Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Apa Itu Disleksia: Ciri, Penyebab, dan Penanganan
Kembali ke Artikel & Berita

Apa Itu Disleksia: Ciri, Penyebab, dan Penanganan

SBAOthers

Banyak orang tua mengira bahwa kebingungan anak saat membaca dan mengeja disebabkan oleh kurangnya fokus saat belajar. Padahal, hal tersebut bisa menjadi indikasi awal disleksia. Lantas, apa itu disleksia dan bagaimana cara mengelolanya agar anak tetap mampu untuk berkembang secara optimal? Berikut penjelasannya!

Apa Itu Disleksia?

Disleksia adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam mengenali kata secara akurat dan lancar, mengeja, serta menghubungkan huruf dengan bunyi bahasa. Hal ini dapat membuat aktivitas yang bagi sebagian anak terasa sederhana, seperti membaca sebuah paragraf atau menuliskan kata yang didengar, menjadi sulit.

Pemahaman mengenai apa itu disleksia berfokus pada adanya perbedaan cara otak dalam memproses bahasa dan informasi tertulis. Kondisi ini murni berkaitan dengan saraf dan sama sekali bukan akibat pola asuh yang salah atau kurangnya perhatian. 

Meskipun aktivitas mengeja terasa menantang, anak dengan disleksia tetap memiliki keinginan belajar yang tinggi. Melalui dukungan yang tepat, proses tumbuh kembang anak dapat menjadi lebih optimal.

Setiap anak dapat menunjukkan pola kesulitan yang berbeda. Ada yang paling terlihat kesulitan membaca, sementara yang lain lebih banyak mengalami masalah dalam mengeja, menulis, atau mengingat urutan informasi.

Karena itu, ketika anak mengalami kesulitan belajar, sebaiknya jangan terburu-buru memberikan label seperti "malas" atau "tidak mau berusaha". Bisa jadi anak memang membutuhkan pendekatan belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Penyebab Disleksia

Sampai saat ini, disleksia dipahami sebagai kondisi yang berkaitan dengan cara otak memproses bahasa. Pada anak dengan disleksia, proses menghubungkan simbol tertulis dengan bunyi bahasa dapat berlangsung dengan cara yang berbeda.

Misalnya, ketika melihat sebuah kata, otak perlu mengenali huruf, menghubungkan huruf dengan bunyinya, kemudian menggabungkan bunyi tersebut menjadi sebuah kata yang bermakna. Pada anak dengan disleksia, proses ini dapat membutuhkan waktu dan usaha yang lebih besar.

Faktor genetik juga dapat berperan. Disleksia cenderung lebih sering ditemukan pada keluarga yang memiliki anggota dengan riwayat kesulitan membaca atau mengeja. Namun, memiliki anggota keluarga dengan disleksia bukan berarti seorang anak pasti mengalami kondisi yang sama.

Yang juga penting, disleksia bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan, kurang belajar, atau karena orang tua tidak mengajarkan membaca dengan baik. Lingkungan belajar tetap berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan anak, tetapi bukan berarti orang tua menjadi penyebab disleksia.

Memahami hal ini dapat membantu orang tua melihat kesulitan anak secara lebih objektif. Anak bukan sedang tidak mau belajar. Bisa jadi ia sedang berusaha lebih keras untuk melakukan sesuatu yang bagi anak lain terasa lebih otomatis.

Ciri-Ciri Disleksia pada Anak

Untuk memahami apa itu disleksia, penting untuk mengenali cirinya yang dapat berbeda-beda tergantung usia dan perkembangan anak. Pada usia sekolah, beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Kesulitan mengenali atau membedakan beberapa huruf dan bunyi.

  • Sering tertukar atau salah mengurutkan huruf dalam sebuah kata.

  • Membaca lebih lambat dibandingkan teman seusianya.

  • Sering berhenti atau kehilangan bagian ketika membaca.

  • Kesulitan mengeja kata meskipun kata tersebut sudah sering ditemui.

  • Membutuhkan waktu lebih lama untuk menyalin tulisan.

  • Kesulitan mengingat urutan tertentu, misalnya urutan huruf, hari, atau informasi tertulis.

  • Menghindari aktivitas membaca atau terlihat sangat lelah ketika harus membaca.

  • Kesulitan memahami bacaan karena sebagian besar energinya digunakan untuk mengenali kata.

  • Lebih mudah memahami materi ketika informasi diberikan melalui penjelasan lisan atau gambar.

Satu atau dua tanda belum cukup untuk menyimpulkan anak mengalami disleksia. Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan membaca yang berbeda. Perhatikan apakah kesulitan membaca terjadi terus-menerus dan mengganggu proses belajar. Jika kesulitan menetap, evaluasi lebih lanjut dapat membantu mengetahui penyebabnya.

Yang tidak kalah penting, anak dengan disleksia dapat memiliki banyak kekuatan. Ada yang memiliki kemampuan berpikir kreatif, kemampuan visual yang baik, rasa ingin tahu tinggi, atau mampu memahami konsep dengan baik ketika informasi disampaikan melalui cara yang sesuai.

Dampak Disleksia terhadap Belajar

Kesulitan membaca dapat memengaruhi banyak bagian dari pengalaman belajar anak. Hampir semua mata pelajaran di sekolah menggunakan kemampuan membaca, sehingga hambatan dalam membaca akan turut berdampak saat anak mengerjakan soal, memahami instruksi, hingga mempelajari materi baru.

Misalnya, dalam memahami apa itu disleksia, orang tua dapat melihat bahwa anak mungkin sebenarnya memahami konsep matematika, tetapi kesulitan menjawab soal cerita karena membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca dan memahami instruksinya.

Begitu pula dalam pelajaran lain. Anak mungkin memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi hasil tugas atau ujiannya tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan tersebut karena kesulitan dalam proses membaca dan menulis.

Jika kesulitan berlangsung tanpa dukungan, anak mulai membandingkan dirinya dengan teman, merasa berbeda, atau menganggap dirinya tidak pintar. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Di sinilah, orang tua dan guru berperan agar anak mendapatkan pemahaman bahwa kesulitan membaca bukan berarti dirinya kurang cerdas.

Pendekatan belajar yang sesuai dapat membantu anak menemukan cara untuk memahami materi tanpa terus-menerus merasa gagal. Dukungan tersebut dapat berupa latihan membaca yang terstruktur, instruksi yang lebih sederhana, penggunaan materi visual, atau bantuan profesional sesuai kebutuhan.

Diagnosis Disleksia

Untuk memahami apa itu disleksia dan mengenali pola kesulitannya, diagnosis tidak dilakukan hanya dengan melihat apakah anak sering salah membaca. Profesional perlu melakukan evaluasi yang lebih menyeluruh melalui beberapa aspek pemeriksaan seperti berikut.

1. Tes Psikologis 

Tes ini menggunakan alat ukur psikologis terstandar melalui tugas atau pertanyaan untuk menilai kemampuan kognitif, bahasa, perhatian, dan memori. Pada anak yang dicurigai mengalami disleksia, psikolog dapat melihat bagaimana anak menerima, mengolah, mengingat, dan menggunakan informasi.

Hasilnya membantu memberikan gambaran mengenai kekuatan dan area yang masih membutuhkan dukungan, sehingga orang tua dan pendidik dapat memahami bahwa kesulitan belajar anak tidak semata-mata berkaitan dengan kecerdasan.

2. Tes Akademik

Tes ini berfungsi untuk menilai kemampuan belajar secara langsung seperti membaca, menulis, mengeja, dan matematika. Untuk tes disleksia, kemampuan membaca dapat dilihat dari ketepatan mengenali kata, kelancaran membaca, kemampuan menghubungkan huruf dengan bunyi, hingga pemahaman terhadap bacaan.

Kemampuan menulis dan mengeja dinilai untuk melihat pola kesalahan yang muncul secara konsisten. Tes ini membantu mengetahui bagian belajar yang menjadi tantangan bagi anak. 

Hasilnya dapat menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan anak dengan standar usianya. Informasi tersebut juga dapat menjadi dasar untuk menentukan dukungan belajar yang sesuai.

DNAset Kids untuk Mengenali Karakteristik Genetik Anak

Bagi orang tua yang ingin memahami apa itu disleksia pada anak sekaligus mengenali karakteristik genetik dan potensi mereka, lakukan pemeriksaan DNAset Kids. Pemeriksaan ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai blueprint biologis si kecil sejak dini hanya dengan harga Rp5.800.000,00.

Fleksibilitas menjadi salah satu keunggulan utama dari layanan ini karena tersedia melalui berbagai metode praktis. Orang tua dapat memilih opsi home care, walk-in, atau memanfaatkan pengiriman self-testing kit ke rumah.

Prosedur pengambilan sampelnya pun sangat mudah dan ramah anak karena menggunakan metode buccal swab. Teknik buccal swab dilakukan dengan mengambil sampel dari bagian dalam mulut menggunakan swab tanpa memerlukan persiapan khusus yang merepotkan.

Cakupan analisis dari pemeriksaan ini sangat luas dan komprehensif, mencakup lebih dari 400 karakteristik genetik. Informasi yang dihasilkan mencakup berbagai aspek penting seperti potensi olahraga, metabolisme nutrisi, sifat dan perilaku, hingga risiko penyakit genetik.

Selain itu, tes ini juga memberikan wawasan berharga mengenai respons tubuh terhadap obat-obatan, risiko infeksi, serta faktor alergi eksternal. Seluruh hasil analisis lengkap tersebut dapat diakses dalam kurun waktu sekitar 3 hingga 5 minggu setelah sampel berhasil diambil.

Kapan Harus Konsultasi ke Profesional?

Dalam memahami apa itu disleksia, orang tua tidak perlu menunggu sampai kesulitan belajar anak menjadi semakin berat. Berikut beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan profesional.

  • Anak terus mengalami kesulitan membaca meskipun sudah mendapatkan latihan yang sesuai.

  • Kemampuan membaca terlihat jauh lebih lambat dibandingkan kemampuan memahami penjelasan secara lisan.

  • Anak sering menghindari tugas membaca atau menulis.

  • Kesalahan mengeja dan membaca muncul secara konsisten.

  • Anak mulai merasa dirinya bodoh atau tidak mampu karena kesulitan belajar.

  • Nilai akademik menurun tanpa penyebab yang jelas.

  • Guru juga melihat adanya pola kesulitan membaca atau menulis.

Konsultasi dapat dilakukan dengan dokter anak, psikolog, psikolog pendidikan, atau profesional lain yang memiliki kompetensi dalam evaluasi kesulitan belajar. Guru juga dapat menjadi sumber informasi penting karena mereka melihat perilaku dan kemampuan anak dalam lingkungan sekolah sehari-hari.

Kenali Kebutuhan Anak, Dukung Tumbuh Kembangnya

Memahami apa itu disleksia membantu orang tua melihat kesulitan membaca dari sudut pandang yang lebih tepat. Anak dengan disleksia bukan anak yang malas, tidak mau belajar, atau kurang cerdas. Mereka hanya dapat memiliki cara yang berbeda dalam memproses informasi bahasa.

Semakin cepat kesulitan dikenali, semakin besar kesempatan anak untuk mendapatkan dukungan belajar yang sesuai. Dengan dukungan yang tepat, kesabaran, dan pemahaman dari orang-orang di sekitarnya, anak tetap dapat belajar, berkembang, dan menemukan bidang yang menjadi kekuatannya.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

References:

  1. Journal of Social Research. (2023). The Influence Of Dyslexia On Children's Psychological Development. 

  2. National Library of Medicine. (2020). Defining and understanding dyslexia: past, present and future. 

  3. Institute for Multi-Sensory Education. (2020). Early Signs of Dyslexia. 

  4. Journal of Education Culture and Society. (2023). Testing and Diagnosing Dyslexia in Adolescents – Focused on Phonemic Awareness. 

  5. National Library of Medicine. (2024). A study on the psychological functioning of children with specific learning difficulties and typically developing children. 

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa itu disleksia?
Disleksia adalah kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan mengenali kata, membaca dengan lancar, mengeja, serta menghubungkan huruf dengan bunyi bahasa. Kondisi ini berkaitan dengan cara otak memproses bahasa dan bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan atau pola asuh yang salah. 
Apa saja penyebab disleksia?
Disleksia berkaitan dengan perbedaan cara otak memproses bahasa dan informasi tertulis. Faktor genetik juga dapat berperan, terutama jika terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat kesulitan membaca atau mengeja. 
Apa saja ciri-ciri disleksia pada anak?
Ciri-cirinya dapat berupa kesulitan mengenali huruf dan bunyi, sering tertukar dalam mengurutkan huruf, membaca lebih lambat, sulit mengeja, serta kesulitan mengingat urutan informasi. Anak juga dapat menghindari aktivitas membaca atau lebih mudah memahami materi melalui penjelasan lisan dan gambar. 
Bagaimana disleksia didiagnosis?
Diagnosis disleksia dilakukan melalui evaluasi menyeluruh, termasuk tes psikologis untuk menilai kemampuan kognitif, bahasa, perhatian, dan memori serta tes akademik untuk menilai kemampuan membaca, menulis, mengeja, dan matematika. 
Kapan anak dengan tanda disleksia perlu berkonsultasi dengan profesional?
Konsultasi diperlukan jika kesulitan membaca atau mengeja berlangsung terus-menerus, kemampuan membaca jauh lebih lambat, anak sering menghindari tugas membaca, nilai menurun tanpa sebab jelas, atau guru menemukan pola kesulitan belajar.