Protein merupakan salah satu zat yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup seseorang. Protein harusnya diserap oleh tubuh dan bukan dibuang, sehingga wajib diwaspadai ketika ditemukan protein dalam urine. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena ada tes untuk melihat nilai normal protein urin. Nilai tersebut yang menentukan apakah ada yang salah dengan sistem ginjal atau tidak.
Artikel ini akan membantu Anda untuk mengetahui nilai normal protein dan kapan untuk segera ke dokter.
Apa itu Protein Urine?
Protein urine merupakan kondisi ditemukannya protein dalam urine, dan biasanya juga disebut dengan proteinuria. Hal ini bisa terjadi karena ginjal gagal menyaring semua kandungan protein sehingga bisa terbuang bersama urine. Salah satu tandanya adalah urine yang tampak berbusa atau memiliki banyak gelembung, meskipun tampilan tersebut tidak selalu berarti adanya penyakit ginjal.
Proteinuria sering dikaitkan dengan albuminuria karena albumin merupakan jenis protein yang paling umum ditemukan dalam urine. Namun, keduanya memiliki arti yang berbeda. Proteinuria berarti terdapat berbagai jenis protein dalam urine, sedangkan albuminuria secara khusus merujuk pada adanya albumin dalam urine.
Normalnya, sebagian besar protein dalam darah berukuran terlalu besar untuk melewati penyaring bernama glomerulus. Namun, jika penyaringnya mengalami kerusakan, maka akan dapat menjadi lebih mudah ditembus sehingga protein, termasuk albumin, bocor ke dalam urine.
Kandungan protein dalam urine juga dapat terjadi ketika tubuh memproduksi protein secara berlebihan atau ginjal tidak mampu menyerap kembali protein berukuran kecil.
Nilai Normal Protein Urin Berdasarkan Usia
Sejumlah kecil protein dalam urine masih dapat dianggap normal selama kadarnya berada dalam batas rujukan. Pada orang dewasa, kadar protein urine umumnya kurang dari 150 mg per hari.
Sementara itu, pada anak-anak, batas yang digunakan dapat berbeda. Menurut Kemenkes, proteinuria pada anak dapat didefinisikan sebagai kadar protein urine lebih dari 140 mg per hari. Namun, beberapa sumber lain menggunakan batas yang berbeda, yaitu kurang dari 250 mg per hari untuk anak-anak dan remaja. Perbedaan ini dapat terjadi karena perbedaan pedoman serta metode pemeriksaan yang digunakan.
Selain itu, besarnya kadar protein dalam urine juga tidak selalu menandakan penyakit ginjal. Ada kondisi bernama proteinuria sementara yang bisa dipicu oleh demam, olahraga berat, dehidrasi, hingga stres emosional. Ada pula kondisi proteinuria ortostatik pada anak dan remaja yang menunjukkan adanya peningkatan kadar protein urine saat beraktivitas di posisi tegak tetapi kembali normal saat berbaring.
Oleh karena itu, hasil pemeriksaan sebaiknya tidak langsung disimpulkan sebagai penyakit ginjal hanya berdasarkan satu angka. Dokter biasanya akan menilai hasil tersebut bersama pemeriksaan urine ulang, kondisi klinis, dan fungsi ginjal.
Cara Membaca Hasil Tes Protein Urin
Biasanya dokter akan membantu Anda dalam membaca hasil tes sama seperti ketika tes kadar darah di feses. Meskipun begitu, Anda juga bisa membaca hasilnya secara mandiri. Ada beberapa jenis tes urine dan setiap jenis memiliki hasil yang berbeda. Berikut adalah beberapa jenis tes urine dan cara membacanya.
1. Tes Urine Albumin-to-Creatin (uACR)
Tes ini akan mengukur kadar albumin dalam urine untuk menentukan apakah terjadi penyakit ginjal kronis yang membuat kadar albumin dalam darah tinggi. Dikutip dari National Kidney Foundation, berikut adalah kategori berdasarkan jumlah protein dalam urine.
2. Tes Urine Protein-to-Creatine Ratio (uPCR)
Tes ini akan mengukur jumlah seluruh protein dalam urine, bukan hanya albumin. Biasanya tes ini sangat penting dilakukan oleh orang dewasa atau anak-anak yang memiliki kondisi ginjal tertentu. Dikutip dari Healthline, berikut adalah kategori hasil dari uPCR.
Jika dalam 24 jam tidak ada penurunan jumlah protein dalam urine, dokter akan menyarankan tes lanjutan.
Penyebab Protein Urine Tinggi
Protein dalam urine tidak selalu menandakan ginjal tidak berfungsi normal. Ada beberapa penyebab protein bisa muncul dalam urine yang bisa berarti proteinuria. Berikut adalah beberapa penyebabnya yang bukan berasal dari kegagalan fungsi ginjal.
Dehidrasi, kondisi ketika tubuh tidak mendapatkan cairan yang cukup.
Menggigil dan ketika berada di tempat dengan suhu rendah secara mendadak.
Demam.
Aktifitas berat, seperti berlari, lompat tali, sepak bola, dan lain lain.
Sedangkan di bawah ini adalah penyebab yang berasal dari kegagalan fungsi ginjal dan beberapa penyakit yang membutuhkan penanganan serius.
Beberapa kondisi ginjal, seperti batu ginjal, infeksi ginjal, peradangan, kanker, dan penyakit ginjal kronis.
Nefropati diabetik, yaitu penurunan fungsi ginjal karena tingginya kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 1 dan 2.
Penyakit autoimun, seperti lupus dan rheumatoid arthritis yang menyerang persendian.
Multiple myeloma, salah satu jenis kanker darah yang menyerang sel plasma di sumsum tulang.
Hemolisis, yaitu pecahnya sel darah merah.
Preeklampsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kadar protein tinggi yang mengindikasi adanya kerusakan ginjal.
Malaria
Limfoma, salah satu jenis kanker darah yang menyerang kelenjar getah bening.
Apa Artinya Jika Protein Urine Positif?
Dalam hasil tes urine menggunakan metode dipstick (menggunakan strip khusus yang dicelupkan ke dalam sampel urine), hasil yang akan muncul akan lebih cepat dan ditulis dalam kategori seperti negatif, samar (trace), 1+, 2+, 3+, atau 4+.
Berikut adalah arti umum dari setiap hasil pemeriksaan protein urine menggunakan metode dipstick.
Negatif, berarti tidak terdeteksi adanya protein dalam urine.
Samar, artinya terdeteksi adanya protein namun dalam jumlah yang sangat sedikit.
+1, terdeteksi protein sebesar 30 miligram per desiliter. Tergolong ringan dan penyebabnya sering kali adalah dehidrasi dan demam.
+2, terdeteksi protein sebesar 100 miligram per desiliter. Tanda terjadinya kebocoran ginjal dalam menyaring protein dan sangat membutuhkan penanganan medis.
+3, terdeteksi protein sebesar 300 miligram per desiliter. Tergolong berat karena berarti adanya kegagalan fungsi ginjal atau sindrom nefrotik.
+4, terdeteksi protein sebesar 1000 miligram per desiliter. Dibutuhkan penanganan sesegera mungkin.
Meskipun tes menggunakan dipstick terbilang kurang akurat dibanding dengan tes di laboratorium, namun tes ini sangat mudah dan murah untuk memonitor kandungan protein dalam urine.
Kapan Harus Tes Ulang atau ke Dokter?
Berikut adalah beberapa tanda seseorang harus segera melakukan pengecekan ulang dan memeriksa diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Buang air kecil lebih sering dibanding biasanya.
Terasa nyeri ketika buang air kecil.
Terdapat busa atau gelembung di air kencing.
Pusing dan lemas.
Napas putus-putus.
Bengkak di area mata, perut, dan perut bagian bawah.
Beberapa gejala yang muncul tidak kunjung mereda meskipun sudah diberi obat.
Karena dalam beberapa kasus kondisi ini tidak menandakan adanya kelainan fungsi ginjal, maka tes secara rutin menggunakan dipstik sangat disarankan untuk memonitor kondisi. Namun, jika memiliki penyakit bawaan lainnya seperti penyakit ginjal atau jantung, disarankan secepatnya menuju rumah sakit.
Tes Urine Mudah di Bumame
Tes urine dari awal merupakan langkah yang tepat untuk pencegahan penyakit serius. Selain itu, tes urine ini bisa menjadi acuan untuk menjaga pola makan dan gaya hidup agar tetap sehat.
Bumame menyediakan tes Mikroalbuminuria yang menggunakan sampel urine sebagai parameter untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Tes ini juga bisa mendeteksi adanya kebocoran protein dalam penyaringan di ginjal. Biaya pemeriksaannya pun terjangkau, hanya sebesar Rp170.000.
Hubungi dan konsultasikan keluhan Anda melalui Whatsapp Bumame sekarang juga.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Source
Cleveland Clinic. (2022). Protein in Urine (Proteinuria)
Mayo Clinic. (2025). Protein in Urine (proteinuria)
National Kidney Federation. (2025). Proteinuria
Healthline. (2024). What Does Level of Protein in Urine Mean?
National Kidney Foundation. (2025). ACR
Paediatrics for Health Professionals. (2024). Proteinuria in Children: Advice for Referrers
myIGanTeam. (2026). Urine Protein Test: Levels in Your Chart, Normal Range, and What To Expect
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes. 2023. Mengenal Proteinuria.
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Berapa nilai normal protein dalam urine?
Apakah protein dalam urine selalu menandakan penyakit ginjal?
Apa arti hasil protein urine positif pada tes dipstick?
Apa penyebab protein urine tinggi?
Kapan perlu melakukan pemeriksaan ulang atau berkonsultasi ke dokter?
Pemeriksaan perlu dipertimbangkan jika protein urine ditemukan berulang, terutama bila disertai urine berbusa, nyeri saat buang air kecil, pusing, lemas, sesak, atau pembengkakan pada tubuh.
.jpg&w=3840&q=75)