Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Divertikulitis: Gejala dan Penyebab
Kembali ke Artikel & Berita

Divertikulitis: Mengenal Gejala, Penyebab, & Diagnosisnya

SBAOthers

Nyeri perut bawah yang datang mendadak dan perut terasa begah, tentu membuat khawatir. Sebab, bisa saja itu adalah tanda divertikulitis, yaitu peradangan pada kantong-kantong kecil di dinding usus besar. Agar Anda tahu apa yang terjadi di dalam tubuh dan langkah apa yang tepat, mari kita dalami penyakit ini.

Apa itu Divertikulitis? 

Sebelum memahami penyakit divertikulitis, mari mengenal divertikula. Divertikula adalah kantong-kantong kecil yang menonjol dari dinding usus besar. Munculnya ketika lapisan dalam usus (mukosa dan submukosa) terdorong keluar melalui titik lemah dinding ototnya.

Sedang divertikulitis atau diverticulitis adalah kondisi ketika satu atau lebih kantong itu meradang atau terinfeksi. Istilah ini sebenarnya bagian dari satu keluarga besar yang disebut penyakit divertikular kolon.

Berdasarkan tingkat keparahannya, diverticulitis terbagi menjadi dua. Uncomplicated berarti tanpa komplikasi, sedangkan complicated berarti ada komplikasi. Contohnya abses (kumpulan nanah), perforasi (usus bocor), fistula (saluran abnormal yang menghubungkan usus dengan organ lain), atau penyumbatan.

Gejala Divertikulitis

Gejalanya bisa berbeda-beda, mulai dari yang ringan sampai yang sangat mengganggu aktivitas. Semuanya bergantung pada seberapa berat peradangannya dan apakah sudah terjadi komplikasi. Gejala paling khas adalah nyeri di perut bawah kiri yang datangnya mendadak dan langsung intens. Kasus seperti ini terjadi pada 70% pasien.

Sementara di Asia, nyerinya bisa muncul di kanan bawah. Maka dari itu, orang-orang sering mengira ini usus buntu. Selain nyeri, gejala lain yang mungkin menyertai adalah sebagai berikut:

  • demam,

  • mual dan muntah,

  • perubahan kebiasaan buang air besar, bisa berupa diare mendadak atau justru konstipasi,

  • perut terasa sakit saat disentuh, terutama di kuadran kiri bawah,

  • nyeri yang memburuk saat bernapas dalam atau bergerak, misalnya berjalan,

  • perut kembung, dan

  • bisa muncul darah saat buang air besar pada kasus yang lebih parah.

Ada juga yang menandakan adanya komplikasi dan sudah tidak boleh menunda kunjungan ke dokter.

  • Mengalami nyeri perut yang sangat hebat dan sudah menyebar ke seluruh perut. 

  • Perut kembung keras, disertai tidak bisa buang angin atau BAB.

  • Muntah terus menerus dan tidak bisa minum.

  • Demam sangat tinggi atau menggigil.

  • Pendarahan di anus.

Waspadai juga tanda sepsis, yaitu infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh. Termasuk kulit pucat atau bercak-bercak, napas cepat, dan kebingungan. Satu catatan lagi, gejala penyakit ini mirip dengan beberapa kondisi lain, seperti IBS, radang usus buntu atau penyakit Crohn. Jadi, jangan menebak-nebak sendiri.

Penyebab Divertikulitis

Penyebab diverticulitis sendiri (perdagangannya) adalah karena ada divertikula yang merobek dinding usus dan akhirnya membuat peradangan. Lantas, kenapa divertikula bisa merobek? Penyebab pastinya belum diketahui atau disetujui pasti, tapi para ahli memiliki beberapa teori yang kuat.

  • Teori Pertama: Obstruksi (penyumbatan) fekal. Kotoran yang keras menyumbat mulut divertikula. Lalu bakteri berkembang berlebihan, mukosa meradang, dan terjadi mikroperforasi (lubang yang sangat kecil).

  • Teori Kedua: Teori ini menyangkut motilitas kolon, yaitu pergerakan usus. Jika gerakannya tidak teratur, tekanan di dalam usus menjadi tinggi dan mendorong mukosa keluar melalui titik lemah. Tepatnya tempat pembuluh darah menembus dinding usus.

  • Faktor Lain: Faktor bawaan juga berperan di sini. Variasi gen tertentu dan gangguan respons imun tubuh berkaitan dengan terbentuknya divertikula. Selain itu, pada orang dengan gangguan jaringan ikat seperti sindrom Marfan dan Ehlers-Danlos, dinding usus cenderung lebih lemah, hingga mudah membentuk divertikula.

Selain itu, beberapa faktor di bawah ini juga termasuk risiko:

  • usia di atas 65 tahun (prevalensinya naik dengan usia),

  • diet rendah serat dan tinggi daging merah,

  • obesitas,

  • merokok dan konsumsi alkohol berat,

  • kurang aktivitas fisik,

  • penggunaan NSAID (seperti ibuprofen dan naproxen), opioid, dan steroid,

  • kadar vitamin D yang rendah, dan

  • Hipertensi, diabetes tipe 2, serta penyakit ginjal polikistik.

Namun, ada satu mitos yang perlu pembenaran. Banyak orang percaya bahwa kacang, biji-bijian, dan popcorn bisa "nyangkut" di kantong usus lalu memicu radang. Faktanya, makanan tersebut tidak meningkatkan risiko diverticulitis.

Perbedaan Divertikulosis dan Divertikulitis

Dua istilah tersebut sering tertukar karena bagian depannya memang mirip. Cara mudah mengingatnya, akhiran -osis berarti kondisi, sedangkan akhiran -itis berarti peradangan.

Divertikulosis adalah keberadaan kantong-kantong di dinding usus besar tanpa peradangan. Sedangkan divertikulitis adalah ketika kantong-kantong itu meradang atau terinfeksi.

Karena itu, divertikulosis sebenarnya bukan penyakit, melainkan kondisi anatomi. Hanya sekitar 4% orang dengan divertikulosis yang akan mengalami diverticulitis dalam hidupnya.

Dari segi gejala sendiri, divertikulosis umumnya tidak terasa apa-apa. Sebagian orang mungkin merasakan kram ringan, kembung, konstipasi, atau diare kronis. Sebaliknya, diverticulitis hampir selalu bergejala, seperti yang telah kita bahas di atas. Dan karena tanpa gejala, penemuan divertikulosis biasanya terjadi tidak sengaja.

Diagnosis Lewat Tes CRP

Ketika Anda datang ke dokter dengan keluhan nyeri perut, salah satu tes yang akan Anda lakukan adalah tes MCU CRP. Tes C-Reactive Protein adalah penanda peradangan dalam darah. Kadarnya akan naik jika ada peradangan, termasuk pada divertikulitis akut.

Kelebihan utama tes ini adalah sensitivitasnya untuk mendeteksi acute diverticulitis mencapai 89-96%. Artinya, hampir semua orang yang benar-benar sakit akan terdeteksi. Biasanya, jika memang terdeteksi CRP tinggi, dokter akan melanjutkan dengan CT scan abdomen atau USG untuk konfirmasi.

Di sisi lain, kekurangannya ada di spesifisitasnya yang rendah. CRP tinggi bisa dari banyak hal, seperti infeksi di bagian tubuh lain atau peradangan kronis. Jadi, CRP tinggi saja belum cukup untuk memastikan. Namun, jika CRP normal, meski gejalanya mirip, kemungkinan besar bukan diverticulitis.

Pengobatan dan Pantangan Makanan

Sebagian besar kasus bisa teratasu dengan operasi. Pendekatannya bergantung pada apakah ada komplikasi atau tidak.

Pengobatan Divertikulitis Tanpa Komplikasi

Jika tanpa komplikasi, sebagian besar pasien hanya perlu rawat jalan. Antibiotik diberikan secara selektif, bukan rutin, pada pasien dengan sistem imun normal dan gejala yang ringan. 

Jika antibiotik diperlukan, regimen umumnya adalah amoxicillin-clavulanate atau fluoroquinolone dikombinasikan dengan metronidazole selama 7–10 hari. Dengan alternatif:

  • Trimethoprim-sulfamethoxazole plus metronidazole,

  • Moxifloxacin, dan

  • Aztreonam/avibactam.

Pengobatan Divertikulitis dengan Komplikasi

Anda perlu rawat inap. Penanganannya meliputi antibiotik melalui infus (IV), drainase perkutan (pembuangan nanah) untuk abses, dan operasi untuk perforasi, peritonitis, atau obstruksi.

Jenis operasinya antara lain reseksi sigmoid, prosedur Hartmann, atau anastomosis primer. Setelah episode akut, kolonoskopi dalam 6–8 minggu kemudian untuk menyingkirkan kanker kolon, terutama pada kasus dengan komplikasi.

Pantangan dan Anjuran Makanan

Pertama, hal yang tidak perlu Anda takuti, kacang-kacangan, biji-bijian, popcorn, jagung, dan tomat berbiji. Semuanya tidak meningkatkan risiko. Makanan berserat tinggi justru baik untuk pencegahan. Baik untuk pencegahan dan pemulihan, biasakan untum memperhatikan hal berikut.

  • Diet tinggi serat, minimal 20–35 gram per hari, dari buah, sayur, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan.

  • Minum air putih minimal 8 gelas per hari agar serat bekerja optimal.

  • Batasi daging merah dan makanan olahan.

  • Hindari alkohol berat dan berhenti merokok.

  • Olahraga teratur, minimal 30 menit per hari

Ketika dalam fase akut, sebaiknya hindari NSAID (Non Steroidal Anti Inflamation Drugs) karena meningkatkan risiko perforasi dan perdarahan. Batasi juga makanan tinggi lemak dan rendah serat selama fase akut agar beban usus lebih ringan.

Kapan Harus ke Dokter?

Setelah mengenali gejalanya yang mirip dengan banyak kondisi lain, tidak perlu langsung mengambil kesimpulan bahwa penyakit Anda adalah divertikulitis. Namun, segera hubungi dokter jika mengalami hal berikut.

  • Nyeri perut bawah kiri yang tidak kunjung hilang atau malah memburuk.

  • Demam di atas 38°C disertai nyeri perut.

  • Perubahan BAB mendadak (diare atau konstipasi) yang tidak wajar.

  • Darah atau lendir dalam tinja.

  • Mual atau muntah yang mengganggu asupan cairan.

Lalu, langsung masuk IGD jika muncul hal berikut.

  • Nyeri perut sangat hebat dan menyeluruh.

  • Perut kembung keras, tidak bisa BAB atau buang angin.

  • Muntah terus-menerus sampai tidak bisa minum.

  • Tanda sepsis: demam sangat tinggi atau justru sangat rendah, kulit pucat atau bercak-bercak, napas cepat, bingung, dan lemas ekstrem.

  • Perdarahan hebat dari anus, baik tinja hitam maupun merah segar dalam jumlah banyak.

Setelah episode akut berlalu, masih ada perlakuan yang menunggu. Lakukan kolonoskopi 6–8 minggu setelah sembuh, terutama jika Anda belum pernah menjalaninya dalam 1 tahun terakhir, untuk menyingkirkan kanker kolon. 

Anda juga bisa berkonsultasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet tinggi serat untuk kedepannya. Jika gejala kambuh lebih dari 2–3 kali, tanyakan pada dokter apakah operasi elektif perlu dipertimbangkan.

Saatnya Dengarkan Sinyal dari Perut Anda 

Divertikulitis memang terdengar menakutkan, tetapi jangan cemas berlebih karena sebagian besar kasusnya bisa ditangani dengan baik. Cukup kenali gejalanya, lakukan tes CRP bila ada tanda bahaya, dan jaga pola makan tinggi serat. Dengan langkah yang tepat, usus Anda bisa kembali nyaman. 

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi: 

  1. Bach, K., Menon, G., & Goosenberg, E. (StatPearls Publishing). (2026). Diverticular Disease of the Colon.

  2. NHS (National Health Service, Inggris). (2023). Diverticular disease and diverticulitis.

  3. UCHealth. (2026). Diverticulitis and diverticulosis.

  4. MedlinePlus (National Library of Medicine, AS). (2026). Diverticulosis and diverticulitis.

  5. Mayo Clinic. (2026). Diverticulitis.

  6. Harvard Health Publishing (Harvard Medical School). (2026). Diverticulosis and diverticulitis.

  7. Vijfschagt, N. D., de Boer, M. R., Berger, M. Y., Burger, H., & Holtman, G. A. (Family Practice). (2024). Accuracy of diagnostic tests for acute diverticulitis that are feasible in primary care: a systematic review and meta-analysis.

  8. American Family Physician (American Academy of Family Physicians). (2024). Ultrasonography and CRP (rule out only) are the most useful tools for diagnosing acute diverticulitis that are feasible in primary care

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Apa itu divertikulitis?
Divertikulitis adalah kondisi ketika satu atau lebih divertikula, yaitu kantong kecil pada dinding usus besar, mengalami peradangan atau infeksi. Kondisi ini dapat terbagi menjadi divertikulitis tanpa komplikasi dan dengan komplikasi.
Apa saja gejala divertikulitis?
Gejala yang umum meliputi nyeri perut bawah, terutama sebelah kiri, demam, mual dan muntah, perubahan kebiasaan BAB, perut kembung, serta nyeri yang memburuk saat bergerak.
Apa perbedaan divertikulosis dan divertikulitis?
Divertikulosis adalah keberadaan kantong-kantong pada dinding usus besar tanpa peradangan, sedangkan divertikulitis terjadi ketika kantong tersebut mengalami peradangan atau infeksi.
Apakah divertikulitis harus selalu diobati dengan antibiotik?
Tidak selalu. Pada divertikulitis tanpa komplikasi dengan gejala ringan dan sistem imun normal, dokter dapat memilih tidak memberikan antibiotik. Penanganan disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan.
Apa makanan yang dianjurkan untuk penderita divertikulitis?
Pola makan tinggi serat, sekitar 20–35 gram per hari, dapat membantu pencegahan dan pemulihan. Sumbernya dapat berasal dari buah, sayur, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan, disertai cukup air putih.