Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mastitis Adalah: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya
Kembali ke Artikel & Berita

Mastitis Adalah: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

SBAOthers

Menyusui seharusnya menjadi momen yang nyaman bagi ibu dan bayi. Namun, payudara yang terasa nyeri, bengkak, kemerahan, atau panas saat disentuh bisa menimbulkan kekhawatiran, terutama jika disertai demam. Jika Anda mengalaminya, ketahuilah bahwa mastitis adalah salah satu kondisi yang melatarbelakanginya.

Apa Itu Mastitis?

Mastitis adalah kondisi peradangan yang terjadi pada jaringan payudara. Mastitis umumnya dialami perempuan menyusui, yang disebut lactation mastitis. Namun, perempuan yang tidak menyusui juga bisa mengalaminya, disebut non-lactational mastitis.

Mastitis terdiri dari tiga jenis, yaitu:

  • Mastitis yang disebabkan oleh penyumbatan ASI (stasis ASI);

  • Mastitis tidak terinfeksi, di mana ASI di payudara membengkak karena tidak dikeluarkan; dan

  • Mastitis terinfeksi, di mana bakteri Staphylococcus aureus menginfeksi payudara.

Penyebab Mastitis pada Ibu Menyusui dan Wanita Tidak Menyusui

Terdapat perbedaan antara mastitis pada ibu menyusui dan pada wanita yang tidak menyusui. Berikut ini penjelasannya.

Penyebab Mastitis pada Ibu Menyusui

Mastitis pada ibu menyusui biasanya terjadi pada 2–3 minggu pertama pasca melahirkan. Namun, tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada masa tengah atau akhir menyusui. Ketika produksi ASI lebih banyak daripada kebutuhan bayi (hiperlaktasi), jaringan payudara akan membengkak dan mastitis pun terjadi.

Selain karena penyumbatan ASI (stasis ASI) pada jaringan payudara, mastitis pada ibu menyusui juga bisa terjadi karena:

  • Infeksi bakteri;

  • Lecet puting;

  • ASI yang tidak dikeluarkan secara efektif; dan

  • Tekanan pada payudara, misalnya dari sabuk pengaman atau bra yang terlalu kencang, sehingga mengganggu jaringan payudara.

Penyebab Mastitis pada Wanita Tidak Menyusui

Walaupun memang umumnya dialami oleh ibu menyusui, wanita yang tidak menyusui pun bisa terkena mastitis. Oleh karena itu, mastitis tidak selalu disebabkan masalah penyumbatan ASI, melainkan gangguan pada jaringan payudara secara umum.

Penyebab mastitis pada wanita tidak menyusui biasanya terjadi karena beberapa faktor, namun umumnya terjadi karena:

  • Gangguan saluran payudara (periductal mastitis): Periductal mastitis adalah peradangan atau infeksi di area belakang puting karena kebiasaan merokok dan infeksi bakteri.

  • Diabetes: Membuat mastitis rentan menjadi infeksi sehingga terbentuk abses.

  • Granuloma: Benjolan di sekitar jaringan payudara pada kasus yang lebih jarang.

Ciri-ciri Mastitis

Jika Anda merasakan ciri-ciri di bawah ini, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

  • Payudara kemerahan dan terasa hangat.

  • Payudara sakit dan bengkak sehingga membuat proses menyusui terganggu, serta membuat mastitis semakin parah karena ASI tidak dikeluarkan.

  • Muncul benjolan pada payudara akibat penyumbatan di jaringan payudara.

  • Bila mastitis sudah terinfeksi bakteri, biasanya penderita mengalami demam sebagai bentuk perlawanan terhadap bakteri.

  • Bila mastitis tidak ditangani dengan baik, waspadai abses payudara berupa cairan atau nanah yang keluar dari puting. 

Diagnosis Mastitis

Bila Anda merasakan ciri-ciri mastitis, segera berkonsultasi dengan dokter agar bisa segera ditangani lebih lanjut. Apalagi untuk mastitis terjadi pada ibu menyusui, penanganan yang lebih cepat akan membuat bayi dapat melanjutkan ASI kembali. Berikut ini tahapan diagnosisnya.

  • Pemeriksaan awal berupa wawancara tentang sejak kapan ciri-ciri mastitis mulai dialami dan pemeriksaan fisik kepada pasien. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan memeriksa payudara untuk melihat peradangannya, yaitu pembengkakan hingga benjolan.

  • Bila mastitis terjadi berulang, dokter akan melakukan USG payudara untuk melihat adanya benjolan berisi cairan atau nanah.

  • Dalam beberapa kasus, pemeriksaan cairan nanah atau abses serta ASI dilakukan untuk memeriksa bakteri dan menyesuaikan antibiotik yang akan diberikan.

  • Mamografi atau pemeriksaan jaringan payudara dengan sinar-X bisa dilakukan jika dokter perlu mengetahui kondisi payudara yang tidak biasa. Selain mastitis, pemeriksaan ini juga bisa mendeteksi risiko kanker payudara, tumor, atau kista.

  • Biopsi atau pengambilan sampel jaringan payudara untuk membedakan mastitis biasa dan kanker payudara inflamatorik, yaitu kanker payudara ganas yang berkembang dengan cepat.

Komplikasi Mastitis

Penyapihan dini pada bayi bisa dilakukan saat gejala yang dialami ibu menyusui sangat parah dan membuat menyusui menjadi kegiatan yang menyiksa. Penyapihan dini berisiko menyebabkan abses, sehingga tenaga kesehatan perlu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pasien.

  • Abses dapat muncul saat mastitis dibiarkan, sehingga dibutuhkan tindakan pembedahan untuk mengangkatnya.

  • Mastitis berulang dapat terjadi saat penanganan mastitis pada waktu sebelumnya tidak dilakukan dengan baik dan efektif.

  • Infeksi yang terjadi pada mastitis karena bakteri dapat meluas menjadi sepsis, yaitu respons tubuh terhadap infeksi yang makin berat. Gejala yang terlihat dari sepsis adalah penurunan kesadaran dan tubuh melemah, sehingga membutuhkan penanganan darurat di rumah sakit.

Cara Mengatasi Mastitis

Bila Anda terkena mastitis, ada beberapa cara penanganannya sesuai tingkat keparahan. Mastitis ringan bisa ditangani di rumah, namun bila sudah terinfeksi bakteri, perlu ditangani oleh dokter. Berikut cara mengatasi mastitis yang dapat disesuaikan untuk ibu menyusui dan wanita yang tidak menyusui.

Penanganan di Rumah

  • Tetap menyusui bayi, terutama pada payudara yang terasa bengkak dan sakit.

  • Jika bayi kesulitan menyusui, perah ASI menggunakan tangan atau pompa sehingga bengkak payudara dapat berkurang, walau hal ini akan cukup menyakitkan.

  • Istirahat dan makan yang cukup lalu dapatkan bantuan untuk sementara memegang bayi agar pemulihan bisa lebih cepat.

  • Kompres payudara dengan air hangat dan pijat payudara dengan lembut.

  • Hindari menekan payudara dengan keras agar jaringan payudara tidak rusak.

  • Memastikan tangan atau pompa ASI dalam keadaan steril sehingga tidak ada bakteri yang masuk ke payudara.

Penanganan secara Medis

Bila mastitis terinfeksi sudah berkembang menjadi abses, dokter dapat menanganinya dengan melakukan USG dan melakukan prosedur pembedahan.

  • Pasien mendapatkan pengobatan, yaitu pemberian antibiotik.

  • Bila tak kunjung membaik, pemeriksaan lanjutan mesti diikuti oleh pasien agar dokter bisa memberikan langkah selanjutnya.

Cara Mencegah Mastitis

Cara mencegah mastitis bisa berbeda-beda pada setiap orang, bergantung pada kondisi yang menyebabkan hal itu terjadi. Pada ibu menyusui, misalnya, pencegahan berfokus pada pengelolaan proses menyusui dan menghindari tekanan berlebihan pada payudara.

Sedangkan jika mastitis dialami oleh wanita yang tidak menyusui, pemeriksaan kesehatan payudara dan pengenalan perubahan yang tidak biasa perlu dilakukan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.

  • Susui bayi sesuai kebutuhan. Perhatikan bila bayi merasa lapar dan pastikan posisi serta pelekatan saat menyusui dilakukan dengan baik. Mintalah bantuan tenaga kesehatan jika menyusui terasa sakit.

  • Hindari memerah ASI secara berlebihan. Jika menggunakan pompa ASI, sesuaikan frekuensi dan jumlah ASI yang dikeluarkan dengan kebutuhan. Tidak perlu memaksa payudara hingga kosong.

  • Hindari pijatan keras dan tekanan berlebihan. Gunakan bra yang nyaman dan tidak terlalu ketat. Jangan menekan atau memijat payudara dengan kuat ketika terasa nyeri atau bengkak.

  • Rawat puting dan peralatan menyusui. Jika puting lecet atau terluka, pantau pelekatan bayi dan cari bantuan tenaga kesehatan. Bersihkan peralatan pompa sesuai petunjuk pemakaian.

  • Hindari menyapih secara mendadak. Jika ingin berhenti menyusui, kurangi frekuensinya secara bertahap sesuai kenyamanan dan kondisi ibu.

  • Hindari merokok dan perhatikan kesehatan payudara. Merokok berkaitan dengan beberapa jenis mastitis pada wanita yang tidak menyusui. Periksakan benjolan atau perubahan kulit yang menetap.

Jaga Kesehatan Payudara bersama Bumame

Pemeriksaan kesehatan berkala dapat membantu memantau kondisi tubuh dan menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan. Bumame menyediakan layanan Skrining Kanker Payudara yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan pemeriksaan.

Paket Skrining Kanker Payudara dari Bumame mencakup pemeriksaan penanda tumor CA 15-3 dan CEA melalui sampel darah. Pemeriksaan ini bersifat penunjang dan tidak dapat memastikan atau menyingkirkan kanker payudara secara mandiri.

Jika mengalami benjolan, kemerahan, atau pembengkakan yang menetap, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan pemeriksaan yang tepat, seperti USG atau mamografi bila diperlukan.

Kapan Harus ke Dokter?

Bila Anda merasa payudara tiba-tiba nyeri, kemerahan, pembengkakan, atau benjolan yang mengarah pada mastitis, terutama jika disertai demam atau menggigil, segera lakukan konsultasi dengan dokter. Pemeriksaan medis perlu dilakukan apabila:

  • Gejala mastitis semakin parah atau tidak membaik setelah 12–24 jam perawatan mandiri;

  • Demam di atas 38,5°C disertai kemerahan dan nyeri payudara;

  • Muncul benjolan yang terasa sangat nyeri atau diduga berisi nanah;

  • Keluhan mastitis berulang atau tidak membaik setelah menjalani pengobatan; dan

  • Terjadi perubahan pada kulit, bentuk payudara, atau puting.

Jika kondisi tubuh memburuk dengan cepat, muncul kebingungan, sesak, atau napas cepat, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena sedang menyusui atau menganggap keluhan akan hilang sendiri.

Kenali Mastitis Sejak Dini agar Penanganan Lebih Tepat

Mastitis adalah peradangan payudara yang dapat terjadi pada ibu menyusui maupun wanita yang tidak menyusui. Gejalanya dapat berupa nyeri pada payudara, kemerahan, pembengkakan, dan demam.

Meski sebagian kasus dapat membaik dengan perawatan yang sesuai, mastitis tetap perlu diperhatikan karena dapat berkembang menjadi abses atau menandakan kondisi lain yang memerlukan pemeriksaan.

Mengenali gejala mastitis sejak awal, menghindari tindakan yang memperburuk peradangan, dan berkonsultasi dengan dokter saat diperlukan dapat membantu menentukan penanganan yang tepat. Jika keluhan menetap atau berulang, jangan menunda pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2013). Mastitis: Pencegahan dan Penanganan.

  2. World Health Organization (WHO). (2000). Mastitis: Causes and Management.

  3. Mayo Clinic. (n.d.). Mastitis: Symptoms and Causes.

  4. Mayo Clinic. (n.d.). Mastitis: Diagnosis and Treatment.

  5. Mitchell, K. B., Johnson, H. M., Eglash, A., dkk. (2022). Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #36: The Mastitis Spectrum, Revised 2022. Breastfeeding Medicine, 17(5), 360–376.

  6. Bumame. Skrining Kesehatan Wanita: Dari Payudara Hingga Serviks

  7. Bumame. (2026). Demam: Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati.

  8. Bumame. (2026). Benjolan di Payudara: Penyebab dan Cirinya.

  9. Bumame. (2026). Gejala Kanker Payudara: Tanda Awal Perlu DIwaspadai.

  10. Bumame. Skrining Kanker Payudara: Prosedur, Harga & Manfaat.

Ditinjau secara medis oleh dr. Aimee Wineyna

Frequently Asked Question

Mastitis adalah penyakit apa?

Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang dapat dialami oleh perempuan menyusui maupun yang tidak menyusui.

Apa penyebab mastitis pada ibu menyusui?

Penyebab mastitis pada ibu menyusui meliputi produksi ASI berlebih, penyumbatan ASI, infeksi bakteri, puting lecet, pengeluaran ASI yang tidak efektif, serta tekanan berlebihan pada payudara.

Apa saja ciri-ciri mastitis?

Ciri-ciri mastitis meliputi payudara kemerahan, terasa hangat, nyeri, bengkak, dan muncul benjolan. Demam juga dapat terjadi jika mastitis disertai infeksi bakteri.

Bagaimana cara mengatasi mastitis?

Penanganan mastitis dapat meliputi tetap menyusui sesuai kondisi, memerah ASI bila bayi kesulitan menyusu, beristirahat, dan mengompres payudara dengan air hangat. Jika terjadi infeksi atau abses, dokter dapat memberikan antibiotik atau melakukan tindakan medis sesuai kebutuhan.

Kapan penderita mastitis harus pergi ke dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika gejala memburuk atau tidak membaik setelah 12–24 jam perawatan mandiri, demam di atas 38,5°C, muncul benjolan sangat nyeri, atau keluhan berulang. Perubahan pada kulit, bentuk payudara, atau puting juga perlu diperiksa.