Pernahkah Anda membayangkan sakit kepala yang tak kunjung reda ternyata bukan sekadar kelelahan? Glioblastoma memang tergolong tumor otak yang serius, tetapi memahaminya sejak awal bisa membantu Anda bersikap lebih tenang dan tepat. Mari kita pahami kondisi ini lebih dalam!
Apa itu Glioblastoma?
Glioblastoma adalah tumor ganas yang sering menyerang orang dewasa. Tumor ini tumbuh dari astrosit, sel pendukung (glia) yang tugasnya menjaga struktur otak agar sel-sel saraf tetap di posisi mereka. Istilah glioblastoma multiforme adalah tampilan sel tumor yang bentuknya tidak seragam di bawah mikroskop.
Menurut WHO, kondisi ini termasuk derajat 4, atau tingkat keganasan tertinggi. Artinya, pertumbuhannya cepat, bisa menyebar ke jaringan otak dan sekitarnya, dan cenderung kambuh meski sudah diobati.
Biasanya, kondisi ini berupa tumor primer, yang berarti asalnya dari otak itu sendiri, bukan kanker dari organ lain yang menyebar ke otak. Menariknya, meski ganas, tumor ini jarang menyebar ke bagian tubuh lain seperti paru atau hati.
Gejala dan Tanda-Tanda Peringatan
Lokasi tumornya akan sangat menentukan gejalanya. Jika tumbuh di area pengatur gerakan, penderita mengalami kelemahan di tangan atau kaki. Jika di area bahasa, maka muncul kesulitan bicara atau memahami perkataan.
Hal tersebut terjadi karena pertumbuhan tumor bisa menekan jaringan otak, mengganggu cairan di otak, atau memicu pembengkakan ke sekitarnya. Gejalanya bisa muncul perlahan selama beberapa minggu atau bulan. Pada sebagian orang mungkin lebih cepat.
Keluhan Paling Sering
Muncul sakit kepala adalah keluhan tersering. Namun, sakit kepala ini tidak biasa. Rasanya semakin sering dan semakin berat, tidak mempan dengan obat biasa, memburuk di pagi hari, atau sampai muntah.
Kejang juga menjadi tanda yang penting, terutama jika orang dewasa tidak punya riwayat penyakit neurologis epilepsi dan baru pertama kalinya. Bentuk kejangnya tidak selalu seluruh badan. Bisa kejang fokal, misalnya kedutan di satu tangan, sensasi aneh, atau tatapan kosong sesaat. Berikut gejala lain yang bisa muncul.
Gangguan gerak: kelemahan di satu sisi tubuh, kesemutan atau hilang rasa, otot kaku, sulit menggenggam, hingga sulit berjalan.
Gangguan keseimbangan dan koordinasi: sering tersandung, pusing, terasa goyah, atau canggung saat bergerak.
Gangguan bicara dan bahasa: sulit menemukan kata, bicara pelo, sulit memahami percakapan, atau kesulitan membaca dan menulis.
Perubahan mental dan perilaku: mudah lupa, sulit berkonsentrasi, bingung, perubahan kepribadian, mudah marah, depresi, atau sulit mengambil keputusan.
Gangguan penglihatan atau pendengaran: pandangan kabur, penglihatan ganda, hilangnya sebagian bidang pandang, atau pendengaran terganggu.
Tanda tekanan di dalam kepala: mual, muntah, nafsu makan turun, dan kantuk berlebihan
Gejala-gejala di atas tidak otomatis berarti glioblastoma. Adanya migrain, epilepsi, stroke, infeksi, bahkan gangguan kecemasan atau anxiety disorder bisa menimbulkan keluhan serupa. Meski begitu, gejala yang baru muncul, menetap, memburuk, atau muncul kejang sebaiknya segera periksakan ke dokter.
Penyebab dan Faktor Risiko
Pada dasarnya, tumor tumbuh ketika beberapa sel di otak mengalami perubahan DNA, maka tumbuhnya menjadi tak terkendali dan matinya tidak seperti sel normal. Perubahan ini umumnya terjadi sepanjang hidup seseorang, bukan sesuatu yang diturunkan.
Itu sebabnya sebagian besar penderita tidak punya riwayat keluarga dengan tumor otak. Meski begitu, ada beberapa faktor risiko yang pasti seperti berikut.
Usia: Glioblastoma lebih sering terjadi pada orang dewasa, terutama usia lanjut.
Radiasi pengion ke kepala atau sistem saraf pusat: Misalnya akibat radioterapi sebelumnya untuk kanker lain, terutama pada masa kanak-kanak. Risiko biasanya baru muncul bertahun-tahun kemudian. Radioterapi untuk kanker tetap penting dan keputusannya akan menjadi pertimbangan dokter.
Sindrom genetik langka: Contohnya sindrom Li-Fraumeni, sindrom Lynch, neurofibromatosis tipe 1, dan tuberous sclerosis. Namun sindrom warisan tersebut relatif jarang.
Riwayat keluarga: Jika ada beberapa kerabat yang terkena tumor otak atau kanker tertentu di usia muda, konsultasi genetik bisa dipertimbangkan.
Bahan kimia tertentu: Vinil klorida pernah dikaitkan dengan peningkatan risiko glioma. Tetapi bukti untuk banyak paparan lingkungan dan pekerjaan lainnya masih lemah atau belum konsisten.
Diagnosis dan Tes
Jika dokter mencurigai tumor otak glioblastoma, jalur pemeriksaannya akan jelas. Mulai dari anamnesis dan pemeriksaan neurologis. Dokter juga akan menilai kekuatan otot, refleks, koordinasi, penglihatan, atau fungsi lain berdasarkan gejala.
1. MRI Otak
Setelah itu, MRI otak akan menjadi pemeriksaan utama. Dengan begitu, lokasi, ukuran, dan bentuk tumor akan terlihat, serta seberapa pengaruhnya pada jaringan sekitar. Dokter mungkin menyuntikkan zat kontras saat MRI. Jaringan tumor cenderung menyerapnya lebih banyak daripada jaringan otak, jadi pencitraan semakin jelas.
2. CT Scan
CT Scan akan menjadi alternatif jika tidak ada MRI atau butuh pemeriksaan cepat. Scan ini juga berguna untuk melihat pendarahan, kalsifikasi (pengapuran), atau tekanan di dalam kepala. Tetapi, hasil MRI dapat memberi detail yang lebih baik.
3. Pemeriksaan Lain
Sesuai kebutuhan, dokter dapat menambahkan pemeriksaan lain seperti fMRI, MR spectroscopy, PET scan, SPECT, atau angiografi. Fungsinya membantu memetakan fungsi otak, membedakan karakter lesi, atau menilai aliran darah di sekitar tumor.
Jika pasien sempat kejang-kejang, maka tes EEG dapat merekam aktivitas listrik otak dan menilai aktivitas yang abnormal.
4. Pengambilan Sampel (Biopsi)
Pencitraan saja tidak cukup, agar diagnosis lebih pasti, perlu adanya biopsi. Laboratorium akan melihat jenis sel, tingkat keganasan, dan karakter molekuler tumor. Biopsi bisa dilakukan dengan jarum sebelum operasi atau saat proses pengangkatan tumor.
Pemeriksaan molekuler sangat penting modern ini. Dokter dapat memeriksa status IDH dan metilasi promoter MGMT. Status MGMT penting untuk menilai seberapa besar kemungkinan pasien mendapatkan manfaat dari kemoterapi temozolomide. Singkatnya, data tersebut untuk menyesuaikan rencana pengobatan.
5. Pemeriksaan Lain
Proses terakhir adalah pemeriksaan darah dan tes urin lengkap. Keduanya penting untuk menilai kondisi umum dan fungsi organ, sekaligus mempersiapkan pasien menjalani operasi, radiasi, atau kemoterapi.
Jadi, diagnosis glioblastoma berdasarkan gabungan dari pencitraan, pemeriksaan klinis, dan hasil jaringan. Bukan pemilihan salah satunya saja.
Pilihan Pengobatan / Opsi Perawatan
Setelah diagnosis sudah jelas, tindakan berikutnya adalah pengobatan. Tujuannya untuk memperpanjang waktu bertahan hidup, mengendalikan pertumbuhan, meredakan gejala, mempertahankan fungsi otak, dan menjaga kualitas hidup. Pemilihan terapinya harus menggunakan pertimbangan dari berbagai faktor. Berikut pilihan penanganannya.
1. Operasi
Sebagian besar pasien, langkah awalnya adalah pengangkatan tumor sebanyak mungkin dengan aman. Semakin banyak tumor yang diangkat tanpa merusak fungsi otak, maka pengobatan selanjutnya juga akan semakin baik hasilnya.
Namun, umumnya masih akan ada sel tumor yang tertinggal karena menyusup ke jaringan otak yang sehat. Jadi, tahap selanjutnya adalah terapi.
2. Radioterapi
Radioterapi adalah standar terapi setelah operasi. Biasanya, terapi radiasi berjalan sekitar enam minggu, lima kali seminggu. Tujuannya untuk menekan sel tumor yang masih tersisa.
3. Kemoterapi Temozolomide
Obat ini pemberiannya saat radiasi, lalu dilanjut setelah radiasi selesai. Cara kerjanya menghambat pertumbuhan sel kanker. Kombinasi operasi, radioterapi, dan temozolomide merupakan pendekatan standar bagi banyak pasien yang kondisi tubuhnya memungkinkan.
4. Terapi Medan Listrik Bergantian
Terapi ini untuk mengganggu pembelahan sel tumor, biasanya berjalan setelah kemoradiasi. Pada umumnya, terapi ini tidak untuk semua pasien, hanya sebagian yang perlu tambahan.
5. Kemoterapi Lokal
Pada kondisi tertentu, obat kemoterapi dapat diletakkan langsung di area otak saat operasi. Selain terapi utama, ada pengobatan penunjang yang juga penting, seperti.
Kortikosteroid
Obat antikejang
Rehabilitasi
Perawatan paliatif: upaya mengendalikan gejala supaya kualitas hidup pasien tetap sebaik mungkin.
Strategi Pencegahan
Sayangnya, sampai saat ini belum ada cara yang terbukti bisa mencegah glioblastoma sepenuhnya, karena banyak kasus muncul tanpa faktor risiko yang jelas. Meski begitu, ada beberapa langkah yang masih layak dilakukan.
Langkah yang paling berbasis bukti adalah menghindari paparan radiasi pengion yang tidak perlu, terutama pada kepala dan leher. Tentu saja, pemeriksaan radiologi tetap penting, karena manfaatnya lebih besar daripada risikonya.
Bagi penyintas kanker yang pernah menjalani radioterapi di kepala atau sistem saraf pusat, perlu adanya pemantauan kesehatan jangka panjang bersama dokter. Selain itu, orang yang punya riwayat keluarga tumor otak, sindrom kanker warisan, atau beberapa kasus kanker dalam keluarga bisa berkonsultasi dengan dokter atau konselor genetik.
Hal yang paling praktis adalah pencegahan sekunder, yaitu mengenali gejala neurologis baru. Bisa berupa kejang, kelemahan mendadak, gangguan bicara, sakit kepala yang memburuk, atau perubahan perilaku, agar pemeriksaan tidak tertunda.
Kapan Harus Ke Dokter?
Pada dasarnya, kesadaran terhadap perubahan di tubuh sendiri adalah kuncinya. Berikut adalah situasi yang sebaiknya tidak Anda tunda untuk periksa ke dokter.
Kejang muncul untuk pertama kalinya, terutama pada orang dewasa tanpa riwayat epilepsi.
Sakit kepala baru, makin sering, makin berat, memburuk di pagi hari, tidak membaik dengan obat biasa, dan muntah berulang.
Ada kelemahan atau mati rasa di satu sisi tubuh, sulit berjalan, sering tersandung, pusing hebat, atau koordinasi hilang.
Terjadi gangguan bicara, sulit memahami pembicaraan, pandangan kabur, penglihatan ganda, atau hilang sebagian penglihatan.
Muncul perubahan kepribadian, kebingungan, penurunan memori yang mencolok, sulit konsentrasi, atau perilaku yang tidak wajar, terutama bila berkembang dalam waktu singkat.
Mual dan muntah terus-menerus, kantuk berlebihan, atau kesadaran menurun, karena bisa menandakan tekanan di dalam kepala meningkat.
Satu pesan terakhir, jangan menunda hanya karena gejalanya hilang-timbul. Pada tumor otak, gejala bisa membaik sementara lalu memburuk lagi seiring pertumbuhan tumor atau pembengkakan pada otak.
Kenali Glioblastoma Lebih Dini, Beri Diri Peluang Lebih Baik!
Glioblastoma memang bukan diagnosis yang mudah dihadapi, tetapi Anda tidak harus menghadapinya sendirian. Kenali gejalanya, jangan tunda pemeriksaan, dan percayakan penanganan pada tim medis yang tepat. Dengan informasi yang benar, Anda dan keluarga bisa melangkah lebih siap dan tenang.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Davis — Glioblastoma: Overview of Disease and Treatment
Park et al. — The 2021 WHO Classification for Gliomas and Implications on Imaging Diagnosis
PDQ Adult Treatment Editorial Board — Adult Central Nervous System Tumors Treatment (PDQ®)–Patient Version
National Institute of Neurological Disorders and Stroke — Brain and Spinal Cord Tumors
Mayo Clinic Staff — Glioblastoma: Symptoms and Causes
Lim — The Overview of Practical Guidelines for Gliomas by KSNO, NCCN, and EANO
Weller et al. — EANO Guidelines on the Diagnosis and Treatment of Diffuse Gliomas of Adulthood
NCI Staff — Glioblastoma—Unraveling the Threads: A Q&A with Drs. Mark Gilbert and Terri Armstrong of the NIH Neuro-Oncology Branch
Hanif et al. — Glioblastoma Multiforme: A Review of its Epidemiology and Pathogenesis through Clinical Presentation and Treatment
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
