Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Kanker Vulva: Gejala, Penyebab, dan Kapan Perlu Diperiksa
Kembali ke Artikel & Berita

Kanker Vulva: Gejala, Penyebab, dan Kapan Perlu Diperiksa

SBAOthers

Gatal di area kemaluan sering dianggap urusan jamur, keringat, atau iritasi pembalut. Krim dioleskan, keluhan reda sebentar, lalu muncul lagi. Karena areanya sangat pribadi, menunggu terasa lebih mudah daripada memeriksakannya.

Sebagian besar keluhan seperti ini memang berasal dari kondisi lain. Meski begitu, gatal, perubahan warna kulit, atau luka di vulva yang menetap juga termasuk gejala kanker vulva. Vulva belum memiliki tes skrining rutin, sehingga perubahan yang Anda sadari sendiri menjadi petunjuk awal.

Berikut penyebab, gejala, batas waktu ke dokter, pemeriksaan, dan pencegahannya.

Apa Itu Kanker Vulva?

Kanker vulva adalah kanker yang tumbuh di vulva, yaitu bagian luar alat kelamin perempuan. Letaknya berbeda dengan kanker vagina yang tumbuh di saluran vagina. NHS (layanan kesehatan Inggris) mencatat gejalanya lebih sering muncul pada bibir kemaluan dalam dan luar di sekitar lubang vagina. MedlinePlus dari National Library of Medicine Amerika Serikat menyebut kanker ini jarang terjadi dan bisa diobati.

Kanker vulva biasanya berkembang perlahan selama beberapa tahun, diawali sel prakanker di kulit vulva yang disebut neoplasia intraepitel vulva (VIN). Sebagian perubahan ini bisa menjadi kanker, sehingga sebaiknya ditangani lebih awal.

Apa Penyebab Kanker Vulva?

Penyebab kanker vulva tidak selalu diketahui. NHS mencatat banyak kasus dipicu infeksi human papillomavirus (HPV) tipe tertentu, yang menular lewat kontak kulit di area kelamin, hubungan seksual, atau pemakaian alat bantu seks secara bergantian.

WHO mencatat ada 200 jenis HPV. Pada 90% orang, tubuh bisa mengendalikan infeksinya sendiri, dan kebanyakan orang yang terinfeksi HPV tidak merasakan gejala. Infeksi menetap oleh tipe berisiko tinggi inilah yang berkaitan dengan kanker vulva.

Kondisi kulit vulva seperti VIN, lichen sclerosus, dan lichen planus juga bisa berkembang menjadi kanker, sehingga perlu ditangani dan dipantau dokter.

Baca Juga: Jenis HPV dan Dampaknya pada Kanker Penis, Anus, dan Kutil Kelamin

Siapa yang Lebih Berisiko?

NHS mencatat kanker vulva lebih banyak dialami perempuan di atas 65 tahun, walau bisa muncul pada usia berapa pun. Risikonya juga meningkat pada kondisi berikut:

  • Merokok. Zat kimia dalam rokok bisa memicu kanker dan melemahkan sistem imun. Menurut WHO, tidak merokok menurunkan peluang infeksi HPV menetap.

  • Sistem imun lemah. Contohnya orang dengan HIV atau yang menjalani pengobatan penekan imun. Kementerian Kesehatan menjelaskan HIV menyerang sistem kekebalan sehingga tubuh sulit melawan infeksi dan penyakit.

  • Riwayat kanker serviks. Perempuan yang pernah mengalami kanker leher rahim berisiko lebih tinggi. Sampaikan riwayat ini saat berkonsultasi.

  • Riwayat infeksi HPV atau kutil kelamin. MedlinePlus menyebut keduanya meningkatkan risiko kanker vulva. WHO mencatat sebagian infeksi HPV memang memicu kutil kelamin.

Gejala Kanker Vulva yang Perlu Diperiksa

Pada awalnya, kanker vulva sering tanpa gejala. Bila muncul, CDC (lembaga pengendalian penyakit Amerika Serikat) dan NHS mencatat tanda berikut:

1. Gatal yang Tidak Kunjung Membaik

Gatal, rasa panas, atau perih di vulva yang tidak hilang termasuk tanda yang dicatat CDC. Keluhan ini umum pada banyak kondisi, sehingga mudah diobati sendiri berulang kali. Periksakan bila tidak membaik dalam dua minggu.

2. Perubahan Warna atau Tekstur Kulit

Kulit vulva bisa tampak lebih merah, putih, atau gelap, atau terasa lebih tebal dan menonjol. Perubahan warna lebih sulit terlihat pada kulit cokelat atau gelap. Bercak atau penebalan yang menetap perlu dilihat dokter.

3. Benjolan Mirip Kutil

NHS menyebut sebagian benjolan di vulva tampak dan terasa seperti kutil, sehingga mudah tertukar dengan kutil kelamin. Benjolan baru di area ini perlu dinilai dokter.

4. Luka atau Borok yang Tidak Sembuh

Luka terbuka atau borok di vulva yang tidak kunjung sembuh perlu diperiksa. Luka di area kelamin juga bisa berasal dari infeksi lain, misalnya herpes genital.

5. Perdarahan di Luar Haid

Perdarahan dari vulva atau keputihan bercampur darah di luar haid perlu diperhatikan. CDC menyarankan segera ke dokter bila perdarahan vagina terasa tidak biasa bagi Anda, termasuk setelah menopause.

6. Nyeri Saat Buang Air Kecil atau Berhubungan

NHS mencatat rasa panas saat buang air kecil, dan CDC menyebut nyeri panggul saat berkemih atau berhubungan seksual. Periksakan bila keluhan ini bertahan dua minggu atau lebih.

7. Tahi Lalat yang Berubah

Tahi lalat di vulva yang berubah bentuk atau warna perlu diperiksakan. Letaknya sulit dilihat, jadi mengamati vulva dengan bantuan cermin bisa membantu.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Bila tidak segera ditangani, sel kanker bisa menyebar ke jaringan sekitar atau bagian tubuh lain. Kementerian Kesehatan menyebut penyebaran ini metastasis, yang bisa mempersulit pengobatan.

Pengobatan kanker juga bisa menimbulkan efek samping seperti lelah, mual, dan rambut rontok, serta melemahkan sistem imun. Stres, cemas, dan depresi juga sering menyertai, sehingga dukungan keluarga dan konseling ikut menjadi bagian perawatan.

Apa Beda Kanker Vulva, Kanker Vagina, dan Kanker Serviks?

Ketiganya bisa berkaitan dengan HPV, tetapi letak, keluhan, dan ketersediaan skriningnya berbeda.

Jenis kanker

Letak

Keluhan yang sering muncul

Tes skrining rutin

Kanker vulva

Bagian luar alat kelamin, khususnya bibir kemaluan di sekitar lubang vagina

Gatal, perih, atau perdarahan yang menetap, perubahan warna kulit, benjolan atau luka yang tidak sembuh

Belum tersedia

Kanker vagina

Saluran vagina

Sering tanpa gejala di awal, lalu keputihan atau perdarahan yang tidak biasa dan nyeri panggul

Belum tersedia

Kanker serviks

Leher rahim, penghubung vagina dan rahim

Perdarahan di antara haid atau setelah berhubungan seksual, keputihan berbau

Tersedia, misalnya pap smear dan tes HPV DNA

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

CDC menegaskan bahwa pap smear tidak ditujukan untuk skrining kanker vulva, dan belum ada cara sederhana yang andal untuk mendeteksinya pada perempuan tanpa gejala. Tes HPV DNA juga ditujukan untuk leher rahim, jadi kenali apa yang normal bagi tubuh Anda.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Menurut CDC, segera ke dokter bila ada perdarahan vagina yang tidak biasa bagi Anda. Untuk gatal, perubahan kulit, benjolan, luka, atau nyeri, periksakan bila bertahan dua minggu atau lebih.

NHS mengingatkan gejala ini sangat umum dan bisa disebabkan banyak kondisi, jadi belum tentu kanker. Bila penyebabnya kanker, menemukannya lebih awal membuat pengobatan lebih mungkin berhasil.

Tidak perlu malu, karena dokter terbiasa membahas keluhan seperti ini. Anda bisa meminta dokter perempuan, ditemani keluarga atau petugas, dan meminta dokter berhenti kapan saja.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Kanker Vulva?

Dokter akan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan Anda, lalu melihat area vulva dan meraba benjolan dengan sarung tangan. Pemeriksaan bagian dalam dengan jari atau alat berbentuk tabung bernama spekulum juga bisa dilakukan. Prosesnya tidak seharusnya menyakitkan, walau bisa terasa kurang nyaman.

Menurut MedlinePlus, diagnosis ditegakkan lewat pemeriksaan fisik dan biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Pencitraan seperti CT scan atau MRI bisa diminta untuk mencari tanda kanker di dalam tubuh. Rujukan ke dokter spesialis belum tentu berarti kanker.

Pengobatan Kanker Vulva

Pengobatan disesuaikan dengan kesehatan umum pasien, jenis, dan stadium kanker. Pilihannya meliputi:

  • Penanganan lesi prakanker. WHO mencatat lesi prakanker di vulva bisa diangkat lewat operasi atau ditangani dengan pembekuan atau pemanasan. Dokter memilih cara yang sesuai setelah pemeriksaan.

  • Operasi. Dokter mengangkat jaringan kanker beserta jaringan sekitarnya yang mungkin terkena. Jenis operasinya disesuaikan dengan stadium.

  • Radioterapi dan kemoterapi. Radioterapi memakai radiasi, sedangkan kemoterapi memakai obat untuk membunuh sel kanker atau menghentikan pertumbuhannya. Keduanya bisa menjadi bagian rencana pengobatan.

  • Imunoterapi. Terapi ini memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker. MedlinePlus menyebutnya terapi biologis.

WHO menekankan bahwa pengobatan kanker akibat HPV lebih efektif bila didiagnosis lebih awal, dan perawatannya perlu disertai dukungan psikologis.

Langkah Pencegahan Sehari-hari

Beberapa langkah berikut membantu menurunkan peluang terkena kanker vulva:

  • Tangani kondisi kulit vulva. Lichen sclerosus atau lichen planus perlu diobati dan dipantau dokter. Kontrol berkala membantu menemukan perubahan lebih awal.

  • Gunakan kondom. Kondom menurunkan peluang tertular HPV, walau tidak menutupi seluruh kulit kelamin. Kementerian Kesehatan juga menyebut kondom membantu mengurangi penularan HIV dan infeksi menular seksual lain.

  • Berhenti merokok. Rokok melemahkan sistem imun dan mengandung zat pemicu kanker. Berhenti merokok juga menurunkan peluang infeksi HPV menetap.

  • Jaga pola makan dan berat badan. Pola makan seimbang membantu mendukung sistem imun. Kementerian Kesehatan juga menganjurkan berat badan sehat dan olahraga teratur.

  • Tetap jalani skrining leher rahim. Skrining membantu menemukan perubahan prakanker di leher rahim sebelum menjadi kanker serviks. Riwayat kanker serviks sendiri termasuk faktor risiko kanker vulva.

Vaksin HPV untuk Membantu Menurunkan Risiko

Karena banyak kasus kanker vulva dipicu HPV tipe tertentu, vaksinasi membantu menurunkan risiko infeksi dari tipe tersebut. WHO merekomendasikan vaksinasi HPV sebelum seseorang aktif secara seksual. Vaksin ini tidak mengandung virus hidup dan tidak dipakai untuk mengobati infeksi yang sudah ada.

Bumame menyediakan Vaksin HPV Gardasil-9, vaksin nonavalen untuk sembilan tipe HPV, yaitu 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58, dengan layanan Walk In di klinik maupun Home Care. Untuk vaksinasi anak, hubungi CS Bumame untuk memastikan ketersediaan sesuai usia anak. Untuk jadwal atau kecocokan vaksin dengan kondisi Anda, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Kenali Tubuh Anda, Periksakan Perubahan Lebih Awal

Kanker vulva umumnya berkembang perlahan, sehingga ada waktu untuk menemukan perubahan sejak tahap prakanker. Kenali kondisi vulva yang normal bagi Anda dan periksakan keluhan yang bertahan dua minggu atau lebih. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.

Untuk berdiskusi tentang pemeriksaan atau vaksinasi, Anda bisa chat CS Bumame.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. NHS. Symptoms of Vulval Cancer.

  2. MedlinePlus, National Library of Medicine. Vulvar Cancer.

  3. NHS. Causes of Vulval Cancer.

  4. World Health Organization. Human Papillomavirus and Cancer.

  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. HIV.

  6. Centers for Disease Control and Prevention. Symptoms of Vaginal and Vulvar Cancers.

  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Kanker.

  8. Centers for Disease Control and Prevention. Screening for Vaginal and Vulvar Cancers.

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Apa itu kanker vulva?

Kanker vulva adalah kanker yang tumbuh di bagian luar alat kelamin perempuan, terutama bibir kemaluan di sekitar lubang vagina. Kanker ini dapat berkembang dari sel prakanker.

Apa saja gejala kanker vulva yang perlu diwaspadai?

Gejalanya meliputi gatal menetap, perubahan warna atau tekstur kulit, benjolan, luka yang tidak sembuh, perdarahan di luar haid, nyeri saat buang air kecil atau berhubungan, serta tahi lalat yang berubah.

Apa penyebab dan faktor risiko kanker vulva?

Kanker vulva sering berkaitan dengan infeksi HPV berisiko tinggi yang menetap. Risikonya juga meningkat pada perempuan berusia di atas 65 tahun, perokok, orang dengan sistem imun lemah, serta yang memiliki riwayat kanker serviks atau infeksi HPV.

Kapan gatal atau perubahan pada vulva perlu diperiksakan ke dokter?

Periksakan gatal, perubahan kulit, benjolan, luka, atau nyeri yang bertahan dua minggu atau lebih. Perdarahan vagina yang tidak biasa perlu segera diperiksa. Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker, tetapi perlu diketahui penyebabnya.

Apakah pap smear dapat mendeteksi kanker vulva?

Tidak. Pap smear dan tes HPV DNA ditujukan untuk skrining kanker serviks, bukan kanker vulva. Diagnosis kanker vulva dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan biopsi jaringan bila diperlukan.