Mitos yang paling sering beredar adalah menganggap semua jenis diabetes melitus itu sama. Padahal, ada perbedaan besar antara diabetes tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 terjadi akibat gangguan autoimun di mana tubuh berhenti memproduksi insulin, sedangkan diabetes tipe 2 berkaitan erat dengan gaya hidup dan faktor genetik. Tipe 2 inilah yang paling mendominasi dan dialami oleh mayoritas penderita diabetes di Indonesia.
Lalu, bagaimana gejalanya dan apa yang perlu diperhatikan? Artikel ini akan membahasnya secara lengkap, mulai dari ciri-ciri diabetes, penyebab, faktor risiko, hingga komplikasinya.
Apa Itu Diabetes Tipe 2 dan Bedanya dengan Tipe 1?
Diabetes erat kaitannya dengan adanya gangguan pada produksi hormon insulin, yaitu hormon yang membantu glukosa masuk ke sel tubuh untuk diubah ke energi. Lalu, yang dimaksud dengan diabetes tipe 2 adalah penyakit di mana gula darah seseorang mencapai kadar yang sangat tinggi akibat tubuh tidak bisa menggunakan insulin dengan baik dan, seiring waktu, bisa menyebabkan produksi insulin menurun.
Umumnya, diabetes tipe 2 ini berkembang secara bertahap dan merupakan akibat dari kombinasi faktor genetik dan pola hidup yang tidak sehat. Berbeda dengan diabetes tipe 1 yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel beta pankreas yang menghasilkan hormon insulin, sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi hormon ini.
Penyebab Diabetes Tipe 2
Perkembangan diabetes tipe 2 umumnya dipicu oleh interaksi kompleks antara faktor internal tubuh dan kebiasaan sehari-hari. Tiga faktor utama yang saling berkaitan dalam memicu kondisi ini meliputi:
Resistensi insulin atau sel tubuh kurang responsif terhadap insulin sehingga membuat glukosa menjadi susah masuk ke dalam sel, dan akhirnya menumpuk di dalam darah.
Faktor gaya hidup, seperti sering begadang, minum dan makan makanan tinggi gula dan lemak, kurang gerak, dan konsumsi alkohol, bisa mengganggu metabolisme glukosa dan menurunkan sensitivitas insulin.
Faktor genetik, yaitu punya riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2 karena penyakit ini bisa diturunkan.
Gejala Khas Diabetes Tipe 2
Pada tahap awal, diabetes tipe ini seringkali tidak memunculkan gejala yang jelas karena sering berkembang dengan perlahan. Tapi jika sudah berlangsung lebih lama dan tanpa dilakukan penanganan dengan baik maka bisa menimbulkan gejala seperti:
Polidipsia atau merasa sering haus.
Poliuria atau sering buang air kecil.
Polifagia atau mudah lapar, walaupun baru selesai makan.
Mudah lelah dan kekurangan energi.
Penglihatan kabur, karena gula darah yang tinggi bisa mengganggu kadar cairan di lensa mata.
Luka sulit sembuh, khususnya di bagian kaki dan kulit.
Sering infeksi di beberapa bagian tubuh, seperti kulit dan saluran kemih.
Sering kesemutan dan mati rasa.
Kaki sering gatal.
Berat badan turun tanpa sebab jelas.
Faktor Risiko Diabetes Tipe 2
Pola hidup dan genetik memang bisa menjadi faktor munculnya diabetes, tapi risiko diabetes juga akan semakin tinggi jika seseorang mengalami kondisi berikut.
Obesitas atau kelebihan berat badan. Penumpukan lemak, khususnya di bagian perut bisa mengganggu produksi dan kinerja insulin. Umumnya, semakin tinggi berat badan Anda, maka semakin tinggi risiko terkena diabetes tipe 2.
Pola makan kurang sehat, seperti terlalu banyak makan makanan yang tinggi gula, kalori serta lemak, dan kurang makan sayur, buah, dan sumber serat lainnya. Kebiasaan makan seperti ini bisa meningkatkan berat badan dan risiko resistensi insulin. Pola makan seseorang dapat terbentuk sejak kecil. Jadi bagi yang punya anak, sebaiknya perhatikan kadar gula dan garam dalam makanan anak untuk mencegah risiko diabetes di masa depan.
Kurang olahraga atau bergerak, karena bisa menurunkan sensitivitas insulin yang menghambat proses penyerapan glukosa ke dalam sel untuk diubah menjadi energi.
Berusia 35 tahun ke atas, seiring bertambahnya umur sensitivitas tubuh terhadap insulin bisa turun dan fungsi sel pankreas yang memproduksi insulin juga menurun.
Jenis kelamin, wanita memiliki faktor risiko lebih tinggi karena memiliki peluang indeks massa tubuh yang lebih besar serta ada risiko PCOS (sindrom ovarium polikistik) yang bisa meningkatkan resistensi insulin.
Komplikasi Diabetes Tipe 2 Jika Tidak Terkontrol
Diabetes jenis ini jika tidak dikontrol dengan baik dalam jangka panjang bisa menimbulkan komplikasi serius. Berikut beberapa komplikasi tersebut.
1. Komplikasi Akut
Komplikasi akut merupakan kejadian medis yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan membutuhkan penanganan cepat. Pada penderita diabetes tipe 2, komplikasi akut ini umumnya meliputi:
Hiperglikemia, yaitu kadar gula darah terlampau tinggi yang jika tidak ditangani segera dapat menyebabkan pingsan.
Ketoasidosis diabetik (KAD), yaitu situasi kekurangan insulin secara drastis, yang mendorong tubuh untuk beralih memecah lemak sebagai sumber energi, hingga menghasilkan zat keton berlebihan yang dapat meracuni aliran darah. Akibatnya, bisa membuat seseorang mengalami gejala mual, muntah, nyeri perut, napas cepat, hingga koma.
2. Komplikasi Kronis
Komplikasi kronis bisa terjadi akibat kadar gula darah yang terlalu tinggi dalam jangka waktu panjang dan menyebabkan kerusakan pada saraf dan pembuluh darah. Adapun komplikasinya bisa berupa:
Retinopati diabetik, yaitu kerusakan pada pembuluh darah retina yang bisa memunculkan gangguan penglihatan dan, pada kondisi berat, bisa menimbulkan kebutaan.
Penyakit ginjal diabetik, yaitu kerusakan pada pembuluh darah dan jaringan ginjal yang bisa membuat turunnya fungsi ginjal sampai gagal ginjal.
Neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf, terutama pada kaki dan tangan, sehingga menimbulkan kesemutan, mati rasa, hingga rasa terbakar dan nyeri.
Kaki diabetik, yaitu luka atau ulkus pada kaki yang sulit sembuh karena kombinasi saraf yang rusak, gangguan aliran darah, dan infeksi, bahkan pada kondisi berat bisa menimbulkan amputasi.
Makroangiopati, yaitu pembuluh darah besar mengalami kerusakan dan menimbulkan gejala seperti nyeri dada, sesak napas, kelemahan, hingga nyeri pada kaki saat berjalan.
Penyakit jantung, seperti jantung koroner, akibat dari kerusakan pada pembuluh darah.
Stroke, yaitu aliran darah ke otak terganggu karena adanya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak.
Diagnosis Diabetes Tipe 2
Umumnya, diagnosis diabetes bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu cek gula darah puasa dan HbA1c. Berikut penjelasannya.
1. Gula Darah Puasa (GDP)
Ini adalah pengecekan gula darah setelah tidak makan ataupun minum yang mengandung kalori selama minimal 8 jam lamanya. Metode pengecekannya biasanya dengan mengambil sampel darah penderita kemudian dianalisis di laboratorium guna melihat kadar glukosanya.
Jika hasil pengukuran menunjukkan nilai dibawah 100 mg/dL, artinya gula darah normal. Jika hasilnya berada di rentang 100-125 mg/dL termasuk prediabetes, dan jika lebih dari 125 mg/dL bisa dikatakan terkena diabetes.
2. HbA1c
HbA1c adalah pengecekan untuk mengetahui rata-rata gula darah sekitar 2-3 bulan terakhir dan dilakukan tanpa puasa terlebih dahulu. Pengecekannya dilakukan dengan mengambil sampel darah, kemudian mengukur persentase hemoglobin yang berikatan dengan glukosa di darah sampel.
Apabila hasil HbA1c menunjukkan <5,7%, itu artinya normal. Tapi jika hasilnya diantara 5,7–6,4% seseorang sudah masuk kategori prediabetes, sedangkan jika hasilnya 6,5% atau lebih maka mengarah pada diagnosis diabetes.
Kapan Harus ke Dokter?
Periksa ke dokter sebaiknya tidak dilakukan setelah gejalanya muncul, mengingat penyakit ini tidak menimbulkan gejala serius di tahap awal. Tapi, pemeriksaan oleh dokter menjadi sangat dianjurkan ketika Anda mengalami hal-hal seperti:
Muncul gejala diabetes, seperti sering buang air kecil, mudah lapar dan haus, berat badan turun tanpa sebab, mudah lelah, sering kesemutan, luka sulit sembuh, hingga penglihatan kabur.
Punya riwayat keluarga dengan diabetes.
Obesitas.
MCU Basic Bumame: Cara Cerdas Kenali Risiko Diabetes Sejak Dini
Diabetes tipe 2 bisa berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan gejala serius, sehingga pengecekan kesehatan rutin sangat disarankan. Salah satu cek kesehatan yang bisa dipilih adalah Medical Check-Up (MCU) Basic di Klinik Bumame.
Ini adalah layanan cek kesehatan menyeluruh yang meliputi pemeriksaan hematologi lengkap, fungsi hati, ginjal, kolestrol, asam urat, glukosa puasa, hingga urine lengkap. Melalui pemantauan glukosa puasa inilah Anda bisa cek kadar gula darah dan tahu risiko diabetes lebih akurat.
Selain itu, ada pula layanan pengecekan fungsi hati, fungsi ginjal, dan profil lemak darah yang bisa memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan atau faktor risiko metabolik yang juga berkaitan dengan diabetes.
Tidak hanya itu, hasil pengecekan juga bisa dikonsultasikan langsung dengan dokter untuk membantu Anda memahami kondisi kesehatan dan menentukan langkah terbaik selanjutnya jika ada masalah diabetes.
Tak perlu khawatir soal biaya, karena meskipun mencakup berbagai pemeriksaan, Biaya MCU Basic tersedia mulai dari harga Rp695.000 dan bisa dilakukan dengan pilihan homecare di rumah atau walk-in di lokasi klinik terdekat. Jadi, Anda bisa memilih cara yang paling nyaman sesuai kebutuhan.
Cek kesehatan Anda dan hubungi tim Bumame sekarang untuk melakukan booking layanan dan mendapatkan informasi lebih lanjut.
Cegah Diabetes dengan Pemeriksaan Tepat Waktu
Diabetes tipe 2 bisa disebabkan karena pola makan, pola hidup, hingga faktor genetik, dan biasanya ditandai dengan gejala seperti sering buang air kecil, luka yang sulit sembuh, penglihatan kabur, bahkan hilang kesadaran pada tahap serius.
Pada tahap awal, penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala, sehingga pemeriksaan diabetes dan tes gula darah secara rutin sangat disarankan untuk mencegahnya sebelum terjadi komplikasi serius.
Perlu diperhatikan juga bahwa gula darah terlalu rendah juga berbahaya karena bisa menimbulkan gejala seperti pusing hingga pingsan. Oleh karena itu, disarankan juga untuk mengenali gejala dan penyebab gula darah rendah agar dapat mengambil langkah yang tepat dalam setiap kondisi.
Jadi, jangan tunggu gejala muncul, dan segera lakukan pemeriksaan untuk mencegah diabetes dan mendapatkan level kesehatan terbaik.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Siloam Hospital. (2025). Apa itu Diabetes Tipe 2? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatan.
RS Premier Surabaya. (2025). Diabetes Tipe 1 dan 2, Apa Saja Bedanya?.
Poltekkes Denpasar. (2021). Gambaran Strategi Koping pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di RSUD Bangli Tahun 2021.
Kemenkes. Diabetes Melitus Tipe 2. 2022.
Rumah Sakit Royal Progress. (2025). Mengenal Diabetes Tipe 2: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya.
Kemenkes Labkesmas Makassar 1. (2024). Kenali Diabetes Lebih Dekat: Gejala, Penyebab, dan Pentingnya Pemeriksaan Rutin. R
Enfermeria Ciencia. (2025). Diabetes melitus tipe 2: Artikel review.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2022). Risk factors for type 2 diabetes.
Current Cardiology Reviews. (2020). Complications of The Type 2 Diabetes Mellitus.
Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2024). Mengenal Komplikasi Diabetes Melitus.
Primaya Hospital. (2024). Prosedur Pemeriksaan Glukosa Darah (Puasa) untuk Cegah Diabetes.
Kemenkes Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2025). Pentingnya Pemeriksaan HbA1C.
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. (2021). Kapan Kita Harus Melakukan Pemeriksaan Diabetes?. Diabetes Tipe 2: Gejala, Penyebab, dan Harga Cek
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
_(2).jpg&w=3840&q=75)