Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Kanker Usus Besar: Gejala, Penyebab, dan Harga Cek | Bumame
Kembali ke Artikel & Berita

Kanker Usus Besar: Penyebab, Gejala, dan Deteksi Dini

SBAOthers

Nyeri perut, pola buang air besar berubah, BAB berdarah, tubuh lebih mudah lelah, hingga penurunan berat badan sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, gejala tersebut dapat berkaitan dengan penyakit yang lebih serius, termasuk kanker usus besar yang berkembang dari jaringan di kolon atau rektum.

Kanker ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, mengenali tanda, faktor risiko, dan langkah pemeriksaan yang tepat penting dilakukan agar kondisi dapat diketahui lebih cepat dan penanganan bisa diberikan sesuai kebutuhan.

Apa Itu Kanker Usus Besar?

Kanker usus besar dikenal sebagai kanker kolorektal yang menyerang usus besar atau kolon, yaitu organ terakhir dalam sistem pencernaan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa penyakit ini terjadi akibat sel-sel dalam usus besar berkembang secara masif dan tidak terkendali sehingga membentuk tumor ganas.

Tumor ini lama kelamaan berkembang menjadi polip-polip kecil yang tumbuh di dinding usus besar. Apabila tidak segera ada tindakan pengangkatan, polip tersebut berubah menjadi sel kanker.

World Health Organization (WHO) mencatat bahwa kanker kolorektal menjadi jenis kanker dengan pengidap terbanyak ketiga dan termasuk penyebab kematian terbanyak kedua di seluruh dunia, khususnya Indonesia.

Jumlah pengidap kanker kolorektal di Indonesia pada tahun 2018 bahkan sudah mencapai 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa dan menjadi penyebab kematian hingga 9,5% dari seluruh kasus kanker. Sebagian besar pengidap kanker ini didominasi oleh kalangan muda karena sel tumor mampu berkembang lebih cepat ke stadium lanjut di usia mudah.

Hal ini dikuatkan oleh data dari Rumah Sakit Umum Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo bahwa pada tahun 2018, usia termuda pengidap kanker usus besar adalah 24 tahun. Selain itu, kasus kanker ini paling banyak terjadi di negara maju dan mulai meningkat di negara berkembang, seperti Indonesia, sebab ada perubahan pola hidup tidak sehat di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, guru besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, menegaskan deteksi dini sangatlah penting untuk meningkatkan angka harapan hidup, terutama pasien yang memiliki riwayat kanker usus di keluarganya.

Pasalnya, pasien stadium I yang segera mendapat penanganan medis masih memiliki angka bertahan hidup dalam lima tahun sebesar 90%. Ini berbeda dengan kondisi pasien stadium IV yang diperkirakan hanya memiliki angka harapan hidup sekitar 10% sampai 20%.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Usus Besar

Kanker kolorektal terjadi karena sel-sel mengalami mutasi DNA sehingga tumbuh tak terkendali dan tidak melalui proses alami kematian sel. Sel-sel abnormal ini kemudian menumpuk dan berubah menjadi kanker. Di sisi lain, ada juga faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengidap kanker kolorektal, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Riwayat Keluarga atau Genetik

Faktor genetik menjadi penyebab utama seseorang mengidap kanker usus besar dengan menyumbang sekitar 5% kasus di dunia. Kerentanan ini semakin meningkat pada keluarga tingkat pertama, seperti orang tua, anak, atau saudara kandung dengan persentase risiko sebanyak 20%.

Hal ini terjadi karena kanker ini berhubungan dengan mutasi genetik DNA menyerang dinding usus besar. Jadi, sel-sel alami dalam usus berkembang secara tidak terkendali sehingga menyebabkan tumor kemudian berubah menjadi kanker.

2. Faktor Lingkungan dan Gaya Hidup

Penyebab utama setelah genetik adalah faktor lingkungan. Seseorang yang tidak menjaga kesehatannya dengan baik, seperti jarang melakukan aktivitas fisik dan mengonsumsi alkohol dan merokok dalam jangka panjang, berisiko terkena kanker kolorektal karena rokok mengandung zat kimia yang mampu memperburuk kerja usus.

Begitu pula dengan penggunaan obat-obatan imunosupresan dalam jangka waktu lama dan ada riwayat penyakit radang usus kronis, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Keduanya turut meningkatkan risiko kanker usus besar apabila tidak segera dihentikan atau mendapat penanganan tepat.

3. Pola Makan 

Kebiasaan makan sembarangan turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan usus. Pola makan yang buruk adalah mengonsumsi makanan tinggi lemak, daging merah berlebihan (karena kandungan zat besi alaminya mampu merusak lapisan sel epitel yang melapisi usus besar), mie instan dan makanan ultra-proses, hingga diet rendah serat.

Selain itu, pola makan buruk memicu terjadinya obesitas yang semakin meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal. Kondisi ini sempat terjadi di Inggris, yang mana 11 dari setiap 100 kasus kanker terjadi akibat kelebihan berat badan. Ini menunjukkan bahwa kelebihan berat badan mampu memengaruhi fungsi organ secara keseluruhan, salah satunya organ pencernaan.

4. Usia

Tak hanya itu, kanker usus besar juga dipicu oleh faktor usia. Misalnya, orang di usia lanjut, yakni 75 tahun atau lebih, dan ditemukan meningkat pada kalangan muda berusia 25-49 tahun.

Belum ada penelitian lebih lanjut yang menjelaskan mengapa penyakit ini juga banyak dialami oleh anak muda. Namun, ini bisa terjadi karena sel-sel tumor mampu berkembang lebih cepat ke stadium lanjut di usia muda.

Gejala Kanker Usus Besar

Kanker kolorektal umumnya terjadi tanpa gejala. Tapi, di sisi lain, kanker kolorektal bisa muncul dengan beberapa gejala. Berikut ini tanda-tanda munculnya kanker yang menyerang usus besar:

1. Gejala Awal yang Sering Tidak Disadari

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH menjelaskan bahwa terkadang gejala kanker kolorektal tumpang tindih dengan gangguan pencernaan, sehingga disarankan untuk tidak menyepelekan apabila terjadi masalah pada pencernaan, seperti diare, perut kembung, dan susah buang air besar sampai mengeluarkan darah.

Hal ini karena keluhan tersebut mirip dengan gangguan pencernaan biasa. Selain itu, perhatikan apakah muncul rasa tidak nyaman dalam perut, seperti kram atau nyeri dan terasa tidak sepenuhnya kosong.

2. Gejala Lanjut yang Perlu Diwaspadai

Nah, apabila kram dan nyeri perut terasa semakin sakit disertai tanda-tanda lain seperti frekuensi BAB yang abnormal, bentuk BAB berubah menjadi lebih tips akibat penyempitan saluran usus, anemia, hingga terjadi penurunan berat badan, itu adalah gejala lanjut yang perlu Anda waspadai.

Kondisi tersebut bisa membuat tubuh merasa lemas dan kelelahan sehingga membutuhkan perawatan yang tepat. Selain itu, pada beberapa kasus, penderita bisa mengalami infeksi usus, nyeri di area hati, tubuh berubah menjadi kuning, dan muncul sesak napas sebagai pertanda bahwa keluhan sudah menyerang paru-paru.

Pentingnya Deteksi Dini Kanker Usus Besar dan Pemeriksaan Penunjang

Melakukan deteksi dini kanker usus besar sangat dianjurkan bagi Anda dengan kondisi berisiko, seperti berusia lanjut maupun memiliki riwayat penyakit tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas sehingga dapat meningkatkan angka harapan hidup.

Salah satu caranya adalah dengan memilih layanan skrining kanker colorectal dari Bumame. Layanan ini membantu Anda mendeteksi adanya potensi kanker pada usus besar maupun rektum melalui stool DNA atau sampel feses.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengenali adanya tanda atau perubahan genetik yang berkaitan dengan kanker. Sehingga, Anda bisa mengetahui kondisi kesehatan usus dan mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan bila diperlukan.

Tes skrining kanker ini tentu saja aman dan tanpa risiko sehingga sangat cocok untuk Anda yang rentan mengidap kanker kolorektal. Sebagai peningkatan mutu pelayanan, Bumame juga hadir lebih praktis melalui layanan home care yang membuat Anda tidak perlu keluar rumah untuk tes skrining.

Setelah kanker terdeteksi, Anda harus segera melakukan pemeriksaan bersama dokter spesialis dengan konsultasi intensif untuk mendapatkan tindakan tepat sesuai keluhan yang diderita.

Pada proses ini, dokter juga akan melakukan berbagai macam tindakan penunjang, seperti Ca 19-9 untuk mendiagnosis sekaligus memantau potensi kanker kolorektal, pankreas, dan kanker tiroid tahap awal. Tes ini biasanya menggunakan teknik pencitraan seperti CT scan atau ultrasonografi endoskopik supaya hasil lebih akurat.

Pemeriksaan lain juga bisa dilakukan dengan kolonoskopi atau endoskopi dengan memasukkan alat mirip kamera untuk melihat kondisi usus besar secara real-time. Cara lain adalah biopsi usus, yakni mengambil sampel jaringan usus untuk melihat keberadaan sel kanker yang ganas.

Kapan Harus ke Dokter?

Bagi kelompok rentan sangat dianjurkan pergi ke dokter lebih awal ketika merasakan gejala yang tidak biasa pada sistem pencernaan. Dokter akan melakukan tes skrining untuk menentukan adanya peradangan bahkan kanker usus besar sejak dini

Langkah ini sangat penting mengingat gejala  kanker kolorektal sering kali disepelekan hanya karena mirip dengan gangguan pencernaan pada umumnya. Oleh karena itu, menyadari adanya potensi dan memahami penanganan kanker sedari awal adalah kunci menjalani hidup sehat.

Deteksi Kanker Usus Besar Sejak Dini untuk Hidup Lebih Sehat

Kanker usus besar menjadi gejala paling banyak dialami usia muda maupun tua. Masalah pencernaan ini bisa dicegah dengan memahami gejala dan faktor risikonya serta mengubah pola hidup demi menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Selain itu, penting untuk melakukan skrining kesehatan secara rutin untuk mendeteksi adanya sel kanker yang hidup, terutama pada kelompok rentan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi:

  1. Info Sehat FKUI. (2020). Kanker Usus Besar Intai Milenial, Gaya Hidup Seperti ini Meningkatkan Risiko. 

  2. Info Sehat FKUI. (2019). Deteksi Dini Kanker Usus Besar, Harapan Hidup Pasien Meningkat. 

  3. Info Sehat FKUI. (2019). Apa Saja Gejala Kanker Usus Besar? 

  4. Jurnal Abdidas. (2022). Penyuluhan Tentang Kanker Usus Besar dengan Syauran Hidroponik. 

  5. Kemenkes RS Surabaya. (2026). Kanker Usus Besar: Penyebab, Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan. 

  6. Info Sehat FKUI. (2021). Kanker Usus Besar, Fakta dan Mitos yang Perlu Dipahami. 

  7. Ayo Sehat Kemenkes. Kanker Usus Besar. 

  8. Info Sehat FKUI. (2019). Pasien Kanker Usus Stadium I Punya Kualitas Hidup 90 Persen. 

  9. Cancer Research UK. Risks and causes of bowel cancer. 

  10. Mahesa: Malahayati Health Student Journal. (2025). The Indonesia Colorectal Cancer Risk Assessment (INA_COCARA): Identifikasi Profil Risiko Pada Mahasiswa. 

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa itu kanker usus besar?
Kanker usus besar atau kanker kolorektal adalah pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali pada usus besar atau kolon hingga membentuk tumor ganas. Kondisi ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. 
Apa saja faktor risiko kanker usus besar?
Risikonya dapat meningkat karena riwayat keluarga atau faktor genetik, gaya hidup kurang aktif, merokok, konsumsi alkohol, pola makan tinggi lemak dan daging merah, rendah serat, obesitas, serta usia. Riwayat penyakit radang usus kronis seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn juga dapat meningkatkan risiko. 
Apa saja gejala kanker usus besar?
Gejala dapat berupa perubahan pola BAB, diare atau sembelit, BAB berdarah, perut kembung, kram atau nyeri perut, anemia, perubahan bentuk BAB, kelelahan, dan penurunan berat badan. Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai gangguan pencernaan biasa sehingga mudah diabaikan. 
Bagaimana cara mendeteksi kanker usus besar?
Deteksi dapat dilakukan melalui skrining, termasuk pemeriksaan DNA tinja untuk melihat tanda atau perubahan genetik yang berkaitan dengan kanker. Jika diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti kolonoskopi, CT scan, ultrasonografi endoskopik, atau biopsi jaringan usus. 
Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?
Segera periksa jika mengalami gejala pencernaan yang tidak biasa, terutama bila menetap atau terjadi pada kelompok yang memiliki faktor risiko. Deteksi lebih awal penting karena gejala kanker kolorektal sering menyerupai gangguan pencernaan umum.