Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Penyebab dan Gejala
Kembali ke Artikel & Berita

Hipoksemia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

SBATips Kesehatan

Apakah Anda sering merasa napas terasa lebih pendek dari biasa setelah melakukan suatu aktivitas tertentu? Atau ketika memeriksa angka saturasi oksigen via pulse oximeter, Anda melihat angkanya berubah-ubah? Jika iya, bisa saja Anda mengalami hipoksemia.

Hipoksemia merupakan kondisi yang terjadi akibat adanya beberapa masalah seperti pada organ paru-paru, jantung, saluran napas, ataupun kondisi lainnya. Maka dari itu, sangat penting untuk tahu bagaimana cara mengatasinya agar tetap sehat.

Apa Itu Hipoksemia?

Hipoksemia adalah kondisi ketika kadar oksigen dalam darah arteri lebih rendah dari yang seharusnya. Kondisi ini berbeda dengan hipoksia. Hipoksemia mengacu pada rendahnya oksigen di dalam darah, sedangkan hipoksia merujuk pada kekurangan oksigen di jaringan tubuh. Keduanya dapat berkaitan, tetapi bukan istilah yang sama.

Secara sederhana, prosesnya yaitu oksigen masuk melalui paru-paru ketika kita bernapas, kemudian berpindah dari alveolus ke aliran darah melalui proses pertukaran gas. Selanjutnya, oksigen dibawa oleh hemoglobin menuju jaringan tubuh.

Jika proses pertukaran gas tersebut terganggu, kadar oksigen dalam darah dapat menurun. Gangguan hipoksemia juga bisa terjadi karena aliran udara yang tidak memadai, gangguan aliran darah di paru, atau jumlah oksigen yang tersedia di lingkungan.

Hipoksemia ringan sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Oleh karena itu, seseorang tidak selalu bisa mengetahui kondisi ini hanya dari apa yang dirasakan, sehingga diperlukan pemeriksaan medis.

Penyakit yang Dapat Berkaitan dengan Hipoksemia

Hipoksemia dapat ditemukan pada berbagai kondisi medis. Beberapa di antaranya berhubungan langsung dengan sistem pernapasan, sementara lainnya melibatkan jantung atau sistem tubuh lain. Contohnya meliputi:

  • Pneumonia;

  • Asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK/COPD);

  • Penyakit paru interstisial;

  • Edema paru;

  • Emboli paru;

  • Pneumotoraks;

  • Sindrom gangguan pernapasan akut atau ARDS;

  • Gagal jantung tertentu; dan

  • Beberapa gangguan neuromuskular yang mengganggu pernapasan.

Mekanismenya pun tidak selalu sama. Pada sebagian orang, udara dan aliran darah di paru tidak terdistribusi dengan baik. Pada kondisi lain, oksigen sulit melewati membran antara alveolus dan pembuluh darah. Ada pula keadaan ketika sebagian darah melewati paru tanpa mendapatkan oksigen yang cukup.

Penyebab Hipoksemia

Secara medis, ada beberapa mekanisme utama yang dapat menyebabkan hipoksemia. Berikut penjelasannya.

1. Ketidaksesuaian Ventilasi dan Perfusi (V/Q Mismatch)

Kondisi ketika bagian paru-paru tidak mendapatkan keseimbangan pasokan udara dan aliran darah yang optimal. Gangguan ini sering dipicu oleh penyakit seperti pneumonia, asma, atau PPOK.

2. Hipoventilasi

Situasi saat proses pernapasan terlalu lambat atau dangkal sehingga jumlah oksigen yang masuk ke dalam paru-paru berkurang. Hal ini bisa disebabkan oleh gangguan sistem saraf, efek obat-obatan, maupun masalah neuromuskular.

3. Gangguan Difusi

Gangguan difusi berkaitan langsung dengan hambatan pada membran tipis yang memisahkan antara kantong udara atau alveolus dengan pembuluh darah kapiler di sekitarnya.

Normalnya, oksigen dapat berpindah dengan mudah melewati membran tersebut, namun adanya kerusakan struktural atau penebalan dinding jaringan dapat membuat proses perpindahan oksigen ke dalam darah menjadi kurang efektif.

Kondisi patologis tertentu pada paru-paru, seperti fibrosis paru atau edema paru, sering kali menjadi akar permasalahan dari gangguan difusi ini. Ketika jaringan paru mengalami kekakuan atau dipenuhi oleh cairan, kemampuan oksigen untuk berdifusi secara leluasa ke dalam sirkulasi darah akan menurun dan memicu hipoksemia.

4. Shunt

Kondisi ketika sebagian aliran darah mengalir ke jantung tanpa melalui proses oksigenasi yang memadai di dalam paru-paru. Kondisi ini dapat terjadi akibat kelainan jantung bawaan atau kantong udara paru yang terendam cairan.

Kondisi shunt ini dapat dibagi menjadi dua jenis utama, yakni shunt anatomis yang sering kali disebabkan oleh kelainan jantung bawaan, serta shunt fisiologis yang terjadi ketika alveolus terisi penuh oleh cairan atau mengalami kolaps. Keduanya sama-sama membuat fungsi pertukaran udara di paru-paru gagal bekerja secara sempurna.

5. Berada di Dataran Tinggi

Tekanan atmosfer yang rendah di dataran tinggi membuat molekul oksigen di udara menjadi lebih renggang dan tipis. Kondisi lingkungan ini menyulitkan tubuh menyerap oksigen sehingga saturasi menurun dibanding di permukaan laut.

Gejala Hipoksemia

Gejala hipoksemia dapat berbeda-beda, tergantung seberapa rendah kadar oksigen, seberapa cepat kondisi terjadi, serta penyakit yang mendasarinya. Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain sebagai berikut: 

  • Sesak atau napas terasa pendek;

  • Napas lebih cepat;

  • Jantung berdebar atau denyut jantung meningkat;

  • Gelisah;

  • Lemas;

  • Kebingungan atau perubahan kesadaran; dan

  • Perubahan warna kebiruan pada bibir atau kuku pada kondisi tertentu.

Namun, tidak semua orang dengan kadar oksigen rendah akan mengalami gejala yang jelas. Pun demikian dengan sesak napas yang juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami hipoksemia. Karena itu, pemeriksaan tetap dibutuhkan untuk mencari penyebabnya.

Diagnosis dan Cara Mengukur Saturasi Oksigen

Pemeriksaan yang paling sederhana untuk mengetahui hipoksia dan hipoksemia yaitu dengan memperkirakan kadar oksigen dalam darah adalah pulse oximetry. Alat ini biasanya dipasang pada ujung jari dan menggunakan cahaya untuk memperkirakan saturasi oksigen, yang ditampilkan sebagai SpO₂.

Pada orang sehat, saturasi oksigen umumnya berada di kisaran 95–100%, meskipun angka yang dianggap sesuai dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan dan ketinggian tempat tinggal.

Untuk mendapatkan pembacaan yang lebih baik di rumah, duduklah dengan tenang, pastikan tangan tidak terlalu dingin, dan hindari faktor yang dapat mengganggu sensor. Cat kuku, sirkulasi darah yang buruk, suhu kulit, pigmentasi kulit, serta beberapa faktor lainnya dapat memengaruhi akurasi pembacaan pulse oximeter.

Hal yang perlu diingat, pulse oximeter memberikan estimasi, bukan pengukuran langsung kadar oksigen arteri. Bila hasilnya meragukan atau kondisi pasien membutuhkan evaluasi lebih lanjut, dokter dapat melakukan analisis gas darah arteri (AGD/ABG). 

Pemeriksaan AGD/ABG ini dapat mengukur tekanan oksigen arteri (PaO₂), karbon dioksida, dan pH darah. Oleh karena itu, jangan terpaku pada satu angka SpO₂ tanpa melihat konteksnya.

Pengobatan Hipoksemia

Pengobatan hipoksemia bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Jika kadar oksigen memang rendah, dokter dapat memberikan terapi oksigen dengan alat seperti kanula hidung atau masker. Pada kondisi tertentu yang lebih berat, pasien mungkin membutuhkan dukungan pernapasan non invasif atau ventilasi mekanis.

Meski begitu, oksigen tidak menjadi satu-satunya jawaban. Penyebab hipoksemia juga perlu ditangani. Misalnya, pasien dengan pneumonia mungkin memerlukan terapi untuk infeksi sesuai penilaian dokter, sementara kondisi seperti eksaserbasi PPOK, emboli paru, atau edema paru memiliki pendekatan terapi yang berbeda.

Selain itu, pemberian oksigen juga sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan medis. Pada sebagian pasien dengan risiko retensi karbon dioksida, target saturasi dapat berbeda dari orang lain. 

Pedoman British Thoracic Society, misalnya, menggunakan target 94–98% untuk kebanyakan pasien akut dan 88–92% untuk pasien tertentu yang berisiko mengalami gagal napas hiperkapnia (penumpukan kadar karbon dioksida dalam darah). Artinya, jangan menaikkan atau menggunakan terapi oksigen sendiri hanya berdasarkan angka pulse oximeter tanpa arahan tenaga medis.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika saturasi oksigen di rumah tampak lebih rendah dari 94-98%, ulangi pengukuran dalam kondisi tenang dan pastikan pemasangan alat sudah benar. Namun, jangan abaikan gejala yang menyertai.

Secara umum, saturasi 92% atau lebih rendah perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan, sedangkan 88% atau lebih rendah membutuhkan pertolongan medis segera. Perlu diingat bahwa angka ini bukan pengganti penilaian klinis dan dapat berbeda pada orang dengan penyakit paru tertentu atau kondisi khusus.

Terlepas dari angka pada alat, segera cari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat, nyeri atau rasa tertekan di dada, kebiruan pada bibir/wajah, kebingungan, penurunan kesadaran, atau kondisi yang memburuk dengan cepat.

Jaga Kesehatan Mulai dari Langkah Sederhana

Hipoksemia adalah kondisi ketika kadar oksigen dalam darah arteri lebih rendah dari normal dan dapat disebabkan oleh berbagai gangguan, terutama yang memengaruhi pernapasan, paru, jantung, atau proses pertukaran gas. Gejalanya bisa berupa sesak, napas cepat, mudah lelah, hingga perubahan kesadaran pada kondisi yang berat.

Pulse oximeter dapat menjadi alat praktis untuk memantau SpO₂, tetapi hasilnya perlu dibaca dengan hati-hati. Angka yang rendah, apalagi bila disertai gejala, sebaiknya tidak dianggap sepele dan perlu dinilai oleh tenaga medis.

Di luar keluhan yang membutuhkan pemeriksaan segera, pemeriksaan kesehatan rutin juga dapat membantu memberi gambaran kondisi tubuh secara lebih menyeluruh. Salah satu pilihan dasarnya adalah Paket MCU Basic dari Bumame.

Paket ini menyediakan pemeriksaan darah dan urine untuk menilai berbagai parameter seperti hemoglobin, fungsi hati dan ginjal, profil kolesterol, gula darah, asam urat, serta urine lengkap dengan harga mulai dari Rp695.000,00. Untuk layanannya tersedia pilihan home care maupun walk in.

Mengenali kondisi tubuh tidak harus dimulai dari rasa khawatir. Memahami gejala, mengetahui kapan perlu memeriksakan diri, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala bisa menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan. 

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. National Library of Medicine. (2017). Mechanisms of hypoxemia.

  2. The Journal of Association of Chest Physicians. (2020). Hypoxemia and oxygen therapy.

  3. Journal of Clinical Respiratory. (2025). Hypoxemia in Clinical Practice: Mechanisms, Diagnosis, and Management Strategies. 

  4. British Thoracic Society. (2020). BTS Guideline for oxygen use in healthcare and emergency settings.

  5. The American Journal of Medicine. (2023). Clear and Bright: An Elusive Cause of Hypoxemia.

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa yang dapat menyebabkan hipoksemia?
Hipoksemia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang mengganggu masuknya udara atau proses pertukaran oksigen di paru-paru, seperti pneumonia, asma, PPOK, edema paru, dan emboli paru. 
Apakah saturasi 94% pasti berarti hipoksemia?
Tidak selalu. Interpretasi SpO₂ perlu mempertimbangkan kondisi klinis, penyakit yang sudah ada, ketinggian tempat, dan kualitas pengukuran. 
Apakah hipoksemia sama dengan sesak napas?
Tidak. Sesak napas merupakan gejala, sedangkan hipoksemia adalah kondisi rendahnya kadar oksigen dalam darah. Seseorang dapat mengalami sesak tanpa hipoksemia, dan hipoksemia tidak selalu menimbulkan sesak yang jelas. 
Apakah pulse oximeter bisa mendiagnosis hipoksemia?
Pulse oximeter membantu memperkirakan saturasi oksigen secara noninvasif, tetapi bukan satu-satunya dasar diagnosis. Jika diperlukan, dokter dapat melakukan analisis gas darah arteri untuk mengukur kadar oksigen secara lebih langsung. 
Apa saja gejala hipoksemia?

Gejala hipoksemia dapat berupa sesak atau napas pendek, napas cepat, jantung berdebar, gelisah, lemas, kebingungan atau perubahan kesadaran, serta perubahan warna kebiruan pada bibir atau kuku.