Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Testosteron: Panduan Lengkap Mengenal Hormon Ini
Kembali ke Artikel & Berita

Testosteron: Panduan Lengkap Mengenal Hormon Ini

Bumame

Menjaga kebugaran tubuh yang prima adalah dambaan setiap pria setiap hari. Salah satu kunci utama yang mengontrol stabilitas stamina adalah optimalnya kadar testosteron di dalam tubuh. Namun, tanpa sadar, pola hidup modern sering kali menjadi pemicu utama di balik penurunan kualitas hormon ini.

Edukasi yang tepat mengenai fungsi hormon ini bertujuan untuk mencegah adanya spekulasi atau diagnosis mandiri yang salah. Mari kita pahami tanda-tanda tubuh yang berkaitan dengan hormon ini. 

Apa itu Testosteron? 

Testosteron adalah hormon steroid natural di tubuh tepatnya dari golongan androgen yang diproduksi oleh sel Leydig di testis dengan bantuan kelenjar adrenal. Hormon ini bekerja lewat jalur poros hipotalamus-pituitari-testis (HPT axis) atau sederhana sistem di dalam tubuh yang bertugas mengatur hormon seksual.

Produksinya bermula dari perintah otak. Otak melepaskan hormon GnRH untuk merangsang kelenjar pituitari agar melepaskan luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). LH lalu memerintahkan testis untuk memproduksi hormon ini, dan FSH bertugas dalam produksi sperma.

Peran Hormon

Fungsi hormon ini jauh lebih luas daripada sekadar hormon seks. Perannya mencakup berbagai aspek kesehatan fisik dan metabolik.

  • Menjaga massa dan kekuatan otot;

  • Memelihara kepadatan tulang;

  • Membantu produksi sel darah merah;

  • Menjaga fungsi ereksi;

  • Menjaga suasana hati;

  • Mengatur distribusi lemak serta menghambat penumpukan lemak berlebih.

Selain itu, hormon ini juga dapat membantu menurunkan risiko penyakit terkait obesitas seperti diabetes tipe 2, gangguan toleransi glukosa, dislipidemia, hipertensi, penyakit jantung koroner, dan penyakit hati berlemak non-alkoholik.

Batas Klinis Defisiensi

Defisiensi (kekurangan) testosteron atau hipogonadisme terjadi ketika produksi hormon terganggu hingga kadarnya menurun drastis dan ada keluhan klinis. Ambang batas tunggal yang disepakati secara global belum ada. Namun, perhimpunan medis menggunakan standar antara 230–350 ng/dL tergantung pada metode pemeriksaan yang digunakan.

Kondisi turunnya kadar hormon ini cukup umum terjadi serta dapat meningkat seiring bertambahnya umur atau berat badan. Menurut penelitian Fraile-Martínez, selain penurunan alami akibat penuaan, terdapat pula fenomena penurunan kadar rata-rata populasi dari generasi ke generasi yang artinya kadar hormon pada generasi sekarang lebih rendah dari generasi lama. Penyebab adanya fenomena berkaitan erat dengan pola hidup modern.

Faktor Penyebab Rendahnya Kadar Hormon

Secara klinis, penyebab rendahnya testosteron terbagi ke dalam beberapa kategori. Pengkategorian ini harus melihat lokasi gangguan pada poros HPT. Berikut penjelasannya.

1. Hipogonadisme Primer

Gangguan ini adalah efek kegagalan organ testis sendiri untuk memproduksi hormon meskipun sinyal LH dan FSH normal atau (malah) meningkat. Berikut penyebabnya:

  • Kelainan genetik, seperti sindrom Klinefelther;

  • Cedera fisik pada testis, paparan radiasi, atau efek kemoterapi;

  • Infeksi, seperti orkitis mumps (gondongan);

  • Kondisi testis tidak turun sejak lahir (kriptorkismus).

2. Hipogonadisme Sekunder

Masalah pada gangguan hormon di kategori ini justru berada di otak, bukan di testis. Tepatnya, meliputi kinerja kelenjar pituitari atau hipotalamus. Pada praktiknya, kondisi testis sebenarnya normal, namun kelenjar pituitari atau hipotalamus yang ada di otak tidak mampu mengirimkan stimulus yang dibutuhkan testis. Beberapa pemicunya adalah:

  • Tumor kelenjar pituitari (seperti prolaktinoma);

  • Sindrom Kallmann (gangguan genetik langka);

  • Penggunaan obat-obatan jenis opioid atau kortikosteroid jangka panjang;

  • Kadar protein yang tinggi dalam darah (hiperprolaktinemia);

  • Penyalahgunaan steroid anabolik-androgenik yang menekan produksi hormon alami oleh tubuh.

3. Hipogonadisme Fungsional

Kategori ini adalah yang paling banyak terjadi. Organ testis dan otak sebenarnya normal, tapi ada kondisi tubuh tertentu yang menekan atau menghambat produksi hormon. Namun, kondisi ini sifatnya reversibel (bisa normal lagi). 

Faktor utama munculnya hipogonadisme fungsional meliputi:

  • Obesitas atau kondisi tubuh dengan lemak berlebih. Jumlah lemak berlebih dapat memicu peradangan yang mengganggu poros HPT dalam produksi hormon. Penurunan hormon testosteron ternyata juga memicu terjadi penumpukan lemak jenis viseral. Artinya, kondisi kelebihan lemak dan kondisi rendahnya hormon ini mempunyai sifat saling berkaitan. Obesitas menurunkan produksi hormon dan penurunan hormon memicu penumpukan lemak. Sebutannya untuk kondisi tadi adalah pseudo-hypogonadism of obesity atau gejala testosteron rendah palsu atas sebab obesitas. Maksudnya, kadar normal bisa dianggap rendah semu;

  • Diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik. Kedua kondisi ini erat kaitannya dengan resistensi insulin;

  • Kurang tidur yang secara signifikan memang dapat menurunkan kadar hormon. Tidur kurang dari 5 jam per malam selama seminggu dapat menurunkan hormon pada pria muda setara dengan penuaan 10-15 tahun;

  • Faktor lain, seperti stres kronis yang meningkatkan kortisol, konsumsi alkohol berlebihan (sampai dianggap toksik pada sel Leydig), dan paparan terhadap bahan kimia pengganggu endokrin. Ada juga faktor penuaan alami yang dapat menurunkan kadar hormon sekitar 1-2% per tahun setelah usia 30-40 tahun.

Contoh Gejala

Gejala klinis defisiensi testosteron luas dan tidak spesifik. Jadi, harus melalui evaluasi laboratorium menyeluruh agar tidak tertukar dengan kondisi medis lain. Berikut uraiannya.

Gejala Seksual dan Fisik

Dampak yang paling awal muncul akan berkaitan dengan fungsi reproduksi serta perubahan stamina tubuh. Secara biologis, gejala ini dapat dikenali melalui beberapa indikator berikut:

  • Penurunan gairah seksual serta disfungsi ereksi;

  • Berkurangnya ereksi spontan di pagi hari;

  • Penurunan jumlah dan kualitas sperma hingga memengaruhi kesuburan;

  • Kelelahan kronis, penurunan energi, serta melemahnya massa dan kekuatan otot;

  • Peningkatan lemak tubuh (terutama di area perut) dan turunnya kepadatan tulang;

  • Pembesaran serta nyeri pada jaringan payudara pria (ginekomastia);

  • Berkurangnya rambut wajah atau tubuh pada kasus berat; serta 

  • Anemia ringan.

Gejala Psikologis dan Kasus Khusus

Selain fisik, penurunan hormon ini juga memengaruhi fungsi kognitif dan psikologis. Pada kasus bawaan seperti sindrom Klinefelter, gejala dapat terlihat sejak pubertas dalam bentuk ukuran testis yang kecil dan pertumbuhan rambut wajah yang minim.

Menurut ahli, skrining massal tidak dianjurkan untuk pria tanpa gejala. Pemeriksaan hanya boleh bagi kelompok berisiko tinggi, seperti penyandang HIV, obesitas, obesitas tipe 2, sindrom metabolik, osteoporosis, atau pengguna opioid dalam jangka panjang.

Kapan Harus Menemui Dokter?

Gejala defisiensi testosteron terlihat tumpang tindih dengan masalah kesehatan lain (seperti depresi, anemia, hingga gangguan tiroid). Maka dari itu, harus ada campur tangan ahli agar diagnosis lebih akurat. Konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam-endokrin atau urologi sebaiknya dilakukan setelah munculnya kondisi berikut. 

  • Kombinasi beberapa gejala klinis sudah menetap dan mengganggu kualitas hidup;

  • Mengalami perubahan fisik yang jelas (penyusutan testis/pembesaran payudara);

  • Keluhan tidak kunjung membaik meskipun telah memperbaiki pola makan atau tingkat stres secara mandiri dalam beberapa bulan; 

  • Masalah kesuburan;

  • Ada gejala tumor pituitari (sakit kepala terus-menerus dan gangguan penglihatan);

  • Sedang menjalani atau berencana melakukan terapi hormon.

Jenis Pemeriksaan Laboratorium

Diagnosis definitif tidak boleh diambil hanya dari satu kali pemeriksaan darah. Diperlukan konfirmasi ulang pada hari pemeriksaan yang berbeda. Tahapan pemeriksaannya meliputi: 

  • Anamnesis, meliputi evaluasi gejala, riwayat obat, riwayat penyakit, serta kondisi fisik;

  • Pemeriksaan testosteron total. Pemeriksaan lini pertama menggunakan sampel darah pagi hari (pukul 07.00–11.00) dalam kondisi puasa dan sehat akut;

  • Pemeriksaan testosteron bebas yang dilakukan jika ada kondisi yang memengaruhi protein SHBG seperti obesitas atau penyakit hati;

  • Pemeriksaan LH dan FSH untuk menemukan lokasi gangguan (di testis atau di otak);

  • Pemeriksaan prolaktin dan MRI pituitari. Dilakukan pada kadar total di bawah 150 ng/dL dengan LH rendah untuk menyingkirkan adanya tumor pituitari;

  • Pemeriksaan tambahan berupa analisis kariotipe, analisis sperma, DXA scan (untuk kepadatan tulang), serta pemeriksaan hemoglobin dan PSA sebelum terapi.

Atasi Gejala Hormon Kesuburan Pria Bersama Bumame

Pemantauan yang lengkap dan total kini dapat Anda rasakan melalui layanan Medical Check-Up Kesuburan Pria Bumame. Proses deteksinya nyaman dan meyakinkan karena didukung oleh implementasi teknologi laboratorium terdepan serta penanganan dari tenaga ahli yang kompeten. Harapannya, setelah pemeriksaan, masalah hormon Anda tidak akan terjadi berkelanjutan atau yang sampai mengganggu produktivitas harian.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesuburan pria sekaligus mendapatkan jawaban atas pertanyaan kesuburan Anda selama ini. Pemeriksaan ini meliputi tes LH, FSH, urine rutin, testosteron, dan prolaktin serta bisa dilaksanakan di rumah maupun di Klinik Bumame. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan pemeriksaan masing-masing.

Saat menjalani pemeriksaan ini, Anda tidak perlu melakukan persiapan khusus. Hasil tes akan membandingkan dan menjelaskan kadar normal hormon dengan kadar yang ada di tubuh Anda. Tes ini juga dapat memeriksa apakah Anda memiliki kadar testosteron yang terlalu tinggi atau rendah.

Apabila ingin melakukan pengecekan kesehatan seksual secara lebih lengkap di samping tes kesuburan, ambil paket Medical Check-Up Pranikah Pria, utamanya bagi Anda yang berencana memiliki keturunan sehat.

Langkah Pencegahan

Pendekatan utama yang paling aman adalah mencegah masalah secara mandiri. Tentunya, harus tetap berdasar pada pendekatan klinis yang sistematis. Catatannya, upaya pencegahan mandiri ini harus melalui pembenahan yang menyeluruh. Berikut adalah beberapa langkah pencegahannya.

1. Perubahan Gaya Hidup dan Manajemen Kesehatan

Mengubah kebiasaan sehari-hari adalah cara paling efektif dalam proses pemulihan serta akan jadi cara mudah dalam menjaga kestabilan hormon secara alami. Sikap yang perlu Anda biasakan meliputi:

  • Menurunkan berat badan dengan melakukan olahraga, diet, atau operasi bariatrik guna meningkatkan kadar hormon secara proporsional;

  • Memperbaiki kualitas tidur dengan mengusahakan tidur cukup selama 7-9 jam setiap malam secara konsisten;

  • Olahraga teratur untuk mengendalikan berat badan. Efeknya tergantung usia dan jenis latihan;

  • Pengelolaan penyakit kronis dengan mengontrol diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik;

  • Membatasi konsumsi zat toksik seperti alkohol dan menghindari penggunaan steroid anabolik; serta 

  • Mengelola stres kronis.

2. Evaluasi Suplemen dan Terapi Medis

Suplemen vitamin D umumnya gagal menaikkan kadar hormon secara signifikan, kecuali pada orang yang memang mengalami defisiensi vitamin D. Demikian pula dengan zinc yang manfaatnya hanya terasa bagi yang benar-benar kekurangan zat tersebut.

Jika mengubah gaya hidup Anda masih tidak efektif, terapi medis bisa menjadi jalan alternatif. Contohnya dengan mempertimbangkan terapi pengganti testosteron (TRT).

Berdasarkan studi klinis, terapi ini tidak meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular mayor ataupun risiko kanker prostat pada pria hipogonad. Namun, tercatat sedikit meningkatkan risiko fibrilasi atrium dan patah tulang. Oleh karena itu, keputusan terapi harus mengikuti arahan dokter spesialis.

Apakah Anda Mengalami Defisiensi Hormon Testosteron?

Upaya menjaga keseimbangan hormon ini harus dibarengi dengan perhatian aktif Anda terhadap sinyal tubuh secara menyeluruh. Itulah sebabnya Anda perlu melakukan tes kesehatan rutin di fasilitas kesehatan tepercaya untuk mendapatkan identifikasi gejala yang akurat dan konfirmasi klinis yang tepat.

Namun yang paling penting, kesehatan Anda utamanya sangat bergantung pada pola hidup sehat setiap hari. Ubah kebiasaan lama yang kurang sehat, bisa dimulai dengan memperbaiki kualitas tidur, mencapai berat badan ideal, dan tidak ragu berkonsultasi dengan profesional medis.

Lokasi Klinik Bumame

Referensi

  1. Tsutsumi & Tsuchiya, (2025) "Testosterone and Obesity in an Aging Society",

  2. AUA, (2018, diperbarui 2024) "Testosterone Deficiency Guideline".

  3. Araujo et al. Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. (2004). "Prevalence and incidence of androgen deficiency in middle-aged and older men: estimates from the Massachusetts Male Aging Study".

  4. Fraile-Martínez, Ortega, & García-Montero,  International Journal of Molecular Sciences, )2026). "Understanding the Secular Decline in Testosterone: Mechanisms, Consequences, and Clinical Perspectives".

  5. De Silva, Papanikolaou, Grossmann, Antonio, Quinton, Anawalt, & Jayasena,  The Lancet Diabetes & Endocrinology, (2024). "Male hypogonadism: pathogenesis, diagnosis, and management".

  6. Muir, Wittert, & Handelsman, Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, (2025) "Approach to the Patient: Low Testosterone Concentrations in Men With Obesity".  

  7. Su, Zhang, Zhu, Wu, & Jiao, Sleep Medicine, (2021). "Effect of partial and total sleep deprivation on serum testosterone in healthy males: a systematic review and meta-analysis".

  8. Leproult & Van Cauter, JAMA, (2011). "Effect of 1 week of sleep restriction on testosterone levels in young healthy men".

  9. Livingston & Heald,  Diagnostics, (2023). "Adult Male Hypogonadism: A Laboratory Medicine Perspective on Its Diagnosis and Management".

  10. Bhasin, Brito, Cunningham, et al., Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, (2018). "Testosterone Therapy in Men With Hypogonadism: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline".

  11. Khera et al., (2025). "Male hypogonadism: recommendations from the Fifth International Consultation on Sexual Medicine (ICSM 2024)".

  12. Okobi et al.,  Cureus, (2024). "Impact of Weight Loss on Testosterone Levels: A Review of BMI and Testosterone".

  13. Frontiers in Physiology, (2018). “Short-Term Exercise Training Inconsistently Influences Basal Testosterone in Older Men".

  14. Santos, Howell, Nichols, & Teixeira,  Clinical Therapeutics, (2020). "Reviewing the Evidence on Vitamin D Supplementation in the Management of Testosterone Status".

  15. Lincoff, Bhasin, Flevaris, et al., The New England Journal of Medicine, (2023). "Cardiovascular safety of testosterone replacement therapy".

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Apa itu hormon testosteron?

Testosteron adalah hormon steroid alami dari golongan androgen yang diproduksi terutama oleh sel Leydig di testis dengan bantuan kelenjar adrenal. Hormon ini berperan penting dalam mengatur fungsi reproduksi, metabolisme, serta berbagai proses di dalam tubuh.

Apa fungsi hormon testosteron?

Testosteron membantu menjaga massa dan kekuatan otot, kepadatan tulang, produksi sel darah merah, fungsi ereksi, suasana hati, serta mengatur distribusi lemak tubuh. Hormon ini juga berperan dalam menjaga kesehatan metabolik.

Apa yang dapat menyebabkan kadar testosteron rendah?

Penurunan kadar testosteron dapat disebabkan oleh gangguan pada testis, gangguan pada kelenjar pituitari atau hipotalamus, maupun kondisi fungsional seperti obesitas, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, kurang tidur, stres kronis, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan obat tertentu, serta proses penuaan.

Apa saja gejala kadar testosteron rendah?

Gejalanya dapat berupa penurunan gairah seksual, disfungsi ereksi, berkurangnya ereksi spontan di pagi hari, penurunan kualitas sperma, mudah lelah, berkurangnya massa dan kekuatan otot, peningkatan lemak tubuh, kepadatan tulang menurun, pembesaran jaringan payudara pada pria, berkurangnya rambut tubuh, hingga anemia ringan.

Kapan sebaiknya berkonsultasi ke dokter?

Segera berkonsultasi jika mengalami kombinasi gejala yang menetap dan mengganggu kualitas hidup, terjadi perubahan fisik seperti penyusutan testis atau pembesaran payudara, keluhan tidak membaik meski sudah memperbaiki gaya hidup, mengalami masalah kesuburan, memiliki gejala yang mengarah pada gangguan pituitari, atau sedang mempertimbangkan terapi hormon.

Bagaimana kadar testosteron diperiksa?

Diagnosis dilakukan melalui evaluasi gejala dan riwayat kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium seperti tes testosteron total, testosteron bebas bila diperlukan, pemeriksaan LH dan FSH, prolaktin, hingga pemeriksaan tambahan seperti MRI pituitari atau analisis sperma sesuai indikasi. Diagnosis tidak ditegakkan hanya dari satu kali pemeriksaan darah.

Bagaimana cara membantu menjaga kadar testosteron tetap optimal?

Menjaga berat badan ideal, tidur cukup 7–9 jam setiap malam, berolahraga secara teratur, mengendalikan penyakit kronis, menghindari konsumsi alkohol berlebihan dan penggunaan steroid anabolik, serta mengelola stres merupakan langkah yang dianjurkan untuk membantu menjaga kadar testosteron.

Apakah semua pria perlu menjalani pemeriksaan testosteron?

Tidak. Artikel menjelaskan bahwa skrining massal tidak dianjurkan pada pria tanpa gejala. Pemeriksaan umumnya dipertimbangkan pada orang yang memiliki keluhan atau termasuk kelompok berisiko tinggi sesuai penilaian dokter.