Batuk berdahak setiap bangun pagi sering dianggap wajar oleh perokok. Selama masih kuat naik tangga dan jarang sakit, paru pun terasa baik-baik saja.
Kenyataannya, kerusakan akibat asap rokok menumpuk pelan-pelan dan bisa bertahun-tahun tanpa keluhan berarti. Saat gejala mulai terasa, sebagian perubahan di paru sudah sulit pulih.
Berikut penjelasan tentang kondisi paru-paru perokok, tandanya, bagian yang bisa membaik setelah berhenti, dan pemeriksaan yang sesuai dengan riwayat merokok Anda.
Seperti Apa Kondisi Paru-Paru Perokok?
Udara yang Anda hirup mengalir melalui cabang saluran napas (bronkus) sampai ke alveoli, yaitu kantong udara kecil tempat oksigen berpindah ke darah. Inilah inti fungsi paru-paru, dan asap rokok mengganggu keduanya.
Menurut CDC, asap tembakau mengandung lebih dari 7.000 zat kimia, dan sedikitnya 70 di antaranya bisa memicu kanker. MSD Manual menjelaskan bahwa zat yang terhirup memicu peradangan berulang yang merusak jaringan dan membuat lendir diproduksi berlebihan.
Kerusakannya muncul dalam dua pola. Pada bronkitis kronis, saluran napas meradang, menyempit, dan penuh dahak. Pada emfisema, dinding dan serat elastis kantong udara rusak sehingga saluran napas kecil mudah menutup saat Anda membuang napas, menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Proses ini berjalan diam-diam. Kemenkes mencatat gejala PPOK atau penyakit paru obstruktif kronis sering baru muncul setelah kerusakan paru cukup besar. CDC juga menyebut kebanyakan orang dengan kanker paru belum bergejala sampai stadium lanjut. Jadi, napas yang terasa normal belum menjamin paru dalam keadaan sehat.
Siapa yang Risikonya Lebih Tinggi?
Beberapa hal berikut membuat risiko kerusakan paru lebih besar:
Lama merokok dan jumlah batang. Risiko PPOK naik seiring lamanya merokok dan banyaknya rokok yang diisap, menurut MSD Manual. CDC mencatat pola yang sama pada risiko kanker paru.
Jenis tembakau apa pun. WHO menegaskan semua bentuk tembakau berbahaya, termasuk kretek dan rokok linting. Produk tembakau yang dipanaskan juga menghasilkan zat beracun yang mirip asap rokok.
Asap rokok orang lain. WHO menyebut tidak ada batas aman untuk paparan asap rokok orang lain. Asap ini ikut menyebabkan penyakit jantung dan kanker paru pada orang yang tidak merokok.
Debu, zat kimia, dan asap dapur. Kemenkes menyebut debu atau zat kimia di tempat kerja dan asap bahan bakar memasak sebagai faktor risiko PPOK. Menurut CDC, risiko kanker paru akibat asbes atau silika lebih besar pada perokok.
Riwayat asma atau kanker paru di keluarga. Merokok pada penderita asma termasuk faktor risiko PPOK menurut Kemenkes. CDC juga mencatat riwayat keluarga sebagai faktor risiko kanker paru.
Tanda yang Sering Muncul pada Paru Perokok
Tanda berikut sering muncul pada paru yang lama terpapar asap, walau sebagian juga bisa disebabkan penyakit lain.
1. Batuk Berdahak di Pagi Hari
Dahak berlebih yang menumpuk di paru membuat batuk sering muncul setiap pagi. Bila batuk berdahak terjadi hampir setiap hari selama minimal 3 bulan dalam setahun, dua tahun berturut-turut, dokter menyebutnya bronkitis kronis. Batuk yang tidak kunjung sembuh seperti ini layak diperiksakan.
2. Napas Pendek saat Beraktivitas
Sesak awalnya terasa saat berjalan cepat atau menanjak, lalu perlahan muncul pada aktivitas yang lebih ringan. Menurut MSD Manual, keluhan ini cenderung memburuk lebih cepat bila merokok berlanjut. Beberapa penyebab sesak napas lain, seperti gagal jantung, bisa memberi keluhan serupa.
3. Mengi dan Dada Terasa Berat
Mengi adalah bunyi siulan saat bernapas akibat saluran napas yang menyempit. Kemenkes mencantumkan mengi dan rasa sesak di dada sebagai tanda PPOK. Bila keluhan muncul mendadak sampai Anda sulit bicara, segera ke IGD.
4. Infeksi Saluran Napas yang Berulang
Asap rokok mengganggu kemampuan saluran napas membersihkan lendir, sehingga kuman lebih mudah menetap, menurut MSD Manual. Dokter spesialis paru dalam artikel Kemenkes menyebut perokok lebih rentan terkena infeksi, termasuk pneumonia. Flu yang selalu berujung batuk panjang perlu Anda sampaikan kepada dokter.
5. Batuk Berubah, Berdarah, atau Berat Badan Turun
CDC mencatat batuk yang memburuk atau tidak kunjung hilang, batuk berdarah, nyeri dada, lelah terus-menerus, dan berat badan turun tanpa sebab sebagai gejala yang bisa muncul pada kanker paru. Keluhan seperti ini perlu segera diperiksakan ke dokter.
Penyakit yang Bisa Berkembang dari Kebiasaan Merokok
Paparan asap selama bertahun-tahun bisa berujung pada penyakit berikut:
PPOK. Menurut Kemenkes, penyakit paru obstruktif kronis umumnya dipicu asap rokok jangka panjang dan mencakup bronkitis kronis serta emfisema. Pada tahap lanjut, kondisi ini bisa menyebabkan gagal napas.
Kanker paru. CDC menyebut merokok sebagai faktor risiko nomor satu kanker paru-paru. Perokok 15 sampai 30 kali lebih mungkin terkena atau meninggal karena kanker paru dibanding orang yang tidak merokok.
Infeksi paru. Kemenkes mencatat penderita PPOK rentan mengalami pneumonia dan bronkitis akut berulang. Menurut MSD Manual, infeksi yang terus berulang bisa mempercepat kerusakan paru.
Setelah Berhenti Merokok, Apa yang Pulih dan Apa yang Menetap?
Tubuh mulai memperbaiki diri tidak lama setelah Anda berhenti merokok. WHO mencatat kadar karbon monoksida dalam darah kembali normal dalam 12 jam. Tabel berikut merangkum data WHO, MSD Manual, Kemenkes, dan CDC.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Manfaatnya terasa di usia berapa pun. Menurut WHO, berhenti di sekitar usia 30 tahun menambah harapan hidup hampir 10 tahun, dan berhenti di sekitar usia 60 tahun masih menambah sekitar 3 tahun.
Kapan Harus Memeriksakan Paru ke Dokter?
Segera ke IGD bila Anda mengalami sesak napas berat sampai sulit bicara, bibir atau ujung kuku kebiruan, nyeri dada hebat, atau batuk darah dalam jumlah banyak.
Di luar kondisi darurat, buat janji dengan dokter bila batuk atau dahak bertahan berminggu-minggu, sesak muncul saat aktivitas ringan, infeksi saluran napas sering berulang, atau berat badan turun tanpa sebab.
Pemeriksaan juga bermanfaat walau Anda belum merasakan keluhan, terutama bila usia Anda 50 tahun ke atas dengan riwayat merokok berat.
Pemeriksaan untuk Menilai Kondisi Paru Perokok
Dokter biasanya memulai dari riwayat merokok, lalu memilih tes sesuai keluhan dan faktor risiko Anda:
Wawancara dan pemeriksaan fisik. Dokter menanyakan lama merokok dan paparan debu atau asap lain. CDC menghitung riwayat merokok dalam pack-year, yaitu rata-rata sebungkus sehari selama setahun.
Tes fungsi paru. Tes ini mengukur jumlah udara yang bisa dihirup dan diembuskan, menurut Kemenkes. MSD Manual menyebut diagnosis PPOK ditegakkan lewat tes fungsi paru seperti spirometri.
Foto rontgen dan CT scan dada. Kemenkes mencatat keduanya bisa menunjukkan tanda emfisema, dan pemeriksaan CT scan juga bisa menemukan kelainan paru lain.
Skrining dengan CT scan dosis rendah. CDC menyebut low-dose CT sebagai tes skrining kanker paru yang dianjurkan. Di Amerika Serikat, skrining tahunan ditujukan bagi usia 50 sampai 80 tahun dengan riwayat minimal 20 pack-year yang masih merokok atau berhenti kurang dari 15 tahun. Hasil positif palsu (tanda kanker yang ternyata tidak terbukti) dan paparan radiasi termasuk risikonya, sehingga keputusan skrining diambil bersama dokter.
Tes Darah sebagai Pelengkap Skrining Kanker Paru
Pertumbuhan sel tidak normal di paru berkaitan dengan sejumlah penanda microRNA di dalam darah, sehingga risikonya bisa dinilai lewat tes darah. Skrining Kanker LUNGClear di Bumame memeriksa 12 penanda microRNA tersebut dan memberikan hasil berupa skor risiko. Tes ini ditujukan antara lain bagi perokok aktif maupun pasif dan tidak memerlukan persiapan khusus.
Tes ini melengkapi CT scan dosis rendah dan tidak menggantikannya. Skor yang tinggi menjadi dasar dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan. Untuk menanyakan kecocokan tes dengan riwayat merokok Anda, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Langkah Membantu Paru Pulih Setelah Berhenti
Kemenkes menyebut berhenti merokok sebagai cara mencegah PPOK bertambah buruk. Langkah berikut membantu prosesnya:
Berhenti total. Mengurangi jumlah batang belum menghapus risiko, karena merokok beberapa batang sehari pun tetap meningkatkan risiko kanker paru, menurut CDC. Libatkan keluarga dan teman sebagai pendukung.
Minta bantuan tenaga kesehatan. Menurut WHO, konseling dan obat bisa meningkatkan peluang berhasil berhenti lebih dari dua kali lipat. Dokter bisa menawarkan terapi pengganti nikotin atau obat lain yang sesuai.
Hindari beralih ke rokok elektrik. WHO menyatakan rokok elektrik berbahaya dan tidak aman. Produk tembakau yang dipanaskan juga tidak membantu perokok lepas dari tembakau.
Jauhi asap, debu, dan polusi. Kemenkes menganjurkan menghindari asap, zat kimia, dan debu, termasuk dengan alat pelindung diri saat bekerja. WHO mencatat berhenti merokok juga menurunkan risiko penyakit pernapasan seperti asma pada anak yang terpapar asap.
Konsultasikan suplemen dengan dokter. CDC mencatat suplemen beta karoten justru meningkatkan risiko kanker paru pada orang yang merokok sebungkus sehari atau lebih. Makanan kaya beta karoten seperti wortel dan ubi jalar tidak meningkatkan risiko tersebut.
Mulai Hari Ini, Beri Paru Anda Kesempatan Pulih
Paru-paru perokok memang menyimpan jejak paparan, tetapi setiap hari tanpa rokok memberi paru kesempatan bekerja lebih baik. Dukungan dokter dan keluarga membuat proses berhenti lebih ringan, dan pemeriksaan yang tepat membantu Anda mengetahui kondisi paru lebih awal. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk berdiskusi tentang pemeriksaan paru, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Dampak Merokok Pada Paru-Paru: Fakta yang Harus Diketahui.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ayo Sehat. Penyakit Paru Obstruktif Kronis.
World Health Organization. Tobacco and Nicotine.
World Health Organization. Tobacco: Health Benefits of Smoking Cessation.
Centers for Disease Control and Prevention. Lung Cancer Risk Factors.
Centers for Disease Control and Prevention. Symptoms of Lung Cancer.
Centers for Disease Control and Prevention. Screening for Lung Cancer.
MSD Manual Professional Version. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan
Frequently Asked Question
Apakah paru-paru perokok bisa kembali normal setelah berhenti merokok?
Sebagian fungsi paru dapat membaik setelah berhenti merokok, termasuk berkurangnya batuk dan sesak. Namun, kerusakan akibat PPOK, seperti emfisema, umumnya tidak pulih sepenuhnya. Berhenti merokok membantu mencegah kerusakan bertambah parah.
Berapa lama paru-paru mulai pulih setelah berhenti merokok?
Menurut WHO, fungsi paru dapat meningkat dalam 2–12 minggu setelah berhenti merokok, sedangkan batuk dan sesak dapat berkurang dalam 1–9 bulan. Risiko kanker paru juga menurun seiring waktu.
Apa saja tanda paru-paru mulai mengalami kerusakan akibat rokok?
Tandanya meliputi batuk berdahak pada pagi hari, napas pendek saat beraktivitas, mengi, dan infeksi saluran napas berulang. Batuk berdarah, nyeri dada, atau penurunan berat badan tanpa sebab perlu segera diperiksakan.
Apakah rokok elektrik lebih aman untuk paru-paru dibandingkan rokok biasa?
Menurut WHO, rokok elektrik tidak aman bagi kesehatan. Beralih ke rokok elektrik bukan pengganti yang bebas risiko. Berhenti menggunakan produk tembakau dan nikotin merupakan langkah yang lebih baik untuk menjaga kesehatan paru.
Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan untuk menilai kondisi paru-paru perokok?
Dokter dapat melakukan wawancara riwayat merokok, pemeriksaan fisik, tes fungsi paru seperti spirometri, serta foto rontgen atau CT scan dada sesuai kebutuhan. Skrining kanker paru dengan CT scan dosis rendah dapat dianjurkan bagi kelompok berisiko tertentu.
