Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Epididimitis: Gejala, Penyebab, dan Harga Cek | Bumame
Kembali ke Artikel & Berita

Epididimitis: Penyebab, Gejala, dan Diagnosis Terbaik

SBAOthers

Rasa tidak nyaman atau nyeri di area testis tentu dapat membuat seseorang merasa khawatir, terutama saat keluhan muncul secara tiba-tiba serta disertai dengan pembengkakan. Salah satu kondisi yang bisa mengakibatkan keluhan tersebut adalah epididimitis.

Ini adalah peradangan di saluran kecil di belakang testis yang berperan dalam menyimpan dan mengangkut sperma. Memang istilahnya terdengar asing, tetapi peradangan ini bukan sebuah kondisi yang selalu berhubungan dengan sesuatu yang serius. Namun, keluhan pada skrotum tetap tidak boleh Anda abaikan.

Apa Itu Epididimitis?

Epididimitis merupakan peradangan yang terjadi pada epididimis atau saluran berbentuk seperti gulungan kecil di bagian belakang testis. Saluran tersebut berfungsi sebagai tempat sperma mengalami pematangan dan menjadi jalur penyimpanan serta pengangkutan sperma sebelum dikeluarkan lewat saluran reproduksi.

Saat epididimis mengalami peradangan, area skrotum bisa menjadi sensitif, nyeri, membengkak, atau terasa lebih hangat. Epididimitis bisa berlangsung secara kronis atau akut.

Akut berarti keluhan yang terjadi terus berkembang dalam waktu yang relatif singkat serta umumnya berlangsung kurang dari 6 minggu. Sementara kronis berkaitan dengan keluhan yang menetap kurang lebih 6 minggu atau lebih atau berulang dalam jangka panjang.

Pada sebagian kasus, peradangan juga bisa menyebar ke testis serta mengakibatkan epididymo-orchitis atau sebuah peradangan yang mengenai epididimis dan testis. Karena penyebab serta tingkat keparahannya tidak sama, diagnosis tidak cukup sekadar melihat lokasi rasa sakit.

Biasanya, dokter akan menggabungkan informasi tentang riwayat kesehatan, gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium maupun pencitraan tertentu sehingga bisa memastikan penyebabnya.

Penyebab Epididimitis

Terdapat beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang mengalami peradangan saluran epididimis, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Infeksi Bakteri

Mayoritas kasus epididimitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri bisa mencapai epididimis lewat saluran kemih lalu mengakibatkan peradangan. Melansir Mayo Clinic, jenis bakteri yang terlibat bisa berbeda tergantung pada kondisi kesehatan, usia, riwayat kesehatan, dan gangguan yang terjadi pada saluran kemih.

Pada pria yang mengalami gangguan saluran kemih, bakteri dari prostat atau kandung kemih bisa menyebar menuju epididimis. Kondisi seperti pembesaran prostat juga bisa menghambat aliran urin sehingga bisa meningkatkan risiko terkena infeksi saluran kemih (ISK) serta jaringan di sekitarnya.

2. Infeksi Menular Seksual

Pada pria dengan aktivitas seksual aktif, khususnya kelompok usia muda, epididimitis bisa berhubungan dengan infeksi menular seksual (IMS). Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis adalah bakteri yang mengakibatkan gonore dan klamidia yang juga menjadi penyebab penting peradangan saluran epididimis akut.

Mycoplasma genitalium juga bisa menjadi penyebab pada beberapa kasus. Masalahnya, IMS tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas. Seseorang bisa mengalami infeksi tanpa sadar sehingga baru diketahui saat muncul keluhan seperti keluarnya cairan dari penis, nyeri testis, maupun rasa sakit ketika buang air kecil.

WHO juga menjelaskan bahwa beberapa kasus IMS bisa berlangsung tanpa ada gejala yang terlihat. Hal ini membuat pemeriksaan menjadi bagian krusial dalam deteksi infeksi menular seksual.

3. Infeksi Saluran Kemih atau Prostat

Tidak semua epididimitis berhubungan dengan aktivitas seksual. Pada beberapa kasus, bakteri penyebab infeksi saluran kemih maupun prostat bisa menyebar ke epididimis. Risiko seperti ini bisa meningkat saat terdapat hambatan di saluran urin, contohnya karena pembesaran prostat.

Kondisi semacam ini juga harus diperhatikan pada pria yang lebih tua maupun mereka yang memiliki riwayat masalah saluran kemih. Riwayat ISK yang berulang juga bisa menjadi indikasi penting bagi dokter saat mencari penyebab peradangan saluran epididimis.

4. Prosedur atau Gangguan Saluran Kemih

Penggunaan kateter, operasi saluran kemih, pemeriksaan menggunakan alat tertentu, atau prosedur medis lainnya yang melibatkan saluran kemih bisa meningkatkan kemungkinan masuknya bakteri ke dalam saluran tersebut. Pada kondisi tertentu, bakteri bisa mencapai epididimis serta menyebabkan terjadinya peradangan.

5. Penyebab Non Infeksi

Epididimitis juga bisa terjadi karena iritasi akibat aliran urin yang berbalik ke epididimis. Kondisi ini dinamakan chemical epididymitis atau sebuah peradangan karena iritasi kimia dari urin, bukan disebabkan oleh infeksi bakteri.

Aktivitas fisik berat maupun mengejan juga jadi kondisi yang berhubungan dengan aliran balik urin tersebut. Sementara penyebab lain yang cenderung lebih jarang muncul bisa mencakup trauma pada area selangkangan maupun infeksi tuberkulosis.

Gejala Epididimitis

Gejala peradangan saluran epididimis bisa berkembang secara bertahap dan umumnya lebih terasa pada salah satu sisi skrotum. Berikut ini adalah beberapa keluhan yang biasa dialami oleh penderita.

1. Nyeri dan Pembengkakan pada Skrotum

Keluhan yang paling khas yaitu rasa nyeri serta sensitivitas di salah satu testis maupun skrotum. Skrotum juga bisa terlihat kemerahan, membengkak, atau terasa hangat saat disentuh. Pada epididimitis, rasa nyeri berkembang secara bertahap, berbeda dengan beberapa kondisi darurat yang menyebabkan nyeri secara mendadak.

2. Nyeri Ketika Buang Air Kecil

Peradangan yang berhubungan dengan IMS atau infeksi saluran kemih bisa mengakibatkan rasa nyeri atau perih saat buang air kecil. Sebagian orang juga mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil maupun dorongan untuk segera berkemih.

3. Keluar Cairan dari Penis

Cairan yang keluar dari penis bisa menjadi indikasi adanya infeksi pada uretra atau saluran reproduksi, khususnya ketika peradangan saluran epididimis berhubungan dengan IMS seperti gonore atau klamidia. Akan tetapi, tidak semua orang yang mengalami peradangan memiliki gejala ini.

4. Demam dan Rasa Tidak Enak Badan

Infeksi bakteri bisa mengakibatkan respons tubuh berupa demam. Beberapa orang juga bisa mengalami lemas dan menggigil. Demam memang bukan merupakan gejala yang kerap muncul, tetapi keberadaannya bisa membantu dokter dalam menilai kemungkinan adanya infeksi yang lebih aktif.

5. Darah pada Air Mani

Pada beberapa kasus, peradangan saluran epididimis bisa mengakibatkan hematospermia atau kondisi saat terdapat darah di dalam air mani. Gejala tersebut memang tidak selalu muncul, tetapi harus tetap dilakukan pemeriksaan, khususnya jika berulang.

Faktor Risiko Epididimitis

Risiko peradangan saluran epididimis bisa terjadi karena beberapa kondisi. Aktivitas seksual tanpa memakai pelindung atau hubungan seksual dengan seseorang yang mempunyai IMS bisa meningkatkan risiko gonore dan klamidia. Selain itu, riwayat IMS sebelumnya juga bisa menjadi faktor yang harus Anda perhatikan.

Di luar faktor seksual, infeksi saluran kemih atau prostat bisa meningkatkan risiko karena bakteri bisa menyebar menuju epididimis. Pembesaran prostat juga bisa mengakibatkan hambatan aliran urin sehingga berpotensi meningkatkan kemungkinan infeksi.

Faktor lain yang harus dipertimbangkan yaitu tindakan medis pada saluran kemih, berupa pemasangan kateter maupun prosedur medis tertentu. Sistem kekebalan melemah, kelainan anatomi saluran kemih, trauma atau cedera, hingga belum disunat juga meningkatkan kerentanan seseorang mengalami peradangan saluran epididimis.

Dengan kata lain, masalah epididimitis tidak timbul hanya karena perilaku seksual. Seseorang yang bahkan tidak mempunyai riwayat IMS pun tetap bisa mengalaminya karena infeksi maupun gangguan sistem kemih. Pemahaman ini penting agar Anda tidak langsung menyimpulkan penyebab tanpa melakukan pemeriksaan medis.

Diagnosis Epididimitis

Diagnosis dilakukan secara bertahap guna memastikan sumber peradangan dan menyingkirkan kondisi lainnya yang lebih mendesak.

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan bertanya kapan nyeri mulai terasa, apakah terjadi secara mendadak atau bertahap, dan apakah ada keluhan seperti nyeri ketika buang air kecil, demam, atau cairan dari penis.

Pemeriksaan lalu dilakukan di area selangkangan, skrotum, maupun bagian tubuh terkait untuk melihat nyeri tekan, pembengkakan, atau perubahan lainnya. Selain itu, riwayat seksual juga bisa ditanyakan secara rahasia dan medis.

2. Tes Urin

Urinalisis merupakan pemeriksaan urin untuk mencari infeksi atau tanda peradangan pada saluran kemih. Pemeriksaan tersebut akan membantu dokter untuk mengetahui apakah terdapat sel darah putih, sel darah merah, atau indikator lain yang mendukung dugaan terjadinya infeksi.

Selain itu, pemeriksaan kultur urin juga bisa dilakukan pada kondisi tertentu untuk mengidentifikasi bakteri penyebab serta menentukan antibiotik yang tepat dengan menyesuaikan dengan kondisi pasien.

3. Pemeriksaan IMS

Jika peradangan saluran epididimis dicurigai memiliki kaitan dengan aktivitas seksual, dokter bisa merekomendasikan tes gonore atau klamidia. Pemeriksaan bisa memakai sampel urin maupun swab. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat khusus di lokasi yang dibutuhkan.

4. USG Skrotum

Dokter bisa menggunakan alat ultrasonografi (USG), pemeriksaan pencitraan dengan menggunakan gelombang suara, agar bisa melihat struktur dalam skrotum. USG dengan Color Doppler juga bisa mengetahui aliran darah menuju testis.

Melansir WHO, pemeriksaan ini sangat bermanfaat saat dokter harus membedakan epididimitis dengan torsio testis atau kondisi saat testis berputar sehingga mengakibatkan aliran darahnya terhambat. Torsio testis juga menjadi keadaan darurat yang harus segera mendapatkan penanganan.

Kenali Risiko Infeksi Penyebab Epididimitis Lebih Awal

Mayoritas kasus peradangan saluran epididimis berhubungan dengan kondisi IMS seperti gonore dan klamidia. Karena IMS terkadang tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan bisa membantu untuk mengetahui kondisi kesehatan secara lebih jelas.

Jika mempunyai risiko paparan IMS, Anda bisa mempertimbangkan tes HIV di Bumame. Pemeriksaan ini dilakukan melalui pengambilan sampel darah untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV, dengan proses yang aman dan menjaga kerahasiaan pasien.

Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui status HIV dan bukan untuk melakukan diagnosis maupun mengobati epididimitis. Tes tersedia melalui layanan Walk-In maupun Home Care, sehingga Anda dapat memilih metode pemeriksaan yang paling sesuai.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Sebaiknya, nyeri pada testis tidak Anda abaikan, terutama ketika muncul tiba-tiba dan sangat berat. Kondisi ini juga bisa menjadi tanda torsio testis. Segera periksa ke dokter ketika nyeri juga disertai demam, pembengkakan, nyeri ketika buang air kecil, atau keluar cairan dari penis.

Jangan Abaikan Nyeri Testis, Kenali Penyebabnya

Epididimitis bisa terjadi karena infeksi bakteri, IMS, atau gangguan pada saluran kemih. Melakukan diagnosis secara tepat akan membantu dalam menentukan penyebab keluhan dan membedakannya dengan kondisi lain seperti torsio testis.

Jika Anda mengalami nyeri maupun pembengkakan di skrotum, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan penanganan medis sesuai yang diperlukan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Merck Manual Professional Edition. (2026). Epididymitis. 

  2. Mayo Clinic. (2025). Epididymitis: Diagnosis and treatment. 

  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Epididymitis – STI Treatment Guidelines.

  4. World Health Organization. (2025). Sexually transmitted infections (STIs). 

  5. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines, 2021. 

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa itu epididimitis?
Epididimitis adalah peradangan pada epididimis, yaitu saluran kecil di belakang testis yang berfungsi menyimpan dan mengangkut sperma. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, sensitivitas, atau rasa hangat pada skrotum. 
Apa saja penyebab epididimitis?
Sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk bakteri penyebab gonore dan klamidia. Penyebab lain meliputi infeksi saluran kemih atau prostat, prosedur pada saluran kemih, iritasi akibat aliran balik urin, trauma, dan tuberkulosis. 
Apa gejala epididimitis yang perlu dikenali?
Gejalanya dapat berupa nyeri dan pembengkakan pada salah satu sisi skrotum, nyeri saat buang air kecil, keluar cairan dari penis, demam, menggigil, serta darah dalam air mani. Keluhan biasanya berkembang secara bertahap. 
Bagaimana epididimitis didiagnosis?
Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, tes urin, pemeriksaan gonore atau klamidia, serta USG skrotum dengan Color Doppler bila diperlukan. Pemeriksaan tersebut membantu menentukan penyebab dan membedakan epididimitis dari kondisi darurat seperti torsio testis. 
Kapan nyeri testis akibat epididimitis harus segera diperiksakan?

Segera ke dokter jika nyeri testis muncul tiba-tiba dan sangat berat, terutama bila disertai pembengkakan, demam, nyeri saat buang air kecil, atau cairan dari penis. Nyeri mendadak juga dapat menjadi tanda torsio testis yang membutuhkan penanganan segera.