Menjaga kesehatan secara menyeluruh tentu mencakup perhatian terhadap kondisi tubuh, termasuk pentingnya memahami risiko penyakit seksual. Topik ini sering kali dianggap tabu untuk dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, padahal pemahaman yang baik dapat melindungi diri maupun pasangan.
Saat sudah bisa memahaminya, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih aman, bijak, serta bertanggung jawab terhadap kesehatan bersama. Dengan begitu, langkah pencegahan awal dapat dilakukan dengan lebih mudah tanpa rasa takut berlebihan jika benar terindikasi memiliki risiko medis tersebut.
Apa Itu Penyakit Menular Seksual (PMS)?
Penyakit menular seksual atau PMS adalah infeksi yang dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral. Beberapa infeksi juga dapat menular melalui kontak kulit di area genital atau melalui darah, tergantung jenis infeksinya.
Hal yang sering membuat penyakit seksual sulit dikenali adalah tidak semua orang mengalami gejala. Seseorang dapat terlihat sehat dan tidak merasakan keluhan, tetapi tetap membawa infeksi dan berpotensi menularkannya kepada pasangan.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan seksual, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko atau pernah mengalami situasi yang memungkinkan terjadinya penularan.
Jenis-Jenis Penyakit Menular Seksual yang Umum
Ada berbagai jenis penyakit seksual dan beberapa di antaranya cukup sering ditemukan dan perlu dikenali agar seseorang dapat lebih waspada. Berikut uraiannya!
1. Gonore
Gonore merupakan salah satu PMS berupa infeksi akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae. Infeksi ini dapat menyerang organ reproduksi, uretra, tenggorokan, rektum, atau bagian tubuh lainnya seperti liver.
Pada pria, gonore dapat menyebabkan rasa perih saat buang air kecil dan keluarnya cairan yang tidak biasa dari penis. Pada perempuan, gejalanya dapat berupa keputihan yang berubah, nyeri saat buang air kecil, atau perdarahan di luar menstruasi.
2. Klamidia
Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Sama seperti gonore, infeksi ini dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga seseorang mungkin tidak menyadari adanya infeksi yang menyerang area sensitif.
Jika muncul, gejalanya dapat berupa nyeri saat buang air kecil, keluarnya cairan yang tidak biasa dari vagina atau penis, nyeri di area panggul, atau nyeri saat berhubungan seksual.
3. Sifilis
Sifilis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum dan berkembang melalui beberapa tahap. Pada tahap awal, penyakit ini dapat menyebabkan luka yang biasanya tidak terasa sakit di area tempat bakteri masuk.
Pengidap sering mengira masalahnya telah selesai karena luka pada sifilis dapat menghilang dengan sendirinya. Padahal, infeksi tersebut tetap berada di dalam tubuh dan berkembang ke tahap berikutnya.
4. HIV
Berbeda dengan kutil kelamin yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Penularannya dapat terjadi melalui hubungan seksual, kontak darah, serta dari ibu kepada bayi.
Pada tahap awal, sebagian orang dapat mengalami gejala mirip flu, sementara sebagian lainnya tidak menunjukkan gejala. Apabila infeksi berkembang menjadi AIDS pada stadium lanjut, sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah membuat penderita rentan terhadap berbagai infeksi sekunder berat, seperti tuberkulosis dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).
5. Herpes
Herpes genital umumnya disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV). Berbeda dengan penyakit lepuhan kulit lain akibat infeksi virus, seperti HFMD atau flu singapura, infeksi HSV dapat menyebabkan lepuhan atau luka di sekitar alat kelamin, anus, maupun area sekitarnya dengan luka yang terasa nyeri atau perih.
Virus herpes dapat tetap berada di dalam tubuh setelah seseorang terinfeksi dan dapat kembali aktif pada waktu tertentu. Penularan juga dapat terjadi ketika gejala tidak sedang terlihat.
Penyebab dan Cara Penularan Penyakit Seksual
Penyakit seksual memiliki penyebab yang berbeda-beda. Beberapa ada yang disebabkan bakteri, seperti gonore, klamidia, dan sifilis. Lalu, ada pula yang disebabkan virus, seperti HIV dan herpes.
Penularannya paling sering berkaitan dengan aktivitas seksual tanpa perlindungan dengan orang yang terinfeksi. Hubungan vaginal, anal, maupun oral dapat menjadi jalur penularan, tergantung jenis infeksinya.
Risiko penularan dapat meningkat ketika seseorang berganti-ganti pasangan seksual, melakukan hubungan seksual tanpa kondom, atau memiliki pasangan yang status infeksinya belum diketahui.
Namun sama seperti penyakit kolesterol, PMS tidak menular karena berjabat tangan, duduk bersebelahan, atau berbagi ruang dengan orang yang terinfeksi. Informasi yang benar membantu kita menghindari stigma sekaligus lebih fokus pada tindakan pencegahan yang memang efektif.
Gejala Umum yang Perlu Diwaspadai
Gejala penyakit seksual dapat berbeda-beda tergantung jenis infeksinya. Bahkan, seperti telah disebutkan sebelumnya, beberapa infeksi tidak menimbulkan gejala sama sekali. Beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan antara lain:
Nyeri atau rasa terbakar ketika buang air kecil.
Keluarnya cairan yang tidak biasa dari vagina atau penis.
Keputihan yang berubah warna, jumlah, bau, atau konsistensinya.
Luka, lepuhan, benjolan, atau ruam di sekitar alat kelamin.
Gatal atau rasa tidak nyaman di area genital.
Nyeri saat berhubungan seksual.
Perdarahan di luar siklus menstruasi.
Nyeri di bagian bawah perut atau panggul.
Pembengkakan pada area tertentu, termasuk kelenjar getah bening.
Demam atau keluhan seperti flu pada kondisi tertentu.
Tidak adanya gejala seperti di atas bukan berarti pasti tidak ada infeksi. Jika mengalami keluhan yang tidak biasa setelah melakukan aktivitas seksual berisiko, sebaiknya hindari menebak diagnosis sendiri dan lakukan pemeriksaan untuk langkah selanjutnya.
Cegah Penyakit Seksual dengan Langkah yang Realistis
Pencegahan penyakit seksual penting dilakukan untuk mengetahui risiko serta melindungi kesehatan reproduksi. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi potensi penularannya.
1. Gunakan Kondom dengan Benar
Penggunaan kondom secara konsisten dapat membantu mengurangi risiko penularan berbagai infeksi menular seksual. Pastikan kondom digunakan dengan benar sejak awal hingga akhir hubungan seksual.
Meski demikian, kondom tidak memberikan perlindungan 100% terhadap semua PMS, terutama infeksi yang dapat menular melalui kontak kulit pada area yang tidak tertutup kondom.
2. Kenali Status Kesehatan Diri dan Pasangan
Komunikasi mengenai kesehatan seksual memang terkadang terasa canggung. Namun, membicarakan riwayat pemeriksaan dan status kesehatan dapat menjadi bagian dari hubungan yang saling menghargai.
3. Lakukan Pemeriksaan Bila Memiliki Risiko
Pemeriksaan, baik secara mandiri maupun menggunakan layanan BPJS, dapat membantu mengetahui kondisi yang tidak terlihat dari luar. Jenis tes yang dibutuhkan dapat berbeda sesuai risiko, gejala, dan jenis infeksi yang dicurigai.
4. Hindari Berbagi Jarum
Penyakit seksual tertentu, termasuk HIV, dapat ditularkan melalui darah. Karena itu, jangan berbagi jarum atau alat yang berpotensi terkontaminasi darah.
5. Pertimbangkan Vaksinasi
Beberapa infeksi yang berkaitan dengan kesehatan seksual dapat dicegah melalui vaksinasi, seperti HPV yang menyebabkan kutil kelamin dan hepatitis B. Konsultasikan dengan dokter mengenai vaksin yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Kapan Harus Tes dan Kapan Perlu ke Dokter?
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah seseorang tetap perlu melakukan tes meskipun tidak memiliki gejala sama sekali. Jawabannya bergantung pada faktor risiko masing-masing, seperti riwayat paparan berisiko, memiliki pasangan baru, atau saat mengetahui pasangan mengalami infeksi.
Waktu pemeriksaan sangat penting karena setiap infeksi memiliki window period di mana hasil tes mungkin belum akurat jika dilakukan terlalu cepat. Oleh karena itu, tenaga kesehatan dapat membantu menentukan jenis pemeriksaan serta waktu yang paling tepat.
Cek Status HIV dengan Pemeriksaan HIV Bumame
Salah satu penyakit seksual yang memiliki risiko penularan tinggi adalah HIV. Untuk itu, bagi Anda yang ingin mengetahui status kesehatan, pemeriksaan dengan Paket HIV dari Bumame dapat menjadi langkah tepat untuk mendapatkan kepastian alih-alih sekadar menebak berdasarkan gejala.
Dengan harga mulai dari Rp515.000,00, paket ini menyediakan pemeriksaan melalui pengambilan sampel darah guna mendeteksi antibodi terhadap HIV. Bumame menyediakan pilihan home care maupun walk in, sehingga proses pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kenyamanan dan kebutuhan.
Melakukan tes HIV bukanlah bentuk pengobatan, tapi cara untuk mengetahui status kesehatan secara pasti. Jika dapat mengetahui status pastinya, Anda dapat segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengambil langkah medis atau penanganan yang tepat bila diperlukan.
Mengetahui status HIV juga sangat dianjurkan sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan pranikah, persiapan kehamilan, maupun evaluasi setelah adanya potensi paparan. Apabila hasil pemeriksaan memerlukan tindak lanjut, pastikan untuk berdiskusi dengan tenaga medis agar memperoleh penjelasan yang sesuai.
Jangan Menunggu Sampai Khawatir Berlebihan
Membicarakan penyakit seksual memang tidak selalu mudah. Rasa malu, takut dinilai, atau khawatir terhadap hasil pemeriksaan sering kali membuat seseorang memilih diam.
Perasaan tersebut manusiawi. Namun, menjaga kesehatan seksual sebenarnya merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan pasangan. PMS bukan persoalan tentang seseorang "baik" atau "buruk". Infeksi dapat terjadi pada siapa saja yang memiliki risiko paparan.
Karena itu, tidak perlu menunggu sampai gejala semakin mengganggu untuk mulai peduli. Kenali tanda-tandanya, lakukan pencegahan, dan pertimbangkan pemeriksaan ketika memang diperlukan. Semakin cepat kondisi diketahui, semakin cepat pula seseorang dapat memperoleh informasi dan arahan medis yang sesuai.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
Jurnal FKIP Universitas Mataram. (2025). Jurnal Biologi Tropis The Effects of Gonorrhea on Women's Reproductive Health.
National Library of Medicine. (2026). Chlamydia trachomatis Infection.
Journal of Pediatric Health Care. (2025). The Resurgence of Syphilis: A Critical Public Health Concern.
National Library of Medicine. (2026). HIV and AIDS.
World Health Organization. (2025). Herpes simplex virus.
National Library of Medicine. (2011). HIV and Chronic Obstructive Pulmonary Disease.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
_(1).jpg&w=3840&q=75)