Beberapa hari setelah demam atau mulai minum obat baru, urine tampak lebih gelap dan bagian putih mata agak kuning. Badan lemas dan wajah pucat, lalu semuanya dianggap akibat kurang tidur.
Keluhan seperti ini bisa menandakan sel darah merah hancur lebih cepat dari seharusnya, kondisi yang disebut anemia hemolitik. Penanganannya mengikuti pemicu. Bila disertai nyeri dada, pingsan, atau sesak napas berat, segera ke IGD.
Artikel ini membahas penyebab, gejala, pola hasil laboratorium yang membedakannya dari anemia kurang zat besi, serta pengobatan dan pencegahannya.
Apa Itu Anemia Hemolitik?
Sel darah merah mengangkut oksigen dengan bantuan protein bernama hemoglobin. MSD Manual menyebut sel darah merah normalnya beredar sekitar 120 hari. Penghancuran sebelum waktunya disebut hemolisis.
Kementerian Kesehatan menjelaskan anemia hemolitik sebagai anemia yang terjadi ketika sel darah merah hancur atau mati lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Menurut NHLBI, lembaga kesehatan pemerintah Amerika Serikat, penghancuran itu lebih cepat daripada kemampuan tubuh menggantinya.
Sebagian besar penghancuran terjadi di limpa dan hati, yang menyaring sel rusak atau tidak normal. Pada kasus lain, sel pecah langsung di dalam pembuluh darah.
Mengapa Sel Darah Merah Bisa Hancur Sebelum Waktunya?
Menurut Kementerian Kesehatan, anemia hemolitik bisa dialami sejak lahir karena diturunkan dari orang tua atau berkembang setelah lahir. Penyebab bawaan antara lain:
Thalassemia. Kelainan genetik ini mengganggu pembentukan hemoglobin. Penyandang thalassemia sering membutuhkan transfusi darah teratur, menurut Kemenkes.
Defisiensi G6PD. G6PD adalah enzim yang menjaga sel darah merah tetap sehat. Tanpa enzim yang cukup, sel darah merah mudah pecah saat terpapar obat tertentu, kacang-kacangan, atau infeksi.
Kelainan bentuk dan enzim lain. Kemenkes juga mencatat anemia sel sabit, sferositosis, ovalositosis, dan kekurangan enzim piruvat kinase. Sel yang bentuknya tidak normal lebih mudah disingkirkan limpa.
Penyebab yang didapat antara lain:
Reaksi sistem kekebalan. Pada jenis autoimun, tubuh membuat antibodi yang menyerang sel darah merahnya sendiri. MSD Manual menyebut kondisi ini bisa muncul bersama lupus, limfoma, atau akibat obat tertentu.
Infeksi. Parasit Plasmodium penyebab malaria masuk ke sel darah merah lalu merusaknya. Pada defisiensi G6PD, infeksi virus atau bakteri juga bisa memicu penghancuran mendadak.
Obat, zat beracun, dan transfusi. Kemenkes mencatat efek samping obat, keracunan arsenik atau timah, serta transfusi darah dari golongan berbeda. Kanker juga masuk dalam daftar penyebab tersebut.
Risiko lebih besar pada orang dengan riwayat keluarga kelainan darah. Menurut MSD Manual, defisiensi G6PD lebih banyak dialami laki-laki dan sering ditemukan pada orang berleluhur Asia, Afrika, atau Mediterania.
Gejala Anemia Hemolitik yang Sering Muncul
Sebagian keluhan mirip anemia jenis lain, sementara sebagian lagi khas untuk pemecahan sel darah merah.
1. Pucat, Lemas, dan Pusing
Kemenkes dan MSD Manual mencatat kulit pucat, cepat lelah, dan pusing sebagai gejala anemia hemolitik. Keluhan ini mirip ciri-ciri anemia pada umumnya, sehingga jenisnya baru diketahui lewat pemeriksaan darah. Sesak saat aktivitas ringan juga perlu diperiksakan.
2. Kulit dan Bagian Putih Mata Menguning
Penghancuran sel darah merah menaikkan kadar bilirubin, zat kuning hasil pemecahan hemoglobin. Akibatnya, kulit dan bagian putih mata tampak kuning seperti pada penyakit kuning. Warna kuning yang datang bersama pucat perlu dinilai dokter.
3. Urine Berwarna Gelap
Bila sel pecah di dalam pembuluh darah, hemoglobin bisa terbuang lewat urine sehingga warnanya merah atau cokelat kemerahan. Perubahan warna urine seperti ini sebaiknya segera dikonsultasikan.
4. Demam serta Nyeri Punggung atau Perut
Kemenkes mencatat demam sebagai salah satu gejala. Pada episode defisiensi G6PD, MSD Manual menyebut sebagian orang juga merasakan nyeri punggung atau perut.
5. Limpa atau Hati Membesar
NHLBI menyebut limpa atau hati bisa lebih besar dari normal. Kedua organ ini bertugas menyaring sel darah merah yang rusak. Kemenkes juga mencatat pembesaran hati dan limpa pada penyandang thalassemia.
Dampak Jangka Panjang pada Jantung dan Kantong Empedu
Komplikasinya mirip bahaya anemia berat pada umumnya, ditambah dampak pemecahan sel yang terus-menerus:
Gangguan jantung. NHLBI menyebut anemia hemolitik berat yang tidak ditangani bisa memicu irama jantung tidak teratur dan jantung membesar. Pada tahap lanjut, kondisi ini bisa berkembang menjadi gagal jantung.
Batu empedu. MSD Manual menyebut pemecahan bilirubin yang terus berlangsung kadang berujung pada batu empedu. Risiko ini lebih relevan pada penghancuran jangka panjang.
Anemia Hemolitik atau Kurang Zat Besi, Apa Bedanya?
Banyak orang langsung mengaitkan anemia dengan anemia defisiensi besi. Masalah dasar keduanya berbeda. Pada anemia aplastik, sumber masalahnya ada di sumsum tulang.
Salah satu petunjuk dokter adalah hitung retikulosit, yaitu sel darah merah muda yang baru dilepas sumsum tulang. MedlinePlus merangkum polanya seperti berikut.
Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.
Pola ini punya pengecualian. MSD Manual menyebut hitung retikulosit pada sebagian pasien tidak naik karena gangguan ginjal, infeksi, atau gangguan sumsum tulang, sehingga dokter membacanya bersama hasil lain.
Kapan Perlu ke Dokter dan Kapan Harus ke IGD?
Segera ke IGD bila muncul nyeri dada, pingsan, sesak napas berat, atau demam menggigil dengan nyeri punggung dan perut. MSD Manual menyebut keluhan ini bisa menyertai penghancuran yang berat dan cepat.
Jadwalkan konsultasi bila Anda mengalami hal berikut:
Kulit atau mata menguning disertai urine gelap. Kombinasi ini perlu diperiksa untuk mencari sumbernya. Ceritakan juga obat atau infeksi yang baru dialami.
Pucat dan lemas yang menetap. Keluhan berminggu-minggu perlu dicek lewat tes darah. Hasil darah lengkap yang tidak normal juga perlu dibahas dengan dokter.
Riwayat keluarga kelainan darah. Riwayat ini membantu dokter memilih pemeriksaan. Bayi yang tampak kuning dalam keluarga seperti ini perlu diperiksakan ke dokter anak.
Cara Dokter Memastikan Sel Darah Merah Hancur Lebih Cepat
NHLBI menyebut diagnosis dimulai dari pemeriksaan fisik dan tes darah, antara lain:
Darah lengkap. Tes darah lengkap menunjukkan kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah. Kemenkes mencantumkannya sebagai pemeriksaan anemia hemolitik.
Hapusan darah tepi dan hitung retikulosit. MSD Manual menyebut keduanya pemeriksaan utama untuk memastikan penghancuran sel darah merah. Hapusan darah memperlihatkan bentuk sel di bawah mikroskop.
LDH, bilirubin, dan haptoglobin. LDH dan bilirubin indirek yang naik serta haptoglobin yang turun mendukung dugaan penghancuran. Ketiganya menjadi petunjuk tambahan.
Tes Coombs. Tes ini mencari antibodi atau protein komplemen yang menempel pada sel darah merah. Hasil positif mengarah ke jenis autoimun.
Pemeriksaan lanjutan. Sesuai dugaan penyebab, dokter bisa meminta tes enzim G6PD atau tes urine. Pemeriksaan sumsum tulang dan tes genetik dipakai pada kasus tertentu.
Hitung Sel Darah Merah Muda sebagai Langkah Lanjutan
Saat sel darah merah hancur lebih cepat, sumsum tulang yang sehat merespons dengan melepas lebih banyak retikulosit. MedlinePlus menyebut sel muda ini matang dalam satu sampai dua hari, sehingga jumlahnya menggambarkan kerja sumsum tulang saat ini.
Bila dokter menyarankannya, pemeriksaan Retikulosit di Bumame menghitung sel darah merah yang belum matang untuk membantu menilai produksi sel darah merah. Sampelnya darah, tanpa puasa, dan tersedia lewat Walk In maupun Home Care. Informasikan obat, vitamin, dan suplemen rutin Anda, dan jangan menghentikan obat tanpa arahan tenaga medis.
Hasilnya keluar dalam lebih dari 1x24 jam. Untuk pertanyaan seputar pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Pengobatan Anemia Hemolitik Mengikuti Penyebabnya
Pengobatan disesuaikan dengan jenis dan beratnya kondisi, sejalan dengan prinsip perawatan anemia sesuai jenisnya. Langkahnya antara lain:
Menghentikan pemicu. Pada defisiensi G6PD, obat atau zat pemicu dihentikan dan dihindari. MSD Manual menyebut banyak episode mereda tanpa pengobatan khusus sambil menunggu sel darah merah kembali normal.
Menekan sistem kekebalan. Pada jenis autoimun tipe hangat, obat golongan kortikosteroid umumnya menjadi pilihan awal. Kemenkes juga mencatat obat imunosupresan.
Transfusi darah dan asam folat. Transfusi menambah sel darah merah saat anemia berat. MSD Manual menyebut penghancuran jangka panjang membutuhkan tambahan folat, yang diberikan sesuai arahan dokter.
Operasi pengangkatan limpa. Splenektomi dipertimbangkan bila limpa menjadi tempat utama penghancuran. Tindakan ini juga menjadi pilihan bila pengobatan awal tidak berhasil.
Langkah Pencegahan Sesuai Jenis dan Pemicunya
Kemenkes menyebut pencegahan anemia hemolitik bergantung pada penyebabnya:
Ketahui status G6PD. Kemenkes memasukkan skrining G6PD ke dalam skrining bayi baru lahir. Orang dengan defisiensi G6PD perlu menghindari obat pemicu dan kacang fava, serta menyampaikan statusnya sebelum menerima obat.
Konseling sebelum menikah. Konseling genetik sebelum menikah atau hamil membantu pasangan memahami risiko thalassemia. Langkah ini penting bila ada riwayat kelainan darah di keluarga.
Catat obat yang pernah memicu. Pada jenis akibat obat, Kemenkes menyebut pencegahannya dengan menghindari obat tersebut. Tunjukkan catatan ini setiap kali berobat.
Jaga tubuh tetap hangat pada jenis antibodi dingin. Antibodi pada jenis ini aktif di bawah suhu tubuh. MSD Manual menyebut pengelolaannya dengan menghindari keadaan pemicu.
Temukan Pemicunya dan Tangani Bersama Dokter
Anemia hemolitik bisa berupa episode singkat setelah infeksi atau obat, bisa juga kelainan bawaan yang dipantau jangka panjang. Mengetahui penyebabnya membantu dokter memilih pengobatan, dan deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.
Bila ada pertanyaan seputar pemeriksaan darah, chat CS Bumame.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Anemia Hemolitik.
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Skrining G6PD.
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Thalassemia.
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), NIH. Anemia - Hemolytic Anemia.
MedlinePlus, National Library of Medicine. Reticulocyte Count.
Gerber GF (MSD Manual Professional Version). Overview of Hemolytic Anemia.
Gerber GF (MSD Manual Consumer Version). Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD) Deficiency.
Gerber GF (MSD Manual Consumer Version). Autoimmune Hemolytic Anemia.
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Apakah anemia hemolitik bisa sembuh?
Peluang sembuh bergantung pada penyebabnya. Episode akibat defisiensi G6PD umumnya mereda setelah pemicunya dihentikan, sedangkan jenis bawaan seperti thalassemia sering memerlukan penanganan jangka panjang.
Apa beda anemia hemolitik dan anemia kurang zat besi?
Anemia hemolitik terjadi karena sel darah merah hancur lebih cepat, sedangkan anemia defisiensi besi disebabkan oleh kurangnya zat besi untuk membuat hemoglobin. Hitung retikulosit umumnya tinggi pada anemia hemolitik dan rendah pada anemia defisiensi besi.
Kenapa urine bisa berwarna gelap saat anemia hemolitik?
Saat sel darah merah pecah di dalam pembuluh darah, hemoglobin bisa keluar melalui urine sehingga warnanya menjadi merah atau cokelat kemerahan. Peningkatan bilirubin juga dapat membuat kulit dan bagian putih mata menguning.
Apakah penderita defisiensi G6PD harus menghindari obat tertentu?
Ya. Obat tertentu, kacang fava, dan infeksi dapat memicu penghancuran sel darah merah pada penderita defisiensi G6PD. Sampaikan kondisi ini kepada dokter atau apoteker sebelum menggunakan obat.
Tes apa saja untuk memastikan anemia hemolitik?
Dokter biasanya memulai dengan pemeriksaan darah lengkap, hapusan darah tepi, dan hitung retikulosit. Pemeriksaan bilirubin, LDH, haptoglobin, serta tes Coombs dapat ditambahkan sesuai dugaan penyebabnya.
