Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Dermatitis Herpetiformis: Gejala, Penyebab, dan Penanganannya
Kembali ke Artikel & Berita

Dermatitis Herpetiformis: Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

SBATips Kesehatan

Pernah mengalami ruam gatal yang tidak hilang-hilang walaupun sudah coba berbagai produk perawatan kulit? Keluhan seperti ini bisa saja terjadi dan disebabkan karena berbagai hal, salah satunya dermatitis herpetiformis, yaitu penyakit kulit yang muncul karena sensitivitas terhadap gluten atau protein yang ada di gandum dan jelai.

Menggunakan produk perawatan kulit tidak cukup untuk mengatasinya. Lalu, sebenarnya bagaimana cara mengobatinya? Artikel ini akan membahas secara lengkap mulai dari gejala, penyebab, hingga pengobatan yang bisa Anda jadikan acuan dalam menghadapi penyakit ini.

Apa Itu Dermatitis Herpetiformis?

Dermatitis herpetiformis atau penyakit Duhring adalah penyakit kulit kronis yang ditandai dengan munculnya ruam dan rasa gatal hebat karena reaksi negatif sistem imun terhadap gluten, yaitu protein yang ada di dalam gandum, rye, dan barley. 

Mekanisme yaitu saat Anda konsumsi gluten, sistem imun akan merespons dengan menghasilkan antibodi IgA, yang bisa menumpuk di kulit yang kemudian menimbulkan radang hingga muncul gatal dan ruam.

Gejala Dermatitis Herpetiformis yang Perlu Diperhatikan

Gejala penyakit ini mirip dengan eksim atau alergi, tapi ada beberapa gejala lain yang bisa menyertainya. Untuk lebih jelas, berikut gejalanya.

  • Gatal hebat dan rasa terbakar di kulit yang bisa muncul sebelum timbulnya ruam atau lepuh.

  • Muncul benjolan dan lepuh kecil dalam jumlah banyak dan berisi cairan di kulit area siku, lutut, bokong, punggung, dan kulit kepala. Jika pecah karena digaruk, lepuh ini akan meninggalkan luka atau kerak.

  • Kulit memerah dan meradang, terutama di sekitar ruam.

  • Muncul gejala penyakit penyertanya seperti penyakit celiac, yaitu gangguan autoimun di usus halus, yang gejalanya bisa berupa diare, perut kembung, nyeri perut, anemia, hingga mudah lelah.

Mengapa Dermatitis Herpetiformis Bisa Terjadi?

Umumnya, penyakit Duhring bisa muncul akibat dari reaksi sistem imun tubuh terhadap gluten. Untuk lebih jelasnya, berikut faktor-faktor penyebab dermatitis herpetiformis.

  • Reaksi autoimun terhadap gluten, yang terjadi ketika tubuh menghasilkan antibodi IgA setelah mengonsumsi gluten. Antibodi tersebut kemudian dapat menumpuk di kulit dan memicu peradangan.

  • Faktor genetik dan riwayat keluarga, karena variasi gen tertentu, seperti HLA-DQ2 dan HLA-DQ8, bisa menaikkan risiko kerentanan seseorang terkena penyakit Duhring.

  • Riwayat penyakit autoimun lain, karena dermatitis herpetiformis bisa terjadi bersamaan dengan penyakit autoimun lain, seperti gangguan tiroid autoimun dan penyakit diabetes tipe 1.

  • Usia lanjut, golongan ini lebih rentan karena proses autoimun bisa berkembang parah seiring waktu.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Dermatitis Herpetiformis?

Dalam mendiagnosis penyakit Duhring, dokter akan melakukan serangkaian pengecekan yang bisa meliputi: 

  • Cek fisik dan riwayat kesehatan, untuk mengevaluasi karakteristik ruam, tingkat gatal, pola munculnya, serta gejala yang menyertainya terutama terkait penyakit celiac.

  • Biopsi kulit dan cek imunofluoresensi langsung, yang dilakukan dengan cara mengambil sampel kecil kulit, biasanya dari area kulit sehat di dekat ruam. Kemudian, sampel dicek apakah ada endapan antibodi IgA pada kulit di sekitar ruam untuk memastikan apakah ruam yang terjadi karena dermatitis herpetiformis atau penyakit lainnya.

  • Tes antibodi transglutaminase epidermal (anti-TG3/eTG) dari sampel darah untuk deteksi antibodi terhadap enzim transglutaminase epidermal, yaitu enzim yang menjadi target reaksi autoimun pada penyakit dermatitis herpetiformis.

Selain pengecekan tersebut, dokter bisa saja menyarankan pengecekan tambahan, seperti evaluasi kadar vitamin D, terutama jika ada indikasi kekurangan nutrisi ini atau dugaan gangguan penyerapan akibat penyakit celiac. 

Ini juga penting mengingat vitamin D punya peranan penting dalam menjaga fungsi kulit dan mengatur sistem imun tubuh. Dalam hal ini, Anda bisa mempertimbangkan tes Vitamin D untuk tahu kadarnya dalam darah.

Pilihan Pengobatan untuk Mengendalikan Dermatitis Herpetiformis

Dalam mengobati penyakit Duhring, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Diet bebas gluten atau menghindari makan makanan kaya gluten seperti gandum, terutama gandum hitam (rye), dan jelai (barley).

  • Konsumsi dapson, yaitu obat resep yang bisa membantu meredakan gatal dan mengurangi munculnya lepuh di area kulit yang terdampak dalam waktu relatif cepat. Namun, pastikan mengonsumsinya sesuai anjuran dokter karena obat ini bisa menimbulkan efek samping seperti anemia. 

  • Mengoleskan kortikosteroid di area kulit yang gatal, karena obat ini bisa membantu kurangi radang dan meredakan gatal di kulit. Tapi, penggunaannya juga perlu sesuai anjuran dokter karena kortikosteroid topikal tidak selalu efektif untuk mengatasi dermatitis herpetiformis dan bisa memunculkan efek samping jika digunakan secara tidak tepat.  

  • Mengonsumsi obat tambahan untuk meredakan gatal, seperti antihistamin pada kondisi tertentu karena bisa menghambat kerja histamin (zat dalam tubuh yang bisa memicu rasa gatal), sehingga bisa membantu kurangi rasa tidak nyaman yang ditimbulkan penyakit ini.

  • Melakukan perawatan kulit, seperti pakai pelembap tanpa pewangi atau kompres bagian yang gatal dengan kain dingin untuk memberikan efek sejuk atau menenangkan di kulit gatal dan terasa terbakar. 

  • Cek kesehatan secara rutin untuk memonitor perkembangan kondisi kulit, mengevaluasi efektivitas dari pengobatan yang telah dilakukan, serta mendeteksi lebih awal kemungkinan efek samping obat seperti dapson yang dapat memengaruhi sel darah.

Bisakah Dermatitis Herpetiformis Dicegah?

Penyakit Duhring terjadi karena gangguan autoimun, sehingga akan sulit untuk dicegah, tapi Anda bisa mengendalikan gejalanya dan kurangi risiko kekambuhannya dengan beberapa cara berikut.

  • Menjalani diet bebas gluten, terutama jika Anda sudah didiagnosis penyakit celiac, untuk mencegah penyakit ini muncul.

  • Selalu perhatikan kandungan dan cara pengolahan makanan, untuk menghindari kontaminasi silang dengan makanan yang kaya gluten sebelum mengonsumsinya.

  • Pahami faktor risiko dan gejalanya dengan baik, terutama jika Anda punya riwayat penyakit celiac atau keluarga dengan kondisi serupa, sehingga bisa mengenali gejalanya lebih awal untuk menghindari komplikasi.

  • Langsung konsultasi ke dokter jika mengalami ruam gatal berulang, terutama jika muncul lepuh kecil berkelompok di siku, lutut, bokong, atau kulit kepala, untuk membantu memastikan penyebabnya dengan cepat dan bisa dilakukan penanganan sebelum terjadi komplikasi lebih serius.

Kapan Perlu Periksa ke Dokter?

Umumnya, pemeriksaan kesehatan ke dokter disarankan apabila Anda sudah mengalami gejala yang mengarah pada penyakit Duhring berupa ruam pada kulit yang menimbulkan rasa gatal, munculnya lepuhan kecil, serta rasa perih atau tidak nyaman pada area kulit yang terdampak.

Jika keluhan tersebut terus berulang, semakin meluas, atau tidak membaik meskipun sudah dilakukan perawatan kulit secara mandiri, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan diagnosis yang tepat.

Tapi, alangkah lebih baik memeriksakan diri ke dokter meskipun gejala belum muncul, terlebih jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga atau sedang menderita penyakit autoimun tertentu. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan yang mengandung gluten juga dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian risiko.

Pasalnya, ini akan membantu membantu deteksi risiko penyakit Duhring lebih dini dan menentukan tindak penanganan untuk mencegah gejala muncul.

Lengkapi Pemantauan Kesehatan dengan Cek Vitamin D 

Dermatitis herpetiformis adalah penyakit kulit kronis akibat reaksi autoimun terhadap gluten yang membuat sistem imun menghasilkan antibodi di IgA yang dapat menumpuk di kulit kemudian memicu ruam hingga gatal. Umumnya, penyakit ini tidak bisa dicegah, sehingga cek kesehatan rutin termasuk cek vitamin D sangat disarankan untuk mencegah komplikasi lebih serius.  

Kenapa vitamin D perlu? Karena vitamin ini punya peranan penting untuk melindungi kulit dan mengatur respons sistem imun tubuh. Artinya, kekurangan vitamin ini bisa memperparah gejala dermatitis herpetiformis, sehingga sebaiknya perlu diperiksa, salah satunya melalui tes Vitamin D 25-OH Bumame dengan biaya mulai dari Rp350.000.

Jika ditemukan kekurangan, Anda dapat segera mengambil langkah penanganan yang tepat untuk mencukupinya, sehingga membantu mencegah gejala kulit menjadi lebih parah. Untuk informasi pemeriksaan lebih lengkap, hubungi tim Bumame.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Cleveland Clinic — Dermatitis Herpetiformis

  2. Celiac Disease Foundation — Dermatitis Herpetiformis

  3. Apollo Hospitals — Dermatitis Herpetiformis: Causes, Symptoms, Diagnosis, Treatment, and Prevention

  4. Apotek Mandjur — Dermatitis Herpetiformis

  5. National Library of Medicine — The Diagnosis and Treatment of Dermatitis Herpetiformis

  6. British Association of Dermatologists — Dermatitis Herpetiformis (Gluten Sensitivity)

  7. Healthdirect Australia — Dermatitis Herpetiformis: Symptoms and Treatment

Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed

Frequently Asked Question

Apakah dermatitis herpetiformis menular?

Tidak. Dermatitis herpetiformis merupakan kondisi kulit terkait reaksi autoimun terhadap gluten, bukan infeksi akibat virus atau bakteri, sehingga tidak menular melalui sentuhan maupun kontak sehari-hari.

Apakah dermatitis herpetiformis bisa sembuh total?

Kondisi ini umumnya bersifat kronis, tetapi gejalanya dapat dikendalikan melalui diet bebas gluten yang ketat dan obat-obatan sesuai resep serta pengawasan dokter.

Apakah dermatitis herpetiformis sama dengan herpes?

Tidak. Dermatitis herpetiformis berkaitan dengan reaksi autoimun terhadap gluten, sedangkan herpes disebabkan oleh virus herpes. Keduanya berbeda meskipun dapat menimbulkan lepuhan pada kulit.

Apakah dermatitis herpetiformis selalu disertai gejala penyakit celiac?

Tidak. Dermatitis herpetiformis dapat berkaitan dengan penyakit celiac dan kerusakan usus halus, tetapi gejala pencernaan seperti diare atau nyeri perut tidak selalu muncul.

Apakah dermatitis herpetiformis bisa muncul tanpa lepuhan?

Ya. Lepuhan terkadang pecah akibat garukan sebelum terlihat jelas. Kondisi ini masih dapat ditandai dengan ruam kemerahan, benjolan kecil, rasa gatal hebat, atau bekas garukan.