Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Disfungsi Ereksi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Disfungsi Ereksi: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

SBAOthers

Lelah setelah seharian bekerja dan dikejar deadline sering kali membuat stamina terkuras hingga tubuh sulit diajak bekerja sama saat momen intim bersama pasangan. Jika kesulitan ini terjadi secara berulang, Anda perlu mewaspadai risiko disfungsi ereksi yang dipicu oleh faktor stres, kelelahan, maupun masalah kesehatan tertentu.

Meski terkadang sulit dibicarakan, disfungsi ereksi bukan sesuatu yang perlu disikapi dengan rasa malu. Kondisi ini cukup umum terjadi dan dapat dievaluasi melalui pemeriksaan medis.

Apa Itu Disfungsi Ereksi dan Mengapa Bisa Terjadi?

Secara umum, ereksi merupakan proses yang melibatkan kerja sama antara otak, saraf, hormon, pembuluh darah, dan jaringan penis. Ketika seorang pria menerima rangsangan seksual, sistem saraf akan membantu meningkatkan aliran darah ke penis sehingga penis menjadi lebih keras.

Disfungsi ereksi, yang dulu sering disebut impotensi, terjadi ketika proses tersebut tidak berjalan dengan baik. Keluhannya bisa berupa penis sulit mengeras, ereksi tidak cukup kuat untuk berhubungan seksual, atau ereksi yang hilang sebelum aktivitas seksual selesai.

Penting untuk membedakan kesulitan ereksi yang terjadi sesekali dengan masalah yang berlangsung terus-menerus. Ereksi memang dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan emosional pada hari tertentu. Tapi jika kesulitan ereksi terjadi secara berulang dapat menjadi petunjuk adanya faktor kesehatan yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Disfungsi ereksi juga tidak selalu berarti seorang pria kehilangan gairah seksual atau tidak subur. Gairah seksual, kemampuan ereksi, dan kesuburan merupakan hal yang berbeda, meskipun beberapa faktor kesehatan dapat memengaruhi ketiganya.

Gejala Disfungsi Ereksi yang Perlu Diperhatikan

Tanda utama disfungsi ereksi adalah kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi. Namun, pengalaman setiap pria bisa berbeda, baik dari segi frekuensi maupun tingkat keparahannya. Berikut beberapa gejala yang dapat diperhatikan:

  • Penis tidak bisa mengeras sama sekali meskipun sudah menerima rangsangan seksual.

  • Penis mengeras, tetapi kekerasannya belum cukup untuk melakukan hubungan seksual.

  • Penis sempat mengeras, tetapi kembali melemas sebelum aktivitas seksual selesai.

  • Perubahan kemampuan yang berulang membuat ereksi semakin sulit didapat atau dipertahankan.

  • Penurunan gairah akibat faktor hormonal atau psikologis.

Penyebab Disfungsi Ereksi

Disfungsi ereksi dapat dipengaruhi oleh satu atau beberapa faktor sekaligus. Karena itu, penyebabnya tidak selalu bisa diketahui hanya dari gejala yang dirasakan. Berikut penjelasannya.

1. Gangguan Aliran Darah

Aliran darah yang memadai diperlukan agar penis dapat mengeras. Kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung dapat mengganggu fungsi pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko masalah ereksi.

Pada sebagian pria, perubahan kemampuan ereksi ini juga dapat menjadi alasan untuk memeriksa kesehatan jantung dan pembuluh darah secara lebih menyeluruh.

2. Perubahan Kadar Hormon

Testosteron merupakan hormon yang berperan dalam gairah seksual dan fungsi reproduksi pria. Kadar testosteron yang rendah dapat berkaitan dengan penurunan gairah seksual dan, pada sebagian orang, masalah ereksi.

Hormon lain, seperti prolaktin, LH (luteinizing hormone), dan FSH (follicle-stimulating hormone), juga berperan dalam fungsi reproduksi. Ketidakseimbangannya dapat memengaruhi fungsi seksual atau produksi sperma, bergantung pada penyebab dan kondisi masing-masing individu.

Meski demikian, tidak semua kasus disfungsi ereksi disebabkan oleh gangguan hormon. Pemeriksaan dan penilaian dokter diperlukan untuk menentukan apakah faktor ini berperan.

3. Stres, Kecemasan, dan Masalah Emosional

Pikiran yang terus terbebani pekerjaan, masalah keuangan, konflik hubungan, atau kecemasan terhadap performa seksual dapat mengganggu respons tubuh terhadap rangsangan seksual.

Pada beberapa pria, pengalaman kesulitan ereksi sebelumnya dapat menimbulkan kekhawatiran bahwa masalah yang sama akan terulang. Kekhawatiran tersebut kemudian membuat aktivitas seksual terasa semakin menegangkan.

4. Kebiasaan Sehari-hari yang Kurang Mendukung Kesehatan

Kurang bergerak, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan yang kurang seimbang, dan kurang tidur dapat berkontribusi terhadap risiko disfungsi ereksi, baik secara langsung maupun melalui pengaruhnya terhadap kesehatan secara keseluruhan.

5. Penyakit Tertentu dan Efek Obat

Gangguan saraf, masalah hormonal, penyakit ginjal, serta kondisi kronis lainnya dapat memengaruhi fungsi ereksi. Beberapa obat juga berpotensi menimbulkan efek samping seksual.

Jika keluhan muncul setelah mulai menggunakan obat tertentu, jangan langsung menghentikannya sendiri. Diskusikan dengan dokter untuk menilai kemungkinan hubungan antara obat dan gejala yang dialami.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Disfungsi Ereksi?

Tidak ada satu pemeriksaan yang dapat menjelaskan seluruh penyebab disfungsi ereksi pada setiap pria. Dokter biasanya memulai evaluasi dengan cara seperti berikut.

1. Wawancara Medis dan Pemeriksaan Fisik

Dokter dapat menanyakan kapan keluhan mulai muncul, seberapa sering terjadi, apakah ereksi spontan pada pagi hari masih dialami, serta apakah ada perubahan gairah seksual. Pertanyaan ini membantu membedakan kemungkinan faktor fisik, psikologis, atau gabungan keduanya.

Di sisi lain, pemeriksaan fisik juga dapat dilakukan untuk menilai tekanan darah, berat badan, kondisi organ reproduksi, dan tanda-tanda gangguan kesehatan yang berkaitan dengan fungsi ereksi.

2. Pemeriksaan Darah dan Hormon

Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan gula darah atau HbA1c untuk menilai kadar gula darah, dan profil lemak untuk melihat kolesterol. Pada pria yang mengalami masalah kesuburan, penurunan gairah seksual, atau dugaan gangguan hormon, pemeriksaan kesehatan reproduksi dapat menjadi bagian dari evaluasi.

Salah satu pilihan pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan adalah Paket Kesuburan Laki Laki dari Bumame. Paket ini mencakup beberapa tes seperti mengukur kadar:

  • testosteron total dalam darah.

  • prolaktin yang berperan dalam fungsi reproduksi.

  • luteinizing yang membantu mengatur produksi testosteron.

  • hormon perangsang folikel yang berperan dalam produksi sperma.

  • urine rutin sebagai gambaran kondisi saluran kemih.

Pemeriksaan tersebut dapat membantu memberikan informasi mengenai kondisi hormon dan kesehatan reproduksi pria. Namun, hasilnya perlu ditafsirkan bersama gejala dan penilaian dokter, serta tidak dapat memastikan penyebab disfungsi ereksi secara mandiri.

Pilihan Pengobatan Disfungsi Ereksi Sesuai Penyebabnya

Pengobatan disfungsi ereksi disesuaikan dengan faktor yang mendasarinya. Tidak semua pria memerlukan obat, dan hasil pengobatan dapat berbeda pada setiap orang.

1. Perubahan Gaya Hidup

Jika terdapat faktor risiko seperti kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, kebiasaan merokok, atau pola tidur yang kurang baik, dokter dapat menyarankan perubahan gaya hidup sebagai bagian dari penanganan. Langkah ini membantu mendukung kesehatan pembuluh darah dan metabolisme, yang juga berperan dalam fungsi ereksi.

2. Konseling atau Terapi Psikologis

Jika mengalami stres, kecemasan, atau masalah hubungan yang berkontribusi terhadap keluhan, konseling dapat membantu mengelola tekanan emosional dan membangun komunikasi yang lebih nyaman dengan pasangan. Pendekatan ini juga dapat dikombinasikan dengan pengobatan medis apabila diperlukan.

3. Obat-obatan untuk Membantu Ereksi

Selanjutnya, dokter dapat meresepkan obat tertentu, seperti sildenafil atau tadalafil, yang membantu meningkatkan respons aliran darah ke penis saat ada rangsangan seksual.

Meski demikian, penggunaannya perlu dikonsultasikan terlebih dahulu, terutama pada pria yang menggunakan obat nitrat untuk nyeri dada atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Hal itu karena kombinasi dengan obat nitrat dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya.

4. Terapi Hormon jika Memang Diperlukan

Apabila pemeriksaan menunjukkan kadar testosteron rendah yang sesuai dengan gejala dan memenuhi kriteria diagnosis, dokter dapat mempertimbangkan terapi testosteron.

Terapi ini bukan solusi untuk semua kasus disfungsi ereksi. Selain itu, testosteron dari luar tubuh juga dapat menekan produksi sperma, sehingga pria yang sedang merencanakan keturunan perlu membicarakan tujuan kesuburannya dengan dokter sebelum memulai terapi.

5. Tindakan Medis Lainnya

Jika obat tidak sesuai atau tidak memberikan hasil yang memadai, dokter dapat mempertimbangkan pilihan penanganan lain, seperti alat vakum ereksi, obat yang diberikan melalui metode khusus, atau implan penis pada kasus tertentu. Pilihan tersebut bergantung pada kondisi pasien dan evaluasi dokter.

Kebiasaan yang Dapat Membantu Menjaga Fungsi Ereksi

Tidak semua kasus disfungsi ereksi dapat dicegah, tetapi kebiasaan sehat dapat membantu mengurangi sejumlah faktor risikonya. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.

  • Berolahraga secara teratur.

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

  • Berhenti merokok.

  • Menjaga kualitas tidur.

  • Mengelola stres.

  • Mengontrol penyakit kronis.

  • Menghindari penggunaan obat atau suplemen sembarangan.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?

Memeriksakan diri ke tenaga medis merupakan langkah penting untuk memastikan penyebab serta penanganan terkait masalah kesehatan seksual. Berikut adalah beberapa kondisi yang perlu dipertimbangkan untuk dikonsultasikan dengan dokter.

  • Kesulitan ereksi terjadi berulang dan memicu kecemasan.

  • Disertai penyakit jantung atau diabetes.

  • Ereksi terasa nyeri lebih empat jam.

Hilangkan Stigma, Utamakan Kesehatan Seksual

Disfungsi ereksi dipengaruhi oleh kesehatan fisik, hormon, maupun kondisi psikologis. Meskipun masalah yang terjadi sesekali umumnya normal, keluhan yang muncul berulang perlu mendapatkan perhatian medis. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini sangat membantu menentukan langkah penanganan yang tepat.

Proses penanganan dapat mencakup pemeriksaan hormon atau kesuburan sesuai kebutuhan medis. Perlu diingat bahwa kondisi ini sangat umum dan bukanlah hal yang memalukan untuk didiskusikan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. National Library of Medicine — Erectile Dysfunction: Causes, Diagnosis and Treatment: An Update

  2. Medicina — Erectile Dysfunction: A Comprehensive Review of Pathophysiology, Diagnosis and Contemporary Management

  3. Frontiers — Advances in Physical Diagnosis and Treatment of Male Erectile Dysfunction

  4. Medscape — Erectile Dysfunction: Practice Essentials, Background, Anatomy

  5. National Library of Medicine — Medical and Surgical Therapy of Erectile Dysfunction

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apakah disfungsi ereksi bisa sembuh?

Disfungsi ereksi dapat membaik dengan penanganan medis yang tepat sesuai penyebabnya.

Apakah disfungsi ereksi selalu disebabkan oleh testosteron rendah?

Tidak. Disfungsi ereksi juga dapat dipengaruhi stres, diabetes, gangguan aliran darah, dan faktor kesehatan lainnya.

Apakah disfungsi ereksi berarti pria mandul?

Tidak. Kemampuan ereksi dan kesuburan sperma merupakan dua hal yang berbeda.

Apakah disfungsi ereksi hanya dialami pria lanjut usia?

Tidak. Disfungsi ereksi dapat dialami pria dari berbagai kelompok usia.

Kapan pria perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai disfungsi ereksi?

Konsultasikan dengan dokter jika kesulitan ereksi terjadi berulang, menimbulkan kecemasan, atau disertai kondisi seperti diabetes dan penyakit jantung. Ereksi yang terasa nyeri dan berlangsung lebih dari empat jam juga memerlukan penanganan medis segera.