Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Emboli Paru: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Emboli Paru: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan | Bumame

SBATips Kesehatan

Ketika melakukan perjalanan jauh, terkadang kaki Anda merasa pegal, kaku, bahkan bengkak. Duduk yang terlalu lama dan jarang bergerak rupanya memang berpotensi membentuk bekuan darah di pembuluh darah kaki. Gumpalan darah tersebut jika terlepas dapat menyumbat aliran darah di paru-paru, yang dikenal sebagai emboli paru.

Meski terdengar mengkhawatirkan, masih banyak orang yang sebenarnya belum paham apa itu emboli paru dan bagaimana dampaknya bagi tubuh. Karena itu, penting bagi Anda untuk mengenali gejala emboli paru sejak dini, agar Anda atau keluarga yang mengalaminya bisa segera mendapatkan penanganan medis secara tepat.

Apa Itu Emboli Paru?

Emboli paru adalah penyumbatan yang terjadi pada arteri pulmonalis di paru-paru akibat adanya gumpalan atau bekuan darah. Arteri pulmonalis sendiri merupakan satu-satunya jenis pembuluh darah di dalam paru yang bertugas mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru.

Di dalam sirkulasi tubuh yang sehat, darah mampu mengalir tanpa hambatan dari jantung ke seluruh organ tubuh melalui arteri, kemudian mengalir kembali ke jantung melalui vena. Namun, jika terjadi gangguan pada mekanisme pembekuan darah, maka dapat memicu terbentuknya gumpalan yang menghambat aliran darah di suatu organ.

Sebagian besar kasus emboli paru, bekuan darah awalnya justru terbentuk di bagian tubuh lain, umumnya di area kaki. Selanjutnya, bekuan darah dapat terlepas dan ikut mengalir mengikuti sirkulasi darah yang akhirnya tersangkut di pembuluh darah arteri paru-paru.

Meski ukuran gumpalan darah kebanyakan kecil, namun sudah cukup menambah beban kerja jantung. Akibatnya, tekanan darah pada arteri paru-paru meningkat. Sementara, apabila ukuran gumpalan cukup besar atau menghambat beberapa titik pembuluh sekaligus, maka paru-paru dapat mengalami kerusakan.

Gejala Emboli Paru

Gejala atau keluhan pada setiap orang yang mengalami emboli paru bervariasi, tergantung ukuran bekuan darah dan jumlah titik pembuluh darah yang terhambat. Berikut beberapa gejala emboli paru yang paling sering dialami.

  • Sesak napas: Rasa sesak dapat muncul tiba-tiba, bahkan saat sedang berbaring. Apalagi jika sedang melakukan aktivitas fisik, napas akan terasa semakin berat.

  • Nyeri dada: Nyeri dada tajam seperti tertusuk sering kali muncul ketika menarik napas dalam-dalam, batuk, tertawa, atau membungkuk. Gejala ini juga dapat disertai dengan demam.

  • Batuk tidak biasa: Biasanya berupa batuk kering, namun pada kondisi yang lebih parah bisa juga muncul batuk dengan dahak berdarah.

  • Jantung berdebar kencang: Detak jantung bergerak cepat dan tidak teratur disebabkan oleh jantung yang harus bekerja ekstra dalam memompa darah, agar mampu melewati penyumbatan.

  • Pusing hingga pingsan: Berkurangnya pasokan oksigen dalam darah ke otak, dapat menyebabkan pusing, pandangan kabur, hingga pingsan. 

  • Nyeri pada kaki: Gejala ini timbul jika penyebab berasal dari gumpalan darah di kaki, sehingga muncul rasa nyeri, kemerahan, atau pembengkakan pada kaki.

Penyebab dan Faktor Risiko Emboli Paru

Penyebab utama dari emboli paru adalah gumpalan darah yang tersangkut di pembuluh darah paru-paru (arteri pulmonalis). Munculnya gumpalan ini dipicu oleh trombosis vena dalam atau Deep Vein Thrombosis (DVT). DVT terjadi akibat terbentuknya bekuan darah di pembuluh vena dalam, seperti di tungkai kaki, paha, atau betis. 

Selain karena DVT, ada beberapa faktor risiko lain yang dapat meningkatkan potensi seseorang terserang emboli paru.

  • Kondisi medis kronis: Seseorang yang memiliki penyakit kronis seperti kanker, gangguan jantung, ginjal, riwayat genetik darah sulit membeku, atau varises, dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah.

  • Tindakan pembedahan: Gumpalan darah juga dapat terkumpul di sekitar lokasi pembedahan, terutama setelah melakukan operasi tulang atau sendi. Misalnya di bagian lutut, pinggul, atau tulang belakang.

  • Perubahan kadar hormon: Kadar hormon estrogen tinggi yang dapat membuat darah mudah menggumpal. Biasanya terjadi saat kehamilan, penggunaan kontrasepsi hormonal, atau terapi pengganti hormon.

  • Usia: Semakin tua usia seseorang, terutama 60 tahun ke atas, akan semakin tinggi pula risiko terkena emboli paru.

  • Gaya hidup tidak sehat: Memiliki kebiasaan merokok, makan makanan yang tidak sehat, dan jarang olahraga, hingga mengalami obesitas.

  • Imobilisasi berkepanjangan: Duduk lama di kendaraan sempit saat perjalanan jauh, atau berbaring lama pascaoperasi, membuat aliran darah di kaki menjadi lambat. Sehingga berisiko mengalami pembekuan darah.

Apakah Emboli Paru Bisa Sembuh?

Penyumbatan di dalam arteri paru-paru secara medis dapat berpotensi membahayakan jiwa jika diabaikan. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena peluang sembuhnya tinggi apabila mendapat penanganan medis yang tepat dan cepat. Pasien akan mendapatkan terapi di rumah sakit atau pengobatan di rumah hingga pulih kembali.

Pada umumnya, pasien harus mengonsumsi obat pengencer darah secara rutin selama beberapa bulan atau sesuai petunjuk dokter. Obat tersebut dapat memecah gumpalan darah dan mencegah terbentuk kembali. Proses pemulihan setiap pasien berbeda, sehingga wajib disiplin dalam menjalani terapi dan kontrol kesehatan secara berkala.

Diagnosis Lewat Tes D-Dimer dan MCU Paru

Untuk mendapatkan diagnosis secara pasti dari keluhan yang Anda alami seperti pada penjelasan di atas, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan medis secara menyeluruh. Pemeriksaannya berupa tes darah di laboratorium dan pemindaian tubuh dengan peralatan medis canggih. Tahapan diagnosisnya antara lain.

  • Tes darah D-Dimer: Pemeriksaan ini berguna untuk mengukur kadar protein D-Dimer saat gumpalan darah larut di dalam tubuh. Jika kadarnya tinggi, dapat menjadi tanda munculnya emboli paru, sehingga perlu tes lanjutan untuk mengetahui lokasi pasti gumpalan darah.

  • CT Pulmonary Angiography (CTPA): Pemindaian bagian dalam paru-paru melalui alat ini menggunakan bantuan zat kontras. Fungsinya agar gambaran pembuluh darah arteri dalam paru-paru dapat terlihat jelas. Sehingga titik penyumbatannya terdeteksi. 

  • Ultrasonografi (USG) Doppler: Pemeriksaan USG ini menggunakan gelombang suara yang dipancarkan ke area kaki, guna mengetahui ada atau tidaknya gumpalan darah.

  • Elektrokardiogram (EKG) dan rontgen dada: Untuk mendeteksi penyebab nyeri dada yang dirasakan, apakah berasal dari gangguan jantung atau adanya hambatan aliran darah di paru-paru.

Selain diagnosis di atas, bagi Anda yang memiliki faktor risiko emboli paru, melakukan tindakan pencegahan sejak dini merupakan langkah yang tepat. Menjalankan evaluasi kesehatan paru-paru secara menyeluruh melalui paket MCU paru premium dari Bumame dapat menjadi solusi untuk memantau fungsi organ pernapasan Anda.

Paket skrining paru-paru dari Bumame terdiri dari, Ishihara Test, Rontgen Thorax, Spirometri, CRP Kualitatif, IFN-Gamma Release Assay (IGRA) Quantiferon, dan Lung Clear. Dengan pemeriksaan secara berkala, akan membantu dokter mengetahui gambaran awal kesehatan paru-paru Anda sebelum timbul komplikasi yang berat.

Pengobatan Emboli Paru

Setelah terdeteksi bahwa gejala yang timbul benar-benar akibat serangan emboli paru, maka tim dokter akan memberikan metode pengobatan yang cocok dengan kondisi tubuh pasien. Penanganan medis ini berfokus pada kestabilan aliran darah di pembuluh darah paru dan mencegah terbentuknya gumpalan darah. Berikut pengobatannya! 

  • Obat antikoagulan (pengencer darah): Terapi ini sering digunakan, yaitu dengan obat heparin dan warfarin. Selain itu bisa juga konsumsi obat antikoagulan oral, seperti dabigatran, rivaroxaban, apixaban, dan edoxaban. Obat ini dapat membantu enzim alami tubuh untuk melarutkan gumpalan darah.

  • Terapi fibrinolitik: Terapi ini berfungsi memecah gumpalan darah secara cepat, dengan memberikan obat secara langsung melalui pembuluh darah. Biasanya diberikan pada kasus penyumbatan darah yang berat yang dapat mengancam jiwa. Jadi, perlu pengawasan ketat karena berisiko mengalami pendarahan.

  • Trombektomi: Apabila ukuran gumpalan darah besar, maka dokter melakukan trombektomi, yaitu dengan cara memasukkan selang kateter khusus ke dalam pembuluh darah. Lalu, selang tersebut menyedot gumpalan keluar atau dengan melarutkan obat trombolitik langsung, agar bekuan darah hancur.

  • Pemasangan filter vena cava: Khusus untuk pasien yang tidak memungkinkan mengonsumsi obat pengencer darah karena memiliki risiko pendarahan. Cara yang tepat adalah dengan memasang filter di dalam pembuluh vena. Filter akan menangkap gumpalan darah yang melewati sebelum mencapai paru-paru.

Kapan Harus ke IGD?

Emboli paru dapat berkembang menjadi kondisi gawat darurat apabila menunda untuk mendapatkan penanganan medis. Sebab, penyumbatan tersebut berpengaruh pada ketersediaan pasokan oksigen ke organ-organ vital lain yang akan berdampak pada kerusakan jaringan permanen.

Segera kunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat apabila Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang berbahaya. Meliputi, sesak napas berat, nyeri dada tajam, batuk berdarah, denyut nadi cepat, keringat dingin, pucat, pusing hebat, dan pingsan mendadak.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Kemenkes. (2022). Emboli Paru

  2. Mayo Clinic. (2024). Pulmonary embolism: Symptoms and Causes.

  3. Europian Lung Foundation (ELF). (2019). Pulmonary Embolism.

  4. Johns Hopkins Medicine. (2023). Pulmonary Embolism.

  5. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). (2024). What Is Pulmonary Embolism?

  6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). What is Venous Thromboembolism?

  7. National Library of Medicine. (2022). Drug-Drug Interactions of Direct Oral Anticoagulants (DOACs): From Pharmacological to Clinical Practice.

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apa itu emboli paru?
Emboli paru adalah penyumbatan pada arteri pulmonalis di paru-paru akibat gumpalan atau bekuan darah.
Apa saja gejala emboli paru?
Gejalanya dapat berupa sesak napas tiba-tiba, nyeri dada, batuk, jantung berdebar, pusing hingga pingsan, serta nyeri atau pembengkakan pada kaki.
Apa penyebab utama emboli paru?
Penyebab utamanya adalah gumpalan darah yang menyumbat arteri paru, umumnya berasal dari trombosis vena dalam atau DVT di kaki.
Apakah emboli paru bisa sembuh?
Emboli paru memiliki peluang sembuh yang tinggi jika mendapatkan penanganan medis secara tepat dan cepat. Pemulihan setiap pasien dapat berbeda.
Kapan penderita emboli paru harus ke IGD?
Segera ke IGD jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada tajam, batuk berdarah, denyut nadi cepat, pusing hebat, atau pingsan mendadak.