Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Keloid: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya
Kembali ke Artikel & Berita

Keloid: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

SBAOthers

Pernah melihat bekas tindik telinga ataupun luka jerawat yang justru berubah menjadi benjolan tebal setelah sembuh? Bekas luka seperti ini terkadang terus membesar dan akan terasa gatal ataupun nyeri saat tersentuh. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah keloid. 

Ini merupakan jaringan parut yang tumbuh berlebihan hingga melewati batas luka semula. Kondisi ini sebenarnya tidak berbahaya, tapi bisa saja mengganggu kenyamanan dan juga penampilan. Mari kenali cirinya untuk mengetahui kapan bekas luka sebaiknya diperiksa dan juga pilihan perawatannya!

Apa Itu Keloid?

Keloid terbentuk ketika proses penyembuhan kulit yang menghasilkan jaringan parut secara berlebihan. Tubuh sendiri akan memproduksi kolagen, yaitu protein yang membantu memperbaiki jaringan yang rusak. 

Nah, pada orang yang rentan mengalami proses ini bisa menghasilkan jaringan parut yang menonjol dan juga terus berkembang melewati area luka awal. Luka ini pun bisa muncul setelah luka operasi, jerawat, tindik, luka bakar, ataupun cedera kecil lainnya.

Bentuk luka ini juga sering disamakan dengan bekas luka hipertrofik karena keduanya sama-sama tampak menebal. Tapi, masih ada perbedaan yang bisa membantu membedakannya, berikut penjelasannya.

  • Keloid: tumbuh melampaui batas luka awal dan juga cenderung menetap tanpa perawatan.

  • Bekas luka hipertrofik: menebal, tapi masih tetap berada dalam batas luka semula dan juga bisa menjadi lebih datar seiring waktu.

  • Bekas luka biasa: umumnya akan berkembang mengikuti area cedera dan juga perlahan berubah selama proses pematangan kulit.

Perbedaan tersebut memang tidak selalu mudah untuk Anda kenali sendiri. Jika memang benjolan terus membesar, terasa mengganggu, ataupun bentuknya tidak sesuai dengan luka sebelumnya, maka dokter bisa memeriksa kondisi tersebut merupakan penebalan luka ataupun kelainan kulit lainnya.

Gejala dan Ciri-Ciri Keloid

Cirinya bisa berbeda pada setiap orang, bergantung pada lokasi, ukuran, dan juga lamanya jaringan parut itu berkembang. Benjolan pun tidak selalu muncul segera setelah luka menutup, terkadang masih diperlukan waktu sampai berbulan-bulan sebelum bisa terlihat jelas. 

Memahami tanda yang umum bisa membantu Anda untuk memutuskan kapan perlu mencari pemeriksaan medis. Ciri umum pada keloid adalah sebagai berikut.

  • Benjolan menonjol dan tebal. Permukaan kulit terlihat terangkat dengan adanya tekstur yang dapat terasa keras, kenyal, ataupun licin.

  • Melebar melewati luka awal. Jaringan parut bisa meluas ke kulit di sekitarnya, tidak hanya dengan mengisi area cedera.

  • Warna berbeda dari kulit sekitar. Biasanya akan berwarna kemerahan, merah muda, kecokelatan, ataupun lebih gelap.

  • Terasa gatal atau nyeri. Sebagian orang akan merasakan gatal, sensasi terbakar, ataupun nyeri saat area tersebut tersentuh.

  • Tumbuh secara perlahan. Ukurannya sendiri bisa bertambah selama beberapa bulan atau tahun, dan juga biasanya tidak hilang dengan sendirinya. 

Penebalan sering muncul di daun telinga, dada, bahu, dan juga punggung bagian atas, atau juga dapat terbentuk di area lain. Namun, tidak semua benjolan bekas luka merupakan keloid.

Jika benjolan berubah dengan cepat, mudah berdarah, ataupun muncul tanpa adanya riwayat cedera yang jelas, sebaiknya tetap konsultasikan dengan dokter untuk bisa memastikan penyebabnya. 

Penyebab dan Faktor Risiko Keloid

Penyebab pastinya sendiri masih belum sepenuhnya dipahami. Kondisi ini diduga berkaitan dengan respons penyembuhan kulit yang berlebihan, termasuk adanya produksi kolagen yang tidak seimbang selama perbaikan jaringan. 

Namun, tidak semua orang yang mengalami luka akan membentuk penebalan dan ada beberapa faktor bisa saja meningkatkan risikonya, seperti berikut.

  • Riwayat keluarga. Kecenderungan mengalami masalah ini bisa diturunkan dalam keluarga.

  • Pernah mengalaminya. Orang yang pernah membentuk penebalan akan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali setelah cedera lain.

  • Tindik atau tato. Prosedur yang melukai kulit bisa saja memicu pada orang yang rentan.

  • Luka dan peradangan pada kulit. Akne vulgaris atau jerawat, luka bakar, goresan, gigitan serangga, dan operasi juga bisa menjadi pemicu.

  • Usia dan karakteristik kulit. Biasanya akan lebih sering ditemukan pada orang berusia muda hingga sekitar 30 tahun dan juga lebih umum pada orang dengan warna kulit lebih gelap, meskipun siapa pun bisa saja mengalaminya.

Memiliki faktor risiko itu sendiri bukan berarti seseorang pasti akan mengalaminya. hanya saja, cedera ringan tetap bisa saja memicu pada orang yang rentan. Jika memang memiliki riwayat, maka beritahu dokter sebelum bisa menjalani operasi ataupun prosedur yang berpotensi melukai kulit.

Diagnosis Keloid dan Pemeriksaan yang Dibutuhkan

Diagnosisnya sendiri biasanya akan dilakukan melalui pemeriksaan langsung pada kulit. Dokter akan menanyakan riwayat luka, waktu munculnya benjolan, perubahan ukuran, serta adanya keluhan seperti gatal atau nyeri. Pemeriksaan tambahan juga bisa dipertimbangkan jika memang bentuk ataupun pertumbuhannya tidak khas.

Berikut langkah pemeriksaan umumnya.

  • Pemeriksaan fisik. Dokter biasanya akan menilai bentuk, warna, tekstur, lokasi, dan juga batas jaringan parut dibandingkan dengan luka awal.

  • Penelusuran riwayat kesehatan. Riwayat cedera, operasi, tindik, serta keloid pada diri sendiri ataupun keluarga akan sangat membantu mendukung penilaian.

  • Biopsi kulit bila diperlukan. Jika memang dokter mencurigai kondisi lain, maka sampel kecil jaringan dapat diperiksa di laboratorium. Langkah ini biasanya tidak diperlukan pada setiap kasus. 

Bumame juga menyediakan MCU Skin Panel Core, yang mencakup enam pemeriksaan. Meliputi glukosa puasa, HbA1c, vitamin D 25-OH total, zinc serum, hs-CRP, dan juga protein total. 

Pemeriksaan ini bisa membantu mengevaluasi sejumlah faktor metabolik, nutrisi, dan juga peradangan sebagai bagian dari gambaran kesehatan yang lebih menyeluruh. Tapi, MCU Skin Panel Core bukanlah pemeriksaan khusus untuk bisa mendiagnosis adanya keloid dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter kulit.

Jika memang terdapat benjolan yang dicurigai, maka pemeriksaan langsung oleh dokter tetap menjadi langkah utama untuk bisa menentukan diagnosis dan juga penanganan yang sesuai. 

Pilihan Pengobatan Keloid

Penanganannya bertujuan untuk mengurangi ketebalan, rasa gatal, nyeri, ataupun gangguan gerak yang ditimbulkan. Hasil perawatannya pun akan berbeda pada setiap orang, dan juga tidak ada metode yang menjaminnya dapat hilang total ataupun sampai tidak tumbuh kembali. 

Dokter nantinya akan mempertimbangkan ukuran, lokasi, dan juga riwayat perawatan sebelum menentukan pilihan.

  • Suntikan kortikosteroid. Suntikan obat ke jaringan parut bisa membantu meratakan dan juga mengurangi keluhan. Perawatan ini mungkin memerlukan beberapa sesi.

  • Gel atau lembaran silikon. Silikon medis juga membantu memperbaiki tampilan ataupun ketebalan jaringan parut pada sebagian orang. Gunakanlah sesuai petunjuk dan juga jangan mengoleskan produk pada luka terbuka tanpa adanya arahan medis.

  • Krioterapi. Metode ini akan menggunakan suhu sangat dingin untuk bisa mengecilkan keloid tertentu. Perubahan warna kulit bisa menjadi salah satu efek sampingnya.

  • Terapi laser. Laser juga bisa membantu mengurangi kemerahan ataupun ketebalan, yang terkadang bisa dikombinasikan dengan metode lain.

  • Operasi pengangkatan. Prosedur ini bisa dipertimbangkan pada kasus tertentu, tapi masih berisiko untuk tumbuh kembali. Maka dari itu, dokter bisa merencanakan terapi tambahan setelah operasi.

Jangan tiba-tiba memotong, menusuk, ataupun menekan sendiri. Tindakan ini bisa melukai kulit dan menimbulkan masalah baru. Jika ingin memperbaiki tampilannya, tetap diskusikan manfaat, keterbatasan, efek samping, serta risiko kekambuhannya dengan dokter kulit.

Cara Mengurangi Risiko Keloid

Tidak semua keloid bisa dicegah, apalagi pada orang yang memiliki kecenderungan membentuk jaringan parut berlebihan. Meski begitu, mengurangi cedera kulit yang tidak perlu dan juga merawat luka dengan baik bisa membantu menekan risiko. Berikut kebiasaan yang dapat Anda terapkan.

  • Rawat luka dengan benar. Bersihkan luka secara lembut dan juga ikuti petunjuk perawatan agar proses penyembuhannya berjalan baik.

  • Pertimbangkan risiko sebelum tindik atau tato. Jika memang pernah mengalami penebalan luka, maka diskusikan risikonya sebelum melakukan prosedur yang melukai kulit.

  • Perhatikan bekas luka yang menebal. Konsultasikanlah perubahan sejak dini, apalagi jika benjolan mulai melebar ataupun menimbulkan keluhan.

  • Lindungi bekas luka dari sinar matahari. Setelah luka menutup, perlindungan dari sinar matahari bisa membantu mengurangi perubahan warna pada bekas luka.

Jika memang memiliki riwayat, beritahu dokter juga sebelum menjalani tindakan operasi ataupun prosedur kulit. Dokter nantinya bisa menyarankan perawatan luka dan juga strategi pencegahan yang sesuai, meskipun tidak ada cara yang menjaminnya tidak terbentuk lagi.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Pemeriksaan akan dianjurkan jika memang benjolan bekas luka terus membesar, terasa nyeri ataupun gatal, mengganggu gerakan, ataupun sampai membuat tidak nyaman. Konsultasi juga jika Anda memang tidak yakin apakah benjolan itu merupakan keloid, khususnya bila muncul tanpa cedera yang diketahui.

Selain itu, segera cari pertolongan medis jika benjolan berubah cepat, berdarah, atau sampai memiliki bentuk yang tidak biasa. Dokter kulit nantinya bisa memastikan diagnosis dan juga membahas pilihan perawatan yang sesuai. 

Jika Anda ingin mengevaluasi kesehatan kulit secara umum, layanan MCU Skin Panel Core Bumame bisa menjadi salah satu pilihan untuk menilai faktor metabolik dan juga nutrisi tertentu. Namun, pemeriksaan ini tetap bukan pengganti konsultasi dermatologi. Hasilnya dapat menjadi acuan dan konsultasi pada dokter kulit.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. American Academy of Dermatology — Keloid Scars: Overview

  2. Mayo Clinic — Keloid Scar: Symptoms and Causes

  3. American Academy of Dermatology — Keloid Scars: Diagnosis and Treatment

  4. American Academy of Dermatology — How to Prevent Keloid Scars

  5. Cleveland Clinic — Keloid Scar

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apakah keloid berbahaya?

Keloid umumnya tidak berbahaya, tetapi dapat menimbulkan gatal, nyeri, ketidaknyamanan, atau membatasi gerakan jika tumbuh di dekat sendi. Benjolan yang tidak biasa tetap perlu diperiksa dokter.

Apakah keloid bisa hilang sendiri?

Keloid biasanya tidak menghilang dengan sendirinya. Perawatan medis dapat membantu meratakan benjolan atau mengurangi gejalanya, tetapi hasilnya bervariasi dan keloid berisiko tumbuh kembali.

Apakah keloid menular?

Tidak. Keloid bukan penyakit menular, melainkan jaringan parut yang tumbuh berlebihan akibat respons penyembuhan kulit.

Apakah keloid bisa dicegah setelah tindik atau operasi?

Risiko keloid dapat dikurangi dengan merawat luka secara tepat dan berkonsultasi dengan dokter jika bekas luka mulai menebal. Namun, pencegahan tidak selalu berhasil, terutama pada orang yang memiliki riwayat keloid.

Apa saja pilihan pengobatan keloid?

Pilihan pengobatan keloid meliputi suntikan kortikosteroid, gel atau lembaran silikon, krioterapi, terapi laser, dan operasi pengangkatan. Dokter akan menentukan metode yang sesuai berdasarkan ukuran, lokasi, dan riwayat perawatan.