Pernah melihat urin yang berubah warna menjadi kemerahan, merah muda, atau kecokelatan ketika buang air kecil? Perubahan warna tersebut bisa membuat khawatir, khususnya ketika sebelumnya urine terlihat normal. Salah satu kemungkinan penyebabnya yaitu hematuria atau kencing darah, kondisi saat ada darah dalam urin.
Melansir NHS, kencing darah tidak selalu menandakan adanya penyakit serius. Batu ginjal dan infeksi saluran kemih, misalnya, juga bisa mengakibatkan kondisi tersebut. Akan tetapi, darah dalam urin tetap harus Anda perhatikan karena penyebabnya cukup bervariasi dan sebagian memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Apa Itu Kencing Darah?
Secara medis, kencing darah dinamakan hematuria, yaitu adanya red blood cells (RBC) atau sel darah merah dalam urin. Kondisi tersebut bisa terjadi karena perdarahan di bagian mana pun dari saluran kemih, mulai dari ureter, ginjal, kandung kemih, sampai uretra.
Terdapat dua jenis hematuria. Pertama, groos hematuria, yaitu darah dalam urin yang bisa terlihat secara langsung, membuat urin dapat berwarna merah, merah muda, atau cokelat. Kedua, microscopic hematuria, yaitu darah dalam urin yang jumlahnya sangat sedikit untuk bisa dilihat oleh mata.
Dengan kata lain, untuk bisa mengetahuinya, Anda harus melakukan pemeriksaan urin menggunakan alat maupun mikroskop. Menariknya, jumlah darah yang sedikit pun bisa menyebabkan perubahan warna pada urin.
Sebaliknya, seseorang bisa mengalami microscopic hematuria tanpa merasakan adanya keluhan. Maka dari itu, tidak adanya rasa sakit tidak selalu menandakan bahwa keberadaan darah dalam urin boleh Anda abaikan.
Penyebab Kencing Darah
Penyebab kencing darah sangat beragam. Beberapa ada yang bersifat umum dan bisa ditangani setelah mengetahui penyebabnya, sementara ada yang memerlukan pemeriksaan secara lebih mendalam.
A. Penyebab Umum
Berikut ini beberapa penyebab umum yang mengindikasikan seseorang mengalami hematuria.
1. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi saat mikroorganisme, khususnya bakteri, telah menginfeksi bagian saluran kemih. Peradangan karena infeksi bisa memicu jaringan saluran kemih mengalami iritasi serta menyebabkan keluarnya darah dalam urin.
Kondisi ini kerap disertai dengan rasa perih atau terbakar ketika buang air kecil. Selain itu, frekuensi buang air kecil juga meningkat, urin berbau lebih kuat, urin keruh, dan terkadang menyebabkan demam.
2. Batu Ginjal
Batu ginjal adalah endapan keras yang terbuat dari mineral atau zat tertentu di dalam urin. Saat batu bergerak melewati saluran kemih, permukaannya bisa mengiritasi atau menyebabkan luka pada jaringan sehingga memicu kencing batu dan darah bisa masuk ke urin.
Keluhannya bisa berupa nyeri pada sisi tubuh, punggung, perut bagian bawah, maupun selangkangan. Selain itu, ada juga yang mengalami mual dan muntah.
3. Pembesaran Prostat
Pada pria, benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat yang bukan termasuk kanker dan bisa berpengaruh terhadap aliran urin.
Kondisi ini sering terjadi seiring dengan bertambahnya usia serta bisa disertai dengan aliran urin melemah, sulit memulai buang air kecil, maupun lebih sering buang air kecil di malam hari.
4. Cedera atau Aktivitas Fisik Berat
Trauma pada saluran kemih atau ginjal juga bisa mengakibatkan darah masuk ke urin. Bukan hanya itu, aktivitas fisik yang sangat berat, termasuk olahraga jarak jauh, pada kondisi tertentu bisa berhubungan dengan munculnya kencing darah.
B. Penyebab yang Perlu Diwaspadai
Sementara itu, terdapat beberapa penyebab hematuria yang harus Anda waspadai.
1. Gangguan pada Ginjal
Darah dalam urin bisa berasal dari kerusakan yang terjadi pada penyaring darah atau glomerulus. Salah satu contohnya yaitu glomerulonephritis, sebuah peradangan di glomerulus yang bisa mengakibatkan terganggunya proses penyaringan darah.
Pada kondisi tertentu, pemeriksaan urin bisa menemukan protein maupun perubahan bentuk pada sel darah merah yang akan membantu dokter untuk menilai kemungkinan terdapat gangguan pada ginjal.
2. Tumor atau Kanker pada Saluran Kemih
Menurut Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, kanker kandung kemih, prostat, atau ginjal juga bisa mengakibatkan kencing darah. Pada kanker kandung kemih, darah dalam urin bahkan menjadi salah satu gejala paling umum.
Darah bisa muncul sekali, lalu tidak terlihat lagi selama beberapa waktu. Hal ini menyebabkan perubahan yang hanya terjadi sesekali tetap harus diperiksa.
Perlu ditekankan bahwa hematuria tidak otomatis berarti kanker. Batu ginjal, infeksi, serta beragam gangguan lain jauh lebih mungkin menjadi penyebab pada banyak orang. Itulah mengapa perlu adanya pemeriksaan agar tahu penyebab sebenarnya, bukan untuk menyimpulkan adanya penyakit tertentu.
3. Gangguan Pembekuan Darah dan Obat Tertentu
Gangguan pembekuan darah bisa mengakibatkan seseorang lebih mudah mengalami perdarahan, termasuk di saluran kemih. Beberapa obat, seperti obat pengencer darah, juga bisa berhubungan dengan munculnya darah dalam urin. Maka dari itu, riwayat obat yang sedang Anda konsumsi penting untuk Anda sampaikan ke tenaga medis saat menjalani pemeriksaan.
Gejala Penyerta Kencing Darah
Kencing darah bisa muncul tanpa gejala lain, khususnya pada microskopic hematuria. Akan tetapi, jika terdapat keluhan tambahan, gejala tersebut bisa memberi petunjuk tentang kemungkinan penyebabnya.
1. Nyeri atau Rasa Terbakar
Seseorang yang mengalami rasa nyeri dan terbakar ketika buang air kecil bisa mengalami iritasi atau infeksi saluran kemih. Keluhan tersebut biasanya terasa saat urin melewati saluran yang sedang mengalami peradangan.
2. Sering Buang Air Kecil
Kebiasaan ini juga bisa muncul pada infeksi saluran kemih maupun masalah pada kandung kemih. Pada kondisi tertentu, Anda bisa merasa ingin buang air kecil meskipun urin yang keluar relatif sedikit.
3. Nyeri Punggung, Pinggang, atau Selangkangan
Gejala penyerta ini lebih sering ditemukan pada seseorang yang mengalami batu ginjal. Nyeri akibat batu bisa terasa begitu kuat serta datang secara bergelombang, khususnya saat batu bergerak melewati saluran kemih.
4. Demam dan Menggigil
Demam dan menggigil juga dapat menyertai ISK yang lebih berat, khususnya ketika infeksi melibatkan ginjal. Sementara itu, mual dan muntah bisa muncul secara bersamaan dengan rasa nyeri karena batu ginjal.
Diagnosis Kencing Darah
Menentukan penyebab penyakit kencing darah tidak cukup berdasarkan warna urin. Biasanya dokter akan mempertimbangkan riwayat kesehatan, keluhan, pemeriksaan fisik, lalu memilih jenis pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan kondisi.
1. Tes Urin
Pemeriksaan urin atau urinalysis adalah salah satu pemeriksaan awal yang penting. Sampel urin bisa diperiksa untuk mengetahui keberadaan sel darah merah, protein, sel darah putih, bakteri, nitrit, dan parameter lain yang bisa memberi petunjuk mengenai infeksi maupun gangguan ginjal.
Ketika hasil menunjukkan adanya darah, dokter bisa meminta pemeriksaan ulang agar memastikan temuan tersebut. Adapun perempuan yang sedang menstruasi, darah menstruasi juga bisa mencemari sampel sehingga pemeriksaan mungkin harus diulang setelah menstruasi selesai.
2. Tes Darah
Tes darah juga bisa dilakukan untuk mengetahui kondisi fungsi ginjal atau menemukan tanda penyakit tertentu yang bisa berkaitan dengan kencing darah. Pemeriksaan tersebut tidak selalu berlaku untuk semua orang, tetapi bisa dipilih sesuai hasil pemeriksaan awal serta kondisi pasien.
3. USG Saluran Kemih
USG atau ultrasonography adalah pemeriksaan tubuh menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran organ dalam. Cara ini juga bisa digunakan untuk melihat ginjal serta bagian saluran kemih tertentu. Pemeriksaan tersebut akan membantu menemukan batu, perubahan struktur, sumbatan, atau kelainan lain yang mungkin berkaitan dengan darah dalam urin.
4. MRI atau CT scan
CT atau computed tomography menggunakan sinar-X dan teknologi komputer agar bisa menghasilkan gambar organ secara lebih detail. Sementara itu, MRI atau magnetic resonance imaging adalah pemeriksaan tubuh menggunakan medan magnet dan gelombang radio.
Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh. Keduanya bisa dipakai pada kondisi tertentu saat pemeriksaan lebih detail dibutuhkan.
5. Sistoskopi
Sistoskopi merupakan prosedur untuk mengetahui bagian dalam uretra serta kandung kemih dengan menggunakan alat tipis berkamera yang dinamakan sistoskop. Pemeriksaan tersebut bisa menjadi pertimbangan saat dokter harus melihat langsung kondisi kandung kemih, khususnya saat ada dugaan kelainan tertentu maupun kanker kandung kemih.
Jadi, diagnosis terhadap kencing darah sebaiknya dilakukan secara bertahap. Tidak semua orang memerlukan semua jenis pemeriksaan karena pemilihan pemeriksaan harus berdasarkan penyebab serta hasil evaluasi sebelumnya.
Cek Kesehatan Saluran Kemih Sebelum Terlambat
Bumame menyediakan pemeriksaan Urine Rutin untuk memantau kondisi urin lewat layanan Homecare dan Walk In. Tes ini mencakup pengujian darah, leukosit, protein, nitrit, dan beberapa zat lain dalam urin yang bisa menjadi indikasi adanya gangguan kesehatan.
Pemeriksaan ini dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi ginjal, saluran kemih, fungsi hati, serta mendeteksi tanda awal gangguan tertentu seperti infeksi saluran kemih, batu ginjal, diabetes, dan gangguan metabolisme. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu maksimal 1x24 jam, sehingga Anda dapat lebih mudah memantau kondisi kesehatan secara berkala.
Kapan Harus ke Dokter?
Sebaiknya kencing darah diperiksakan ke dokter meski hanya terjadi sekali atau tidak disertai dengan rasa sakit. Terlebih saat darah muncul secara berulang, disertai dengan nyeri pinggang, nyeri ketika buang air kecil, muntah, demam, atau kesulitan mengeluarkan urin.
Segera cari pertolongan medis ketika muncul demam dan menggigil, nyeri hebat, muntah berulang, atau gumpalan darah yang bisa menghambat aliran urin. Pemeriksaan diperlukan agar diketahui penyebabnya sehingga bisa ditentukan langkah berikutnya.
Jangan Abaikan Perubahan Kecil saat Buang Air Kecil
Perubahan warna urin, rasa nyeri, munculnya darah, atau frekuensi buang air kecil yang berubah sebaiknya tidak Anda anggap sepele. Keluhan ini bisa terjadi karena kondisi yang relatif ringan, tetapi juga bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saluran kencing atau ginjal.
Jika perubahan urin berulang atau menetap, pemeriksaan bisa membantu memberi gambaran tentang kondisi tubuh. Dengan mengetahui penyebab awal, Anda bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dalam menentukan pemeriksaan serta penanganan yang tepat.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
NHS. (2023). Blood in urine.
Merck Manual Consumer Version. (2026). Blood in Urine. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2017). Symptoms & Causes of Kidney Stones.
Merck Manual Professional Edition. (2026). Evaluation of the Patient With Urologic Issues.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2020). Urinary Tract Imaging.
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
Frequently Asked Question
Apa yang dimaksud dengan kencing darah?
Apa saja penyebab kencing darah?
Kencing darah dapat disebabkan oleh infeksi saluran kemih, batu ginjal, pembesaran prostat, cedera, aktivitas fisik berat, gangguan ginjal, hingga tumor atau kanker pada saluran kemih. Obat pengencer darah dan gangguan pembekuan darah juga dapat berhubungan dengan kondisi ini.
_(1).jpg&w=3840&q=75)