Ginjal bekerja tanpa suara. Tidak ada rasa lapar atau pegal yang memberi tahu kondisinya, sehingga organ ini jarang terpikirkan saat Anda mengurus kesehatan sehari-hari.
Padahal, gangguan ginjal umumnya berkembang pelan dan jarang bergejala di awal. Banyak orang baru mengetahuinya dari hasil cek darah, atau setelah fungsi ginjal sudah jauh menurun.
Kabar baiknya, banyak langkah perlindungan ginjal berupa kebiasaan sederhana. Artikel ini membahas kerja ginjal, alasan gangguannya sering terlambat diketahui, delapan cara menjaga kesehatan ginjal, kesalahan umum, hingga tanda kapan ginjal perlu diperiksa.
Apa yang Dikerjakan Ginjal Setiap Hari?
Ginjal adalah sepasang organ seukuran kepalan tangan yang tugas utamanya menyaring darah. Zat sisa dan kelebihan air yang tersaring lalu dibuang dari tubuh sebagai urine.
Ginjal juga menjalankan dua peran lain:
Menjaga keseimbangan cairan dan mineral. Ginjal mengatur jumlah air serta mineral seperti natrium dan kalium dalam darah. Saat ginjal terganggu, cairan, mineral, dan zat sisa bisa menumpuk di dalam tubuh.
Membantu mengatur tekanan darah. Ginjal menghasilkan hormon yang ikut mengendalikan tekanan darah. Hubungannya berjalan dua arah, karena tekanan darah tinggi bisa merusak ginjal dan ginjal yang terganggu bisa membuat tekanan darah lebih sulit dikendalikan.
Gangguan ginjal sendiri beragam, mulai dari infeksi dan batu ginjal hingga penyakit ginjal kronis, yaitu penurunan fungsi ginjal secara bertahap dalam jangka panjang.
Mengapa Gangguan Ginjal Sering Terlambat Diketahui?
Ginjal punya kemampuan besar untuk menutupi fungsi yang hilang. Saat sebagian fungsinya menurun, bagian yang masih sehat mengambil alih sehingga tubuh tetap berjalan seperti biasa. Akibatnya, keluhan jarang muncul di tahap awal dan baru terasa ketika kerusakan sudah cukup jauh.
Dua penyebab utama penyakit ginjal kronis adalah diabetes dan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Gula darah dan tekanan darah yang tinggi dalam waktu lama bisa merusak unit penyaring ginjal secara perlahan.
Risiko juga meningkat pada orang dengan penyakit jantung, berat badan berlebih atau obesitas, kebiasaan merokok, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, usia lanjut, serta penggunaan obat tertentu secara sering. Bila penurunan fungsi berlanjut hingga gagal ginjal, kerja ginjal perlu digantikan lewat dialisis seperti hemodialisis, atau lewat transplantasi ginjal.
Baca Juga: Cara Mendeteksi Ginjal Bermasalah
8 Cara Menjaga Kesehatan Ginjal yang Bisa Dimulai Hari Ini
Banyak faktor risiko di atas bisa dikendalikan lewat langkah berikut. Semuanya bisa dijalankan siapa saja, termasuk orang yang merasa sehat.
1. Kendalikan Tekanan Darah
Tekanan darah tinggi merusak ginjal secara perlahan dan sering tidak menimbulkan keluhan. Cara mengetahuinya adalah dengan mengukur secara rutin, di klinik, apotek, atau dengan alat di rumah.
Catat hasilnya agar polanya terlihat. Bila angkanya sering tinggi, dokter bisa membantu menyusun cara menurunkan darah tinggi yang sesuai, mulai dari pola makan hingga obat. Bila obat sudah diresepkan, minum sesuai anjuran dan kontrol secara teratur.
2. Jaga Gula Darah dalam Target
Gula darah yang terus tinggi pada diabetes merusak ginjal dengan pola serupa, pelan dan tanpa keluhan di awal. Risiko ini juga berlaku bagi orang yang belum tahu dirinya mengidap diabetes.
Periksa gula darah secara berkala sesuai anjuran dokter. Bagi penyandang diabetes, menjaga gula darah dalam target membantu melindungi ginjal. Pola makan seimbang, aktif bergerak, dan obat sesuai resep termasuk dalam cara menurunkan gula darah yang bisa dijalankan sehari-hari.
3. Kurangi Garam dalam Makanan
Garam dapur mengandung natrium. Asupan garam yang tinggi bisa menaikkan tekanan darah, yang kemudian ikut membebani ginjal.
Garam juga tersembunyi dalam kecap, saus, bumbu instan, mi instan, dan camilan asin. Kurangi garam saat memasak secara bertahap, pakai bawang atau rempah untuk menambah rasa, dan bandingkan kandungan natrium pada label kemasan. Bila Anda punya tekanan darah tinggi atau gangguan ginjal, tanyakan batas asupan garam kepada dokter.
4. Minum Cukup Air tanpa Berlebihan
Ginjal membutuhkan cairan yang cukup untuk membuang zat sisa lewat urine. Saat tubuh kekurangan cairan atau mengalami dehidrasi, urine menjadi lebih pekat dan jumlahnya berkurang.
Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, tergantung aktivitas, cuaca, dan kondisi kesehatan. Minumlah saat haus, tambah asupan saat banyak berkeringat, dan atur jadwal minum antara berbuka dan sahur untuk mencegah dehidrasi saat puasa. Minum jauh melebihi kebutuhan tidak memberi manfaat tambahan. Bila urine tetap sedikit dan pekat meski asupan cairan sudah cukup, periksakan diri ke dokter.
5. Bijak Memakai Obat Pereda Nyeri
Sebagian obat pereda nyeri yang dijual bebas, khususnya golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), bisa merusak ginjal bila diminum terlalu sering atau dalam jangka panjang. Obat ini mudah dibeli sehingga pemakaiannya sering tidak terkontrol.
Ikuti aturan pakai pada kemasan, termasuk batas lama penggunaan. Bila Anda perlu obat pereda nyeri secara rutin, bicarakan dengan dokter atau apoteker agar penyebab nyerinya ditangani dan pilihan obatnya disesuaikan.
6. Berhenti Merokok
Rokok bisa merusak ginjal dan memperburuk kerusakan ginjal yang sudah ada. Merokok juga menaikkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, yang berkaitan erat dengan penyakit ginjal.
Berhenti merokok lebih mudah dijalani dengan dukungan. Tentukan tanggal mulai, kenali pemicunya, dan minta bantuan dokter atau tenaga kesehatan untuk menyusun rencana berhenti.
7. Jaga Berat Badan dan Rutin Bergerak
Berat badan berlebih termasuk faktor risiko penyakit ginjal. Aktivitas fisik yang teratur membantu mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan berat badan sekaligus.
Pilih aktivitas yang bisa dijalani rutin, seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang. Imbangi dengan pola makan kaya sayur, buah, dan biji-bijian utuh, serta batasi minuman manis dan lemak jenuh. Tanyakan jenis olahraga yang aman kepada dokter bila Anda punya penyakit jantung.
8. Periksa Fungsi Ginjal bila Punya Faktor Risiko
Karena gangguan ginjal jarang bergejala di awal, pemeriksaan laboratorium membantu menemukannya lebih dini. Pemeriksaan darah menilai kadar kreatinin, salah satu zat sisa yang dibuang lewat ginjal. Pemeriksaan urine melihat ada tidaknya protein yang lolos dari penyaringan.
Pemeriksaan ini dianjurkan bagi orang dengan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, atau usia lanjut. Jadwal pemeriksaan ulang ditentukan bersama dokter sesuai kondisi Anda.
Kesalahan yang Sering Terjadi saat Merawat Ginjal
Tiga kesalahan berikut cukup sering ditemui saat orang berusaha menjaga ginjal:
Minum air berlebihan untuk "mencuci" ginjal. Ginjal menyaring darah terus-menerus dengan ritmenya sendiri, dan air yang melebihi kebutuhan hanya dibuang sebagai urine. Pada gangguan ginjal atau jantung tertentu, dokter justru bisa membatasi cairan harian.
Minum suplemen atau jamu tanpa tahu isinya. Label alami belum tentu aman untuk ginjal, apalagi bila komposisi dan takarannya tidak jelas. Pilih produk yang terdaftar di BPOM dan beri tahu dokter semua suplemen yang Anda minum.
Mengabaikan tekanan darah karena merasa sehat. Tekanan darah tinggi sering tidak menimbulkan keluhan, sehingga banyak orang baru mengukurnya saat sakit. Pengukuran rutin membuat kondisi ini bisa dikenali dan dikendalikan sejak awal.
Kebiasaan yang Membebani dan yang Mendukung Ginjal
Ringkasan berikut membandingkan kebiasaan yang sebaiknya dikurangi dengan yang perlu dipertahankan.
Aspek | Membebani Ginjal | Mendukung Ginjal |
|---|---|---|
Tekanan darah | Baru diukur saat ada keluhan | Diukur rutin dan dikendalikan bersama dokter |
Gula darah | Status diabetes tidak diketahui | Dicek berkala sesuai anjuran dokter |
Garam | Sering makan makanan kemasan dan camilan asin | Memasak dengan sedikit garam |
Cairan | Kurang minum atau minum berlebihan | Minum cukup sesuai kebutuhan |
Obat dan jamu | Dipakai sering tanpa aturan | Mengikuti aturan pakai dan saran dokter |
Rokok | Tetap merokok | Berhenti dengan dukungan tenaga kesehatan |
Aktivitas | Jarang bergerak | Aktif bergerak dan menjaga berat badan |
Pemeriksaan | Menunggu keluhan muncul | Periksa bila punya faktor risiko |
Tabel ini merangkum gambaran umum. Kebutuhan tiap orang bisa berbeda, jadi bicarakan dengan dokter.
Kapan Ginjal Perlu Diperiksa?
Keluhan berikut bisa berkaitan dengan gangguan ginjal, meski juga bisa muncul karena banyak kondisi lain. Periksakan diri ke dokter bila tanda berikut menetap:
Bengkak di kaki, pergelangan kaki, atau sekitar mata. Bengkak bisa muncul saat ginjal kesulitan membuang kelebihan cairan dan garam. Bengkak yang tidak kunjung surut sebaiknya diperiksa dokter.
Urine berbusa atau berwarna kemerahan. Kencing berbusa yang menetap bisa berkaitan dengan protein dalam urine. Urine merah muda, merah, atau kecokelatan perlu dicek sebagai kemungkinan kencing darah.
Mudah lelah dan lemas. Zat sisa yang menumpuk saat fungsi ginjal menurun bisa membuat tubuh lelah. Karena lelah punya banyak penyebab, keluhan yang berlangsung berminggu-minggu sebaiknya dievaluasi dokter.
Sering buang air kecil pada malam hari. Perubahan frekuensi atau jumlah urine bisa menjadi tanda gangguan ginjal. Keluhan ini juga bisa berasal dari kondisi lain, sehingga penyebabnya perlu dicari lewat pemeriksaan.
Bila jumlah urine berkurang drastis atau bengkak disertai sesak napas, segera cari pertolongan medis.
Cek Fungsi Ginjal lewat Pemeriksaan Darah dan Urine
Kerusakan ginjal umumnya berjalan tanpa keluhan sampai tahap lanjut, sementara perubahan kadar kreatinin dalam darah dan protein dalam urine biasanya sudah terlihat lebih dulu di hasil laboratorium.
Bumame menyediakan Paket Fungsi Ginjal, paket pemeriksaan darah dan urine untuk menilai fungsi ginjal. Pemeriksaan ini bisa dipertimbangkan bila Anda punya faktor risiko, dan hasilnya sebaiknya dibaca bersama dokter. Untuk jadwal dan lokasi, silakan hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Mulai Rawat Ginjal dari Kebiasaan Harian
Menjaga ginjal bisa dimulai dari kebiasaan yang sudah Anda kenal. Kendalikan tekanan darah dan gula darah, kurangi garam, minum secukupnya, pakai obat sesuai aturan, tetap aktif, dan jauhi rokok.
Bagi yang punya faktor risiko, pemeriksaan berkala melengkapi kebiasaan tersebut. Lebih awal diketahui, lebih banyak yang bisa dilakukan. Untuk menjadwalkan pemeriksaan, Anda bisa chat CS Bumame.







