Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Perbedaan Hipoksia dan Hipoksemia yang Perlu Tahu
Kembali ke Artikel & Berita

Perbedaan Hipoksia dan Hipoksemia yang Perlu Tahu | Bumame

SBAOthers

Sesak napas setelah melakukan aktivitas merupakan salah satu keluhan yang bisa terjadi pada siapa saja. Meski memang sering dikhawatirkan sebagai tanda tubuh kurang mendapat oksigen atau hipoksia, ternyata ada istilah lain bernama hipoksemia yang juga berkaitan dengan suplai oksigen tersebut.

Istilah keduanya mungkin terdengar sama. Meski demikian, nyatanya keduanya menyasar aspek biologis yang berbeda. Maka dari itu, penting untuk mengetahui perbedaan hipoksia dan hipoksemia agar bisa memberikan penanganan yang benar saat sedang mengalami kondisi ini.

Apa Itu Hipoksia dan Hipoksemia?

Secara umum, hipoksemia adalah kondisi ketika kadar oksigen di dalam darah, khususnya darah arteri, lebih rendah dari yang seharusnya. Kondisi ini berkaitan dengan proses pernapasan dan pertukaran oksigen di paru-paru. 

Salah satu cara awal untuk melihat kondisi oksigen dalam darah adalah menggunakan alat pulse oximeter yang mengukur saturasi oksigen atau SpO₂. Pemeriksaan gas darah arteri ini dapat memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai kadar oksigen dalam darah.

Di sisi lain, terdapat istilah hipoksia yang biasanya terjadi ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini terjadi karena oksigen dalam darah memang rendah.

Gangguan aliran darah, rendahnya jumlah hemoglobin, atau gangguan kemampuan sel menggunakan oksigen juga dapat menyebabkan jaringan kekurangan oksigen meskipun angka saturasi oksigen terlihat normal.

Singkatnya, perbedaan hipoksia dan hipoksemia yaitu hipoksemia lebih berfokus pada oksigen di dalam darah, sedangkan hipoksia lebih berkaitan dengan ketersediaan oksigen di jaringan tubuh.

Perbedaan Hipoksia dan Hipoksemia

Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan hipoksia dan hipoksemia secara utuh.

Aspek

Hipoksia

Hipoksemia

Pengertian 

Jaringan tubuh kekurangan oksigen.

Kadar oksigen dalam darah arteri rendah.

Lokasi masalah 

Tingkat jaringan atau organ.

Tingkat darah.

Hubungan



Dapat terjadi akibat hipoksemia, tetapi juga bisa disebabkan faktor lain.

Dapat menyebabkan hipoksia.

Penyebab


Gangguan oksigen dalam darah, aliran darah, kadar hemoglobin, atau kemampuan sel menggunakan oksigen.

Gangguan pernapasan, pertukaran gas di paru, ventilasi, atau aliran darah paru.

Contoh penyebab


Anemia berat, gangguan sirkulasi, hipoksemia, gangguan penggunaan oksigen oleh sel.

Pneumonia, gangguan paru, hipoventilasi, gangguan pertukaran gas.

Cara evaluasi



Dilihat dari kondisi klinis dan pemeriksaan yang menilai oksigenasi jaringan serta penyebabnya.

Pulse oximetry, gas darah arteri, dan pemeriksaan penunjang sesuai penyebab.

Apakah selalu terlihat dari pulse oximeter?

Tidak.

Pulse oximeter dapat membantu memperkirakan saturasi oksigen, tetapi tidak menggambarkan seluruh kondisi jaringan.

Ciri-Ciri Hipoksia

Dalam mengidentifikasi perbedaan antara hipoksia dan hipoksemia, perlu diketahui bahwa gejala hipoksia dapat bervariasi, tergantung pada penyebab serta tingkat keparahan kekurangan oksigen yang terjadi. Berikut adalah beberapa tanda yang mungkin muncul:

  • Napas terasa pendek atau lebih cepat.

  • Jantung berdebar atau denyut jantung meningkat.

  • Sakit kepala.

  • Gelisah atau sulit merasa nyaman.

  • Kebingungan atau perubahan kesadaran pada kondisi yang lebih berat.

  • Kulit, bibir, atau kuku tampak kebiruan pada kondisi tertentu.

Hipoksia yang berat dapat memengaruhi fungsi organ, termasuk otak. Namun, tidak semua orang akan menunjukkan gejala yang sama. Pada kondisi yang berlangsung lebih lama, keluhannya juga bisa lebih samar, misalnya sesak saat beraktivitas.

Ciri-Ciri Hipoksemia

Karena hipoksemia berkaitan dengan rendahnya oksigen dalam darah, gejalanya dapat menyerupai kondisi kekurangan oksigen secara umum. Saat mengalaminya, seseorang bisa merasakan tanda berikut:

  • Sesak napas.

  • Napas lebih cepat.

  • Mudah lelah.

  • Denyut jantung meningkat.

  • Rasa tidak nyaman atau gelisah.

  • Bibir atau kuku tampak kebiruan pada kondisi tertentu.

  • Dada terasa nyeri atau tertekan, tergantung penyebabnya.

Hal yang perlu diperhatikan, angka saturasi oksigen tidak boleh dibaca sendirian. Ada orang dengan kadar oksigen rendah yang tidak menunjukkan semua gejala tersebut. Keluhan sesak juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami hipoksemia.

Penyebab Masing-Masing Kondisi

Dalam memahami perbedaan hipoksia dan hipoksemia, perlu diketahui bahwa penyebab hipoksia cukup beragam karena masalahnya bisa terjadi pada berbagai tahap, mulai dari saat oksigen masuk ke dalam tubuh hingga proses penggunaannya oleh sel.

Berikut faktor yang menyebabkan hipoksia:

  • Darah yang membawa oksigen tidak mencapai jaringan dalam jumlah cukup,

  • Kandungan oksigen dalam darah berkurang,

  • Kadar hemoglobin rendah sehingga kemampuan darah membawa oksigen menurun,

  • Sirkulasi darah terganggu, dan

  • Sel tubuh mengalami gangguan dalam menggunakan oksigen.

Karena itu, hipoksia tidak selalu berarti masalah paru-paru. Misalnya, anemia dapat mengurangi kemampuan darah membawa oksigen meskipun kadar oksigen yang terukur dalam darah tidak selalu rendah. Gangguan aliran darah juga dapat menyebabkan jaringan kekurangan oksigen.

Di sisi lain, hipoksemia lebih sering berkaitan dengan proses oksigenasi di paru-paru. Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Penyakit atau infeksi paru,

  • Asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),

  • Hipoventilasi, yaitu kondisi ketika pernapasan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh,

  • Gangguan pertukaran udara dan aliran darah di paru-paru,

  • Edema paru,

  • Emboli paru,

  • Gangguan jaringan paru yang menghambat perpindahan oksigen, dan

  • Berada di tempat dengan ketinggian tertentu sehingga tekanan oksigen di udara lebih rendah.

Penyebabnya tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan angka saturasi. Dokter biasanya mempertimbangkan gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan lainnya.

Cara Diagnosis dengan Saturasi Oksigen

Untuk membantu mengenali perbedaan hipoksia dan hipoksemia, salah satu alat yang cukup familiar adalah pulse oximeter, yaitu alat kecil yang biasanya dipasang di ujung jari. Alat ini memperkirakan saturasi oksigen dalam darah, yang sering ditampilkan sebagai angka SpO₂.

Pada orang sehat, angka saturasi umumnya berada pada kisaran tinggi. Namun, tidak ada satu angka yang dapat digunakan untuk menilai semua orang dalam semua situasi. Kondisi medis, ketinggian tempat, penyakit yang mendasari, dan konteks pemeriksaan perlu dipertimbangkan.

Meski demikian, pulse oximeter memiliki keterbatasan. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh sirkulasi yang kurang baik, suhu kulit, gerakan, cat kuku, dan faktor lainnya. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan sebaiknya dilihat bersama gejala dan kondisi seseorang, bukan menjadi satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan medis.

Jika membutuhkan informasi lebih lengkap, dokter akan melakukan pemeriksaan gas darah arteri dengan mengukur tekanan oksigen dalam darah serta beberapa parameter lain, termasuk karbon dioksida. Pemeriksaan seperti foto rontgen dada, CT scan, pemeriksaan fungsi paru juga dapat dipertimbangkan untuk mencari penyebabnya.

Hal yang tak kalah penting, pulse oximeter tidak secara langsung mengukur hipoksia jaringan. Angka saturasi memberi informasi mengenai oksigen dalam darah, sedangkan apakah jaringan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup perlu dinilai dari keseluruhan kondisi pasien.

Kapan Harus ke Dokter?

Tidak perlu panik setiap kali melihat angka saturasi yang berubah sedikit. Namun, keluhan yang berat atau memburuk tetap perlu diperhatikan. Segera cari pertolongan medis jika mengalami:

  • sesak napas berat, 

  • kesulitan bernapas, 

  • nyeri atau tekanan di dada, 

  • kebiruan pada bibir atau wajah, 

  • kebingungan, 

  • penurunan kesadaran, 

  • atau kondisi yang terasa memburuk dengan cepat.

Jika menggunakan pulse oximeter di rumah, lakukan pengukuran saat tubuh dalam keadaan relatif tenang. Pastikan tangan hangat, tidak banyak bergerak, dan tunggu hingga angka stabil.

Jika hasil terlihat tidak biasa atau terus menurun, jangan hanya berpatokan pada alat. Perhatikan juga gejala yang dirasakan dan konsultasikan dengan tenaga medis bila diperlukan.

Pemeriksaan Hematologi sebagai Bagian dari Evaluasi Kesehatan

Memahami perbedaan hipoksia dan hipoksemia memang penting agar tidak salah mengartikan keluhan sesak napas atau perubahan saturasi oksigen. Oksigenasi tubuh sendiri sangat dipengaruhi oleh fungsi paru, sirkulasi, serta kemampuan darah dalam membawa oksigen ke seluruh jaringan.

Jika dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk mencari tahu penyebab keluhan mudah lelah, pucat, atau dugaan anemia, Hematologi Lengkap Bumame (mulai dari Rp125.000,00) dapat menjadi pilihan pemeriksaan penunjang yang relevan. 

Tes ini menganalisis berbagai komponen penting secara bersamaan, mulai dari hemoglobin (Hb), hematokrit, sel darah merah (eritrosit), indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC), sel darah putih (leukosit), hingga trombosit.

Pemeriksaan ini sangat bermanfaat untuk mendeteksi atau mengevaluasi anemia, perubahan jumlah sel darah, kondisi sistem imun, serta gangguan pembekuan darah. Pada akhirnya, hasil analisis ini akan memberikan gambaran utuh tentang kondisi kesehatan darah secara keseluruhan untuk didiskusikan langsung dengan dokter.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. National Library of Medicine. (2024). Hypoxia and Hypoxemia.

  2. Common Surgical Disease. (2008). Hypoxemia and Hypoxia.

  3. National Library of Medicine. (2024). Practical considerations on hypoxemia and hypoxia in V-V ECMO patients.

  4. Rebelem. (2024). REBEL Core Cast 135.0: A Simple Approach to Hypoxemia (vs. Hypoxia).

  5. Internal Medicine Residency Handbook. (2026). Hypoxia and Hypoxemia.

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apakah hipoksia dan hipoksemia sama?
Tidak. Hipoksemia berarti kadar oksigen dalam darah arteri rendah, sedangkan hipoksia berarti jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Hipoksemia dapat menyebabkan hipoksia, tetapi hipoksia juga dapat terjadi melalui mekanisme lain.
Apakah saturasi oksigen rendah berarti pasti hipoksia?
Belum tentu. Saturasi oksigen rendah menunjukkan adanya masalah oksigenasi darah yang perlu diperhatikan, tetapi kondisi jaringan harus dinilai dalam konteks yang lebih luas.
Apakah anemia bisa menyebabkan hipoksia?
Bisa. Hemoglobin berperan membawa oksigen dalam darah. Ketika kadar hemoglobin rendah, kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan dapat berkurang. Kondisi ini dapat menyebabkan hipoksia meskipun saturasi oksigen tidak selalu menunjukkan angka rendah.
Apakah orang yang sesak pasti mengalami hipoksemia?
Tidak. Sesak napas dapat disebabkan banyak hal dan tidak selalu berarti kadar oksigen dalam darah rendah. Karena itu, penyebab sesak perlu dinilai secara menyeluruh.
Bagaimana cara membedakan hipoksia dan hipoksemia?
Hipoksemia berfokus pada rendahnya kadar oksigen dalam darah, sedangkan hipoksia berkaitan dengan kekurangan oksigen pada jaringan tubuh. Evaluasi dapat meliputi pulse oximetry, gas darah arteri, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sesuai penyebab.
Perbedaan Hipoksia dan Hipoksemia yang Perlu Tahu | Bumame