya dan Segera Periksakan Diri!

Disfagia adalah gangguan menelan yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari gangguan saraf hingga masalah pada kerongkongan. Mengenali gejala dan penyebabnya sejak awal penting agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi Anda. 

Anda juga bisa booking layanan pemeriksaan Paket MCU General Plus di Bumame untuk pemeriksaan tubuh secara menyeluruh. Pahami kondisi fisik Anda dan lakukan penanganan sejak dini!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan — Mengenal Disfagia

  2. Siloam Hospitals — Apa Itu Disfagia? Ini Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

  3. Mandaya Hospital Group — Disfagia: Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

  4. Care Hospitals — Disfagia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

  5. Mayo Clinic — Dysphagia: Symptoms and Causes

  6. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) — Alternative Nutrition and Hydration in Dysphagia Care

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila