Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Kista Bartholin: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
Kembali ke Artikel & Berita

Kista Bartholin: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

SBAOthers

Menjaga kebersihan area kewanitaan menjadi rutinitas harian yang biasa dilakukan setiap wanita. Namun, ketika mandi dan membasuh area kewanitaan, ekspresi terkejut mungkin muncul saat tidak sengaja menyentuh benjolan kecil bertekstur lunak di dekat organ intim wanita. Benjolan berisi cairan ini bisa saja berupa kista bartholin.

Dinamakan bartholin karena kondisi ini terjadi akibat tersumbatnya kelenjar bartholin. Timbulnya benjolan asing ini pun memicu kekhawatiran tersendiri. Maka, tak heran jika wanita yang mengalaminya mencari tahu kista bartholin apakah berbahaya atau tidak. Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari pahami tentang jenis kista ini!

Apa Itu Kista Bartholin?

Kista bartholin adalah benjolan nonkanker di dekat lubang vagina yang terbentuk akibat penyumbatan cairan di kelenjar bartholin. Kelenjar bartholin merupakan dua kelenjar seukuran biji kacang polong yang terletak di kedua sisi labia mayora (bibir besar vagina) dekat lubang vagina. Namun, benjolan hanya muncul di satu sisi labia saja.

Sebagian besar kista bartholin berukuran kecil, yakni berkisar seukuran kacang polong atau kelereng, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit. Tetapi, jika akumulasi cairan dibiarkan berlanjut tanpa ada penanganan medis, ukurannya dapat membesar hingga seukuran bola golf dan memicu rasa tidak nyaman atau mengganjal.

Penyakit ini bisa muncul pada rentang usia berapa saja, dari remaja hingga dewasa. Tetapi, paling sering menyerang wanita di usia produktif saat aktivitas seksualnya masih tinggi, yaitu antara 20 hingga 30 tahun. Sedangkan pada usia menopause sangat jarang terjadi, karena kelenjar bartholin sudah semakin mengecil.

Fungsi Kelenjar Bartholin

Kelenjar bartholin berfungsi menghasilkan cairan mukus atau mukosa yang berguna sebagai pelumas alami yang dapat membantu mengurangi gesekan saat berhubungan seksual. Selain itu, cairan ini juga berperan dalam menjaga kelembapan di area vagina dan vulva (bagian luar pelindung organ reproduksi), sehingga terhindar dari iritasi.

Ketika saluran kelenjar bekerja dengan normal, cairan mukus yang bertekstur lendir bening ini dapat mengalir lancar memberikan kelembapan di area vagina. Namun, apabila salurannya tersumbat, otomatis cairan tersebut akan menumpuk terus-menerus dan membuat kelenjar membengkak. Inilah yang memicu pembentukan kista bartholin.

Gejala dan Ciri-Ciri Kista Bartholin

Di tahap awal, ketika ukuran kista masih kecil, lunak, tidak memerah, dan belum terinfeksi, umumnya wanita belum merasakan keluhan sakit. Namun, seiring bertambahnya ukuran dan terkena infeksi bakteri, gejala yang dirasakan antara lain:

  • Terasa mengganjal dan tidak nyaman saat duduk, berjalan, dan olahraga.

  • Sensasi nyeri saat berhubungan intim.

  • Bentuk labia vagina tidak simetris, karena salah satu sisinya bengkak.

  • Muncul infeksi atau abses berupa nyeri hebat, memerah dan terasa hangat. 

  • Keluar cairan dari kista, seperti nanah yang berbau.

  • Demam ringan hingga tinggi.

Penyebab Kista Bartholin

Kista sering kali dianggap sama dengan miom rahim, karena gejalanya berupa benjolan nonkanker yang tumbuh di sekitar organ reproduksi wanita. Padahal kista dan miom merupakan dua kondisi medis yang berbeda, mulai dari lokasi tumbuh dan ciri benjolannya, gejala, hingga penyebab utamanya.

Penyebab utama tumbuhnya kista bartholin adalah terdapat sumbatan di saluran kelenjar bartholin atau sumber keluarnya cairan mukus vagina. Cairan yang terhambat dan terus menumpuk, akhirnya membuat kelenjar bengkak dan membentuk kantung berisi cairan. Selain itu, faktor-faktor lain yang memicu penyumbatan, yaitu:

  • Jaringan kulit yang tumbuh berlebihan di area vulva vagina.

  • Iritasi fisik, seperti gesekan berlebih saat terlalu lama bersepeda atau berkuda, sering menggunakan celana yang terlalu ketat, serta kurangnya pelumas saat berhubungan seks.

  • Terkena benturan atau cedera karena jatuh, terluka saat mencukur bulu kemaluan, atau luka setelah melahirkan.

  • Pemakaian sabun khusus kewanitaan atau pembilas vagina yang memiliki wangi yang tajam.

  • Penggunaan deterjen pakaian yang mengandung bahan kimia yang dapat mengiritasi kulit.

  • Jarang membersihkan area intim dan membiarkannya dalam keadaan lembab. 

  • Muncul abses akibat terinfeksi bakteri seperti Escherichia coli dan Staphylociccus aureus.

  • Tertular penyakit seksual, contohnya klamidia dan gonore.

Kista Bartholin Apakah Berbahaya?

Secara medis, kista ini bersifat jinak dan tidak berbahaya apabila ukurannya kecil dan tidak terinfeksi, bahkan benjolan dapat menghilang sendiri tanpa tindakan medis. Akan tetapi, risiko medis baru muncul apabila kista terkontaminasi oleh kuman bakteri hingga membentuk abses (benjolan berisi nanah).

Abses yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan nyeri hebat yang menggangu aktivitas dan memicu penyebaran infeksi ke area lain sekitar vagina. Selain itu, munculnya kista bartholin pada wanita yang memasuki masa menopause juga memerlukan evaluasi klinis untuk memastikan tidak ada perubahan sel abnormal.

Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosis kista bartholin yang pertama adalah wawancara. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan termasuk apakah ada riwayat kista sebelumnya. Kemudian, dokter melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi ukuran, tekstur, dan konsistensi benjolan, serta tanda-tanda peradangan atau infeksi.

Setelah diagnosis, pengobatan dilakukan sesuai dengan intensitas keluhan yang dirasakan penderita dan kondisi benjolannya. Berikut beberapa metode penanganan medisnya.

  • Rendam air hangat (sitz bath): Jika benjolan tidak berbahaya dan tidak ada infeksi, dokter akan menyarankan untuk perawatan mandiri seperti sitz bath. Caranya, rendam area panggul dalam air hangat selama 10-15 menit sebanyak 2-3 kali sehari, agar sirkulasi darah lancar dan membuka sumbatan.

  • Obat-obatan: Pemberian obat pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen.

  • Antibiotik: Dokter mengambil sampel cairan kista untuk dianalisis di laboratorium. Jika terbukti ada infeksi bakteri, dokter meresepkan antibiotik sesuai jenis bakteri.

  • Insisi dan drainase: Dokter membuat sayatan kecil untuk mengeluarkan cairan. Lalu, memasukkan word cathether atau selang karet kecil dengan balon di ujung. Kateter ini dibiarkan selama 3-4 minggu agar terbentuk saluran baru dan cairan bisa keluar.

Kapan Harus Operasi?

Operasi pada kista bartholin merupakan pilihan terakhir apabila ukuran benjolan terlalu besar hingga mengganggu aktivitas sederhana seperti duduk dan berjalan. Selain itu, tindakan pembedahan dilakukan jika pemberian obat-obatan dan teknik drainase kateter tidak memberikan hasil yang optimal.

Pembedahan yang paling sering adalah marsupialisasi, yaitu prosedur bedah kecil dengan membuat sayatan pada dinding kista. Lalu, dokter membersihkan dan mengeringkan cairan di dalamnya. Setelah itu, menjahit tepinya ke kulit luar vulva. Tujuannya membentuk kantung terbuka permanen agar cairan dapat mengalir lancar.

Jika kista sering kambuh dan tidak dapat sembuh dengan metode lain, maka dokter akan mempertimbangkan tindakan operasi pengangkatan seluruh kelenjar bartholin. Efek dari operasi ini yaitu, vagina akan kekurangan cairan pelumas alami. Meski secara keseluruhan vagina masih bisa menghasilkan cairan pelumas dari kelenjar yang lain.

Pencegahan Kista Bartholin

Mencegah munculnya kista bartholin memang cukup sulit, karena penyebabnya dari sumbatan saluran kelenjar yang tidak dapat diprediksi sendiri secara pasti. Namun demikian, Anda dapat meminimalisir risiko terjadinya infeksi pada kista tersebut. Langkah-langkah pencegahan yang bisa Anda terapkan, antara lain.

  • Rutin menjaga area kewanitaan tetap bersih dan kering.

  • Setelah buang air, basuhlah area intim dari arah depan ke belakang.

  • Sebaiknya gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang dapat menyerap keringat.

  • Jangan terlalu sering menggunakan celana ketat dalam waktu yang lama.

  • Hindari penggunaan cairan pembersih wanita yang memiliki wangi yang tajam, karena akan mengacaukan keseimbangan pH di area vagina.

  • Lakukan hubungan seksual yang aman, tidak berganti-ganti pasangan dan gunakan kontrasepsi kondom untuk mencegah penularan penyakit seksual.

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila Anda menemukan benjolan di area vagina seperti kista bartholin, tapi tidak kunjung membaik setelah beberapa hari melakukan perawatan mandiri. Sebaiknya segera konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn). Terlebih jika benjolan itu cepat membesar dan menyebabkan nyeri hebat disertai demam tinggi.

Pemeriksaan medis sejak dini dapat membantu dokter dalam mendeteksi suatu jenis penyakit secara akurat. Karena kemungkinan diagnosis akibat penyakit ginekologi lain yang lebih berbahaya seperti kanker serviks juga bisa terjadi. Dengan begitu, pengobatan dapat segera diberikan agar gejala yang Anda alami tidak semakin parah.

Melakukan medical check up rutin pada organ reproduksi sangat penting bagi semua wanita. Untuk mendapat kemudahan dan kenyamanan ekstra, Bumame menghadirkan layanan home care, di mana pengambilan sampel dilakukan di rumah dan terjamin privasinya. Dapatkan pendampingan kesehatan terpercaya dari tim medis Bumame.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Kemenkes.(2023). Cegah Kista Bartholin. 

  2. National Center for Biotechnology Information (NCBI) StatPearls. (2024). Anatomy, Abdomen and Pelvis: Bartholin Gland.

  3. Cleveland Clinic. (2024). Bartholin Cyst: Causes, Symptoms & Treatment.

  4. Mayo Clinic. (2022). Bartholin's cyst: Symptoms & causes.

  5. MSD Manuals. (2025). Bartholin Gland Cyst and Bartholin Gland Abscess.

  6. National Health Service (NHS UK). (2025). Bartholin's cyst.

Ditinjau secara medis oleh dr. Febe Rangga Saba Pong Tambing

Frequently Asked Question

Apa itu kista Bartholin?
Kista Bartholin adalah benjolan nonkanker di dekat lubang vagina yang terbentuk akibat penyumbatan cairan pada kelenjar Bartholin.
Apa saja gejala kista Bartholin?
Apa saja gejala kista Bartholin?
Apakah kista Bartholin berbahaya?
Kista Bartholin umumnya jinak dan tidak berbahaya jika berukuran kecil serta tidak terinfeksi. Risiko dapat muncul jika kista terinfeksi dan berkembang menjadi abses.
Bagaimana cara mengobati kista Bartholin?
Bagaimana cara mengobati kista Bartholin?
Kapan kista Bartholin perlu dioperasi?
Operasi menjadi pilihan ketika kista berukuran besar dan mengganggu aktivitas, atau ketika obat serta drainase kateter tidak memberikan hasil optimal. Operasi juga dapat dipertimbangkan jika kista sering kambuh.