Diabetes Sering Berkembang Tanpa Gejala. Kenali Penyebab dan Cara Mendeteksinya Sebelum Terlambat.
Banyak orang mengira diabetes hanya ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi atau kebiasaan mengonsumsi makanan manis. Padahal, diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Tidak sedikit penderita baru mengetahui dirinya mengidap diabetes setelah muncul komplikasi, seperti gangguan penglihatan, luka yang sulit sembuh, atau gangguan fungsi ginjal. Karena itu, mengenali faktor risiko dan melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Menurut World Health Organization (WHO), diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan dapat merusak berbagai organ apabila tidak dikendalikan dengan baik.[1]
Lalu, apa sebenarnya diabetes mellitus dan bagaimana cara mengenalinya sejak dini?
Apa Itu Diabetes Mellitus?
Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah.
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Agar dapat masuk ke dalam sel dan digunakan sebagai energi, tubuh membutuhkan hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas.
Pada penderita diabetes, insulin tidak diproduksi dalam jumlah yang cukup atau tidak bekerja secara optimal. Akibatnya, gula tetap berada di dalam aliran darah sehingga kadar gula darah terus meningkat.
Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, hingga saraf.
Jenis-Jenis Diabetes Mellitus
Secara umum, diabetes mellitus dibagi menjadi beberapa jenis.
1.Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe 1 terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel pankreas yang memproduksi insulin.
Akibatnya, tubuh hampir tidak dapat menghasilkan insulin sehingga penderita memerlukan terapi insulin seumur hidup.
2.Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 merupakan jenis yang paling sering terjadi.
Pada kondisi ini, tubuh masih memproduksi insulin, tetapi tidak dapat menggunakannya secara efektif (resistensi insulin). Faktor gaya hidup, obesitas, serta riwayat keluarga menjadi beberapa penyebab yang meningkatkan risikonya.
Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional terjadi selama masa kehamilan.
Kondisi ini umumnya akan membaik setelah persalinan. Namun, ibu yang pernah mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 di kemudian hari.
Apa Penyebab Diabetes Mellitus?
Penyebab diabetes berbeda-beda tergantung jenisnya.
Pada diabetes tipe 1, penyebab utamanya adalah gangguan autoimun. Sementara pada diabetes tipe 2, kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan gaya hidup.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 meliputi:
Berat badan berlebih atau obesitas.
Kurang aktivitas fisik.
Pola makan tinggi gula dan kalori.
Riwayat keluarga dengan diabetes.
Usia di atas 45 tahun.
Tekanan darah tinggi.
Kolesterol tinggi.
Menurut American Diabetes Association (ADA), seseorang yang memiliki faktor-faktor tersebut dianjurkan melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala untuk mendeteksi diabetes sejak dini.
Gejala Diabetes Mellitus yang Perlu Diwaspadai
Pada tahap awal, diabetes sering tidak menimbulkan gejala yang khas. Namun, beberapa tanda berikut perlu diwaspadai.
1. Sering Haus
Kadar gula darah yang tinggi membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan melalui urine sehingga penderita lebih mudah merasa haus.
2. Sering Buang Air Kecil
Peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari, merupakan salah satu gejala diabetes yang paling sering ditemukan.
3. Berat Badan Turun Tanpa Sebab
Meskipun nafsu makan tetap baik, berat badan dapat turun karena tubuh tidak mampu menggunakan glukosa sebagai sumber energi.
4. Mudah Lelah
Sel-sel tubuh tidak memperoleh energi yang cukup sehingga penderita sering merasa lemas dan cepat lelah.
5. Luka Sulit Sembuh
Kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi.
6. Penglihatan Kabur
Perubahan kadar gula darah dapat memengaruhi lensa mata sehingga penglihatan menjadi buram atau kabur.
7. Kesemutan pada Tangan atau Kaki
Diabetes yang tidak terkontrol dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan saraf sehingga muncul rasa kesemutan atau baal.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Diabetes?
Diabetes dapat dialami oleh siapa saja. Namun, beberapa orang memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan yang lain.
Anda sebaiknya lebih waspada apabila memiliki satu atau beberapa kondisi berikut:
Memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes.
Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Jarang berolahraga.
Berusia di atas 45 tahun.
Memiliki tekanan darah tinggi.
Memiliki kadar kolesterol atau trigliserida yang tinggi.
Pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil.
Memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke.
Memiliki faktor risiko bukan berarti pasti mengalami diabetes. Namun, pemeriksaan gula darah secara berkala sangat dianjurkan agar kondisi dapat diketahui lebih awal.
Apa yang Terjadi Jika Diabetes Tidak Diobati?
Diabetes bukan hanya menyebabkan kadar gula darah meningkat. Jika tidak dikendalikan, penyakit ini dapat merusak berbagai organ tubuh secara perlahan.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
Penyakit jantung dan stroke.
Gangguan fungsi ginjal.
Kerusakan saraf (neuropati diabetik).
Gangguan penglihatan hingga kebutaan.
Luka pada kaki yang sulit sembuh.
Meningkatnya risiko infeksi.
Menurut World Health Organization (WHO), diabetes yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius yang memengaruhi kualitas hidup bahkan meningkatkan risiko kematian dini.[1]
Karena itu, deteksi dan pengelolaan diabetes sejak awal sangat penting untuk mencegah kerusakan organ.
Bagaimana Cara Mendeteksi Diabetes Mellitus?
Diabetes tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui kadar gula darah dan membantu dokter menegakkan diagnosis.
Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:
Pemeriksaan gula darah puasa, untuk mengetahui kadar gula darah setelah berpuasa minimal 8 jam.
Pemeriksaan gula darah sewaktu, yang dapat dilakukan kapan saja.
Pemeriksaan HbA1c, untuk melihat rata-rata kadar gula darah selama sekitar tiga bulan terakhir.
Dokter akan menentukan jenis pemeriksaan yang paling sesuai berdasarkan kondisi dan faktor risiko masing-masing pasien.
Menurut American Diabetes Association (ADA), pemeriksaan HbA1c merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk membantu mendiagnosis maupun memantau kontrol diabetes.
Bisakah Diabetes Dicegah?
Tidak semua jenis diabetes dapat dicegah. Namun, risiko diabetes tipe 2 dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menjaga berat badan tetap ideal.
Berolahraga secara rutin, minimal 150 menit per minggu.
Mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan makanan tinggi serat.
Berhenti merokok.
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sekaligus menurunkan risiko komplikasi.
Deteksi Diabetes Lebih Awal di Bumame
Diabetes sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin, kadar gula darah dapat diketahui lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi kerusakan pada organ tubuh.
Di Bumame, Anda dapat melakukan pemeriksaan gula darah maupun Medical Check Up (MCU) untuk membantu mendeteksi diabetes serta faktor risiko penyakit metabolik lainnya sesuai rekomendasi dokter.
Memiliki riwayat keluarga dengan diabetes atau sering merasa haus, mudah lelah, dan sering buang air kecil? Konsultasikan dengan tim medis Bumame melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi mengenai pemeriksaan gula darah atau Medical Check Up yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Klik di sini untuk chat WhatsApp Bumame.
Kenali Diabetes Sejak Dini untuk Mencegah Komplikasi
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi pada mata, ginjal, saraf, atau jantung.
Dengan mengenali faktor risiko, menerapkan gaya hidup sehat, dan melakukan pemeriksaan secara berkala, diabetes dapat dideteksi lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum menyebabkan komplikasi yang lebih serius.
Sumber
World Health Organization. Diabetes. Geneva: World Health Organization.
American Diabetes Association. Diagnosis. Arlington: American Diabetes Association.
Lokasi Klinik Bumame
Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160Klinik Bumame TB Simatupang
1, Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12550Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310Klinik Bumame Puri Indah
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, Kembangan, Jakarta Barat 11610
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Apa itu diabetes mellitus?
Apa itu diabetes mellitus?
Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang terjadi ketika kadar gula darah meningkat karena tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif.
Apa gejala awal diabetes?
Apa gejala awal diabetes?
Gejala yang paling sering meliputi sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, luka sulit sembuh, serta penglihatan kabur.
Apakah diabetes hanya disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebihan?
Apakah diabetes hanya disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebihan?
Tidak. Diabetes dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti riwayat keluarga, obesitas, kurang aktivitas fisik, usia, dan pola makan secara keseluruhan.
Siapa yang sebaiknya melakukan pemeriksaan diabetes?
Siapa yang sebaiknya melakukan pemeriksaan diabetes?
Pemeriksaan dianjurkan bagi orang yang memiliki faktor risiko, seperti usia di atas 45 tahun, obesitas, riwayat keluarga dengan diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi.
Apa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi diabetes?
Apa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi diabetes?
Pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi gula darah puasa, gula darah sewaktu, dan HbA1c. Dokter akan menentukan pemeriksaan yang sesuai berdasarkan kondisi masing-masing pasien.



