Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Kanker Rektum: Gejala Khas, Penyebab, dan Bedanya dengan Kanker Kolon
Kembali ke Artikel & Berita

Kanker Rektum: Gejala Khas, Penyebab, dan Bedanya dengan Kanker Kolon

SBAOthers

Ada bercak darah merah di tisu toilet setelah buang air besar (BAB). Dugaan pertama biasanya wasir, apalagi bila tidak nyeri, sehingga keluhan dibiarkan berminggu-minggu.

Darah dari ujung usus besar juga bisa berasal dari kanker rektum. Pedoman Kementerian Kesehatan mencatat banyak pasien di Indonesia datang pada stadium lanjut karena gejala awalnya tidak jelas atau dianggap tidak penting.

Berikut penjelasan tentang penyebab, gejala, bedanya dengan wasir dan kanker kolon, serta pemeriksaan dan pengobatannya.

Apa Itu Kanker Rektum?

Kanker rektum adalah kanker yang tumbuh dari jaringan rektum, yaitu sekitar 15 cm bagian akhir usus besar tempat feses ditampung sebelum BAB. Bagian usus besar sebelumnya disebut kolon.

Kanker di kedua bagian ini sering digabung sebagai kanker kolorektal karena banyak kesamaan. Sebagian besar berjenis adenokarsinoma, yaitu kanker dari sel penghasil lendir. Kanker rektum juga berbeda dari kanker anus yang tumbuh di saluran anus. Penelitian di Rumah Sakit Pendidikan Ibnu Sina Makassar mencatat 38 dari 55 pasien kanker kolorektal tahun 2022 memiliki tumor di rektum.

Bagaimana Kanker Rektum Terbentuk?

Sebagian besar kanker kolorektal berawal dari polip, yaitu tonjolan jaringan di lapisan dalam usus. Kebanyakan polip jinak, tetapi jenis adenoma bisa berubah menjadi kanker dalam waktu bertahun-tahun. Rentang waktu ini memberi kesempatan mengangkat polip usus lebih awal.

Menurut National Cancer Institute (NCI), faktor risiko meningkatkan peluang kerusakan DNA pada sel usus. Sel yang rusak bisa tumbuh tidak terkendali, lalu menembus dinding rektum.

Faktor Risiko Kanker Rektum

NCI menyebut usia lanjut sebagai faktor risiko utama, meski penelitian di Makassar tadi juga mencatat pasien berusia 26 sampai 45 tahun. Faktor berikut juga meningkatkan peluang, walau belum tentu menyebabkan kanker:

  • Riwayat pribadi atau keluarga. Risiko naik bila ada riwayat adenoma berukuran 1 cm atau lebih, kanker kolorektal, atau keluarga inti yang pernah mengalaminya. Kelainan gen seperti sindrom Lynch dan familial adenomatous polyposis juga berperan.

  • Radang usus menahun. Kolitis ulseratif atau penyakit Crohn selama 8 tahun atau lebih meningkatkan risiko. Kelompok ini dianjurkan menjalani pemeriksaan lebih awal dan lebih sering.

  • Merokok dan alkohol. Pedoman Kemenkes mencatat hubungan merokok dengan kanker lebih kuat pada rektum dibanding kolon. NCI juga mencatat minum tiga porsi alkohol atau lebih per hari.

  • Pola makan dan berat badan. Banyak makan daging merah atau olahan, sedikit buah dan sayur, obesitas, dan jarang bergerak meningkatkan risiko. Semuanya bisa diubah lewat kebiasaan sehari-hari.

Gejala Kanker Rektum yang Perlu Dikenali

Kanker rektum tahap awal sering tanpa keluhan yang jelas. Saat gejala muncul, NCI mencatat keluhan berikut.

1. Darah pada Feses

Darah bisa tampak merah terang atau sangat gelap. Pedoman Kemenkes menilai perdarahan dari anus yang disertai BAB lebih sering atau diare minimal 6 minggu sebagai tanda yang patut dicurigai. Begitu pula perdarahan tanpa keluhan anus lain pada usia di atas 60 tahun.

2. Pola BAB Berubah

Perubahan bisa berupa diare atau sembelit yang tidak kunjung membaik. Diare berkepanjangan tanpa sebab yang jelas perlu diperiksakan, apalagi bila disertai darah.

3. Rasa BAB Belum Tuntas

Muncul rasa ingin BAB lagi padahal baru selesai, yang dalam istilah medis disebut tenesmus. Bila terus berulang, keluhan ini perlu diperiksakan.

4. Feses Mengecil atau Berubah Bentuk

Feses tampak lebih kecil atau bentuknya tidak seperti biasa. Perubahan yang menetap perlu diperiksakan.

5. Perut Tidak Nyaman

Keluhannya berupa kembung, begah, kram, atau nyeri karena gas. Gejala ini mirip gangguan pencernaan biasa sehingga mudah terlewat.

6. Lemas dan Berat Badan Turun

Pedoman Kemenkes memasukkan anemia defisiensi besi, yaitu kurang darah akibat kekurangan zat besi, sebagai tanda yang patut dicurigai. Keluhannya berupa lemas dan pucat. NCI juga mencatat nafsu makan berubah dan berat badan turun tanpa sebab.

BAB Berdarah, Wasir atau Kanker Rektum?

Wasir atau hemoroid sering menjadi sumber keluhan di anus. Menurut NIDDK, lembaga riset kesehatan Amerika Serikat, wasir bagian dalam menimbulkan darah merah terang di feses, tisu, atau kloset dan biasanya tidak nyeri. Wasir bagian luar lebih sering terasa gatal, mengganjal, atau nyeri saat duduk.

Darah merah terang juga bisa muncul pada kanker rektum, dan NIDDK mencatat perdarahan rektum bisa menandakan radang usus atau kanker kolorektal. Daftar penyebab BAB berdarah memang panjang, sehingga warna darah saja belum cukup untuk membedakannya.

NIDDK menganjurkan pemeriksaan dokter bila ada perdarahan dari rektum atau keluhan wasir tidak membaik setelah satu minggu perawatan di rumah. Ceritakan juga kebiasaan mengejan atau duduk lama di toilet, yang termasuk penyebab ambeien.

Komplikasi Kanker Rektum

Tanpa penanganan, tumor bisa menyumbat usus atau menyebar ke kelenjar getah bening. NCI mencatat kanker stadium lanjut bisa menyebar ke hati, paru, atau lapisan dinding perut, yang disebut metastasis. Kanker juga bisa kambuh, sehingga kontrol rutin tetap diperlukan.

Kanker Rektum dan Kanker Kolon, Apa Bedanya?

Letak rektum di rongga panggul dan dekat sfingter, otot cincin penahan feses, membuat penanganannya berbeda dari kanker kolon. Gambaran umum kanker usus besar mencakup kedua lokasi, sedangkan tabel ini merangkum perbedaannya menurut pedoman Kemenkes.

Aspek

Kanker rektum

Kanker kolon

Letak

Sekitar 15 cm bagian akhir usus besar

Bagian usus besar sebelum rektum

Colok dubur

Bisa meraba tumor di rektum bagian tengah dan bawah

Di luar jangkauan jari, dinilai lewat kolonoskopi

Penentuan stadium

MRI rektum, USG endorektal, dan CT scan

CT scan perut, panggul, dan foto dada

Stadium II dan III

Radioterapi dan kemoterapi umumnya sebelum operasi

Operasi dulu, lalu kemoterapi bila perlu

Setelah operasi

Sebagian pasien memerlukan stoma, lubang buatan di perut, sementara atau permanen

Usus umumnya disambung kembali

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

Kapan Keluhan BAB Perlu Diperiksakan?

Periksakan diri bila Anda mengalami BAB berdarah, pola BAB yang berubah selama beberapa minggu, rasa BAB tidak tuntas, atau berat badan turun tanpa sebab. Riwayat keluarga, polip, atau radang usus menahun juga menjadi alasan berkonsultasi meski belum ada keluhan.

Segera ke IGD bila terjadi perdarahan banyak, nyeri perut hebat, atau perut makin kembung disertai muntah dan tidak bisa BAB.

Pemeriksaan untuk Memastikan Kanker Rektum

Selain menanyakan riwayat kesehatan, dokter bisa melakukan pemeriksaan berikut:

  • Colok dubur. Dokter meraba bagian bawah rektum dengan jari bersarung tangan. Pedoman Kemenkes menganjurkannya bagi setiap pasien dengan keluhan anus dan rektum.

  • Kolonoskopi dan biopsi. Lewat kolonoskopi, dokter melihat bagian dalam rektum dan kolon dengan selang tipis berkamera. Dokter juga bisa mengangkat polip dan mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk memastikan diagnosis.

  • Pencitraan. Pedoman Kemenkes menyebut MRI rektum lebih akurat menilai penyebaran lokal tumor. CT scan dan foto dada membantu melihat penyebaran ke hati atau paru.

  • Tes CEA. Menurut NCI, CEA dilepaskan sel kanker maupun sel normal, sehingga kadarnya bisa naik karena kondisi lain. Karena itu, pemeriksaan CEA dipakai sebagai penunjang dan pemantauan setelah pengobatan.

Skrining Lewat Tes DNA Feses

Menurut American Cancer Society, sel polip atau kanker sering membawa perubahan DNA dan ikut terbawa ke feses, sehingga bisa dideteksi lewat tes DNA feses. Penelitian di Journal of Cancer Research and Clinical Oncology menemukan kadar metilasi, yaitu perubahan kimia pada DNA, pada gen SDC2, ADHFE1, dan PPP2R5C dalam feses lebih tinggi pada pasien kanker kolorektal.

ColoTect dari Bumame memeriksa status metilasi ketiga gen ini sebagai penanda risiko kanker kolorektal, termasuk di rektum. Sampel feses diambil sendiri dengan kit tanpa persiapan khusus. Kolonoskopi tetap menjadi standar baku, sehingga hasil positif perlu dilanjutkan dengan kolonoskopi, sedangkan hasil negatif belum menyingkirkan semua polip dan kanker. Bila sudah ada BAB berdarah atau keluhan lain, mulailah dengan pemeriksaan dokter.

Pilihan Pengobatan Kanker Rektum

Pengobatan bergantung pada stadium, letak tumor, dan kondisi tubuh. Pilihannya meliputi:

  • Operasi. Kanker yang sangat dini bisa diangkat saat kolonoskopi atau lewat eksisi lokal. Pada tahap lanjut, bagian rektum bertumor diangkat bersama kelenjar getah bening sekitarnya dengan teknik yang menjaga saraf panggul.

  • Radioterapi dan kemoterapi. Menurut NCI, terapi sebelum operasi membantu mengecilkan tumor, mempermudah operasi, dan menjaga kontrol BAB. Terapi setelah operasi menurunkan risiko kanker kembali.

  • Stoma. Stoma dibuat bila tumor terlalu dekat dengan anus, kadang hanya sementara sampai rektum pulih. Pedoman Kemenkes menyebut operasi yang mempertahankan sfingter lebih disukai bila memungkinkan.

  • Terapi lain. Terapi target dan imunoterapi dipakai pada kasus tertentu sesuai hasil tes penanda tumor. Kombinasinya ditentukan tim dokter.

Langkah Menurunkan Risiko Kanker Rektum

Langkah berikut membantu menurunkan risiko:

  • Skrining sesuai usia dan risiko. Pedoman Kemenkes memasukkan usia 50 tahun ke atas ke kelompok risiko sedang, sedangkan kelompok risiko tinggi memulai skrining lebih muda. Pilihannya antara lain tes darah samar feses setiap tahun, atau kolonoskopi setiap 5 tahun yang sekaligus bisa mengangkat polip sebelum menjadi kanker.

  • Pola makan seimbang. Perbanyak buah dan sayur, serta batasi daging merah dan olahan. Hindari juga memasak daging merah pada suhu tinggi dalam waktu lama.

  • Gaya hidup aktif tanpa rokok. Pedoman Kemenkes mengutip anjuran aktivitas sedang seperti jalan cepat minimal 30 menit, 5 hari atau lebih setiap minggu. Berhenti merokok dan membatasi alkohol juga membantu. Belum ada suplemen yang dianjurkan khusus untuk pencegahan.

Kenali Perubahan Kecil dan Periksa Lebih Awal

Darah saat BAB atau pola BAB yang berubah layak diperiksakan, apa pun dugaan awalnya. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Untuk menanyakan pilihan skrining, Anda bisa hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Lokasi Klinik Bumame

Pemeriksaan tersedia di lima klinik Bumame.

Bumame Cideng

JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28, Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi

Bumame TB Simatupang

Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi

Bumame BSD

Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kec. Serpong, Tangerang, Banten 15310. Senin sampai Minggu, pukul 07.00 sampai 21.00. Lihat lokasi

Bumame Puri

Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23, RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat 11610. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi

Bumame Kelapa Gading

Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Kelapa Gading Barat, Kec. Kelapa Gading, Jakarta Utara, DKI Jakarta 14240. Senin sampai Minggu, pukul 06.00 sampai 20.00. Lihat lokasi

Pilih lokasi terdekat dari tempat Anda.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/406/2018 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Kanker Kolorektal.

  2. National Cancer Institute. Rectal Cancer Treatment (PDQ), Patient Version.

  3. American Cancer Society. What Is Colorectal Cancer?

  4. Husnah A, dkk. Karakteristik Penderita Kanker Kolorektal di Rumah Sakit Pendidikan Ibnu Sina Makassar Tahun 2022. Fakumi Medical Journal, Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

  5. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Symptoms & Causes of Hemorrhoids.

  6. American Cancer Society. Colorectal Cancer Screening Tests.

  7. Li B, dkk. Combined Detection of SDC2/ADHFE1/PPP2R5C Methylation in Stool DNA for Colorectal Cancer Screening. Journal of Cancer Research and Clinical Oncology.

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa perbedaan kanker rektum dan kanker kolon?

Kanker rektum tumbuh di sekitar 15 cm bagian akhir usus besar, sedangkan kanker kolon tumbuh di bagian usus besar sebelum rektum. Perbedaan letak ini memengaruhi pemeriksaan stadium dan pilihan pengobatannya.

Apakah BAB berdarah selalu menandakan kanker rektum?

Tidak. BAB berdarah juga bisa disebabkan oleh wasir, radang usus, atau polip. Namun, perdarahan dari anus tetap perlu diperiksa dokter karena warna darah saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya.

Siapa yang lebih berisiko terkena kanker rektum?

Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, riwayat keluarga kanker kolorektal atau polip, radang usus menahun, serta kelainan genetik tertentu. Merokok, konsumsi alkohol, obesitas, kurang bergerak, dan pola makan tinggi daging merah atau olahan juga meningkatkan risiko.

Pemeriksaan apa yang digunakan untuk memastikan kanker rektum?

Dokter dapat melakukan colok dubur dan kolonoskopi untuk memeriksa bagian dalam usus serta mengambil sampel jaringan melalui biopsi. Hasil biopsi membantu memastikan diagnosis, sedangkan MRI dan CT scan digunakan untuk menilai penyebaran kanker.

Apakah penderita kanker rektum selalu harus memakai kantong stoma?

Tidak. Stoma diperlukan pada kondisi tertentu, misalnya ketika tumor berada sangat dekat dengan anus atau bagian rektum harus diangkat. Pada sebagian pasien, stoma bersifat sementara, bergantung pada kondisi dan rencana operasi.