Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Nefropati Diabetes: Gejala | Bumame
Kembali ke Artikel & Berita

Nefropati Diabetes: Gejala | Bumame

SBAOthers

Memiliki riwayat diabetes perlu rutin memerhatikan kondisi tubuh, bukan hanya saat gula darah tinggi. Dalam keseharian, seseorang mungkin merasa baik-baik saja meski kadar gula darah belum terkontrol dengan optimal. Padahal, diabetes dalam jangka panjang dapat menyebabkan nefropati diabetes atau gangguan ginjal akibat diabetes.

Kondisi ini dapat berkembang perlahan dan pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Itu sebabnya, pemeriksaan secara berkala penting dilakukan agar perubahan fungsi ginjal dapat diketahui lebih dini.

Apa Itu Nefropati Diabetik?

Nefropati diabetik, yang juga dikenal sebagai penyakit ginjal akibat diabetes atau diabetic kidney disease, adalah kerusakan pada ginjal yang terjadi sebagai komplikasi diabetes melitus.

Ginjal memiliki tugas penting untuk menyaring darah, membuang zat sisa melalui urine, serta membantu menjaga keseimbangan cairan dan mineral dalam tubuh. Diabetes yang berlangsung lama, terutama bila kadar gula darah tidak terkontrol, dapat merusak pembuluh darah kecil dan bagian penyaring ginjal.

Kerusakan tersebut dapat menyebabkan protein, khususnya albumin, mulai keluar melalui urine. Seiring waktu, fungsi penyaringan ginjal juga dapat menurun. 

Sayangnya, nefropati diabetes tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal. Inilah alasan pemeriksaan fungsi ginjal sangat penting bagi penderita diabetes.

Hubungan Diabetes Melitus dan Kerusakan Ginjal

Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat memberikan tekanan pada pembuluh darah kecil di ginjal. Selain gula darah, tekanan darah tinggi juga dapat memperberat kerusakan pada sistem penyaringan ginjal.

Dampak diabetes mellitus bagi kesehatan ginjal merupakan salah satu alasan mengapa pengelolaan diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh. Perlu sekali menjaga keseimbangan kadar gula darah, tekanan darah, berat badan, dan faktor risiko lain untuk membantu mengurangi risiko terjadinya atau memburuknya penyakit ginjal.

Secara umum, penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes dinilai melalui UACR (urine albumin-to-creatinine ratio), yaitu rasio albumin terhadap kreatinin dalam urine untuk mendeteksi kebocoran albumin dari ginjal, serta nilai eGFR (estimated glomerular filtration rate), yaitu perkiraan kemampuan ginjal dalam menyaring darah.

Frekuensi pemeriksaan rasio UACR dan eGFR setidaknya setahun sekali dan sangat direkomendasikan untuk penderita diabetes tipe 2 dan 1 dengan durasi penyakit lima tahun atau lebih.

Gejala Nefropati Diabetik

Pada tahap awal, nefropati diabetes bisa terjadi tanpa gejala. Seseorang mungkin tetap dapat beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari bahwa sudah terjadi perubahan pada ginjal. Ketika kerusakan semakin berkembang, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

  • Urine tampak berbusa, terutama bila terjadi peningkatan protein dalam urine.

  • Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, tangan, atau sekitar mata.

  • Tekanan darah semakin sulit dikendalikan.

  • Mudah lelah atau merasa lemas.

  • Nafsu makan menurun.

  • Mual atau muntah.

  • Kulit terasa gatal.

  • Sesak napas pada kondisi yang lebih lanjut.

Tahapan Nefropati Diabetik

Perkembangan penyakit ginjal akibat diabetes ini dapat berlangsung secara bertahap dan tidak selalu sama pada setiap orang. Dalam praktik medis saat ini, kondisi penyakit ginjal kronis dinilai terutama berdasarkan eGFR dan tingkat albumin dalam urine. Secara sederhana, tahapan fungsi ginjal dapat dipahami sebagai berikut.

1. Fungsi Ginjal Masih Relatif Baik

eGFR dapat tetap berada pada rentang normal atau mendekati normal, tetapi sudah terdapat tanda kerusakan ginjal, misalnya peningkatan albumin dalam urine.

2. Penurunan Fungsi Ginjal Ringan hingga Sedang

Nilai eGFR mulai menurun. Pada tahap ini, pemantauan lebih teratur diperlukan untuk melihat apakah fungsi ginjal stabil atau terus menurun.

3. Penurunan Fungsi Ginjal yang Lebih Lanjut

Ketika eGFR semakin rendah, risiko komplikasi penyakit ginjal juga meningkat. Dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan lebih sering dan menyesuaikan pengobatan.

4. Gagal Ginjal

Pada tahap paling lanjut, fungsi ginjal sangat menurun sehingga dapat diperlukan terapi pengganti fungsi ginjal, seperti dialisis atau transplantasi ginjal.

Perlu dipahami bahwa penentuan tahap penyakit ginjal kronis tidak hanya didasarkan pada satu hasil pemeriksaan. Nilai albuminuria dan eGFR perlu dinilai secara bersamaan serta dipantau perkembangannya dari waktu ke waktu.

Diagnosis dan Pemeriksaan Fungsi Ginjal

Pemeriksaan merupakan bagian penting karena nefropati diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang khas. Untuk menilai kesehatan ginjal pada penderita diabetes diperlukan dua pemeriksaan utama, di antaranya sebagai berikut.

1. Rasio Albumin-kreatinin Urine (UACR)

Pemeriksaan ini menggunakan sampel urine untuk mengetahui jumlah albumin dibandingkan dengan kreatinin. Peningkatan albumin dalam urine dapat menjadi tanda adanya kerusakan ginjal.

Nilai UACR kurang dari 30 mg/g umumnya dikategorikan sebagai albuminuria normal hingga sedikit meningkat, 30–299 mg/g sebagai peningkatan sedang, dan ≥300 mg/g sebagai peningkatan berat.

Sementara hasil abnormal biasanya perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan berulang karena kadar albumin urine dapat berubah akibat kondisi tertentu seperti infeksi, olahraga, demam, atau gula darah yang sangat tinggi.

2. Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR)

eGFR merupakan tes penyakit ginjal dengan memperkirakan kemampuannya dalam menyaring darah. Nilai ini biasanya dihitung berdasarkan kadar kreatinin dalam darah dan beberapa karakteristik pasien.

Selain kedua pemeriksaan tersebut, dokter dapat meminta pemeriksaan urine lengkap, kreatinin darah, elektrolit, serta pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.

Pengobatan dan Pengelolaan

Penanganan nefropati diabetes disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien untuk membantu mengendalikan diabetes sekaligus mengurangi risiko perkembangan penyakit ginjal dan komplikasi lainnya.

Beberapa aspek yang dapat menjadi bagian dari pengelolaan meliputi:

  • Mengontrol kadar gula darah sesuai target yang ditentukan dokter.

  • Mengendalikan tekanan darah.

  • Menangani kolesterol dan faktor risiko kardiovaskular bila diperlukan.

  • Menjaga pola makan dan berat badan sesuai kondisi kesehatan.

  • Melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan dan anjuran tenaga kesehatan.

  • Berhenti merokok.

  • Menggunakan obat yang diresepkan sesuai petunjuk dokter.

Pada penderita diabetes dengan penyakit ginjal tertentu, dokter dapat mempertimbangkan obat-obatan yang memiliki manfaat terhadap ginjal dan jantung, termasuk kelompok obat tertentu seperti ACE inhibitor, ARB, SGLT2 inhibitor sesuai indikasi.

Pemilihan obat, dosis, dan kombinasinya harus disesuaikan dengan kondisi pasien, fungsi ginjal, tekanan darah, serta obat lain yang sedang digunakan. Oleh karena itu, jangan memulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Pencegahan pada Penderita Diabetes

Tidak semua komplikasi diabetes dapat dicegah sepenuhnya, tetapi pengelolaan perbedaan tipe diabetes yang baik dapat membantu menurunkan risiko atau memperlambat perkembangan penyakit ginjal. Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan antara lain seperti berikut.

  • Pantau kadar gula darah secara teratur menggunakan pemeriksaan HbA1c untuk melihat rata-rata kadar gula darah.

  • Periksa tekanan darah secara rutin karena tekanan darah tinggi dapat memperburuk kerusakan ginjal.

  • Lakukan pemeriksaan ginjal seperti UACR dan eGFR sesuai anjuran dokter meskipun belum ada gejala.

  • Jaga pola makan dan aktivitas fisik serta konsultasikan dengan tenaga kesehatan karena kebutuhan setiap orang berbeda.

  • Hindari kebiasaan merokok karena dapat merusak pembuluh darah dan memperparah kondisi ginjal.

Kapan Harus ke Dokter?

Penderita diabetes sebaiknya tidak menunggu munculnya gejala untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan rutin membantu dokter memantau kadar gula darah sekaligus menilai risiko komplikasi.

Segera konsultasikan kondisi kepada dokter bila muncul pembengkakan pada tubuh, urine berbusa yang menetap, perubahan jumlah urine, tekanan darah sulit dikendalikan, mudah lelah yang tidak biasa, mual dan muntah berulang, atau sesak napas.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya albumin dalam urine atau penurunan eGFR, dokter dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan dan pemantauan yang lebih sering.

Pantau Diabetes secara Berkala untuk Cegah Komplikasi 

Menjaga kadar gula darah tetap terpantau merupakan salah satu bagian dari pengelolaan diabetes secara menyeluruh. Pemeriksaan HbA1c dapat memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir, sedangkan glukosa puasa menunjukkan kadar gula darah setelah berpuasa.

Paket Diabetes Melitus dari Bumame seharga Rp185.000,00 dapat dijadikan sebagai pilihan pemeriksaan rutin. Pemeriksaan ini mencakup HbA1c dan glukosa puasa yang dapat digunakan untuk membantu memantau kontrol gula darah pada penderita diabetes untuk mencegah nefropati diabetes.

Saat kadar gula Anda sudah dipantau secara teratur, perubahan kadarnya akan dapat diketahui dan bisa menjadi bahan evaluasi bersama tenaga kesehatan dalam mengelola diabetes serta mengurangi risiko komplikasinya.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. Journal of Medula. (2023). Hubungan Diabetes Melitus dengan Kejadian Gagal Ginjal Kronik. 

  2. National Library of Medicine. (2026). Diagnosis and Classification of Diabetes: Standards of Care in Diabetes-2026. 

  3. Jurnal Kesehatan Andalas. (2022). Hubungan Albuminuria dan Laju Filtrasi Glomerulus pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang Tidak Terkontrol.

  4. National Library of Medicine. (2024). Estimated glomerular filtration rate in observational and interventional studies in chronic kidney disease.

  5. National Library of Medicine. (2024). Use of ACEi/ARBs, SGLT2 inhibitors and MRAs can help us reach the therapeutic ceiling in CKD.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu nefropati diabetes?

Nefropati diabetes adalah kerusakan ginjal yang terjadi sebagai komplikasi diabetes melitus. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan ketika kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang merusak pembuluh darah dan sistem penyaringan ginjal.

Apa saja gejala nefropati diabetes?
Pada tahap awal, nefropati diabetes sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Ketika kerusakan berkembang, gejala yang dapat muncul antara lain urine berbusa, pembengkakan, tekanan darah sulit dikendalikan, mudah lelah, mual, muntah, kulit gatal, dan sesak napas.
Bagaimana cara mendiagnosis nefropati diabetes?
Pemeriksaan utama yang digunakan adalah UACR untuk melihat kadar albumin dalam urine dan eGFR untuk memperkirakan kemampuan ginjal menyaring darah. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan urine lengkap, kreatinin darah, elektrolit, atau pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.
Apakah nefropati diabetes bisa sembuh?
Nefropati diabetes tidak dapat pulih sepenuhnya, tetapi perkembangannya dapat diperlambat melalui pengelolaan yang tepat. Pengendalian gula darah, tekanan darah, kolesterol, berat badan, pola makan, aktivitas fisik, serta penggunaan obat sesuai anjuran dokter dapat menjadi bagian dari penanganannya.
Seberapa sering penderita diabetes perlu memeriksa fungsi ginjal?
Pemeriksaan UACR dan eGFR setidaknya dilakukan satu tahun sekali pada penderita diabetes tipe 2 dan penderita diabetes tipe 1 yang sudah mengalami penyakit selama lima tahun atau lebih. Pemeriksaan tetap diperlukan meskipun belum muncul gejala karena nefropati diabetes dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas.