Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Sering kembung, mual, dan perih di ulu hati? Kenali sindrom dispepsia dari gejala hingga pengobatan, hingga kapan harus ke dokter di Bumame.
Kembali ke Artikel & Berita

Sindrom Dispepsia: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan

SBAOthers

Pernah merasakan kekenyangan padahal baru makan sedikit atau muncul rasa panas di ulu hati yang datang-pergi? Jika keluhan tersebut sering terjadi, bisa jadi itu adalah sindrom dispepsia. Baru pertama kali dengar nama penyakit ini? Tenang saja, mari simak lebih dalam penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa itu Sindrom Dispepsia?

Sindrom dispepsia adalah istilah untuk sekumpulan gejala gangguan pencernaan. Biasanya di perut bagian atas, di area epigastrium (ulu hati). Kondisi ini lebih dikenal sebagai maag, dan biasanya kronis atau berulang. Dokter membaginya menjadi dua kelompok besar. Tergantung pada ada tidaknya penyebab fisik yang teridentifikasi.

Dispepsia Organik

Kondisi ini disebut organik ketika ada penyakit atau kelainan lain. Contohnya, tukak (luka) di lambung atau duodenum (usu dua belas jari), penyakit refluks/GERD, kanker lambung/esofagus, atau gangguan pankreas/kandung empedu. Kondisi lain, seperti efek samping obat atau infeksi bakteri juga bisa menjadi awal mulanya. 

Dispepsia Fungsional

Dapat juga disebut non-ulcer dyspepsia. Kelompok satu ini ada saat kelainan struktural tidak ada, bahkan setelah endoskopi. Artinya, organnya terlihat normal, namun kerjanya yang abnormal. Anehnya, kelompok ini yang lebih banyak kasusnya, sekitar 60-70% kasus.

Menurut kriteria Roma IV, sindrom dispepsia fungsional teridentifikasi jika terlihat kondisi di bawah ini, bahkan jika hanya satu saja.

  • Rasa penuh setelah makan

  • Cepat kenyang

  • Nyeri epigastrium

  • Rasa terbakar di epigastrium

Gejala harus berlangsung minimal 3 bulan, dengan onset minimal 6 bulan sebelum diagnosis. Dengan mempertimbangkan gejala yang dominan, tipe fungsional terbagi menjadi dua sub-tipe lagi.

  • Postprandial Distress Syndrome (PDS): didominasi rasa kembung dan cepat kenyang setelah makan.

  • Epigastric Pain Syndrome (EPS): didominasi nyeri atau rasa terbakar di ulu hati.

Gejala dan Tanda-Tanda Peringatan

Gejala yang muncul memang tidak konstan. Meski jarang, salah satunya mungkin menandakan sesuatu yang lebih serius daripada episode biasa. Karena itu, penting untuk mengetahui mana gejala yang biasa dan mana yang sudah red flag.

Gejala Utama

Gejala sindrom dispepsia bervariasi pada setiap individu, namun, yang paling umum adalah sebagai berikut.

  • Sakit di ulu hati, bisa tumpul, tajam, atau seperti ditekan.

  • Rasa terbakar (heartburn), yaitu sensasi panas di dada atau ulu hati yang sering dikaitkan dengan asam lambung.

  • Kembung dan penuh, terutama setelah makan.

  • Cepat kenyang, sudah merasa penuh sebelum porsi normal habis.

  • Mual, bisa sebelum atau sesudah makan, dan pada kasus tertentu disertai muntah.

  • Sering bersendawa, cara tubuh mengeluarkan gas dari lambung.

  • Hilang nafsu makan, tidak ingin makan meski perut kosong.

Beberapa orang juga mengalami keluhan penyerta seperti sulit tidur, mudah lelah, kecemasan atau depresi, bahkan diare atau sembelit. Gejalanya bisa muncul setiap hari, atau dalam fase (memburuk, lalu mereda). Bila tanpa penanganan, keluhan seperti ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih.

Tanda Peringatan (Red Flag)

Banyak kasus tipe fungsional yang memang tidak membahayakan. Tapi, perhatikan juga tanda-tanda tipe organik serius, atau bahkan kanker. Jadi, segera periksakan jika muncul gejala berikut.

  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.

  • Sulit menelan (disfagia): rasa tersangkut dan semakin memburuk.

  • Nyeri saat menelan (odinofagia).

  • Muntah terus-menerus, terutama bila berdarah.

  • BAB hitam pekat dan lengket (melena), tanda perdarahan di saluran cerna atas.

  • Muntah darah (hematemesis).

  • Anemia.

  • Benjolan yang teraba di perut.

Ada pula tanda darurat yang tidak boleh menunggu, seperti serangan mendadak sampai sesak napas, keringat dingin, atau detak jantung cepat. Lalu, nyeri perut sangat hebat dan perut terasa kaku, bisa jadi tanda tukak atau perforasi. 

Selain itu, adanya salah satu gejala darurat di atas membatalkan diagnosis dispepsia fungsional yang biasa. Jadi, pemeriksaan lebih lanjut seperti endoskopi menjadi wajib.

Penyebab dan Faktor Risiko

Karena dispepsia sindrom ini adalah kumpulan gejala, maka mencari penyebabnya perlu memerhatikan banyak faktor. Sebagian ada yang terlihat jelas, dan sebagian butuh penelitian bertahun-tahun.

Penyebab Dispepsia Organik

Mari kita mulai dari dispepsia organik. Kondisi yang memang terjadi anomali di organnya. Berikut beberapa penyebab yang sering terjadi.

  • Infeksi Helicobacter pylori

  • Tukak lambung dan duodenum (Peptic Ulcer)

  • GERD

  • Gangguan pankreas dan kandung empedu

  • Kanker saluran cerna atas 

  • Obat-obatan

  • Intoleransi makanan (bisa lemak, laktosa, gluten, pedas, atau asam)

Serta penyebab lain seperti gangguan motilitas (gerakan) usus, penyakit sistemik, dan gangguan aliran darah ke organ perut (iskemia mesenterika). 

Penyebab Dispepsia Fungsional

Ini yang lebih rumit karena organnya sendiri terlihat normal, namun gejalanya nyata. Jadi, para peneliti menduga, beberapa proses berikut juga memiliki andil.

1. Gangguan Kerja Otot Lambung

Biasanya, lambung mengembang dan mengecil tergantung kalau ada makanan. Pada dispepsia fungsional, prosesnya terganggu. Jadi, bisa terasa mudah kenyang atau makanan terlalu lama di lambung.

2. Hipersensitivitas Viseral

Saraf di saluran cerna pasien menjadi “terlalu peka”. Jadi, peregangan yang sebenarnya normal terasa menyakitkan.

3. Peradangan Duodenum

Peningkatan sel imun eosinofil di lapisan duodenum. Permeabilitas duodenum yang semakin banyak juga meningkatkan kemungkinan lebih banyak faktor iritasi dan antigen yang memicu peradangan.

4. H.pylori

Meski berkaitan dengan sindrom dispepsia organik, bakteri ini juga berperan pada dispepsia fungsional.

5. Faktor Psikososial dan Sumbu Otak-Usus

Lewat gut-brain axis, otak dan usus memilki jalur komunikasi langsung. Jadi, ketika pasien mengalami tipe fungsional, banyak diantaranya juga mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan trauma psikologis.

6. Infeksi Saluran Cerna Akut

Sekitar 10% pasien mengalami dispepsia fungsional setelah gastroenteritis akut. Tersangkanya bisa jadi peradangan di mukosa usus, perubahan mikrobioma, dan kerusakan sementara di saraf enterik.

Faktor Risiko

Beberapa hal dapat membuat orang menjadi rentan, contohnya perempuan, usia 55-60 tahun, gaya hidup dan pola makan tidak sehat. Riwayat medis juga berpengaruh, seperti pemaparan di atas, setelah operasi atau penggunaan obat jangka panjang membuat individu rentan. Begitu juga kondisi psikologis dan riwayat genetik.

Diagnosis dan Tes

Beberapa orang merasa takut kalau membayangkan berada di hadapan dokter. Lantas, sebenarnya apa saja yang terjadi di ruang periksa?

Anamnesis dan Tes Fisik

Awalnya, dokter akan menjalankan anamnesis. Pertanyaan seperti sakitnya di mana, gejalanya apa saja, hingga seberapa sering. Tak lupa, riwayat penyakit, serta pola makan, dan obat apa yang sedang dikonsumsi. 

Setelah itu, pemeriksaan fisik untuk memeriksa beberapa ciri. Apakah anemia, adakah gumpalan di dalam perut, serta menilai apakah penyakit hati atau pankreas. Dokter juga akan melihat apakah pasien terlihat pucat, dehidrasi, atau malnutrisi.

Endoskopi

Endoskopi akan perlu jika pasien berusia 60 tahun atau lebih dan ada gejala baru atau red flag. Selain itu, biasanya melalui tes-tes terlebih dahulu. 

Pilihan Pengobatan / Opsi Perawatan

Dasar pengobatannya akan menyesuaikan jenis sindrom dispepsia, organik atau fungsional serta menangani gejala yang dominan. Tujuannya meredakan gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan menangani penyebabnya.

  • H. pylori: Dengan pembasmian bakterinya.

  • Tukak peptik: Menggunakan terapi PPI (Proton Pump Inhibitor)

  • GERD: PPI dengan H2 blocker, serta membiasakan gaya hidup yang lebih baik.

Pengobatan Dispepsia Fungsional

Karena penyebabnya yang banyak, maka pengobatannya juga melalui beberapa metode. Berikut penjelasannya.

  • Terapi penekanan asam: Dengan terapi PPI, H2 Blocker, serta antasida.

  • Prokinetik dan relaksasi fundus: meningkatkan gerakan lambung dan mempercepat pengosongannya.

  • Neuromodulator: Obat ini untuk pasien yang tidak merespons terapi asam lambung. Jangan kaget bila resep obat juga ada antidepresan, tujuannya untuk meredakan nyeri.

  • Rifaximin: Ini antibiotik untuk memperbaiki mikrobioma.

  • Herbal atau alternatif: contohnya minyak peppermint dan caraway, ekstrak daun artichoke, jahe, kapsaisin (untuk desensitisasi), hingga akupuntur.

  • Terapi psikologis.

Strategi Pencegahan

Sebagian sindrom dispepsia memang sulit dihindari, tetapi kabar baiknya, banyak hal kecil dalam keseharian yang bisa membantu mengurangi kemungkinan kambuh. Anggap saja ini investasi jangka panjang untuk lambung Anda.

1. Pola Makan yang Perhatian pada Lambung

Mulailah dengan pola makan. Makan dengan porsi kecil-kecil, tapi sering (boleh 5-6 kali sehari) lebih baik daripada porsi besar 3 kali sehari. Hindari makanan jahat, seperti yang berlemak, pedas, dan asam. Sebagian orang juga perlu menghindari bawang merah dan putih. Serta konsumsi penghasil gas seperti kacang, kol, brokoli, dan soda. 

2. Kelola Stres, Gerak, dan Tidur

Ingat hubungan otak dan usus? Coba kelola stres dengan meditasi, teknik pernapasan, atau relaksasi. Sisihkan waktu untuk hobi, olahraga ringan, atau berbicara dengan orang terdekat. Cukupi juga durasi tidur Anda.

3. Jauhi Zat Iritan dan Gunakan Obat dengan Bijak

Jauhi rokok, alkohol, serta kafein. Untuk obat NSAID, gunakan seperlunya dengan dosis terendah yang efektif, serta pertimbangkan menggunakan alternatifnya saja untuk nyeri ringan.

4. Berat Badan dan Kebersihan 

Obesitas dapat meningkatkan tekanan di perut dan risiko GERD, jadi menurunkan berat badan (jika berlebih) solusinya. Dari sisi kebersihan, ini untuk menghindari penularan bakteri, seperti H. pylori. 

5. Mencegah Kekambuhan

Bila Anda sudah mengalaminya, ikuti terus rencana pengobatan (meski sudah mereda). Jadikan juga pola makan sehat, manajemen stres, dan olahraga sebagai kebiasaan jangka panjang. 

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Banyak orang menunda ke dokter karena merasa "ah, cuma maag". Padahal, mengetahui kapan harus bertindak itulah yang membedakan antara keluhan ringan dari gangguan serius. Karena itu, jangan sampai Anda menyepelekan gejala sindrom dispepsia.

Jika mengalami nyeri perut mendadak yang sangat hebat dan terus-menerus (terutama bila sampai terasa kaku), muntah darah dalam jumlah besar, hingga tinja hitam pekat dan lengket dalam jumlah banyak segera ke UGD. Begitu pula dengan sesak napas, keringat dingin, atau detak jantung cepat saat kambuh, dan ingin atau sudah pingsan.

Kenali Tubuh Anda, Taklukkan Sindrom Dispepsia!

Sindrom dispepsia memang bisa mengganggu, tetapi sebagian besar kasusnya tidak berbahaya dan dapat dikendalikan lewat pola makan, pengelolaan stres, dan pengobatan. Anda juga bisa menggunakan Gastric Protector dari Bumame untuk memperkuat kesehatan abdominal Anda dengan lebih tepat.

Lewat harga terjangkau dan bahan yang sudah teruji klinis, ini adalah solusi instan dan praktis untuk membantu pemulihan masalah saluran cerna. Hubungi Bumame untuk booking layanan!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensis: 

  1. Merck Manual Professional Edition (Gotfried, J.). (2026). Dyspepsia.

  2. Pantelis Oustamanolakis. (2012). Dyspepsia: organic versus functional

  3. Kimberly N Harer. (2020). Functional Dyspepsia: A Review of the Symptoms, Evaluation, and Treatment Options

  4. Gabbard, S., & Vijayvargiya, N. (2024). Functional dyspepsia: How to manage the burn and the bloat. Cleveland Clinic Journal of Medicine.

  5. National Library of Medicine. (2025). Overview: Functional dyspepsia

  6. Mounsey, A., Barzin, A., & Rietz, A. (2020). Functional dyspepsia: Evaluation and management. American Family Physician.

  7. Ford, A. C., Mahadeva, S., Carbone, M. F., Lacy, B. E., & Talley, N. J. (2020). Functional dyspepsia. The Lancet.

  8. Maria Pina Dore. (2016). Dyspepsia: When and How to Test for Helicobacter pylori Infection

  9. Hiroto Miwa. (2019). Recent understanding of the pathophysiology of functional dyspepsia: role of the duodenum as the pathogenic center

Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri

Frequently Asked Question

Apa itu sindrom dispepsia?

Apa itu sindrom dispepsia?

Apa saja gejala sindrom dispepsia?

Gejalanya meliputi nyeri atau rasa terbakar di ulu hati, kembung, cepat kenyang, mual, sering bersendawa, dan hilang nafsu makan.

Apa penyebab sindrom dispepsia?

Dispepsia organik dapat disebabkan oleh infeksi H. pylori, tukak lambung, GERD, gangguan pankreas atau kandung empedu, kanker saluran cerna atas, obat-obatan, dan intoleransi makanan. Dispepsia fungsional dapat berkaitan dengan gangguan kerja otot lambung, hipersensitivitas saraf pencernaan, peradangan, serta faktor psikologis.

Bagaimana sindrom dispepsia didiagnosis?

Dokter melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menilai gejala serta riwayat kesehatan. Endoskopi dapat diperlukan pada pasien berusia 60 tahun atau lebih dengan gejala baru atau tanda peringatan, serta berdasarkan indikasi medis lainnya.

Bagaimana cara mengurangi risiko kekambuhan sindrom dispepsia?

Konsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, hindari makanan pemicu dan zat iritan, kelola stres, cukup tidur, berolahraga ringan, serta ikuti rencana pengobatan yang dianjurkan.