Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Penyakit Gastroenteritis: Gejala dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Penyakit Gastroenteritis: Penyebab, Gejala & Pengobatannya

SBAOthers

Hari yang sebelumnya berjalan seperti biasa bisa mendadak berubah dalam beberapa detik ketika perut terasa tidak nyaman. Mulas, mual, muntah, hingga harus bolak-balik ke toilet pastinya akan sangat mengganggu aktivitas harian. Keluhan ini termasuk sangat sering terjadi, salah satu penyebabnya adalah penyakit gastroenteritis.

Apa Itu Penyakit Gastroenteritis?

Penyakit gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang umumnya menimbulkan gejala berupa diare, mual, muntah, dan kram atau nyeri perut. Kondisi yang sering disebut sebagai flu perut atau muntaber ini biasanya terjadi karena infeksi virus pada saluran pencernaan.

Meskipun demikian, kondisi ini juga bisa terjadi karena infeksi parasit atau bakteri tertentu. Pada banyak kasus, keluhan kondisi ini bisa berlangsung singkat dan membaik tanpa pengobatan khusus. Namun, jika keluhan seperti muntah dan diare berkepanjangan dan menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan, maka evaluasi medis sangat disarankan.

Penyebab Gastroenteritis

Penyebab gastroenteritis pada sebagian besar kasus adalah infeksi virus, bakteri, atau parasit.

  • Infeksi virus: Jenis virus yang umumnya mendalangi kondisi ini adalah Norovirus dan rotavirus. Keduanya bisa menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan.

  • Infeksi bakteri: Infeksi bakteri seperti  Salmonella, Campylobacter, Shigella, dan beberapa jenis Escherichia coli juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan serupa.

  • Parasit: Pada kasus yang lebih jarang, serangan parasit seperti Giardia juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan dan biasanya gejalanya berlangsung lebih lama (termasuk diare kronis).

Penularannya bisa terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi. Virus dan bakteri juga bisa berpindah melalui tangan atau permukaan benda yang terkontaminasi, kemudian masuk ke tubuh ketika seseorang menyentuh mulut.

Faktor Risiko Penyakit Gastroenteritis

Gastroenteritis bisa dialami siapa saja, tetapi peluang terpaparnya meningkat pada situasi tertentu. Ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan potensi penyakit gastroenteritis, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Konsumsi makanan dan minuman tidak steril: Kebiasaan makan di tempat yang kebersihannya kurang terjaga atau akses air bersih dan sanitasi yang terbatas.

  • Kontak dengan penderita: Kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami gastroenteritis juga meningkatkan risiko penularan, terutama jika kebersihan tangan dan permukaan di sekitar tidak diperhatikan.

  • Usia: Kelompok usia tertentu memiliki risiko tinggi untuk mengalami kondisi ini. Hal ini terkait dengan kondisi sistem imun. Misalnya, anak berusia di bawah 6 tahun memiliki sistem imun yang belum sempurna dan lansia berusia di atas 65  tahun memiliki sistem imun yang sudah menurun.

  • Konsumsi obat-obatan tertentu: Konsumsi obat-obatan tertentu seperti obat penekan asam lambung atau antibiotik dalam jangka panjang bisa mengubah tingkat keasaman lambung, sehingga memicu infeksi.

Gejala Gastroenteritis

Gejala gastroenteritis biasanya muncul dalam bentuk gangguan pencernaan yang cukup mudah dikenali. Adapun beberapa gejala yang paling umum adalah:

  • Diare atau buang air besar lebih sering dengan tinja yang encer;

  • Mual dan muntah;

  • Kram atau nyeri perut;

  • Demam;

  • Nafsu makan berkurang; dan

  • Tubuh terasa lemas.

Tidak semua orang mengalami seluruh gejala di atas. Pada beberapa kasus, ada yang lebih banyak mengalami diare, sementara yang lain justru mengalami muntah dan kram perut.

Hal yang perlu Anda perhatikan adalah tanda kehilangan cairan. Rasa haus yang berlebihan, mulut kering, urine menjadi lebih sedikit atau berwarna lebih gelap, pusing, dan lemas adalah beberapa tanda yang menunjukkan kondisi dehidrasi.

Perbedaan Penyakit Gastroenteritis dengan Diare Biasa

Diare dan gastroenteritis sering dianggap sebagai kondisi yang sama, karena keduanya memang bisa muncul bersamaan. Namun, keduanya pada dasarnya memiliki arti berbeda.

Diare adalah gejala, sedangkan gastroenteritis adalah penyakit yang bisa menyebabkan gejala tersebut. Selain itu, diare ditandai dengan tinja yang lebih encer atau frekuensi buang air besar yang lebih sering dari biasanya. Sementara, gastroenteritis terjadi ketika terjadi infeksi pada usus atau lambung.

Dalam banyak kasus, seseorang dengan kondisi muntaber juga bisa mengalami gejala selain diare, seperti mual, muntah, kram perut, dan demam. Kesimpulannya, diare tidak selalu disebabkan oleh gastroenteritis. Perubahan pola makan, efek obat, intoleransi makanan, keracunan makanan, hingga penyakit tertentu juga bisa memicu diare.

Jadi, ketika mengalami diare, Anda tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah gastroenteritis. Untuk mengetahui penyebab akurat, periksakan diri ke dokter. Nantinya, dokter akan bantu mengevaluasi penyebab berdasarkan riwayat makanan, gejala yang menyertai, dan durasi keluhan yang Anda alami.

Diagnosis Penyakit Gastroenteritis

Tidak semua kasus gastroenteritis membutuhkan pemeriksaan laboratorium. Jika gejala termasuk ringan dan berlangsung singkat, dokter bisa membuat penilaian berdasarkan prosedur berikut ini.

  • Wawancara medis: Dokter mungkin akan menanyakan kapan diare atau muntah dimulai, seberapa sering keluhan terjadi, makanan yang dikonsumsi sebelumnya, riwayat perjalanan, atau kemungkinan kontak dengan orang yang sedang sakit.

  • Pemeriksaan fisik: Dokter akan memeriksa sejumlah tanda dehidrasi, seperti mulut kering, penurunan turgor kulit, mata cekung, dan memeriksa nyeri tekan di area perut.

  • Pemeriksaan feses: Pemeriksaan ini biasanya dilakukan jika muncul gejala yang cukup berat atau berlangsung lama pada pasien, seperti adanya darah pada feses. Di sini, dokter perlu mencari penyebabnya melalui pemeriksaan sampel feses di laboratorium, seperti Fecal Occult Blood Test (FOBT).

Pengobatan Gastroenteritis

Pada gastroenteritis akibat virus, tubuh umumnya bisa pulih dengan sendirinya, sehingga pengobatannya lebih fokus untuk menjaga kondisi tubuh. Adapun beberapa langkah pengobatan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Mengganti Cairan yang Hilang

Langkah pertama adalah mengganti cairan yang hilang. Jika Anda masih bisa minum, maka konsumsilah cairan secara perlahan tetapi sering. Jika diare cukup kronis, pertimbangkan mengonsumsi larutan oralit untuk menggantikan air dan elektrolit yang hilang akibat diare.

2. Perhatikan Pola Makan

Saat mengidap gastroenteritis, Anda tidak harus berhenti makan, tapi harus memperhatikan pola makan. Anda bisa coba makan bertahap dengan porsi kecil saat gejala mereda. Selain itu, hindari makanan berlemak atau minuman tinggi gula, karena keduanya bisa membuat kondisi diare semakin parah.

3. Jangan Sembarangan Konsumsi Antibiotik dan Obat Antidiare

Kedua obat ini pada dasarnya tidak diperlukan untuk penyakit gastroenteritis akibat virus. Bahkan, pada infeksi bakteri tertentu, antibiotik tidak selalu diberikan karena keputusan tersebut bergantung pada jenis infeksi dan kondisi pasien. Hal ini juga berlaku untuk obat antidiare.

Dengan kata lain, pengobatan gastroenteritis bukan sekadar mencari obat untuk menghentikan diare. Menjaga tubuh tetap terhidrasi dan memastikan bahwa penyebabnya tidak membutuhkan penanganan khusus jauh lebih penting. Jika Anda belum membaik dalam 2 hari, segera periksa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Cara Mencegah Gastroenteritis

Gastroenteritis cukup mudah menyebar, terutama jika penyebabnya adalah virus. Kebiasaan sederhana di rumah bisa membantu mengurangi risiko penularannya. Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menurunkan risiko penyakit gastroenteritis.

  • Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah menggunakan toilet, sebelum makan, dan menyiapkan makanan.

  • Pastikan hanya mengonsumsi makanan matang, buah dan sayuran yang sudah dicuci dengan air mengalir, serta air minum yang berasal dari sumber aman.

  • Jika Anda sedang mengalami gastroenteritis, sebaiknya jangan menyiapkan makanan untuk orang lain. Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), praktik yang lebih aman adalah menunggu setidaknya selama 48 jam setelah gejala berhenti.

  • Bersihkan muntahan atau tinja dengan cara yang tepat untuk mencegah penyebaran virus. Pasalnya, virus penyebab gastroenteritis seperti norovirus bisa menyebar dengan mudah melalui lingkungan yang terkontaminasi.

Pertimbangkan Skrining Jika Keluhan Lambung Berulang

Gastroenteritis biasanya bersifat akut, di mana keluhan muncul dalam waktu relatif singkat dan kemudian membaik. Oleh karena itu, gangguan pencernaan yang terus berulang atau tidak kunjung hilang sebaiknya tidak langsung Anda anggap sebagai gastroenteritis.

Keluhan seperti nyeri di ulu hati, mual, muntah, cepat kenyang, atau rasa tidak nyaman pada perut bisa memiliki banyak kemungkinan penyebab. Jika Anda memiliki keluhan penyakit gastroenteritis dan faktor risiko tertentu, skrining kanker lambung menjadi satu pemeriksaan yang disarankan.

Paket GASTROClear dari Bumame memfasilitasi kebutuhan tersebut. Dengan teknologi microRNA dari Singapura, pemeriksaan berbasis darah ini bisa mendeteksi kanker stadium 1 (>87,5%) dan kanker stadium 2 (>89,5%) secara akurat. Sehingga, Anda bisa mendeteksi dini dan mencegah kanker sebelum berkembang ke tahap selanjutnya.

Selain skrining kanker, Bumame juga menyediakan paket layanan Medical Check Up Plus. Paket ini mencakup pemeriksaan lengkap mulai dari tes hematologi, profil lipid, gula darah puasa, asam urat, fungsi hati, fungsi ginjal, dan urine lengkap. Pemeriksaan ini akan memberi Anda gambaran kondisi kesehatan secara menyeluruh, sehingga memungkinkan deteksi dini risiko penyakit secara komprehensif.

Kapan Harus ke Dokter?

Penanganan gastroenteritis ringan umumnya bisa Anda lakukan secara mandiri di rumah. Namun, ada situasi di mana Anda sebaiknya tidak hanya menunggu gejala mereda.

Segera cari pertolongan medis jika diare atau muntah membuat Anda sulit mempertahankan asupan cairan. Terutama jika sudah muncul tanda dehidrasi seperti urine sangat sedikit, pusing, atau lemas berat.

Anda juga sebaiknya melakukan pemeriksaan jika muncul beberapa gejala yang lebih serius seperti munculnya darah atau nanah di tinja, perubahan warna tinja menjadi lebih hitam, demam tinggi, nyeri perut berat, atau diare kronis.

Kenali Penyebabnya, Jaga Cairan Tubuh

Pada banyak kasus, penyakit gastroenteritis memang bisa membaik atau mereda dalam beberapa hari. Namun, bukan berarti semua keluhan diare dan muntah bisa Anda kategorikan sebagai gejala gastroenteritis.

Mengenali gejala lengkapnya, mencukupi asupan cairan, menjaga kebersihan, dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis adalah bagian penting dari penanganan kondisi ini.

Jika gangguan pencernaan justru berulang atau berlangsung lebih lama dari biasanya, jangan hanya berfokus pada gejalanya. Segera lakukan pemeriksaan medis untuk mengetahui sumber penyebab dan penanganan yang tepat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2025). Definition & Facts for Viral Gastroenteritis (“Stomach Flu”). 

  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2025). Symptoms & Causes of Viral Gastroenteritis (“Stomach Flu”).

  3. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2025). Symptoms & Causes of Food Poisoning.

  4. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2025). Symptoms & Causes of Diarrhea.

  5. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2025). Diagnosis of Viral Gastroenteritis (“Stomach Flu”).

  6. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2025). Treatment of Viral Gastroenteritis (“Stomach Flu”).

  7. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). (2025). Eating, Diet, & Nutrition for Viral Gastroenteritis (“Stomach Flu”).

  8. Riddle, M. S., DuPont, H. L., & Connor, B. A. (2016). ACG Clinical Guideline: Diagnosis, Treatment, and Prevention of Acute Diarrheal Infections in Adults.

  9. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025). How to Prevent Norovirus. 

  10. Bumame. (2026). GASTROClear. 

  11. Bumame. (2026). Medical Check Up Plus.

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa penyebab penyakit gastroenteritis?
Gastroenteritis umumnya disebabkan oleh infeksi virus, seperti norovirus dan rotavirus, tetapi juga dapat dipicu oleh bakteri, parasit, serta konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Apa saja gejala gastroenteritis?
Gejala gastroenteritis meliputi diare, mual, muntah, kram atau nyeri perut, demam, penurunan nafsu makan, dan tubuh terasa lemas. Dehidrasi juga dapat terjadi akibat kehilangan banyak cairan.
Apa perbedaan gastroenteritis dan diare biasa?
Diare merupakan gejala berupa tinja encer atau peningkatan frekuensi buang air besar, sedangkan gastroenteritis adalah peradangan lambung dan usus yang dapat menyebabkan diare, muntah, mual, kram perut, serta demam.
Bagaimana cara mengobati gastroenteritis?
Penanganan gastroenteritis berfokus pada penggantian cairan yang hilang, konsumsi oralit jika diperlukan, serta makan dalam porsi kecil secara bertahap. Antibiotik dan obat antidiare tidak boleh dikonsumsi sembarangan karena penggunaannya bergantung pada penyebab dan kondisi pasien.
Kapan penderita gastroenteritis harus memeriksakan diri ke dokter?
Segera cari pertolongan medis jika sulit mempertahankan asupan cairan, urine sangat sedikit, pusing, lemas berat, terdapat darah atau nanah pada tinja, tinja berwarna hitam, demam tinggi, nyeri perut berat, atau diare berkepanjangan.