Apakah Anda pernah merasa bahu tiba-tiba sulit digunakan saat ingin memakai baju, mengambil barang, atau sekadar menyisir rambut? Jika pernah, frozen shoulder adalah salah satu indikasi yang mungkin, di mana gerakan bahu terasa terbatas karena rasa kaku dan nyeri secara bertahap.
Kondisi ini bukan sekadar pegal karena terlalu banyak melakukan aktivitas. Pada frozen shoulder, jaringan yang terdapat di sekitar sendi bahu mengalami perubahan yang mengakibatkan kapsul sendi mengencang dan menebal. Inilah membuat ruang gerak bahu menjadi semakin terbatas.
Apa Itu Frozen Shoulder?
Adhesive capsulitis atau frozen shoulder adalah kondisi yang ditandai dengan rasa nyeri dan penurunan rentang gerak atau range of motion pada bahu, baik saat digerakkan sendiri maupun digerakkan oleh orang lain. Istilah adhesive capsulitis bisa Anda pahami secara sederhana sebagai peradangan serta perubahan jaringan kapsul sendi yang mengakibatkan bahu terasa kaku dan berkontraksi.
Sendi bahu berfungsi agar lengan bisa bergerak secara luas ke berbagai arah. Gerakan tersebut juga didukung oleh kapsul sendi, atau jaringan yang menyelubungi sendi serta membantu menjaga kestabilan.
Sementara itu, pada frozen shoulder, kapsul bisa mengalami proses penebalan, peradangan, pembentukan jaringan parut atau fibrosis (pengerasan jaringan karena pembentukan jaringan ikat), lalu kontraksi. Akibatnya, ruang gerak sendi akan berkurang serta bahu menjadi terasa semakin kaku.
Penyebab pasti dari frozen shoulder primer atau primary adhesive capsulitis belum bisa diketahui. Akan tetapi, frozen shoulder sekunder biasanya berhubungan dengan operasi, cedera, maupun kondisi tertentu yang membuat bahu lama tidak digunakan. Karena gejalanya bisa sama dengan gangguan bahu yang lain, pemeriksaan klinis tetap perlu untuk mengetahui penyebab pastinya.
Penyebab dan Faktor Risiko Frozen Shoulder
Tidak semua orang yang mengalami frozen shoulder adalah penderita yang mempunyai satu penyebab yang jelas. Akan tetapi, beberapa kondisi berikut ini ternyata berpotensi berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi.
1. Diabetes
Diabetes adalah salah satu faktor risiko yang paling konsisten berhubungan dengan frozen shoulder. Pada penderita diabetes, perubahan kadar gula darah dan metabolisme yang tinggi dalam jangka panjang bisa berpengaruh terhadap berbagai jaringan tubuh, termasuk jaringan ikat.
Orang yang memiliki diabetes akan berisiko lebih tinggi mengalami adhesive capsulitis. Hubungan ini tidak berarti bahwa setiap penderita diabetes tipe 1 dan 2 pasti juga akan mengalami frozen shoulder.
Akan tetapi, saat seseorang mempunyai diabetes dan keluhan bahu yang semakin kaku, perlu melakukan evaluasi gula darah sebagai pemeriksaan yang dipertimbangkan dokter. WHO juga menekankan betapa pentingnya pemeriksaan serta pengendalian diabetes agar bisa mencegah berbagai komplikasi kesehatan.
2. Cedera pada Bahu
Cedera adalah faktor yang bisa menyebabkan frozen shoulder sekunder. Setelah cedera, secara alami Anda mungkin akan mengurangi penggunaan bahu karena terasa sakit.
Jika kondisi ini berlangsung cukup lama, keterbatasan gerak bisa ikut berkontribusi terhadap kekakuan jaringan di area sekitar sendi. Selain itu, frozen shoulder juga bisa muncul setelah operasi bahu.
Pada kondisi tersebut, keterbatasan gerakan tidak selalu karena satu faktor saja, melainkan bisa merupakan hasil dari interaksi antara nyeri, cedera, proses penyembuhan, serta berkurangnya penggunaan sendi.
3. Kurang Bergerak atau Imobilisasi
Bahu yang terlalu lama tidak bisa digerakkan juga bisa meningkatkan risiko kekakuan. Imobilisasi (immobilization) berarti bagian tubuh, baik sengaja atau tidak sengaja, dibuat minim gerakan, seperti setelah mengalami cedera atau menjalani prosedur medis tertentu.
Saat bahu tidak Anda gerakkan dalam waktu lama, jaringan kapsul maupun jaringan di sekitarnya bisa mengalami perubahan yang menjadikan rentang geraknya terasa semakin terbatas. Maka dari itu, keterbatasan gerakan karena nyeri sebaiknya tidak boleh Anda biarkan tanpa evaluasi. Jenis serta intensitas gerakan yang aman perlu disesuaikan dengan penyebab masalah bahu serta anjuran tenaga kesehatan.
4. Gangguan Tiroid
Gangguan tiroid juga bisa ditemukan dengan intensitas lebih sering pada orang yang memiliki adhesive capsulitis. Tiroid merupakan kelenjar yang menghasilkan hormon dalam mengatur beragam proses metabolisme tubuh. Hubungan antara gangguan tiroid dan frozen shoulder adalah termasuk faktor yang harus diperhatikan saat dokter menilai penyebab mengapa bahu terasa kaku.
5. Usia dan Jenis Kelamin
Frozen shoulder paling sering ditemukan pada seseorang berusia antara 40-70 tahun serta sedikit lebih banyak dialami oleh perempuan. Meski begitu, usia dan jenis kelamin saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan ini. Diagnosis tetap perlu dilakukan berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, bahkan pemeriksaan penunjang jika memang diperlukan.
Gejala Frozen Shoulder
Biasanya, gejala frozen shoulder muncul dan berkembang secara bertahap. Keluhan yang muncul dapat berbeda pada setiap orang, tetapi beberapa gejala berikut cukup umum terjadi.
1. Kaku dan Nyeri pada Bahu
Nyeri biasanya menjadi salah satu tanda keluhan awal. Rasa sakit bisa terasa samar atau seperti gatal menetap, lalu menjadi lebih mengganggu ketika Anda menggerakkan lengan ke arah tertentu. Pada sebagian orang, nyeri juga bisa terasa lebih mengganggu saat malam hari sehingga bisa memengaruhi kenyamanan ketika tidur.
Seiring waktu, rasa kaku juga akan semakin dominan. Bahu bukan sekadar terasa sakit, melainkan juga seperti kehilangan keluwesannya untuk melakukan gerakan yang sebelumnya mudah Anda lakukan.
2. Bahu Sulit Digerakkan
Penurunan rentang gerak adalah ciri penting seseorang mengalami frozen shoulder. Gerakan seperti meraih sesuatu di belakang tubuh, mengangkat tangan ke atas, mengenakan pakaian, maupun menyisir rambut bisa menjadi lebih sulit.
Hal yang cukup khas yaitu keterbatasan bisa terjadi baik pada gerakan aktif atau pasif. Dengan kata lain, bahu tetap sulit Anda gerakkan saat dokter atau fisioterapis membantu menggerakkan lengan. Temuan ini akan membantu dokter membedakan frozen shoulder dari gangguan lain yang hanya mengakibatkan nyeri saat Anda menggerakkan lengan Anda sendiri.
3. Gerakan Rotasi Bahu yang Semakin Terbatas
Rotasi eksternal (external rotation) adalah gerakan memutar lengan ke arah luar yang juga sering menjadi salah satu gerakan paling terbatas. Gerakan lainnya seperti mengangkat lengan ke samping, ke depan, atau memutar lengan ke dalam juga bisa mengalami penurunan.
Keterbatasan ini bisa menyebabkan aktivitas sehari-hari menjadi merepotkan. Bahkan, pekerjaan sederhana seperti mengambil benda dari tempat tinggi atau mengenakan pakaian bisa memerlukan bantuan dengan menggerakkan bagian tubuh yang lain.
Tahapan Terjadinya Frozen Shoulder
Secara umum, frozen shoulder adalah kondisi yang berlangsung melalui beberapa tahap. Mengetahui pembagian tahapnya akan membantu dokter dalam memahami perubahan gejala serta keterbatasan gerak yang Anda alami.
1. Tahap Freezing
Pada tahap awal, nyeri mulai terasa dan secara bertahap sering muncul. Gerakan bahu mulai terbatas tetapi mungkin rentang geraknya belum terlalu jelas. Melansir beberapa penelitian, proses peradangan pada jaringan yang ada di sekitar kapsul sendi bisa terjadi pada fase awal ini.
Tahap ini bisa berlangsung selama beberapa bulan. Karena awalnya kerap dianggap sebagai cedera ringan atau pegal, sebagian orang baru akan mulai mencari pertolongan saat aktivitas sehari-hari yang bisa dilakukan terasa terganggu.
2. Tahap Frozen
Pada tahap kedua, biasanya kekakuan bahu menjadi keluhan yang lebih menonjol. Nyeri tetap ada, khususnya saat bahu digerakkan sampai batas tertentu dan rentang gerak semakin berkurang.
Perubahan jaringan berupa kontraksi kapsul sendi dan fibrosis berperan dalam keterbatasan tersebut. Durasi tahap ini bisa berbeda pada setiap orang. Maka dari itu, tidak tepat untuk menganggap semua pasien akan mengalami pola waktu yang sama persis.
3. Tahap Thawing
Tahap thawing adalah fase saat rentang gerak bahu mulai berangsur membaik. Biasanya, perbaikan berlangsung perlahan, bukan tiba-tiba. Selain itu, pada tahap ini, rasa nyeri bisa berkurang sementara kemampuan bahu untuk bergerak perlahan-lahan membaik.
Meskipun frozen shoulder adalah masalah yang sering mengalami perbaikan seiring waktu, sebagian orang tetap mengalami keterbatasan fungsi dalam waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, keluhan yang menetap sebaiknya tidak sekadar menunggu tanpa ada evaluasi.
Diagnosis Frozen Shoulder
Beberapa tindakan yang bisa dilakukan dokter antara lain:
1. Pemeriksaan Fisik
Biasanya, dokter akan bertanya kapan nyeri mulai terasa, apakah sebelumnya pernah cedera atau operasi, apakah terdapat penyakit tertentu, dan lain-lain. Kemudian, bahu diperiksa dengan menilai gerakan aktif dan pasif.
2. MRI Bahu
Pada metode ini, pemeriksaan dilakukan menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk memperoleh gambaran jaringan tubuh secara detail. MRI bisa memperlihatkan perubahan pada ligamen, kapsul sendi, jaringan di sekitar sendi, dan tanda peradangan maupun fibrosis.
3. Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan ini memang tidak langsung menunjukkan kapsul sendi yang mengalami kekakuan, tetapi membantu menyingkirkan penyebab lain seperti patah tulang, pengapuran tulang dan sendi bahu (osteoarthritis), maupun kelainan tulang tertentu. Artinya, rontgen lebih berperan selama proses differential diagnosis, proses yang membedakan frozen shoulder dari kondisi lain yang bisa menyebabkan keluhan serupa.
4. Pemeriksaan Gula Darah
Karena diabetes berkaitan dengan risiko adhesive capsulitis, dokter bisa mempertimbangkan pemeriksaan HbA1c atau gula darah pada pasien tertentu, khususnya ketika terdapat risiko maupun tanda diabetes.
Pantau Kesehatan Tulang untuk Tubuh Lebih Aktif
Menjaga kesehatan otot dan tulang membantu tubuh Anda tetap aktif. Bumame menyediakan MCU Kesehatan Tulang yang mencakup pemeriksaan Vitamin D 25-OH Total dan kalsium untuk membantu mendapatkan gambaran tentang kondisi nutrisi tulang.
Pemeriksaan tersebut bukan untuk melakukan diagnosis maupun mengobati frozen shoulder, melainkan menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan sesuai dengan kebutuhan serta faktor risiko masing-masing.
Kapan Harus ke Dokter atau Fisioterapis?
Periksakan bahu Anda ketika nyeri dan kekakuan terus berlangsung, aktivitas sehari-hari mulai terganggu, atau rentang gerak semakin terbatas. Pemeriksaan juga sebaiknya dilakukan setelah cedera maupun operasi saat fungsi bahu tidak kunjung membaik.
Dokter bisa menentukan penyebab keluhan, sementara fisioterapis bisa membantu mengembalikan fungsi serta rentang gerak lewat latihan yang sebelumnya sudah disesuaikan dengan kondisi Anda.
Jangan Biarkan Bahu Kaku Menghambat Aktivitas Sehari-hari
Frozen shoulder adalah masalah yang bisa berkembang secara perlahan, mulai dari nyeri hingga kekakuan serta keterbatasan gerak. Mengenali gejala lebih awal serta melakukan pemeriksaan saat keluhan menetap bisa membantu menentukan penyebab dan langkah penanganan yang tepat.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
BMJ Best Practice. (2023). Adhesive capsulitis – Symptoms, diagnosis and treatment.
Le, H. V., Lee, S. J., Nazarian, A., & Rodriguez, E. K. (2017). Adhesive capsulitis of the shoulder: review of pathophysiology and current clinical treatments. Shoulder & Elbow.
Chellathurai, A., Subbiah, K., Elangovan, A., & Kannappan, S. (2019). Adhesive capsulitis: MRI correlation with clinical stages and proposal of MRI staging. Indian Journal of Radiology and Imaging.
Schiefer, M., Teixeira, F. S., Fontenelle, C., et al. (2017). Prevalence of hypothyroidism in patients with frozen shoulder. Journal of Shoulder and Elbow Surgery.
Zreik, N. H., Malik, R. A., & Charalambous, C. P. (2016). Adhesive capsulitis of the shoulder and diabetes: a meta-analysis of prevalence. Muscles, Ligaments and Tendons Journal.
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
_(1).jpg&w=3840&q=75)