Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Fibroma: Jenis, Penyebab, dan Diagnosis
Kembali ke Artikel & Berita

Fibroma: Jenis, Penyebab, dan Diagnosis

SBAOthers

Pernah menemukan benjolan atau gumpalan di rongga mulut atau bagian tubuh lainnya? Kemungkinan itu fibroma, tumor jinak yang dapat muncul di dalam organ maupun di permukaan tubuh. 

Kebanyakan orang yang mengalaminya tidak merasakan gejala apa pun. Namun, jika ukuran benjolan mulai membesar, Anda dapat merasakan gejala tidak nyaman hingga nyeri ringan. Meski begitu, umumnya kondisi ini tidak membahayakan kesehatan karena sifatnya yang jinak. 

Simak penjelasan selengkapnya berikut ini yang membahas tentang jenis-jenis fibroma hingga diagnosisnya. 

Apa Itu Fibroma?

Fibroma adalah tumor jinak yang berasal dari jaringan ikat atau jaringan fibrosa. Jaringan tersebut tersebar di seluruh tubuh, sehingga Anda bisa mengalami fibroma di berbagai tempat, seperti rongga mulut, kulit, hingga rahim.

Sebagian besar fibroma tidak menimbulkan gejala, sehingga sering kali orang-orang baru menyadarinya saat melakukan pemeriksaan. Selain itu, fibroma bersifat jinak dan sangat jarang berkembang menjadi kanker ganas. Oleh sebab itu, biasanya tidak memerlukan pengobatan khusus.

Jenis-Jenis Fibroma dan Penyebabnya

Fibroma terbagi menjadi beberapa jenis tergantung pada lokasi kemunculannya. Berikut penjelasan tiap jenisnya.

1. Fibroma Oral

Benjolan jinak dari jaringan fibrosa yang terbentuk pada bagian mulut, seperti di bagian dalam pipi, bibir, dan gusi, disebut fibroma oral. Ciri-ciri fibroma oral di antaranya adalah memiliki benjolan dengan tekstur kenyal dan padat, cenderung tidak terasa nyeri, dan warnanya mirip dengan lapisan mulut sekitarnya (merah muda), meski kadang-kadang bisa terlihat lebih pucat.

Penyebab fibroma oral umumnya adalah iritasi berulang pada satu titik. Misalnya, Anda sering tidak sengaja menggigit pipi dan bibir, posisi gigi palsu yang tidak pas, menggunakan kawat gigi (behel) yang bergesekan dengan bagian dalam pipi, serta memiliki gigi yang tajam atau patah.

2. Fibroma Plantar

Jenis ini merupakan pertumbuhan jaringan fibrosa yang berkembang di fasia plantar atau jaringan ikat yang membentang dari tumit hingga jari-jari kaki. Umumnya, fibroma jenis ini dominan menyerang pria daripada wanita. Gejala utamanya adalah benjolan yang tumbuh lambat di lengkung kaki dengan ukuran kurang dari satu inci.

Meski bersifat jinak, kondisi ini dapat membuat penderitanya merasa tidak nyaman dan nyeri, terutama saat mengenakan sepatu yang memberikan tekanan pada area benjolan tersebut. Penyebab pasti fibroma plantar juga masih belum diketahui. Hanya saja, golongan yang lebih mungkin terkena adalah kalangan berusia paruh baya (30–50 tahun), berjenis kelamin pria, dan mungkin karena faktor genetik.

3. Fibroma Non-Osifikasi

Fibroma non-osifikasi adalah tumor tulang jinak yang terbentuk dari jaringan fibrosa dan sering ditemukan di ujung tulang paha atau tulang kering dekat lutut. Disebut non-osifikasi karena pertumbuhan ini tidak terbuat dari jaringan tulang, meski tumbuh di tulang. Adapun penyebabnya masih belum diketahui secara pasti.

Faktor risiko utama fibroma non-osifikasi cenderung terjadi pada anak-anak. Biasanya, kondisi ini tidak menimbulkan gejala sehingga sering kali baru ketahuan saat pengambilan rontgen untuk pemeriksaan lain. Selain itu, jenis fibroma ini tidak dapat berkembang menjadi kanker ganas dan dapat menghilang dengan sendirinya.

4. Fibroid Rahim

Jenis fibroma ini dapat tumbuh pada dinding di dalam atau di luar rahim Anda dalam bentuk benjolan tunggal atau beberapa fibroid dengan ukuran berbeda. Klasifikasi fibroid terbagi menjadi empat berdasarkan letak pertumbuhannya. Submukosa (di dalam rongga rahim), intramural (di dalam dinding otot rahim), subserosal (ke luar rahim), dan fibroid bertangkai.

Sementara itu, penyebab pasti fibroid rahim belum diketahui. Namun, diduga faktor aktivitas hormonal (estrogen dan progesteron) cukup berpengaruh terhadap perkembangannya. Selain itu, orang-orang dengan faktor risiko seperti obesitas, riwayat keluarga, dan menstruasi pertama sebelum usia 11 tahun lebih mungkin mengembangkan fibroid.

5. Dermatofibroma

Dermatofibroma merupakan salah satu jenis tumor jinak fibroma yang dapat tumbuh di bagian kulit mana saja. Lokasi kemunculannya sering kali ditemukan pada bagian lengan atas, kaki bagian bawah, dan punggung atas. Warna benjolannya bisa merah muda, abu-abu, ungu, atau cokelat, dan dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Umumnya, dermatofibroma tidak menyebabkan sakit, tetapi beberapa orang mungkin merasa gatal atau nyeri. Penyebab pasti dermatofibroma masih belum diketahui, sehingga cara mencegahnya juga tidak ada. Selain itu, benjolan ini tidak bisa hilang dengan sendirinya, kecuali jika diangkat melalui prosedur pembedahan.

Apa Gejala Fibroma?

Fibroma umumnya tidak menimbulkan gejala sama sekali. Akan tetapi, beberapa jenis fibroma dapat memiliki gejala yang bisa dirasakan. Misalnya, fibroma plantar menyebabkan ada benjolan di lengkung kaki yang padat saat disentuh. Alhasil, ketika benjolan tersebut tertekan saat berjalan atau berdiri, penderita mungkin akan merasa nyeri.

Di sisi lain, dermatofibroma juga kadang dapat membuat penderitanya merasakan benjolan yang gatal, sensitif terhadap sentuhan, berubah warna, hingga terasa nyeri. 

Kemudian, fibroid rahim memiliki beberapa gejala yang umum terjadi, seperti pendarahan menstruasi yang berat, nyeri saat menstruasi, nyeri di daerah panggul, frekuensi buang air kecil meningkat, merasa sakit ketika berhubungan seks, dan ada masalah kesuburan (infertilitas).

Diagnosis dan Pemeriksaan Fibroma

Untuk mengetahui apakah seseorang terkena tumor jinak fibroma, dokter mungkin akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik dan tes tertentu. Pasien biasanya juga akan ditanya tentang gejala yang muncul hingga riwayat medis untuk membantu diagnosis. 

Lalu, tes lanjutan yang mungkin diminta, antara lain:

  • Ultrasonografi (USG): Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menampilkan gambar jaringan di dalam tubuh. Pada fibroid rahim, tes ini membantu mengetahui gambaran rahim untuk melihat apakah ada fibroid di sana.

  • X-ray (rontgen): Prosedur ini memanfaatkan sinar radiasi untuk melihat bagian dalam tubuh. Biasanya, fibroma non-osifikasi dapat diidentifikasi melalui rontgen untuk memantau perkembangannya.

  • CT scan dan MRI: Tes pencitraan ini dapat menangkap gambar yang lebih detail daripada rontgen biasa, sehingga sering digunakan untuk memastikan diagnosis fibroma lebih lanjut dan membedakannya dari kista atau tumor lainnya.

Selain tes di atas, Anda disarankan untuk melakukan skrining kesehatan secara rutin untuk mendeteksi masalah pada tubuh sejak dini, mengingat fibroma sering kali tidak bergejala dan baru ketahuan saat melakukan pemeriksaan karena alasan lain. 

Melalui layanan Medical Check Up General Plus di Klinik Bumame, Anda bisa melakukan 19 pemeriksaan untuk menilai kesehatan jantung, fungsi hati, ginjal, tulang dan sendi, hingga tes rontgen. Hasil dari tes ini akan membantu Anda mengetahui gambaran kesehatan tubuh, termasuk mendeteksi fibroma. 

Pengobatan Fibroma

Beberapa jenis fibroma, seperti dermatofibroma, memang tidak akan hilang dengan sendirinya. Namun, kondisi ini umumnya tidak membahayakan kesehatan karena sifatnya yang jinak dan pertumbuhannya lambat. Selain itu, dokter mungkin juga tidak akan memberikan pengobatan apabila kondisi ini tidak menimbulkan gejala atau mengganggu kenyamanan.

Namun, beda cerita jika fibroma tersebut mulai memunculkan gejala dan menyebabkan masalah dalam keseharian aktivitas. Dokter mungkin akan melakukan perawatan tertentu tergantung pada jenis fibroma yang diderita. 

Misalnya, untuk fibroid rahim, pengobatannya bisa melalui pemberian obat pereda nyeri, suplemen zat besi, hingga operasi pengangkatan fibroid rahim seperti miomektomi. Sementara itu, dokter juga dapat mengangkat dermatofibroma melalui pembedahan atau krioterapi. 

Meski begitu, perlu diingat bahwa pengangkatan tumor jinak ini bisa meninggalkan bekas luka. Itulah mengapa jika fibroma tidak menyebabkan gejala seperti gatal atau nyeri, dokter umumnya akan menyarankan untuk membiarkannya saja.

Kapan Perlu Konsultasi dengan Dokter?

Jika Anda memiliki fibroma yang menimbulkan gejala, sebaiknya datangi fasilitas kesehatan terdekat untuk konsultasi dengan profesional. Dokter akan membantu mengevaluasi kondisi, apakah perlu penanganan medis tertentu atau cukup diobservasi.

Selain itu, Anda bisa pergi cek kesehatan rutin ke fasilitas kesehatan kapan saja meski tidak merasakan gejala apa pun. Melakukan skrining kesehatan secara rutin akan membantu mengetahui gambaran kondisi tubuh, mendeteksi penyakit sejak dini, dan merencanakan langkah penanganan dengan sigap. 

Bagi Anda yang sedang mencari tempat skrining kesehatan dengan pemeriksaan lengkap, kunjungi klinik Bumame dan booking jadwal konsultasi bersama dokter sekarang!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Cleveland Clinic — Fibroma

  2. True Dental Studio — Oral Fibroma: Causes & Removal

  3. Medical News Today — What are the treatments for plantar fibroma?

  4. Cleveland Clinic — Plantar Fibroma

  5. Cleveland Clinic — Non-Ossifying Fibroma

  6. University Hospital Sharjah — Fibroma: Causes, Diagnosis, and Treatment

  7. Cleveland Clinic — Uterine Fibroids

  8. Harvard Health Publishing — Dermatofibroma

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa itu fibroma?

Fibroma adalah tumor jinak yang berasal dari jaringan ikat atau jaringan fibrosa. Benjolan ini dapat muncul di berbagai bagian tubuh, seperti rongga mulut, kulit, kaki, tulang, dan rahim. Sebagian besar tumbuh perlahan dan tidak menimbulkan gejala.

Apakah fibroma berbahaya?

Sebagian besar fibroma bersifat jinak dan sangat jarang berkembang menjadi kanker ganas. Namun, jika benjolan menimbulkan nyeri, gatal, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan penanganan yang sesuai.

Bagaimana cara mencegah fibroma?

Belum ada cara khusus untuk mencegah semua jenis fibroma, terutama yang penyebabnya belum diketahui atau berkaitan dengan faktor genetik. Untuk mengurangi risiko fibroma oral, hindari kebiasaan menggigit pipi dan bibir serta atasi iritasi berulang di dalam mulut.

Apakah fibroma bisa kambuh setelah diangkat?

Ya, fibroma dapat muncul kembali setelah diangkat, terutama jika faktor pemicunya masih ada. Sebagai contoh, fibroma oral bisa kambuh apabila kebiasaan menggigit pipi atau bibir yang menyebabkan iritasi terus berlanjut.

Bagaimana dokter mendiagnosis fibroma?

Dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, menanyakan gejala dan riwayat medis, serta menyarankan pemeriksaan lanjutan sesuai lokasi benjolan. Pemeriksaan tersebut dapat berupa USG, rontgen, CT scan, atau MRI untuk membantu menilai benjolan dan membedakannya dari kondisi lain.