Pernah dengar istilah diafragma saat bahas sistem pernapasan? Diafragma adalah otot berbentuk lembaran yang ada di antara rongga dada dan perut, yang bisa mengembang dan mengempis saat kita bernapas. Tapi bagaimana jika bagian ini berlubang? Kemungkinan akan membuat organ yang seharusnya ada di rongga perut bisa berpindah ke rongga dada. Kondisi inilah yang disebut hernia diafragma.
Lalu, apa penyebab hal ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya? Ketahui lebih lengkap tentang kelainan ini mulai dari gejala, penyebab, hingga cara mengobatinya agar Anda bisa lebih memahami kondisi ini dan tahu kapan perlu cari pertolongan medis.
Apa Itu Hernia Diafragma?
Hernia diafragma adalah kondisi saat ada lubang atau celah tidak normal di diafragma (otot yang memisahkan rongga dada dengan rongga perut), sehingga menyebabkan organ perut seperti lambung maupun usus bisa saja berpindah ke rongga dada. Gangguan ini umumnya akan menimbulkan masalah lainnya di organ dalam seperti kelainan jantung, paru-paru, hingga hati.
Gejala Hernia Diafragma yang Perlu Dikenali
Gejala dari gangguan ini umumnya bervariasi tergantung dari jenis, ukuran lubang, organ yang berpindah, serta tingkat keparahan kondisi. Pada bayi, keluhan pernapasan umumnya lebih menonjol, sedangkan pada anak dan dewasa, gejala dapat berupa gangguan pernapasan maupun pencernaan.
1. Gejala Hernia Diafragma pada Bayi
Napas menjadi cepat atau sulit bernapas, karena paru-paru tidak bisa berkembang secara optimal akibat dari tertekan oleh organ perut yang berpindah ke rongga dada.
Bibir dan kulit membiru karena kadar oksigen dalam darah menurun akibat dari paru-paru yang tidak berkembang optimal.
Perut tampak lebih cekung dari normalnya, karena sebagian dari organ perut, seperti lambung atau usus, pindah ke rongga dada.
Sulit untuk menyusu, karena gangguan pernapasan bisa membuat bayi sulit untuk mengoordinasikan proses mengisap, menelan, dan bernapas.
2. Gejala Hernia Diafragma pada Anak dan Orang Dewasa
Nyeri dada atau di bagian atas perut, terutama saat bergerak atau menarik napas dalam-dalam, karena gerakan tersebut bisa meningkatkan tekanan pada jaringan di sekitar organ yang pindah.
Sesak napas, karena organ perut yang pindah ke rongga dada bisa menekan paru-paru.
Muncul rasa seperti asam yang naik ke tenggorokan, akibat dari organ lambung berpindah ke dada yang bisa mengganggu mekanisme pencegahan asam lambung naik ke kerongkongan.
Sulit menelan makanan, mual, muntah, hingga perut kembung karena posisi lambung atau organ pencernaan yang naik bisa menghambat perjalanan makanan dan pengosongan lambung serta menekan kerongkongan.
Batuk kronis atau suara serak, akibat dari asam lambung yang naik terus-menerus karena bisa mengiritasi tenggorokan dan saluran napas.
Apa Penyebab Hernia Diafragma dan Siapa yang Lebih Berisiko?
Hernia jenis ini bisa terjadi karena banyak faktor, mulai dari kelainan bawaan sejak di kandungan hingga cedera. Berikut penjelasannya.
Kelainan bawaan sejak di kandungan ibu, yaitu diafragma tidak bisa terbentuk atau menutup sempurna selama perkembangan janin.
Cedera atau trauma akibat dari benturan keras di bagian tengah tubuh karena kecelakaan atau terjatuh sehingga memunculkan robekan di diafragma.
Komplikasi dari proses operasi atau pembedahan di area dada atau perut yang menimbulkan kerusakan diafragma.
Melemahnya jaringan penopang diafragma akibat dari bertambahnya usia sehingga membuat organ seperti lambung bergeser ke rongga dada.
Selain itu, orang-orang dengan kondisi berikut memiliki faktor risiko yang lebih besar untuk terkena gangguan ini.
Menderita obesitas, karena pada kondisi ini tekanan dari rongga perut ke dada menjadi naik, sehingga meningkatkan risiko terjadinya robekan pada diafragma.
Sedang hamil, karena perkembangan janin bisa meningkatkan tekanan dalam perut sehingga memperbesar risiko hernia ini, terutama jika jaringan penopang diafragma melemah.
Sembelit, karena proses mengejan terus-menerus bisa menciptakan tekanan yang berulang dalam perut.
Bagaimana Hernia Diafragma Didiagnosis?
Untuk mendiagnosis gangguan ini, umumnya dokter akan mulai dengan evaluasi gejala, kemudian dilanjutkan dengan cek fisik dan pengecekan lanjutan yang disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien. Berikut penjelasannya.
1. Selama Kehamilan
Saat hamil, dokter biasanya akan merekomendasikan beberapa pengecekan tambahan untuk mendiagnosis gangguan ini, seperti:
USG lanjutan, untuk melihat posisi organ-organ perut dan perkembangan paru-paru dari janin.
MRI janin, untuk tahu secara detail tentang bagian organ yang berpindah ke rongga dada dan bagaimana perkembangan paru-paru janin.
Ekokardiografi janin, untuk menilai struktur dan fungsi jantung dari janin karena kelainan jantung bisa saja menyertai hernia diafragma.
Cek genetik, jika ada dugaan kelainan kromosom atau kondisi genetik tertentu yang mengikutinya.
2. Pada Bayi dan Orang Dewasa
Untuk mendiagnosis gangguan ini pada bayi dan orang dewasa, umumnya akan dilakukan beberapa pengecekan lanjutan seperti:
Rontgen dada, untuk melihat apakah benar ada organ yang pindah dan bagaimana posisi organ perut yang masuk ke rongga dada.
CT scan atau MRI, untuk melihat secara lebih detail tentang lokasi dan ukuran hernia serta organ yang mungkin terdampak.
Pemeriksaan darah seperti analisis gas darah, umumnya dilakukan untuk menilai kadar oksigen dan keseimbangan gas dalam darah.
Bagaimana Hernia Diafragma Diobati?
Umumnya untuk menangani gangguan ini perlu disesuaikan dengan jenis, tingkat keparahan dan kondisi kesehatan pasien. Tapi, dalam pengobatan gangguan ini, ada beberapa hal yang mungkin dokter lakukan untuk mengatasi dan membantu mengurangi efek gejalanya.
Operasi untuk perbaiki diafragma, yang bertujuan untuk mengembalikan organ-organ perut ke posisinya semula, serta menutup lubang atau robekan yang ada di diafragma untuk mencegah organ pindah kembali.
Memakai ventilator, terutama jika gangguan ini sudah mengganggu pernapasan bayi.
Terapi ECMO (extracorporeal membrane oxygenation), yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu fungsi jantung dan paru-paru sementara, terutama pada level gejala yang sudah berat.
Prosedur FETO (fetoscopic endoluminal tracheal occlusion), yang dilakukan dengan memasang balon sementara di saluran napas untuk merangsang pertumbuhan paru-paru jika gangguan ini sudah berdampak berat ke paru-paru.
Konsumsi obat-obatan, seperti antasida atau obat penekan asam lambung, yang biasanya dilakukan untuk meredakan gejala refluks asam lambung akibat dari gangguan ini.
Merubah gaya hidup, seperti dengan membatasi makanan pemicu asam lambung dan menjaga berat badan tetap sehat untuk mengurangi gejala yang muncul dan efek yang lebih berat.
Hindari rokok, karena ini bisa meningkatkan gejala sesak napas.
Apakah Hernia Diafragma Bisa Dicegah?
Pada dasarnya, tidak semua kasus bisa dicegah, tapi Anda bisa melakukan beberapa langkah berikut untuk mengurangi risiko dan komplikasi serius.
Menjaga berat badan tetap sehat, tujuannya untuk mengurangi tekanan berlebih di rongga perut yang bisa meningkatkan risiko dan memperparah gejala akibat dari penumpukan lemak perut.
Membatasi mengangkat beban terlalu berat. Jika harus, Anda sebaiknya menggunakan teknik mengangkat beban yang benar untuk kurangi risiko cedera. Caranya, pastikan posisi punggung tetap lurus, tekuk lutut saat mulai mengangkat, dan gunakan kekuatan otot kaki, bukan pinggang.
Atur pola makan bergizi seimbang serta cukupi kebutuhan cairan, terutama saat hamil agar perkembangan janin tetap optimal.
Selalu utamakan keselamatan saat melakukan aktivitas apapun, misalnya dengan menggunakan sabuk pengaman saat mengemudi atau alat pelindung seperti jaket pelindung yang sesuai saat kerja. Tujuannya untuk meredam benturan keras pada area dada dan perut, serta memperkecil potensi cedera organ dalam yang dapat memicu komplikasi.
Lakukan pengecekan kehamilan secara rutin, termasuk USG, untuk membantu mendeteksi lebih dini jika ada kelainan di perkembangan janin.
Kapan Harus Periksa Diri ke Dokter?
Pengecekan ke dokter sangat disarankan jika Anda sudah mengalami gejala yang mengarah ke hernia diafragma seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Apalagi jika gangguan ini diikuti dengan gejala sulit napas yang berat dan kulit membiru pada bayi.
Apabila pada orang dewasa gejalanya disertai nyeri dada yang hebat diikuti dengan muntah terus-menerus, pengecekan seharusnya tidak Anda tunda karena ini bisa jadi tanda komplikasi serius yang butuh penanganan segera.
Deteksi Masalah Kesehatan Lebih Dini dengan Pengecekan yang Tepat
Hernia diafragma adalah kondisi saat ada celah atau lubang di diagram sehingga membuat organ perut pindah ke rongga dada. Gangguan ini bisa memunculkan berbagai gejala seperti masalah pernapasan, nyeri dada, hingga pencernaan.
Umumnya, gangguan ini sulit untuk dicegah terutama jika penyebabnya karena kelainan bawaan. Tapi, Anda bisa mencegahnya melalui pemeriksaan kesehatan yang rutin untuk mendeteksi risiko dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
Salah satunya dengan memeriksakan diri ke MCU Basic Bumame. Dalam satu paket ini, sudah tersedia cek profil darah dan urine untuk tahu profil lipid, gula darah, hingga asam urat, sehingga Anda bisa mendapatkan gambaran awal mengenai kondisi tubuh.
Evaluasi ini sangat membantu dalam mengenali faktor risiko sistemik yang berpotensi memperparah gejala hernia diafragma, sehingga penanganan yang tepat dapat segera ditentukan bersama tenaga medis.
Hubungi tim Bumame untuk informasi dan penjadwalan pemeriksaan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention — Diaphragmatic Hernia
Tampa General Hospital — Diaphragmatic Hernia Overview
Medical Point International — Diaphragmatic Hernia
Northwestern Medicine — Symptoms of Disorders of the Diaphragm
Apotek Mandjur — Hernia Diafragma
Colorectal Practice — Diaphragmatic Hernia: Symptoms, Causes & Treatment
Cincinnati Children's — Congenital Diaphragmatic Hernia (CDH)
Primaya Hospital — Hernia Diafragma: Gejala, Mencegah, dan Mengobati
Hermina Hospitals — Hernia: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apakah hernia diafragma harus dioperasi?
Sebagian besar kasus hernia diafragma memerlukan operasi untuk memperbaiki celah pada diafragma dan mengembalikan organ yang berpindah ke posisi semula. Penanganan ditentukan berdasarkan jenis hernia, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan pasien.
Apakah penderita hernia diafragma boleh berolahraga?
Penderita hernia diafragma boleh berolahraga jika kondisinya memungkinkan dan dokter mengizinkan. Sebaiknya hindari olahraga berat atau aktivitas yang meningkatkan tekanan di dalam perut.
Apakah hernia diafragma bisa kambuh setelah operasi?
Ya, hernia diafragma dapat kambuh setelah operasi. Risikonya dipengaruhi oleh jenis hernia, ukuran celah, serta kondisi jaringan diafragma.
Apa perbedaan hernia diafragma dan hernia hiatus?
Hernia diafragma terjadi ketika organ perut masuk ke rongga dada melalui celah pada diafragma. Hernia hiatus merupakan salah satu jenisnya, yaitu ketika bagian atas lambung menonjol ke rongga dada melalui hiatus esofagus, lubang alami pada diafragma.
Apa saja gejala hernia diafragma pada bayi dan orang dewasa?
Pada bayi, gejalanya dapat berupa napas cepat atau sulit, kulit membiru, perut cekung, dan kesulitan menyusu. Pada anak dan orang dewasa, gejalanya dapat meliputi sesak napas, nyeri dada atau perut atas, sulit menelan, mual, muntah, perut kembung, batuk kronis, dan suara serak.
