Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Dispepsia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Dispepsia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

SBAOthers

Baru beberapa suap makan siang, perut sudah terasa penuh. Sore harinya ulu hati perih, disusul kembung dan sendawa berulang. Banyak orang menyebutnya maag, lalu menunggu keluhan reda sendiri.

Dalam istilah medis, kumpulan keluhan ini disebut dispepsia. Kebanyakan kasusnya ringan, tetapi keluhan yang terus berulang bisa menurunkan kualitas hidup, dan sebagian kecil berasal dari penyakit yang perlu ditangani dokter.

Artikel ini membahas penyebab, gejala, tanda bahaya, dan cara mengatasi dispepsia.

Apa Itu Dispepsia?

Dispepsia adalah sekelompok keluhan di perut bagian atas yang muncul bersamaan. Menurut NIDDK, keluhannya meliputi nyeri, rasa panas, atau tidak nyaman di perut atas, cepat kenyang, rasa penuh setelah makan sedikit, kembung, mual, dan sendawa. Keluhan bisa datang sesekali atau rutin selama berminggu-minggu.

NIDDK menjelaskan dispepsia merupakan tanda, dan dokter membagi sumbernya ke dalam dua kelompok. Pada dispepsia organik, keluhan berasal dari penyakit yang ditemukan saat pemeriksaan, seperti gastritis atau radang lambung. NHS mencatat sebagian kecil kasus menjadi tanda kanker lambung.

Pada dispepsia fungsional, keluhan menetap tanpa penyakit yang bisa menjelaskannya, dan Mayo Clinic menyebut penyebabnya belum diketahui. Kelompok ini justru lebih umum. Menurut NIDDK, sekitar 7 dari 10 orang di Amerika Serikat yang memeriksakan dispepsia ke dokter mendapat diagnosis ini.

Penyebab Dispepsia yang Perlu Diketahui

Menurut NHS, dispepsia sering muncul saat asam lambung mengiritasi lapisan lambung atau kerongkongan. Sumbernya antara lain:

  • Refluks asam. Asam naik ke kerongkongan dan memicu rasa panas di dada. Keluhan ini mudah tertukar dengan dispepsia, menurut NIDDK.

  • Luka lambung. NHS memasukkan tukak lambung, yaitu luka terbuka di lapisan lambung, ke dalam penyebab dispepsia. Dokter bisa melihatnya lewat endoskopi.

  • Infeksi bakteri. Mayo Clinic memasukkan infeksi bakteri Helicobacter pylori ke dalam faktor risiko dispepsia fungsional. Infeksi ini bisa diperiksa dan diobati dokter.

  • Obat antinyeri. Golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bisa memicu atau memperberat keluhan. Mayo Clinic mencatat obat jenis ini banyak dijual bebas.

Siapa yang Lebih Mudah Mengalami Dispepsia?

NIDDK dan Mayo Clinic mencatat perempuan lebih berisiko mengalami dispepsia. NHS juga menyebut keluhan ini sangat umum pada ibu hamil sejak usia kehamilan 27 minggu. Merokok tercatat sebagai faktor risiko oleh ketiga lembaga tersebut, dan NHS menambahkan berat badan berlebih bisa memperberat keluhan.

Stres juga berperan. Kementerian Kesehatan menyebut stres bisa memengaruhi fungsi saluran pencernaan dan memicu gangguan seperti maag, sedangkan Mayo Clinic memasukkan kecemasan dan depresi sebagai faktor risiko.

Pola makan sering menjadi pemicu sehari-hari. NHS menyebut makanan berlemak atau pedas, cokelat, kopi, dan alkohol bisa memicu keluhan. Penelitian di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada 54 pasien dispepsia yang menjalani endoskopi mencatat 92,59% di antaranya terbiasa makan makanan berlemak, pemicu yang juga sering membuat maag kambuh.

Gejala Dispepsia yang Umum Dirasakan

NIDDK mencatat gejala dispepsia tidak selalu berkaitan dengan makan. Setiap orang bisa merasakan kombinasi keluhan yang berbeda.

1. Nyeri atau Perih di Ulu Hati

Rasa nyeri, panas, atau tidak nyaman muncul di perut bagian atas. Pada penelitian di Padang tadi, keluhan ini dialami 98,15% pasien. Karena penyebab sakit ulu hati beragam, ceritakan pola nyerinya kepada dokter.

2. Cepat Kenyang dan Begah

Perut terasa penuh padahal porsi belum habis, atau terasa tidak nyaman setelah makan sedikit. Mayo Clinic menyebut rasa kenyang yang datang terlalu awal sebagai salah satu gejala dispepsia fungsional. Bila disertai berat badan turun tanpa sebab, segera periksakan ke dokter.

3. Kembung dan Sering Sendawa

Perut atas terasa penuh gas, dan sendawa muncul berulang. NHS juga mencatat buang angin lebih sering. Keluhan perut kembung sendiri punya banyak penyebab lain.

4. Mual dan Rasa Panas di Dada

NHS memasukkan mual dan rasa terbakar di dada setelah makan ke dalam gejala gangguan pencernaan. Rasa panas ini juga menjadi ciri refluks, sehingga keduanya mudah tertukar. Nyeri dada yang menjalar ke lengan, leher, atau rahang perlu segera ditangani di IGD.

Apakah Dispepsia Berbahaya?

Menurut NIDDK, sebagian besar kasus dispepsia tidak menimbulkan masalah kesehatan, walau bisa menurunkan kualitas hidup. Kementerian Kesehatan juga mencatat gangguan pencernaan bisa memengaruhi kualitas hidup.

Risiko yang lebih serius datang dari penyakit penyebabnya. Muntah darah atau tinja hitam bisa menandakan perdarahan saluran cerna, salah satu alasan dokter menyarankan endoskopi menurut NIDDK.

Beda Dispepsia, Maag, Gastritis, dan GERD

Istilah ini sering dipakai bergantian, dan banyak orang juga bingung soal perbedaan GERD dan maag.

Istilah

Artinya

Kaitannya dengan dispepsia

Dispepsia

Kumpulan keluhan di perut atas

Nama keluhannya, sumbernya perlu dicari

Maag

Sebutan sehari-hari untuk keluhan lambung

Sering dipakai untuk dispepsia maupun gastritis

Gastritis

Radang pada lapisan lambung

Salah satu penyebab dispepsia, didiagnosis lewat endoskopi

Refluks asam dan GERD

Asam lambung naik ke kerongkongan, disebut GERD bila sering berulang dan mengganggu

Memicu rasa panas di dada, mudah tertukar dengan dispepsia

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Segera ke IGD bila keluhan di ulu hati atau dada disertai sesak napas, atau nyeri yang menjalar ke rahang, leher, atau lengan. Mayo Clinic menggolongkan tanda ini sebagai kondisi yang butuh pertolongan segera.

Buat janji dengan dokter bila muncul tanda berikut, yang menurut NHS bisa mengarah ke kondisi lebih serius:

  • Keluhan terus kambuh atau nyeri berat. NIDDK juga menyarankan ke dokter bila obat bebas tidak membantu. Catat kapan keluhan muncul dan obat yang Anda minum.

  • Berat badan turun tanpa sebab atau ada benjolan di perut. Penurunan berat badan tanpa diet atau olahraga perlu dicari penyebabnya. Rasa ada benjolan di perut bagian atas juga perlu diperiksa.

  • Sulit menelan atau muntah terus-menerus. Disfagia atau sulit menelan membuat makanan terasa tersangkut. Keluhan ini perlu diperiksa lebih lanjut.

  • Tanda kurang darah atau perdarahan. NHS memasukkan anemia defisiensi besi ke dalam daftar ini. Muntah atau tinja berdarah juga perlu segera diperiksa.

Cara Dokter Mencari Penyebab Dispepsia

Menurut NIDDK, dokter menanyakan gejala, obat yang diminum, riwayat cemas atau depresi, serta riwayat infeksi Helicobacter pylori dan kanker saluran cerna di keluarga. Pemeriksaan fisik meliputi memeriksa perut dan melihat apakah mata atau kulit menguning. Pemeriksaan lanjutan dipilih sesuai kondisi:

  • Tes Helicobacter pylori. Infeksi ini diperiksa lewat tes napas urea, tes tinja, atau tes darah. Tes tinja juga dipakai untuk melihat keberhasilan pengobatan.

  • Endoskopi saluran cerna atas. Selang lentur berkamera dipakai untuk melihat lapisan saluran cerna atas dan mengambil sampel jaringan. NIDDK menyebut dokter bisa menyarankan pemeriksaan endoskopi bila ada riwayat kanker di keluarga, konsumsi alkohol berat, sulit menelan, perdarahan, muntah berulang, atau berat badan turun.

  • Pemeriksaan pencitraan. Rontgen, CT scan, atau USG membantu mencari penyakit lain di saluran cerna. Jenisnya dipilih sesuai dugaan dokter.

Pada penelitian di Padang tadi, gastritis ditemukan pada 61,11% pasien yang menjalani endoskopi. Bila tidak ada penyebab yang ditemukan, dokter bisa mendiagnosis dispepsia fungsional, umumnya bila gejala muncul setidaknya sekali seminggu dalam 3 bulan terakhir dan dimulai minimal 6 bulan sebelumnya. Ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.

Pilihan Pendukung setelah Konsultasi Dokter

Bila dispepsia disertai mual dan muntah, NIDDK mencatat dokter bisa memberikan obat untuk meredakannya. Setelah dokter menilai kondisi Anda, infus bisa menjadi salah satu pilihan pendukung.

V-Drip Happy Stomach di Bumame berisi elektrolit, gastric protector atau pelindung lambung, dan antiemetik atau obat antimual. Infus ini tidak disarankan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan orang dengan riwayat epilepsi, jadi sampaikan riwayat kesehatan Anda kepada tenaga kesehatan. Untuk menanyakan jadwalnya, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Cara Mengatasi Dispepsia

Menurut NIDDK, penanganan dispepsia bergantung pada penyebabnya:

  • Obat penurun asam lambung. Golongan penghambat pompa proton (PPI) dan penghambat H2 menurunkan jumlah asam yang dibuat lambung. NHS menyebut apoteker juga bisa menyarankan antasida atau alginat untuk meredakan rasa panas dan nyeri.

  • Penanganan infeksi Helicobacter pylori. Dokter bisa memberikan lebih dari satu jenis antibiotik sekaligus. Obat ini kadang digabung dengan jenis obat lain.

  • Obat sesuai keluhan. Prokinetik membantu lambung mengosongkan isinya lebih cepat. Dokter juga bisa memberi obat antimual, atau antidepresan dan obat antikecemasan untuk meredakan nyeri.

  • Terapi kesehatan mental dan penyesuaian obat. Cemas dan depresi bisa berperan pada dispepsia fungsional, sehingga konseling atau latihan relaksasi bisa membantu. Bila keluhan berasal dari obat, dokter akan menyesuaikannya, jadi jangan menghentikan obat resep sendiri.

Kebiasaan yang Membantu Mencegah Dispepsia

NHS dan Kementerian Kesehatan menyarankan kebiasaan berikut:

  • Atur menu dan minuman. Kurangi kopi, teh, minuman bersoda, alkohol, serta makanan berlemak dan pedas. Kementerian Kesehatan menyebut makanan tinggi lemak dan gula serta rendah serat bisa memperlambat pencernaan.

  • Beri jeda sebelum tidur. NHS menyarankan tidak makan 3 sampai 4 jam sebelum tidur. Mengganjal kepala dan bahu lebih tinggi juga membantu menahan asam naik.

  • Berhenti merokok dan jaga berat badan. Kedua langkah ini disarankan NHS. Turunkan berat badan secara bertahap bila berlebih.

  • Kelola stres dan tetap aktif. Kurang gerak bisa mengganggu pergerakan makanan di saluran cerna, menurut Kementerian Kesehatan. Coba beberapa cara mengelola stres seperti relaksasi.

  • Bijak memakai obat antinyeri. Hindari OAINS tanpa resep. Bila rutin butuh obat antinyeri, tanyakan pilihan lain kepada apoteker atau dokter.

Kenali Polanya, Konsultasikan Lebih Awal

Sebagian besar dispepsia membaik dengan perubahan kebiasaan dan penanganan sesuai penyebabnya. Mengenali pola keluhan dan tanda bahaya membantu dokter menemukan sumbernya lebih cepat. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Bila keluhan terus kembali, chat CS Bumame untuk menanyakan layanan di klinik terdekat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Definition & Facts of Indigestion.

  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diagnosis of Indigestion.

  3. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Treatment of Indigestion.

  4. NHS. Indigestion.

  5. Mayo Clinic. Functional Dyspepsia, Symptoms and Causes.

  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Penyakit Pencernaan.

  7. Putri CY, Arnelis, Asterina. Jurnal Kesehatan Andalas, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Gambaran Klinis dan Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas Pasien Dispepsia di Bagian RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apa itu dispepsia dan apa saja gejalanya?

Dispepsia adalah kumpulan keluhan di perut bagian atas, seperti nyeri atau perih di ulu hati, cepat kenyang, perut terasa penuh setelah makan sedikit, kembung, mual, dan sering bersendawa. Keluhan ini bisa muncul sesekali atau berulang selama berminggu-minggu.

Apakah dispepsia sama dengan maag?

Tidak sepenuhnya sama. Maag merupakan sebutan sehari-hari untuk keluhan lambung, sedangkan dispepsia adalah istilah medis untuk kumpulan gejalanya. Gastritis atau radang lambung dapat menjadi salah satu penyebab dispepsia, tetapi dispepsia juga bisa terjadi tanpa penyakit yang terlihat saat pemeriksaan.

Apakah dispepsia berbahaya?

Sebagian besar kasus tidak menimbulkan masalah kesehatan serius, tetapi keluhan berulang dapat mengganggu kualitas hidup. Segera ke IGD jika nyeri dada atau ulu hati disertai sesak napas atau nyeri menjalar ke lengan, leher, atau rahang. Muntah darah, tinja hitam, sulit menelan, dan penurunan berat badan tanpa sebab juga perlu segera diperiksa.

Bagaimana dokter mengetahui penyebab dispepsia?

Dokter akan menanyakan gejala, riwayat kesehatan, dan obat yang digunakan, lalu melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan lanjutan dapat berupa tes Helicobacter pylori melalui napas, tinja, atau darah, endoskopi saluran cerna atas, maupun pemeriksaan pencitraan sesuai kebutuhan.

Bagaimana cara mengatasi dispepsia di rumah?

Cobalah membatasi kopi, alkohol, makanan berlemak, dan makanan pedas jika memicu keluhan. Hindari makan dalam 3–4 jam sebelum tidur, berhenti merokok, jaga berat badan, dan kelola stres. Jika keluhan terus berulang atau tidak membaik, konsultasikan dengan dokter agar penanganan sesuai penyebabnya.