Pernah merasa sangat haus setelah aktivitas di bawah terik matahari, berolahraga, atau pas mengalami diare? Kondisi ini memang bisa membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan atau dehidrasi. Dehidrasi adalah kondisi di mana tubuh akan kehilangan lebih banyak cairan daripada yang sedang diterima.
Akibatnya, cairan yang tersedia tidak cukup untuk bisa menjalankan fungsi normal tubuh. Kondisi ini bisa saja ringan, tetapi dehidrasi berat juga bisa menjadi keadaan darurat medis. Karena itu, penting sekali untuk bisa mengenali gejala, memahami bagaimana penyebab, dan juga mengetahui kapan harus mencari pertolongan!
Apa Itu Dehidrasi?
Tubuh membutuhkan air untuk bisa mengatur suhu, membantu perputaran peredaran darah, mendukung fungsi organ, dan juga menjaga keseimbangan elektrolit. Elektrolit sendiri merupakan mineral, seperti natrium dan kalium, yang mana akan berperan dalam fungsi saraf, otot, serta keseimbangan cairan.
Nah, ketika tubuh kehilangan terlalu banyak sekali cairan melalui keringat, urine, muntah, atau diare, maka keseimbangan juga akan terganggu. Tingkat dehidrasi sendiri dipengaruhi oleh jumlah cairan yang hilang, penyebabnya, hingga kemampuan seseorang untuk menggantinya.
Dehidrasi adalah kondisi yang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, pada bayi, anak-anak, lansia, serta orang yang sedang sakit atau beraktivitas di lingkungan panas membutuhkan perhatian lebih terhadap kebutuhan cairan.
Perbedaan Dehidrasi Ringan dan Berat
Dehidrasi ringan biasanya ditandai dengan rasa haus, mulut kering, lemas, atau urine yang lebih gelap. Tapi jika kehilangan cairan terus-menerus dan berlanjut tanpa adanya penggantian yang memadai, maka kondisi bisa memburuk dan menyebabkan gangguan fungsi tubuh.
Sedangkan, dehidrasi berat adalah kondisi yang memerlukan pertolongan medis segera. Apalagi jika disertai kebingungan, pingsan, napas cepat, atau bahkan penurunan jumlah urine yang signifikan. Bahkan, pada kasus yang ekstrem, jenis ini bisa berakibat fatal. Komplikasinya pun serius, termasuk masalah ginjal dan kejang.
Gejala dan Ciri-Ciri Dehidrasi
Gejala dehidrasi bisa saja berbeda pada setiap orang, dan tetap bergantung pada usia, penyebab, dan jumlah cairan yang hilang.
Ciri Dehidrasi pada Orang Dewasa
Berikut beberapa tanda dehidrasi yang dapat muncul.
Rasa haus meningkat, terutama jika setelah berkeringat ataupun mengalami muntah dan diare.
Urine berwarna lebih gelap bahkan jumlahnya berkurang dibandingkan biasanya.
Mulut, bibir, atau lidah terasa kering.
Tubuh terasa lelah atau lemas, hingga aktivitas menjadi sangat kurang nyaman.
Pusing atau kepala terasa ringan, khususnya ketika berdiri.
Frekuensi buang air kecil berkurang karena tubuh berusaha keras mempertahankan cairan.
Ingat! Gejala-gejala di atas juga tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami dehidrasi. Jika memang beberapa tanda itu muncul bersamaan setelah kehilangan cairan, perhatikan konsumsi air dan kondisi tubuh.
Tanda Dehidrasi pada Bayi dan Anak
Nah, pada bayi dan anak, gejala kadang-kadang bahkan lebih sulit dikenali. Maka dari itu, sebaiknya orang tua atau pengasuh tetap memperhatikan perubahan perilaku dan pola buang air kecil, serta tanda berikut.
Popok basah anak lebih jarang dari biasanya.
Tidak banyak mengeluarkan air mata saat menangis.
Mata seperti cekung.
Anak terlihat lebih rewel, mengantuk, ataupun tidak aktif.
Bayi mengalami kesulitan menyusu ataupun minum.
Akibat dehidrasi adalah komplikasi yang serius. Karena itu, jika anak terlihat sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mampu minum, segeralah cari pertolongan medis.
Kapan Dehidrasi Menjadi Kondisi Darurat?
Tanda yang dapat menjadi petunjuk dehidrasi sudah parah adalah sebagai berikut.
Kebingungan atau sampai penurunan kesadaran.
Pingsan.
Napas atau denyut jantung cepat.
Urine sangat sedikit atau tidak mau keluar.
Kondisi tubuh memburuk dan tidak bisa mengganti cairan melalui mulut.
Jangan hanya mengandalkan minum air di rumah jika memang sudah tidak sadar ataupun sulit menelan dengan aman. Kondisi ini tetap memerlukan evaluasi medis segera.
Penyebab dan Faktor Risiko Dehidrasi
Dehidrasi adalah masalah akan terjadi jika cairan yang keluar dari tubuh lebih banyak daripada cairan yang masuk. Beberapa penyebab umumnya meliputi.
Kurangnya minum: Aktivitas padat sekali, lalu lupa minum, ataupun kesulitan mendapatkan air bisa saja membuat kebutuhan cairan tidak terpenuhi.
Berkeringat berlebihan: Olahraga berat dan aktivitas di cuaca panas juga akan sangat meningkatkan kehilangan cairan melalui keringat.
Diare dan muntah: Kedua kondisi ini bisa saja menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit dalam waktu yang sangat singkat.
Demam: Suhu tubuh yang meningkat bisa saja menambah kehilangan cairan, apalagi jika disertai keringat ataupun berkurangnya asupan minum.
Sering buang air kecil: Kondisi diabetes yang tidak terkontrol ataupun penggunaan obat diuretik bisa meningkatkan kehilangan cairan.
Alkohol: Minuman dengan kandungan alkohol tidak bisa memberikan hidrasi. Karena itu, pastikan Anda tetap minum banyak air putih setelah mengonsumsi minuman beralkohol.
Orang dengan kondisi medis tertentu bisa sangat mungkin memerlukan pengaturan asupan cairan yang harus disesuaikan dengan anjuran dokter. Karena kebutuhan dari cairan setiap orang berbeda, maka jumlah minum sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan satu patokan untuk diterapkan semua orang.
Diagnosis dan Pemeriksaan Dehidrasi
Dokter biasanya menilai keluhan-keluhan, riwayat kehilangan cairannya, pemeriksaan fisik, hingga tanda vital seperti denyut jantung dan juga tekanan darah. Dokter juga akan menanyakan frekuensi buang air kecil, obat yang saat ini digunakan, dan juga penyakit yang sedang dialami.
Jika memang perlu, pemeriksaan penunjang juga akan membantu menilai gangguan cairan dan mencari apa saja penyebabnya. Jenis pemeriksaan akan disesuaikan dengan gejala dan kondisi pasien.
Pada kondisi tertentu, dokter akan meminta pemeriksaan darah untuk bisa mengevaluasi kadar elektrolit, yang utama natrium dan kalium, serta fungsi ginjal. Elektrolit ini akan membantu menjaga keseimbangan cairan dan juga mendukung fungsi otot serta saraf.
Bumame sendiri menyediakan layanan pemeriksaan Na-K-Cl, yang akan mengukur natrium, kalium, dan klorida dalam darah. Pemeriksaan ini bisa saja menjadi bagian dari evaluasi keseimbangan elektrolit ketika direkomendasikan tenaga kesehatan.
Namun, hasil tes Na-K-Cl tidak selalu cukup untuk memastikan dehidrasi ataupun menentukan tingkat keparahannya. Hasilnya masih perlu dinilai bersama gejala, pemeriksaan fisik, dan tes lain jika diperlukan.
Baca Juga: Apa Itu Natrium: Fungsi Dan Sumber
Cara Mencegah & Mengatasi Dehidrasi
Tidak semua dehidrasi itu bisa dicegah, tapi beberapa kebiasaan ini dapat membantu mengurangi risikonya. Beberapa cara mengatasi dehidrasi adalah sebagai berikut.
Minum secara berkala, terutama saat cuaca panas atau beraktivitas fisik.
Perhatikan asupan cairan saat sakit, apalagi ketika demam, muntah, atau diare.
Sediakan air minum pada saat beraktivitas di luar ruangan.
Perhatikan perubahan urine dan rasa haus sebagai petunjuk/ acuan awal, tanpa menjadikan ini satu-satunya patokan.
Gunakan larutan rehidrasi oral sesuai kebutuhan ketika kehilangan cairan dan juga elektrolit, misalnya akibat diare.
Ikuti anjuran dokter jika memang memiliki kondisi medis yang mengharuskan pembatasan cairan.
Untuk bisa mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan Anda, sebaiknya lakukan medical check up rutin. Meski pemeriksaan rutin ini tidak bisa menggantikan pengobatan dehidrasi berat, Anda dapat mengetahui kondisi tubuh secara umum untuk mencegah risiko penyakit dan keluhan dini!
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Dehidrasi adalah masalah yang tidak boleh Anda sepelekan. Lakukan konsultasi kepada dokter jika memang rasa haus, pusing, lemas, atau penurunan frekuensi buang air kecil sendiri tidak kunjung membaik setelah upaya mengganti cairan.
Jangan ragu mencari saran medis jika memang muntah atau diare membuat Anda sulit minum. Serta segeralah cari pertolongan medis darurat jika muncul kebingungan, pingsan, napas cepat, denyut jantung cepat, ataupun urine sangat sedikit hingga tidak bisa keluar.
Jangan menunda pertolongan demi bisa melakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu. Jika memang dokter menilai pemeriksaan elektrolit diperlukan, maka Anda bisa melihat informasi layanan Na-K-Cl Bumame dan juga berkonsultasi mengenai kesesuaiannya.
Pemeriksaan laboratorium nantinya akan membantu evaluasi, sedangkan diagnosis dan keputusan penanganan masih tetap perlu mempertimbangkan kondisi klinis secara menyeluruh.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
National Health Service (NHS) — Dehydration
MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine — Dehydration
MedlinePlus, U.S. National Library of Medicine — Electrolyte Panel: Medical Test
Mayo Clinic — Dehydration
Harvard Health Publishing — Symptoms of Dehydration: What They Are and What to Do If You Experience Them
National Kidney Foundation — Healthy Hydration and Your Kidneys
Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani
Frequently Asked Question
Dehidrasi adalah kondisi seperti apa?
Dehidrasi adalah kondisi ketika cairan yang hilang dari tubuh lebih banyak daripada cairan yang masuk. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit yang dibutuhkan untuk menjaga suhu tubuh, mendukung fungsi organ, serta membantu kerja saraf dan otot.
Apa saja gejala dehidrasi?
Gejala dehidrasi meliputi rasa haus meningkat, mulut dan bibir kering, urine berwarna lebih gelap atau berkurang, tubuh lemas, serta pusing terutama saat berdiri. Pada bayi dan anak-anak, tanda lainnya dapat berupa popok lebih jarang basah, sedikit air mata saat menangis, mata cekung, rewel, atau kesulitan minum.
Apa akibat dehidrasi bagi tubuh?
Dehidrasi dapat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Jika berat, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi organ, masalah ginjal, kejang, kebingungan, hingga penurunan kesadaran. Dehidrasi berat merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan pertolongan segera.
Apa penyebab dehidrasi?
Dehidrasi terjadi ketika cairan yang keluar lebih banyak daripada yang masuk. Penyebabnya antara lain kurang minum, berkeringat berlebihan, diare, muntah, demam, sering buang air kecil akibat kondisi seperti diabetes yang tidak terkontrol, penggunaan obat diuretik, serta konsumsi alkohol yang dapat meningkatkan kehilangan cairan.
Bagaimana cara mengatasi dehidrasi?
Dehidrasi ringan dapat ditangani dengan mengganti cairan secara bertahap dan teratur. Jika cairan dan elektrolit hilang akibat diare atau muntah, larutan rehidrasi oral dapat membantu. Dehidrasi berat memerlukan evaluasi dan penanganan medis segera, yang mungkin mencakup pemberian cairan melalui infus. Jika muncul kebingungan, pingsan, napas cepat, atau urine sangat sedikit, segera cari pertolongan medis.
