Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Penyakit Beri-Beri: Gejala dan Penyebab | Bumame
Kembali ke Artikel & Berita

Penyakit Beri-beri: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya

SBAOthers

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin Anda pernah mengonsumsi makanan sebagai sumber energi tanpa mengetahui kebutuhan nutrisi harian. Padahal, konsumsi makanan yang kurang beragam dan tidak memenuhi kebutuhan vitamin B1 (Tiamin) dapat menimbulkan penyakit beri-beri.

Meskipun penyakit ini sudah jarang muncul, namun mengonsumsi makanan yang bergizi dan memenuhi vitamin B1 merupakan salah satu fondasi untuk mencegah kekurangan tiamin. Dengan demikian, menambah ilmu terkait penyebab dan gejalanya juga menjadi penting demi kesehatan tubuh.

Apa Itu Penyakit Beri-beri?

Menurut World Health Organization (WHO), beri-beri merupakan salah satu penyakit yang disebabkan karena kekurangan vitamin tiamin (B1) dengan skala berat dan berkepanjangan. Beri-beri juga disebut sebagai wabah penyakit akibat kekurangan zat gizi mikro.

Sederhananya, beri-beri merupakan penyakit karena tubuh tidak mendapatkan vitamin B1 dalam jumlah yang cukup dan waktu tertentu. Kekurangan tiamin dapat terjadi akibat pola makan yang kurang beragam, terutama saat makan nasi dari beras yang telah dipoles dan mengandung tepung-tepungan.

Penyakit ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu beri-beri basah dan kering. Beri-beri basah dapat mempengaruhi sistem kardiovaskuler yang ditandai dengan adanya gejala kardiomegali dan kardiomiopati yang mengakibatkan gagal jantung hingga Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Kardiomegali merujuk pada gejala seperti tekanan darah tinggi akibat ukuran jantung menjadi lebih besar dari ukuran normal. Sedangkan kardiomiopati merupakan kondisi kelainan yang menyebabkan jantung tidak bisa memompa darah secara efektif.

Sedangkan beri-beri kering merupakan penyakit kurangnya vitamin B1 yang menyerang sistem saraf, terutama saraf perifer, yang merupakan jembatan komunikasi antara otak dengan fungsi gerak tubuh. Oleh karena itu, salah satu gejala penyakit beri-beri adalah kesemutan, nyeri sendi, bahkan kelumpuhan.

Penyebab Penyakit Beri-beri

Meskipun sudah menjadi penyakit yang jarang mewabah, Anda perlu mengetahui apa saja yang menjadi penyebab munculnya beri-beri. Walaupun kondisi zaman yang sudah berbeda dan sudah banyak makanan bergizi yang kaya vitamin B1, tidak menutup kemungkinan adanya pemicu beri-beri.

1. Konsumsi Alkohol Berlebih

Seseorang yang mengkonsumsi alkohol berlebih dapat mengalami kekurangan gizi. Sebab, jika sudah terlalu banyak mengonsumsi alkohol, maka makanan yang masuk kurang beragam. Akibatnya, jumlah vitamin B1 sedikit sehingga terjadi defisiensi tiamin.  Alkohol juga dapat menyulitkan tubuh untuk menyerap dan menyimpan vitamin B1.

2. Kekurangan Gizi

Salah satu penyebab kekurangan gizi adalah kurangnya asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Jika makanan yang masuk tidak mengandung vitamin dan gizi seimbang, maka tubuh bisa kekurangan tiamin.

3. Kebutuhan Tiamin dalam Tubuh Meningkat

Terkadang, ada beberapa kondisi ketika tubuh membutuhkan vitamin B1 dalam jumlah berlebih. Seperti masa kehamilan, menyusui, gangguan pencernaan dan pada sebagian orang yang menerima makanan kaya glukosa.

Faktor Risiko Penyakit Beri-beri

Penyakit ini tidak langsung muncul dengan gejala tertentu, tetapi juga bisa terjadi karena ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kesehatan pada tubuh Anda.

1. Faktor Genetik

Faktor genetik pada penyebab beri-beri ini sangat jarang terjadi. Namun, menurut laman MedlinePlus, beri-beri bisa diturunkan melalui keluarga. Penderita kondisi ini kehilangan kemampuan untuk menyerap tiamin, namun prosesnya berjalan perlahan. Oleh karena itu, gejalanya baru bisa dirasakan ketika dewasa.

2. Anoreksia Nervosa

Anoreksia nervosa mengacu pada pembatasan asupan makan secara terus-menerus sehingga berat badan turun drastis. Hal ini dapat menyebabkan tubuh tidak mendapatkan gizi yang seimbang, termasuk kekurangan tiamin. Jika defisiensi tiamin berlangsung secara terus-menerus, maka akan berpotensi terkena beri-beri.

3. Malabsorpsi Pasca-operasi Bariatrik

Kondisi ini dapat menurunkan kadar tiamin tubuh karena terjadi penurunan kemampuan menyerap nutrisi dan kalori akibat operasi bariatrik (operasi bedah pada sistem pencernaan). Operasi tersebut dapat mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi sehingga penyerapan tiamin dapat terganggu.

Gejala Penyakit Beri-beri

Perlu Anda ketahui bahwa gejala yang muncul akan bergantung pada jenisnya. Sebagaimana yang dijelaskan di atas, beri-beri terbagi menjadi dua jenis, yaitu beri-beri kering dan beri-beri basah. Berikut masing-masing penjelasannya.

  • Beri-beri kering (Menyerang sistem saraf):

  • Kesulitan berjalan atau kelumpuhan.

  • Kesulitan berbicara.

  • Kesemutan dan rasa nyeri pada kaki maupun tangan.

  • Mual dan muntah secara berlebih.

  • Hilangnya fungsi otot pada tungkai bawah.

  • Adanya gerakan mata yang tidak wajar (nystagmus).

  • Beri-beri basah (menyerang sistem kardiovaskuler):

Diagnosis Penyakit Beri-beri

Setelah Anda mengunjungi fasilitas kesehatan, Anda akan melakukan wawancara untuk mengetahui kronologi secara lengkap. Dokter akan melakukan anamnesis awal sebagai petunjuk pemeriksaan selanjutnya, mulai dari bagaimana pola makan pasien, apakah makanan yang dikonsumsi bergizi atau tidak.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan neurologis untuk mengetahui kemampuan koordinasi gerak tubuh. Dokter akan melihat apakah terjadi kesemutan pada kaki dan tangan, bagaimana sensasi sentuhannya, apakah masih ada  refleks pada lutut, dan kemampuan ototnya.

Tidak lupa juga, dokter akan memeriksa detak jantung dan sistem pernapasan. Jika dokter mencurigai adanya gejala penyakit beri-beri, maka dilakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, seperti:

  • Tes darah yang berguna untuk mengukur kadar tiamin dalam darah;

  • Tes urine yang berfungsi untuk mengetahui apakah terdapat tiamin yang keluar melalui urine;

  • USG Jantung untuk memeriksa apakah terdapat kelainan pada jantung; dan

  • Pemberian obat yang bertujuan untuk menggantikan kekurangan tiamin dalam tubuh.

Cara Mengobati Penyakit Beri-beri

Secara umum, penyakit beri-beri berkaitan dengan kekurangan vitamin B1. Oleh karena itu, cara terbaik mengobatinya adalah mengembalikan kadar vitamin B1 sesuai batas normalnya. Selain itu, ada beberapa cara untuk mengembalikan kadar vitamin B1 ke dalam tubuh sesuai batas normalnya.

1. Konsumsi Vitamin B1

Pengobatan yang utama adalah pemberian suplemen tiamin ke dalam tubuh. Suplemen ini dapat Anda konsumsi melalui infus vitamin berupa suntikan maupun obat oral.

2. Memperbaiki Pola Makan

Pasien yang mengalami defisit tiamin perlu mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung vitamin B1. Diantaranya adalah daging tanpa lemak, sayur hijau, kacang-kacangan, gandum, sereal, dan lainnya.

3. Memperbaiki Kebutuhan Gizi

Apabila penyebab penyakit beri-beri karena malnutrisi, sebaiknya Anda mulai mengonsumsi makanan bergizi, bernutrisi, dan seimbang. Sebab, malnutrisi tidak hanya berfokus pada peningkatan tiamin, tetapi juga perlu mencukupi kebutuhan energi dan gizi pada tubuh. Dengan begitu, sistem imun Anda terjaga dengan baik.

Pencegahan dengan Asupan Vitamin Terbaik

Salah satu cara pencegahan yang bisa Anda lakukan untuk menetralkan kadar tiamin dalam tubuh adalah mendapatkan Vitamin Booster V-Drip B Complex dari Bumame. Vitamin ini mengandung thiamin, Pyridoxine, dan Cyanocobalamin yang dapat membantu meningkatkan vitamin B1 dalam tubuh.

Banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan, khususnya dapat mengurangi rasa lelah berkepanjangan maupun keluhan saraf seperti gejala penyakit beri-beri. Apalagi maraknya aktivitas yang padat, vitamin ini bisa Anda dapatkan dengan layanan home care dengan fasilitas yang memadai.

Namun sayangnya, vitamin ini belum bisa dikonsumsi bagi ibu hamil maupun menyusui. Jika Anda salah satunya, sebaiknya konsumsi booster vitamin lain seperti asam folat untuk ibu hamil. Vitamin B Complex ini bisa digunakan sejak usia 12 tahun.

Dengan harga terjangkau, Anda bisa mendapatkan fasilitas home care dengan tim medis yang profesional. Dengan begitu, Anda dapat menjalani prosedur pengobatan secara tenang dan aman. Karena vitamin tersebut sudah teruji klinis, berkualitas, dan tentunya terdaftar di BPOM.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda merasakan gejala seperti penjelasan di atas, sebaiknya Anda langsung menghubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk melakukan screening awal. Anda juga bisa mengamati anggota keluarga lain apabila merasa pola makan yang tidak teratur dan adanya perubahan nafsu makan.

Makan Bergizi, Cegah Beri-Beri

Di tengah polemik makanan bergizi dari pemerintah, Anda harus mengetahui apa saja makanan yang masuk ke dalam tubuh. Walaupun sudah jarang terjadi, penyakit beri-beri kering memiliki gejala yang umum terjadi. Selain beri-beri, kesemutan dan nyeri sendi juga bisa disebabkan karena kolesterol.

Nah, untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter dengan segera. Agar Anda dan keluarga dapat tertangani dengan cepat.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. MedlinePlus. (.n.d). Beriberi.

  2. Ciputra Hospital. (2025). Gejala Penyakit Beri-beri dan Cara Mengatasinya.

  3. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2024). Jangan Asal Konsumsi, Ketahuilah Jenis Vitamin yang Larut dalam Air!

  4. World Health Organization. (1999). Thiamine Deficiency and Its Prevention and Control in Major Emergencies.

  5. Sakra World Hospital. (2022). Penyakit Beri-beri.

  6. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. (2021). Buku Ajar Intensive Care.

  7. National Library of Medicine. (2010). Chronic Alcohol Consumption and Intestinal Thiamin Absorption: Effects on Physiological and Molecular Parameters of the Uptake Process.

  8. American Journal of Case Reports. (2019). Dry Beriberi Due to Thiamine Deficiency Associated with Peripheral Neuropathy and Wernicke’s Encephalopathy Mimicking Guillain-Barrè Syndrome: A Case Report and Review of the Literature.

Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed

Frequently Asked Question

Apa itu penyakit beri-beri?
Beri-beri merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B1 (tiamin) dalam tubuh secara berat dan berkepanjangan. Kondisi ini terbagi menjadi beri-beri kering yang menyerang sistem saraf dan beri-beri basah yang memengaruhi sistem kardiovaskuler.
Apa saja gejala penyakit beri-beri?

Gejala bergantung pada jenisnya. Beri-beri kering dapat menyebabkan kesemutan, nyeri pada tangan dan kaki, kesulitan berjalan atau berbicara, hingga kelumpuhan, sedangkan beri-beri basah dapat menyebabkan sesak napas, detak jantung meningkat, dan pembengkakan pada tungkai bawah.

Apa penyebab dan faktor risiko beri-beri?
Beri-beri dapat terjadi akibat kekurangan gizi, konsumsi alkohol berlebih, atau meningkatnya kebutuhan tiamin dalam kondisi tertentu seperti kehamilan dan menyusui. Faktor risikonya juga mencakup kondisi genetik, anoreksia nervosa, serta gangguan penyerapan nutrisi setelah operasi bariatrik.
Bagaimana penyakit beri-beri didiagnosis?
Diagnosis diawali dengan wawancara mengenai kondisi dan pola makan pasien, kemudian dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan neurologis, detak jantung, dan sistem pernapasan. Pemeriksaan tambahan dapat berupa tes darah untuk mengukur kadar tiamin, tes urine, serta USG jantung.
Bagaimana cara mengobati penyakit beri-beri?
Pengobatan dilakukan dengan mengembalikan kadar vitamin B1 melalui suplemen tiamin, baik berupa suntikan maupun obat oral. Selain itu, pasien perlu memperbaiki pola makan dan memenuhi kebutuhan gizi seimbang, termasuk mengonsumsi makanan seperti daging tanpa lemak, sayuran hijau, kacang-kacangan, gandum, dan sereal.