Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Adenomiosis adalah: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Adenomiosis adalah: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

SBATips Kesehatan

Rasa nyeri hebat dan volume pendarahan haid yang sangat banyak acap kali dianggap sebagai hal biasa. Padahal, kram perut dan darah haid berlebih dapat menjadi indikasi gangguan organ reproduksi. Adenomiosis adalah salah satu di antara kemungkinan tersebut.

Apa itu Adenomiosis?

Adenomiosis adalah kondisi saat jaringan yang semestinya menjadi lapisan bagian dalam rahim (endometrium) justru tumbuh menembus ke dalam dinding otot rahim (miometrium). Akibatnya, dinding rahim mengalami penebalan dan pembengkakan, mencapai 2–3 kali lipat dari ukuran normalnya.

Banyak yang menganggap kondisi ini sama dengan endometriosis karena sama-sama terjadi pertumbuhan jaringan di luar jalur yang semestinya. Padahal, keduanya berbeda dari aspek lokasi pertumbuhannya.

Pada kasus endometriosis, jaringan tumbuh di luar rahim seperti ovarium atau saluran tuba (tuba fallopi). Endometriosis juga tidak mengakibatkan pembengkakan pada rahim. Sementara untuk gejala dan komplikasinya dengan adenomiosis sangat mirip.

Baik adenomiosis maupun endometriosis sama-sama tidak mengancam jiwa, tapi menurunkan tingkat kesuburan wanita secara signifikan karena menghalangi proses pembuahan sel telur. Sebab itu, keduanya memerlukan penanganan medis yang akurat. Terutama bagi Anda yang hendak merencanakan program kehamilan.

Penyebab Adenomiosis

Secara medis, penyebab utama adenomiosis belum disimpulkan secara pasti. Namun, para ahli menyebutkan beberapa dugaan yang menjadi pemicu adenomiosis adalah sebagai berikut.

  • Jaringan dalam rahim (endometrium) tumbuh terlalu invasif hingga keluar jalur saat mendapati celah luka pada rahim. Biasanya, luka tersebut akibat bekas tindakan operasi.

  • Peradangan yang terjadi pada rahim setelah proses persalinan. Kondisi tersebut merusak batas alami antara lapisan dalam dan otot rahim.

  • Kelainan pembentukan jaringan sejak pasien masih dalam kandungan dan tidak mengalami perubahan hingga dewasa.

  • Terdapat sel punca (stem cells) dalam dinding otot rahim yang kemudian bertransformasi menjadi sel-sel endometrium dan memicu penebalan jaringan.

Meskipun bersifat spekulasi, tetapi penyebab-penyebab di atas merupakan kesimpulan dari para ahli di bidang kesehatan reproduksi. Sebab itu, tingkat akurasi dan pertanggungjawaban datanya tinggi dan bisa menjadi acuan medis terkait adenomiosis.

Faktor Risiko Adenomiosis

Selain beberapa penyebab di atas, faktor-faktor yang meningkatkan peluang terkena adenomiosis adalah:

  • Wanita berusia 30–50 tahun atau menjelang menopause, tepatnya yang berada di fase perimenopause.

  • Kurangnya kadar hormon estrogen karena stabilitas jaringan lapisan dalam rahim (endometrium) sangat bergantung pada hormon tersebut.

  • Perempuan yang sudah pernah melahirkan, karena kemungkinan memiliki celah luka yang menjadi jalur lapisan jaringan dalam ini menerobos ke dinding rahim.

  • Memiliki riwayat operasi pada rahim, seperti caesar, kuretase, ataupun pengangkatan tumor jinak yang meninggalkan bekas luka.

Gejala Adenomiosis

Adenomiosis memang memiliki banyak kemiripan dengan gangguan organ reproduksi lainnya. Bahkan, terkadang hanya dianggap sebagai reaksi normal yang terjadi saat periode menstruasi. Padahal, adenomiosis adalah kondisi medis khusus yang memiliki ciri-ciri cukup jelas seperti berikut.

  • Kram perut atau nyeri haid parah (dismenore).

  • Volume pendarahan sangat banyak dan durasi haid lebih panjang (menorrhagia).

  • Rasa nyeri pada panggul yang terus berlangsung meskipun sudah mengonsumsi obat dan mendapat pijatan.

  • Organ intim terasa sakit saat berhubungan seksual.

  • Perut bagian bawah terasa lebih besar dan kencang atau tertekan akibat pembengkakan yang terjadi.

  • Munculnya gumpalan darah berukuran besar saat menstruasi atau bercak darah di luar siklus haid.

Diagnosis Adenomiosis

Meskipun gejalanya sudah cukup jelas, dokter tetap perlu melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosis secara medis. Berikut ini penjelasannya.

  • Wawancara medis antara dokter dengan pasien yang berfokus pada riwayat siklus menstruasi, tingkat keparahan nyeri, pendarahan, serta riwayat kehamilan dan operasi panggul.

  • Pemeriksaan panggul untuk menilai apakah rahim mengalami pembesaran, terasa melunak, dan terasa nyeri atau tidak.

  • USG transvaginal untuk mendapatkan gambaran visual mengenai ketebalan dan pola dinding otot rahim.

  • MRI untuk membedakan adenomiosis dengan penyakit lain seperti kanker rahim atau tumor jinak (miom).

Jika rangkaian pemeriksaan sebelumnya masih menyisakan keraguan, maka dokter akan melakukan tindakan biopsi. Pada tindakan ini, dokter akan mengambil sampel kecil jaringan rahim untuk pemeriksaan laboratorium guna memastikan jenis gangguan organ reproduksi dari strukturnya.

Komplikasi Adenomiosis

Ketika kondisi sudah terdiagnosis pasti tapi tidak lekas mendapatkan penanganan yang tepat, maka terdapat risiko terjadinya komplikasi. Jenis komplikasi adenomiosis adalah:

  • Kekurangan sel darah merah yang menyebabkan tubuh jadi lemas, pucat, dan sakit kepala. Pada kondisi berat, bisa menyebabkan sesak napas juga;

  • Ruang gerak lebih terbatas akibat rasa sakit yang tidak kunjung reda, padahal sudah mengonsumsi pereda nyeri. Kondisi ini lambat laun memicu stres dan gangguan tidur yang otomatis membuat produktivitas menurun drastisn serta

  • Risiko keguguran berulang akibat ketidakstabilan struktur otot rahim, terlebih di trimester pertama kehamilan yang sangat rentan.

Pengobatan Adenomiosis

Tentu, Anda tidak ingin menghadapi risiko komplikasi tersebut, bukan? Sebab itu, jangan ragu untuk segera mendapatkan pengobatan. Terlebih, terapi medis untuk adenomiosis tidak terlalu berbeda dengan pengobatan lainnya.

  • Pemberian obat pereda nyeri, seperti ibuprofen, yang dapat mengurangi pembengkakan, sehingga kram perut perlahan mereda.

  • Konsumsi obat asam traneksamat yang berguna untuk mengurangi volume perdarahan menstruasi yang berlebihan.

  • Terapi hormonal melalui pil KB, suntik progestin, atau pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD hormonal). Langkah ini membantu menipiskan lapisan endometrium sehingga nyeri dan pendarahan dapat berkurang signifikan.

Secara teknis, pengobatan adenomiosis secara medis tidak bisa menyembuhkan total. Sebab, jaringan yang bermasalah berada di dalam dinding rahim. Solusinya hanya dengan operasi pengangkatan rahim. Namun, dokter bisa tidak menyarankannya, terutama jika pasien masih dalam usia produktif.

Meskipun demikian, bukan berarti pengobatannya menjadi sia-sia, karena tetap memberikan manfaat. Mulai dari mengurangi rasa nyeri sehingga Anda dapat beraktivitas seperti biasa, hingga menjaga peluang kehamilan hingga melahirkan tetap tinggi.

Cara Mencegah Adenomiosis

Merasa cemas bila mengalami kondisi adenomiosis ini? Tenang saja, peluang pencegahan agar tidak menjadi salah satu pasiennya masih terbuka luas. Kuncinya adalah menjaga kesehatan organ reproduksi utama melalui cara-cara berikut.

  • Mempertahankan berat badan ideal agar kadar hormon estrogen dalam tubuh tetap seimbang.

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang tinggi serat, vitamin, dan mengandung zat antioksidan.

  • Rutin berolahraga, misalnya jogging, untuk melancarkan sirkulasi darah di area panggul.

  • Melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala ke dokter ahli supaya peluang terjadinya penyakit dapat terdeteksi dengan cepat.

Jaga Kesehatan Organ Reproduksi

Pemeriksaan kesehatan reproduksi yang dimaksud tidak lain adalah layanan tes kesuburan wanita dari Bumame. Skrining kesehatan ini akan memeriksa kadar hormon dalam tubuh Anda secara menyeluruh. Mulai dari pemeriksaan estrogen total, progesteron, hingga prolaktin.

Manfaat pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kesehatan siklus menstruasi, tingkat kesuburan, serta produksi ASI. Jadi, tidak hanya dapat mendeteksi dini masalah hormon estrogen yang dapat menyebabkan adenomiosis, tapi juga cocok bagi Anda yang tengah merencanakan kehamilan.

Kapan Harus ke Dokter?

Adenomiosis adalah gangguan reproduksi yang harus ditangani secara medis. Namun, pada beberapa kondisi, urgensi untuk segera dikonsultasikan dengan dokter dapat meningkat, seperti:

  • Obat pereda nyeri yang sudah dikonsumsi selama minimal 3 hari tidak mengurangi rasa nyeri atau kram haid sama sekali;

  • Pendarahan deras saat menstruasi hingga mengharuskan Anda mengganti pembalut setiap 1 jam sekali. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena berisiko menyebabkan anemia akut;

  • Nyeri panggul yang persisten, bahkan semakin parah; serta

  • Tubuh terasa sangat lemas, sakit kepala sampai berkunang-kunang, dan sesak napas berat.

Pentingnya Menjaga Kesehatan Organ Reproduksi

Rasa nyeri atau kram hebat, siklus yang berlangsung lama, hingga tubuh seolah tidak bertenaga saat menstruasi bisa jadi merupakan gejala adenomiosis. Kenali gejala-gejala tersebut sejak dini dan konsultasikan dengan dokter agar segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Tidak perlu menunggu sampai gejala berubah menjadi komplikasi akibat dibiarkan terlalu lama. Bila perlu, lakukan pemeriksaan kesehatan rutin agar kondisi tubuh terpantau secara berkata dan dapat mencegah berbagai penyakit, termasuk gangguan reproduksi muncul.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. WebMD — Differences Between Endometriosis and Adenomyosis

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Adenomiosis

  3. Siloam Hospitals — Adenomiosis: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

  4. Mayo Clinic — Adenomyosis: Symptoms and Causes

  5. National Library of Medicine — Adenomyosis: Epidemiology, Risk Factors, Clinical Phenotype and Surgical and Interventional Alternatives to Hysterectomy

  6. Mandaya Hospital Group — Mengenal Adenomiosis: Penyebab, Gejala, hingga Penanganannya dengan HIFU di RS Mandaya Puri

  7. Murni Teguh Hospitals — Adenomiosis

  8. Ciputra Hospital — Penyebab Adenomiosis, Gejala, dan Cara Mengatasi

  9. Cleveland Clinic — Adenomyosis

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apa itu adenomiosis?

Adenomiosis adalah kondisi ketika jaringan yang biasanya melapisi bagian dalam rahim tumbuh ke dalam dinding otot rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan penebalan rahim, nyeri haid, dan perdarahan menstruasi yang berlebihan.

Apa saja gejala adenomiosis yang perlu diwaspadai?

Gejala adenomiosis meliputi nyeri haid berat, perdarahan menstruasi berlebihan atau berkepanjangan, nyeri panggul, nyeri saat berhubungan seksual, perut bagian bawah terasa membesar, serta keluarnya gumpalan darah saat menstruasi.

Apa perbedaan adenomiosis dan endometriosis?

Adenomiosis terjadi ketika jaringan endometrium tumbuh ke dalam dinding otot rahim. Sementara itu, endometriosis terjadi ketika jaringan serupa tumbuh di luar rahim, misalnya pada ovarium atau saluran tuba.

Bagaimana cara mengobati adenomiosis?

Pengobatan adenomiosis dapat mencakup obat pereda nyeri, asam traneksamat untuk mengurangi perdarahan, dan terapi hormonal. Pilihan penanganan ditentukan dokter berdasarkan gejala, kondisi kesehatan, dan rencana kehamilan pasien.

Apakah wanita dengan adenomiosis masih bisa hamil?

Wanita dengan adenomiosis masih mungkin hamil, tetapi kondisi ini dapat berkaitan dengan masalah kesuburan dan risiko komplikasi kehamilan. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengevaluasi kondisi rahim dan merencanakan kehamilan dengan tepat.