Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Mengenal Sinusitis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Mengenal Sinusitis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Bumamemedical check up

Wajah terasa berat dan nyeri yang menusuk tajam di sekitar pipi sering kali disalahpahami sebagai sakit kepala biasa. Keluhan fisik yang mengganggu kenyamanan ini bisa jadi merupakan tanda awal dari serangan sinusitis.

Kondisi ini sering membuat hidung tersumbat total, hingga aroma makanan lezat pun mendadak gagal tercium oleh indra penciuman. Sebenarnya, apakah sinusitis berbahaya? Mari cari tahu bersama!

Apa Itu Sinusitis?

Sinus paranasal adalah rongga-rongga kecil di dalam tengkorak (tepatnya di sekitar area hidung) yang terisi udara. Bagian ini memiliki fungsi penting, yakni meringankan berat tulang tengkorak, membantu resonansi saat berbicara, serta menjaga kehangatan dan kelembapan udara yang kita hirup.

Secara anatomi, manusia memiliki 4 pasang rongga ini:

  • Sinus frontal di area dahi,

  • Sinus maksila di dalam pipi,

  • Sinus etmoid di antara mata,

  • Sinus sfenoid terletak jauh di bagian dalam tulang tengkorak.

Ketika lapisan lendir (mukosa) yang melapisi rongga paranasal ini mengalami peradangan atau inflamasi, kondisi inilah yang secara medis memicu terjadinya sinusitis. 

Jaringan/lapisan mukosa tersebut saling menyatu serta terhubung erat satu sama lain. Jadi, peradangan hampir tidak pernah bisa terisolasi hanya dalam satu rongga sinus.

Di kalangan praktisi medis, istilah rinosinusitis adalah sebutan yang lebih akurat. Meskipun nama sinusitis masih menjadi istilah yang jauh lebih familier digunakan oleh masyarakat luas.

Klasifikasi Sinusitis Berdasarkan Durasi Penyakit

Berdasarkan rentang waktu atau durasi berlangsungnya penyakit, gangguan kesehatan ini dapat dikelompokkan ke dalam beberapa fase.

  • Akut: Berlangsung dalam waktu singkat, kurang dari 4 minggu. 

  • Subakut: Terus ada peradangan dan menetap dalam kurun waktu antara 4 hingga 12 minggu. 

  • Rekuren akut: Setidaknya terjadi 4 kali infeksi bakteri akut yang terpisah dalam satu tahun. Syaratnya, setiap episode harus sembuh total sebelum terjadi lagi. Apabila keluhan tidak pernah membaik secara tuntas, maka kondisinya cenderung kronis.

  • Kronis: Keluhan pasien bertahan hingga lebih dari 12 minggu. Biasanya, penanganan akan menggunakan alat endoskopi atau pewat pemindaian CT scan.

Selain faktor durasi, gangguan ini juga dapat dipetakan berdasarkan agen pemicunya. Di samping faktor infeksi, masalah noninfeksi seperti reaksi alergi juga dapat menjadi pemicu utamanya. 

Faktor dan Agen Pemicu

Agar bisa melakukan tindakan pencegahan yang tepat dan efektif, kita perlu membongkar lebih dalam mengenai sinusitis. 

Apa saja hal-hal yang menjadi dalang utama dibalik munculnya masalah kesehatan ini? Terdapat berbagai faktor tersembunyi yang saling berkaitan, mulai dari serangan mikroorganisme hingga masalah kebiasaan harian atau kondisi lingkungan yang kerap kali luput dari perhatian.

Serangan Infeksi Virus

Sebagian besar rinosinusitis akut berawal dari infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas. 

Beberapa jenis virus yang menjadi dalang utamanya, antara lain:

  • Rhinovirus,

  • Virus influenza,

  • Parainfluenza,

  • Coronavirus,

  • Adenovirus,

  • Serta Respiratory Syncytial Virus (RSV)

Mereka akan menempel pada jaringan sel di dalam hidung dan merusak kinerja silia (rambut halus mikroskopis yang berfungsi membersihkan cairan lendir) serta memicu pembengkakan. Peradangan ini akan menutup saluran keluar alami sinus (ostium) sehingga menumpuk di dalam. 

Infeksi Bakteri Sekunder (Superinfeksi)

Dari seluruh serangan virus, hanya sekitar 0,5% sampai 2% yang kemudian menjadi infeksi bakteri akut atau acute bacterial rhinosinusitis (ABRS). Jenis bakteri yang paling sering mengambil alih infeksi adalah:

  • Streptococcus pneumoniae,

  • Haemophilus influenzae,

  • Moraxella catarrhalis 

Terjadinya akibat tersumbatnya lubang ostium (saluran pembuangan lendir) yang menciptakan lingkungan lembap dan minim sirkulasi udara. Kondisi stagnan tersebut menjadi media yang optimal bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat.

Reaksi Alergi dan Masalah Struktur Anatomi

Paparan zat pemicu alergi seperti debu, serbuk sari, hingga bulu hewan dapat memicu pembengkakan tanpa keterlibatan mikroorganisme. Selain alergi, hambatan aliran lendir juga bisa terjadi secara mekanis karena ada kelainan bentuk struktur di dalam hidung. 

Contohnya adalah kondisi septum (dinding pembatas rongga hidung) yang membengkok (sekat pembatas lubang hidung tidak lurus), tumbuhnya polip hidung (jaringan lunak nonkanker yang menggantung), atau variasi bentuk anatomi bawaan lainnya.

Faktor-Faktor Risiko pada Kondisi Kronis

Beberapa faktor lain juga bisa berperan sebagai agen pemicu, antara lain:

  • Kebiasaan merokok;

  • Tingkat polusi udara;

  • Adanya penyakit kronis lain (seperti asma, gangguan genetik fibrosis kistik, imunokompromais, kelainan gerak silia bawaan, hingga Aspirin-Exacerbated Respiratory Disease (AERD));

  • Masalah jaringan gigi (odontogenik);

  • Kemasukan air saat berenang; dan

  • Penyakit asam lambung (GERD).

Tanda dan Gejala Kritis

Berikut ini adalah rincian tanda dan keluhan tubuh yang perlu Anda perhatikan agar tidak terlambat mengambil tindakan.

Keluhan Utama

  • Postnasal drip atau lendir kental keluar dari dalam hidung. Cairan bisa keluar ke depan atau ke belakang (menuju tenggorokan);

  • Sensasi hidung tersumbat atau terasa penuh;

  • Munculnya rasa nyeri atau tekanan pada area wajah seperti di pipi, dahi, atau sekitar mata. Sensasi tidak nyaman ini biasanya akan terasa makin hebat saat pasien menunduk;

  • Terjadinya penurunan ketajaman indra penciuman (hiposmia) hingga hilangnya kemampuan membaui sama sekali (anosmia). 

Keluhan Pendukung

  • Nyeri kepala,

  • Batuk-batuk (semakin parah di malam hari akibat stimulasi lendir dari postnasal drip),

  • Rasa lelah ekstrem,

  • Linu pada gigi rahang bagian atas,

  • Sensasi tersumbat di dalam telinga,

  • Bau mulut,

  • Munculnya demam. Keluhan demam ini biasanya menjadi penanda yang lebih condong ke arah infeksi bakteri.

Parameter Kapan Harus Melakukan Konsultasi Medis

Pada umumnya, sebagian besar kasus rinosinusitis akut akibat virus memiliki sifat self-limiting. Artinya, penyakit tersebut dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 7 hingga 10 hari, cukup dengan bantuan istirahat dan perawatan mandiri yang tepat di rumah.

Meski demikian, Anda sebaiknya segera memeriksakan diri apabila menemui beberapa tanda berikut.

  • Sakit tidak kunjung reda lewat 10 hari atau saat sakit lagi setelah sembuh sebentar (double sickening);

  • Mengalami demam tinggi mencapai 39°C atau lebih dengan nyeri hebat di area wajah;

  • Terjadi penyebaran infeksi hingga mata, seperti pembengkakan kelopak mata, mata tampak menonjol keluar, atau pandangan menjadi ganda;

  • Terjadi tanda-tanda penyebaran ke otak (intrakranial), seperti sakit kepala konstan, kaku kuduk (sulit menunduk), penurunan tingkat kesadaran, kejang, kelemahan pada salah satu anggota gerak;

  • Kambuh terlalu sering (sampai 4 kali atau lebih dalam satu tahun) atau jika gejala klinis masih terasa hingga lebih dari 12 minggu;

  • Seseorang yang berada dalam kondisi sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita penyakit diabetes dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol, pengidap HIV, pasien yang sedang menjalani program kemoterapi, serta orang yang rutin mengonsumsi obat-obatan penekan imun.

Kelompok populasi tersebut sebaiknya tidak menunda waktu berobat karena memiliki ambang waspada yang lebih rendah. Meski tingkat komplikasi sinus sangat jarang terjadi, kelompok dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (imunokompromais) memiliki risiko lebih besar. 

Ragam Metode Pemeriksaan Medis

Terdapat  beberapa cara agar dokter mengetahui kasus sinusitis. Yang pertama pastinya melalui pengakuan pasien serta pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan durasi lamanya keluhan serta gejala apa saja yang telah dialami pasien. Berikut beberapa metode pemeriksaan medis yang lebih dalam. 

1. Tindakan Rinoskopi Anterior

Pemeriksaan yang menggunakan bantuan alat spekulum hidung dan cahaya lampu kepala. Tujuannya, untuk mengamati kondisi bagian depan rongga hidung serta menilai tingkat pembengkakan.

2. Endoskopi Hidung

Pemeriksaan menggunakan instrumen tabung kamera tipis yang dimasukkan ke hidung untuk visualisasi lebih rinci. Biasanya, untuk mencapai area meatus media dan zona etnoid pada kasus kronis.

3. Pemindaian CT Scan

Ini adalah pemeriksaan penunjang apabila diagnosis klinis masih meragukan dan ada kecurigaan komplikasi ke mata atau otak. Pemindaian akan menjadi peta anatomi untuk perencanaan tindakan operasi pembedahan atau untuk mengonfirmasi stadium penyakit pada kasus kronis.

4. Pemindaian MRI 

Dokter hanya akan menganjurkan pemindaian MRI jika muncul dugaan kuat bahwa infeksi telah menyebar ke mata atau otak. Hasil resolusi gambar lebih baik dan detail daripada CT Scan.

5. Uji Alergi dan Evaluasi Sistem Imun

Pada kasus infeksi kronis yang sering kali kambuh, dokter dapat menyarankan pasien menjalani tes pemeriksaan keterlibatan faktor alergi. Selain itu, prosedur pemeriksaan kadar antibodi atau imunoglobin juga sangat mungkin jika dokter mencurigai adanya masalah kelainan sistem kekebalan tubuh.

Periksa di Bumame untuk Penanganan Premium

Apabila Anda mengalami gejala rinosinusitis yang kerap kambuh, mendeteksi akar penyebabnya secara medis adalah langkah terbaik yang bisa Anda pilih. Sebagai solusi praktis, layanan kesehatan Bumame berikut ini dapat Anda peroleh:

1. Panel Tes Alergi IgE Atopy

Jenis pemeriksaan ini adalah yang paling lengkap untuk mendeteksi alergi karena menggunakan 54 alergen, sehingga kebutuhan pengecekan alergi kompleks dapat diatasi. Termasuk alergi serbuk sari tanaman khas Indonesia, tungau tropis, hewan peliharaan, hingga makanan.

2. Vaksin Pneumonia Prevenar 13  

Anda akan diberikan vaksin pneumokokus konjugat yang bisa melindungi dari 13 serotipe bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri-bakteri tersebut adalah penyebab penyakit sinusitis, pneumonia, infeksi telinga, sepsis, dan radang selaput otak (meningitis).

3. Vaksin Influenza Influvac Tetra 

Sebagai sikap pencegahan, Anda juga perlu mendapat vaksin influenza melalui layanan vaksinasi ini untuk menghindari gejala sinusitis yang berasal dari flu. Vaksin ini akan melindungi diri dari empat tipe virus influenza, yakni dua tipe A dan dua tipe B.

Tips Pencegahan Mandiri

Agar gejala sinusitis tidak sempat muncul, terdapat beberapa langkah yang sebaiknya Anda lakukan.

  • Rutin melakukan irigasi (cuci hidung) dengan larutan salin,

  • Menghindari asap rokok sepenuhnya,

  • Membatasi paparan polusi udara,

  • Mengendalikan reaksi alergi,

  • Menjaga kebersihan tangan dan area hidung,

  • Menggunakan alat pelembap udara (humidifier),

  • Melakukan perawatan dini pada masalah gigi dan lambung.

Jaga Kesehatan Anda agar Terhindar dari Sinusitis

Menjaga kesehatan rongga hidung dan sinus sebenarnya bisa Anda mulai dari kebiasaan kecil yang dapat dilakukan setiap hari di rumah. Contohnya seperti menggunakan humidifier, menjauhi asap rokok, tertib memakai masker saat berkendara, serta hindari berenang di air yang tidak higienis atau menyelam tanpa alat pelindung. 

Jangan lagi meremehkan gejala flu yang tak kunjung sembuh atau mendadak memburuk setelah sempat membaik. Tubuh kita sangat pintar dalam memberikan sinyal darurat, jadi pastikan Anda selalu peka dan tidak ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter untuk mencegah komplikasi yang berbahaya sebelum terlambat.

Lokasi Klinik Bumame

1. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

Referensi:

  1. Rhinology. (2020). European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2020.

  2. American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery. (2025). Clinical Practice Guideline: Adult Sinusitis Update.

  3. Infections of the Ears, Nose, Throat, and Sinuses. (2018). Acute Bacterial Rhinosinusitis.

  4. Laryngoscope. (2024). Association Between Smoking and Chronic Rhinosinusitis: A Systematic Review and Meta-Analysis.

  5. International Forum of Allergy & Rhinology. (2023). Does Air Pollutant Exposure Impact Disease Severity or Outcomes in Chronic Rhinosinusitis?.

  6. Clinical infectious diseases: an official publication of the Infectious Diseases Society of America. (2012). IDSA Clinical Practice Guideline for Acute Bacterial Rhinosinusitis in Children and Adults.

  7. Cureus. (2023). Orbital and Intracranial and Complications of Acute Rhinosinusitis in a Tertiary Center, Saudi Arabia.

  8. Ear, Nose & Throat Journal. (2025). Intracranial and Orbital Complications of Sinusitis: A Review of Rhinologic and Multidisciplinary Management Principles.

  9. Cochrane Database of Systematic Reviews. (2016). Saline Irrigation for Chronic Rhinosinusitis", Cochrane Database of Systematic Reviews.

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa itu sinusitis?

Sinusitis adalah kondisi peradangan pada lapisan lendir (mukosa) yang melapisi rongga sinus di sekitar hidung. Dalam dunia medis, kondisi ini juga dikenal sebagai rinosinusitis karena peradangannya umumnya melibatkan rongga hidung dan sinus secara bersamaan.

Apa penyebab utama sinusitis?

Sebagian besar sinusitis akut berawal dari infeksi virus saluran pernapasan atas. Selain itu, sinusitis juga dapat dipicu oleh infeksi bakteri, reaksi alergi, serta kelainan struktur anatomi hidung yang menghambat aliran lendir.

Apa saja gejala sinusitis yang perlu dikenali?

Gejala sinusitis meliputi hidung tersumbat, keluarnya lendir kental dari hidung atau ke tenggorokan (postnasal drip), nyeri atau tekanan pada wajah, penurunan kemampuan mencium bau, sakit kepala, batuk, kelelahan, nyeri gigi rahang atas, bau mulut, hingga demam.

Apa saja jenis sinusitis berdasarkan durasinya?

Berdasarkan durasinya, sinusitis dibagi menjadi sinusitis akut yang berlangsung kurang dari 4 minggu, subakut selama 4 hingga 12 minggu, rekuren akut yang terjadi berulang hingga empat kali atau lebih dalam setahun, serta kronis yang berlangsung lebih dari 12 minggu.

Kapan harus segera ke dokter jika mengalami sinusitis?

Segera periksa ke dokter apabila gejala tidak membaik setelah 10 hari, muncul kembali setelah sempat membaik, disertai demam tinggi dan nyeri wajah berat, terjadi gangguan pada mata atau tanda penyebaran infeksi ke otak, gejala sering kambuh, berlangsung lebih dari 12 minggu, atau dialami oleh orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Bagaimana cara mendiagnosis sinusitis?

Diagnosis sinusitis dilakukan melalui wawancara mengenai gejala dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan rinoskopi anterior, endoskopi hidung, CT scan, MRI, atau uji alergi dan evaluasi sistem imun untuk mengetahui penyebab dan tingkat keparahan penyakit.

Apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko sinusitis?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko sinusitis antara lain kebiasaan merokok, paparan polusi udara, penyakit kronis seperti asma atau GERD, gangguan sistem kekebalan tubuh, masalah gigi, serta kemasukan air saat berenang.

Bagaimana cara membantu mencegah sinusitis?

Pencegahan sinusitis dapat dilakukan dengan rutin mencuci hidung menggunakan larutan salin, menghindari asap rokok dan polusi udara, mengendalikan alergi, menjaga kebersihan tangan dan hidung, menggunakan humidifier, serta menangani masalah gigi dan lambung sejak dini.