Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Sialolithiasis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Sialolithiasis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

SBAOthers

Pernah merasa bagian bawah rahang tiba-tiba nyeri ataupun membengkak saat mulai makan, lalu keluhannya mereda beberapa saat kemudian? Kondisi ini biasanya berkaitan dengan sialolithiasis (salivary stones), yaitu terbentuknya endapan keras atau batu di kelenjar ludah ataupun salurannya. 

Batu tersebut dapat menghambat aliran air liur sehingga akan menimbulkan rasa tidak nyaman, apalagi ketika tubuh memproduksi lebih banyak air liur saat makan. Meski sebagian kasus bisa membaik dengan perawatan sederhana, keluhan berulang perlu diperiksa agar penyebabnya bisa diketahui dengan tepat.

Apa Itu Sialolithiasis?

Sialolithiasis adalah kondisi saat mineral dari air liur mengendap sampai membentuk batu di dalam kelenjar ludah atau saluran yang mengalirkan air liur ke mulut. Kelenjar ludah ini sendiri berfungsi menjaga kelembapan mulut, membantu proses mengunyah dan juga menelan, serta mendukung kesehatan dari rongga mulut. 

Jika batu menghalangi saluran tersebut, maka air liur bisa saja tertahan dan juga membuat kelenjar membengkak. Perlu Anda ketahui bahwa, ada tiga pasang kelenjar ludah utama di sekitar mulut. Salivary stones pun paling sering terjadi pada kelenjar submandibula, yang mana berada di bawah rahang. 

Batu juga bisa saja terbentuk pada kelenjar parotis di sekitar depan telinga ataupun kelenjar sublingual di bawah lidah, meskipun biasanya lebih jarang. Ukuran batunya juga bervariasi, dan batu yang kecil terkadang masih tidak menimbulkan gejala.

Gejala Sialolithiasis yang Perlu Dikenali

Gejala bisa berbeda-beda, tergantung ukuran batu, lokasi sumbatan, dan juga apakah sudah terjadi peradangan ataupun infeksi. Sebagian orang hanya akan mengalami keluhan sesekali, sedangkan lainnya sampai merasakan nyeri yang mengganggu saat aktivitas makan. 

Memahami tanda-tandanya akan membantu menentukan kapan pemeriksaan medis diperlukan. Berikut gejala salivary stones yang umum terjadi.

  • Nyeri saat makan. Rasa sakit ataupun tekanan bisa muncul saat air liur meningkat akibat makanan, tetapi alirannya malah terhambat oleh batu.

  • Pembengkakan di bawah rahang atau pipi. Area kelenjar yang terdampak ini bisa membesar, terutama saat makan, lalu berangsur-angsur akan mengecil.

  • Benjolan atau rasa mengganjal di bawah lidah. Batu yang berada dekat ujung saluran kadang-kadang juga bisa dirasakan atau terlihat.

  • Mulut terasa tidak nyaman atau muncul rasa pahit. Perubahan aliran air liur ini bisa menimbulkan sensasi yang berbeda di rongga mulut.

  • Kesulitan membuka mulut atau menelan. Keluhan ini juga bisa terjadi pada kondisi tertentu, terutama jika memang pembengkakan cukup mengganggu.

Namun, tidak semua gejala di atas berarti Anda mengalami salivary stones. Pembengkakan kelenjar ludah juga bisa disebabkan oleh infeksi, peradangan, ataupun kondisi lain. Maka dari itu, hindari memastikan diagnosis hanya berdasarkan gejala ataupun mencoba mengeluarkan batu menggunakan benda tajam.

Penyebab dan Faktor Risiko Sialolithiasis

Salivary stones terbentuk saat mineral dalam air liur mengendap dan juga mengeras. Proses ini bisa dipengaruhi oleh aliran air liur yang melambat, kondisi saluran, dan juga faktor kesehatan tertentu. Namun, penyebab pastinya pada setiap orang masih tidak selalu bisa diketahui. Berikut faktor yang bisa meningkatkan risiko.

  • Kurang cairan atau dehidrasi. bisa mengurangi jumlah air liur dan juga membuatnya lebih pekat, sehingga berpotensi mendukung terbentuknya endapan.

  • Penggunaan obat tertentu. Beberapa obat bisa menyebabkan mulut kering ataupun mengurangi produksi air liur. Namun, jangan tiba-tiba menghentikan obat yang diresepkan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

  • Riwayat penyakit tertentu. Kondisi seperti gout ataupun penyakit asam urat bisa berkaitan dengan peningkatan risiko batu kelenjar ludah.

  • Gangguan aliran air liur. Aliran yang lambat atau terhambat juga bisa membuat air liur tertahan di saluran yang kemudian meningkatkan kemungkinan terbentuknya batu. 

Salivary stones lebih sering ditemukan pada orang dewasa dan juga tidak selalu berkaitan dengan kebersihan mulut yang buruk. Dengan menjaga asupan cairan serta kesehatan rongga mulut yang mana merupakan kebiasaan yang bermanfaat, tetap saja tidak menjamin batu kelenjar ludah tidak akan terbentuk.

Diagnosis Sialolithiasis dan Pemeriksaannya

Untuk bisa menentukan apakah keluhan disebabkan oleh sialolithiasis, maka dokter akan menilai pola gejala, memeriksa area mulut dan rahang, serta mempertimbangkan pemeriksaan penunjang bila memang diperlukan. 

Pemeriksaannya sendiri akan dipilih berdasarkan lokasi pembengkakan, dugaan penyebab, dan juga hasil evaluasi awal. 

  1. Pemeriksaan fisik. Dokter nantinya akan menanyakan kapan nyeri muncul, memeriksa pembengkakan, dan juga menilai kelenjar serta saluran ludah. Batu tertentu bisa diraba saat pemeriksaan.

  2. USG atau CT scan. USG bisa membantu melihat batu dan juga pembengkakan tanpa menggunakan radiasi pengion. CT scan juga bisa dipertimbangkan untuk menilai lokasi batu ataupun kondisi yang lebih kompleks.

  3. Pemeriksaan tambahan sesuai indikasi. Pada kasus tertentu, biasanya dokter bisa menyarankan pencitraan lain ataupun pemeriksaan untuk mengevaluasi kemungkinan infeksi maupun penyebab pembengkakan lainnya. 

Namun, tidak semua orang membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Dokter biasanya akan menentukan langkah yang paling sesuai berdasarkan temuan klinis. Jika memang keluhan disertai demam, kemerahan, ataupun keluarnya cairan seperti nanah dari saluran ludah, maka evaluasi kemungkinan infeksi sangat penting.

Medical check-up umum juga bisa membantu memantau kesehatan secara menyeluruh, tetapi tetap bukan pemeriksaan khusus untuk memastikan salivary stones. Jika memang mengalami nyeri ataupun pembengkakan di sekitar kelenjar ludah, maka Anda butuh pemeriksaan langsung oleh dokter THT.

Pengobatan dan Cara Mengatasi Sialolithiasis

Penanganan salivary stones bergantung pada ukuran serta lokasi batu, tingkat keparahan gejala, dan juga ada tidaknya infeksi. Batu kecil kadang-kadang keluar dengan sendirinya, sedangkan batu yang menyumbat saluran secara menetap mungkin akan memerlukan tindakan medis. 

Jadi, tidak ada satupun metode khusus yang sesuai untuk bisa digunakan semua pasien. Berikut adalah pilihan penanganan yang dapat dilakukan.

  • Perawatan mandiri untuk membantu aliran air liur. Dokter biasanya akan menyarankan minum cukup air, kompres hangat, pijatan lembut pada area kelenjar, ataupun perangsang air liur seperti permen asam. 

Ingat! Langkah ini tidak boleh Anda lanjutkan jika menyebabkan nyeri bertambah dan jangan juga memaksa batu keluar.

  • Obat untuk meredakan keluhan. Dokter biasanya akan merekomendasikan pereda nyeri sesuai kondisi pasien. Antibiotik hanya boleh digunakan bila memang terdapat indikasi infeksi bakteri, bukan untuk melarutkan batu.

  • Pengeluaran batu melalui saluran. Bila memang diperlukan, tenaga medis bisa melakukan tindakan untuk membantu mengeluarkan batu yang posisinya memungkinkan.

  • Sialendoskopi atau operasi. Sialendoskopi menggunakan alat tipis berkamera untuk bisa melihat saluran dan juga membantu mengambil batu. Batu yang sulit dijangkau ataupun kasus tertentu mungkin akan memerlukan prosedur bedah lain.

Hindari menusuk, memotong, ataupun menekan benjolan dengan kuat karena bisa saja melukai jaringan dan juga meningkatkan risiko infeksi. Bila gejala memang tidak membaik, sering kambuh, ataupun memburuk, maka mintalah penilaian tenaga medis daripada mengandalkan perawatan mandiri saja.

Pencegahan dan Cara Mengurangi Risiko Komplikasi

Tidak semua kasus sialolithiasis bisa Anda cegah. Meski begitu, menjaga hidrasi dan juga memperhatikan kesehatan mulut tetap bisa membantu mendukung fungsi kelenjar ludah. Penanganan yang tepat juga sangat penting untuk bisa mengurangi risiko sumbatan berkepanjangan dan juga infeksi. 

  • Minum air secara teratur. Sesuaikan asupan dengan kebutuhan tubuh, aktivitas, dan juga kondisi kesehatan.

  • Jaga kebersihan gigi dan mulut. Sikat gigi secara rutin dan juga lakukan pemeriksaan gigi sesuai kebutuhan.

  • Perhatikan keluhan yang berulang. Catat kapan pembengkakan ataupun nyeri muncul, terutama jika memang berkaitan dengan waktu makan.

  • Konsultasikan obat yang menyebabkan mulut kering. Dokter nantinya bisa menilai apakah obat berkontribusi pada keluhan dan juga apakah ada alternatif yang aman. Jangan tiba-tiba mengubah dosis sendiri. 

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Pemeriksaan sialolithiasis dianjurkan jika memang nyeri ataupun pembengkakan muncul berulang ketika makan, adanya benjolan di bawah lidah atau rahang, ataupun keluhan tidak kunjung membaik. Gejala serupa juga bisa saja disebabkan oleh kondisi lain.

Maka dari itu, pemeriksaan tetap diperlukan untuk bisa menentukan penyebab dan juga penanganannya. Segeralah cari pertolongan medis jika memang pembengkakan disertai demam, kemerahan yang meluas, nyeri berat, ataupun sampai keluarnya nanah. 

Jika pembengkakan mengganggu pernapasan atau pun sampai membuat Anda sulit menelan air liur, maka carilah pertolongan darurat. Jangan menunda pemeriksaan karena pembengkakan sempat mereda. Untuk membantu memahami kondisi kesehatan secara umum, Anda bisa gunakan layanan medical check-up di Bumame. 

Namun, keluhan yang mengarah pada batu kelenjar ludah tetap perlu dinilai oleh dokter yang sesuai. MCU bukan pengganti pemeriksaan ataupun pencitraan yang direkomendasikan. Ayo, cek kondisi Anda dari sekarang dan dapatkan penanganan yang tepat sesuai gejala!


Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apakah sialolithiasis merupakan penyakit yang berbahaya?

Tidak selalu. Batu kecil dapat tidak menimbulkan gejala atau keluar dengan sendirinya. Namun, sumbatan yang menetap dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, dan infeksi sehingga perlu diperiksa jika keluhan berulang atau memburuk.

Apa saja gejala sialolithiasis?

Gejala sialolithiasis meliputi nyeri atau tekanan saat makan, pembengkakan di bawah rahang atau pipi, benjolan di bawah lidah, rasa tidak nyaman atau pahit di mulut, serta kesulitan menelan pada kondisi tertentu.

Apa penyebab dan faktor risiko sialolithiasis?

Sialolithiasis terjadi ketika mineral dalam air liur mengendap dan mengeras menjadi batu. Faktor yang dapat meningkatkan risiko meliputi dehidrasi, aliran air liur yang melambat, penggunaan obat tertentu yang menyebabkan mulut kering, dan riwayat penyakit asam urat.

Apakah sialolithiasis bisa sembuh tanpa operasi?

Bisa, pada sebagian kasus. Batu kecil terkadang keluar dengan bantuan minum air yang cukup, kompres hangat, pijatan lembut, atau perangsang air liur. Jika batu tidak keluar atau keluhan berulang, dokter mungkin menyarankan tindakan medis.

Kapan penderita sialolithiasis harus ke dokter?

Periksakan diri jika nyeri atau pembengkakan berulang saat makan, muncul benjolan di bawah lidah atau rahang, atau keluhan tidak membaik. Segera cari pertolongan medis jika disertai demam, nanah, nyeri berat, kesulitan menelan air liur, atau gangguan pernapasan.