Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

Booking layanan Bumame tanpa antri. Klik disini.

micro plastik
Kembali ke Artikel & Berita

Mikroplastik: Sumber, Dampak bagi Kesehatan, dan Cara Menguranginya

ab3bf4ca-8ed2-4d91-a98c-d07a51e0fc3d

Botol air yang tertinggal di dalam mobil sepanjang siang. Wadah makanan plastik yang langsung masuk microwave. Baju olahraga berbahan sintetis yang dicuci dua kali seminggu. Kebiasaan seperti ini terasa biasa saja dan jarang dipikirkan ulang.

Dalam sepuluh tahun terakhir, peneliti menemukan partikel plastik berukuran sangat kecil di air, udara, makanan, dan sejumlah jaringan tubuh manusia. Temuan itu memunculkan pertanyaan yang wajar tentang apa artinya bagi kesehatan jangka panjang.


Apa Itu Mikroplastik?

Mikroplastik adalah partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter. Sebagian masih terlihat mata telanjang sebagai serpihan halus, sebagian lain hanya terbaca lewat mikroskop dan alat analisis khusus. Ukuran yang kecil membuat partikel ini mudah berpindah lewat air, udara, dan rantai makanan.

Peneliti membagi mikroplastik menjadi dua kelompok berdasarkan asalnya. Mikroplastik primer diproduksi dalam ukuran kecil sejak awal, misalnya butiran halus (microbeads) pada sabun pembersih wajah dan pasta gigi, serta pelet bahan baku industri plastik. Mikroplastik sekunder terbentuk ketika benda plastik besar lapuk lalu pecah menjadi serpihan, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, serat pakaian, sampai permukaan ban kendaraan.

Ada satu fraksi yang lebih kecil lagi, disebut nanoplastik, yaitu partikel berukuran di bawah satu mikrometer yang secara teori lebih mudah melewati penghalang biologis di dalam tubuh.

Sumber Mikroplastik di Sekitar Kita

Kementerian Kesehatan dan WHO mencatat beberapa sumber mikroplastik yang konsisten muncul dalam penelitian lingkungan. Semuanya berasal dari benda yang dipakai setiap hari.

  • Kemasan sekali pakai. Gelas, sedotan, kantong, dan wadah makanan plastik melepas serpihan saat tergores, ditekan, atau terkena panas. Volume sampah kemasan yang besar terus menambah partikel baru ke lingkungan.

  • Serat pakaian sintetis. Bahan seperti poliester dan nilon melepas ribuan serat halus setiap kali dicuci, dan serat itu ikut terbawa air buangan. Sebagian lolos dari pengolahan air lalu berakhir di sungai serta laut.

  • Keausan ban kendaraan. Gesekan ban dengan aspal menghasilkan partikel karet sintetis yang terbawa angin dan air hujan. Di kota padat kendaraan, sumber ini menyumbang porsi besar mikroplastik di udara dan saluran air.

  • Kosmetik dan produk perawatan. Sebagian pembersih wajah, sabun, dan pasta gigi pernah memakai butiran plastik halus sebagai bahan penggosok. Beberapa negara sudah membatasi penggunaannya, meski produk lama masih beredar di pasar.

  • Sampah plastik yang lapuk. Plastik yang terpapar sinar matahari, panas, dan gesekan air akan retak lalu pecah selama bertahun-tahun. Proses ini berlangsung di tempat pembuangan, sungai, pantai, dan tanah pertanian.

  • Debu dalam ruangan. Karpet, pelapis furnitur, tirai, dan pakaian sintetis melepas serat halus yang menumpuk bersama debu rumah. Ruangan dengan sirkulasi udara terbatas cenderung menahan partikel ini lebih lama.

Bagaimana Mikroplastik Masuk ke Tubuh?

WHO merangkum dua jalur utama masuknya partikel plastik ke tubuh manusia, yaitu lewat saluran cerna dan lewat saluran napas. Kementerian Kesehatan menyebut jalur yang sama untuk konteks Indonesia.

Tertelan. Partikel bisa ikut masuk bersama makanan dan minuman. Kerang dan hasil laut bercangkang menjadi perhatian khusus karena dimakan utuh bersama saluran cernanya. Garam laut, air minum dalam kemasan, dan makanan yang lama bersentuhan dengan kemasan plastik juga tercatat mengandung partikel dalam berbagai penelitian.

Terhirup. Udara dalam dan luar ruangan membawa serat tekstil, partikel ban, serta debu berukuran mikro. Partikel yang cukup kecil bisa mencapai saluran napas bagian bawah, dan pemeriksaan jaringan paru manusia sudah menemukan serpihan plastik di area tersebut.

Kontak kulit. Jalur ini disebut sebagai kemungkinan ketiga dengan bukti ilmiah yang masih terbatas. Kulit yang utuh merupakan penghalang yang cukup baik, sehingga perhatian peneliti lebih banyak tertuju pada makanan dan udara.

Satu penelitian pada 2022 menemukan partikel plastik di sampel darah orang dewasa, yang menunjukkan sebagian partikel bisa berpindah ke aliran darah. Jumlah sampelnya kecil dan temuan itu masih perlu pengulangan.

Dampak Mikroplastik bagi Kesehatan Berdasarkan Organ

Partikel plastik sudah ditemukan di beberapa jaringan tubuh manusia, termasuk paru-paru, hati, darah, dan plak pembuluh darah. Arti temuan itu bagi kesehatan masih dalam penelitian aktif. Bagian ini memisahkan temuan yang sudah terbukti dari yang masih berupa dugaan.

1. Paru-paru

Penelitian di Inggris pada 2022 memeriksa jaringan paru dari 13 orang dan menemukan partikel plastik pada 11 sampel. Jenis yang umum ditemukan adalah polipropilena dan polietilena tereftalat, dua bahan yang lazim dipakai untuk kemasan dan serat tekstil. Sebagian partikel berada di bagian bawah paru, area yang sebelumnya diperkirakan sulit dijangkau.

Partikel yang terhirup bisa tersangkut di saluran napas dan bertahan cukup lama karena tubuh kesulitan membersihkan bahan yang tidak larut. Keberadaan partikel plastik di paru-paru manusia sudah terbukti lewat pemeriksaan jaringan, sedangkan kaitannya dengan penyakit tertentu masih diteliti.

2. Saluran Pencernaan

Saluran cerna adalah jalur masuk utama karena partikel ikut tertelan bersama makanan, minuman, dan debu yang menempel di tangan. Sebagian besar partikel diperkirakan lewat begitu saja lalu keluar bersama tinja. Fraksi yang jauh lebih kecil berpotensi diserap dinding usus, dan seberapa besar porsinya belum diketahui dengan baik.

WHO menilai bukti bahaya pada tingkat paparan saat ini masih terbatas, sambil menekankan bahwa keterbatasan metode penelitian membuat kesimpulan tegas belum bisa diambil. Menjaga kesehatan saluran pencernaan lewat pola makan berserat dan cairan yang cukup tetap menjadi langkah yang berguna. Saluran cerna adalah jalur masuk utama, dan efek jangka panjangnya masih dalam penelitian.

3. Hati

Penelitian pada 2022 memeriksa jaringan hati dari dua kelompok, yaitu pasien dengan sirosis atau pengerasan jaringan hati dan orang dengan hati yang sehat. Partikel plastik ditemukan pada kelompok dengan sirosis dan tidak ditemukan pada kelompok pembanding.

Temuan ini menarik karena hati berperan menyaring zat yang datang dari saluran cerna. Kondisi gangguan fungsi hati sendiri bisa mengubah cara organ ini menahan partikel asing, sehingga urutan sebab akibatnya belum jelas. Jumlah sampelnya kecil dan statusnya masih temuan awal, sehingga belum bisa dibaca sebagai hubungan sebab akibat.

4. Ginjal

Tinjauan ilmiah tentang ginjal menyimpulkan bahwa sebagian besar bukti saat ini berasal dari penelitian laboratorium dan hewan percobaan. Model tersebut menunjukkan partikel plastik bisa memicu stres oksidatif, yaitu ketidakseimbangan yang merusak sel, serta inflamasi pada jaringan penyaring ginjal.

Ginjal menyaring darah dalam volume besar setiap hari, sehingga secara teori bersinggungan dengan partikel yang beredar di aliran darah. Pemantauan fungsi ginjal lewat pemeriksaan darah dan urine tetap relevan bagi orang dengan faktor risiko seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Bukti untuk ginjal sebagian besar masih berasal dari penelitian laboratorium dan hewan percobaan.

5. Hormon

Untuk sistem hormon, risikonya terutama datang dari zat kimia tambahan yang dibawa plastik. Bahan seperti bisfenol A dan ftalat dipakai agar plastik lebih lentur atau lebih kuat, dan keduanya bisa ikut berpindah ke makanan serta minuman.

Endocrine Society menggolongkan bahan itu sebagai zat pengganggu hormon karena strukturnya menyerupai hormon alami dan bisa mengacaukan sinyal di dalam tubuh. Pengaruhnya dipelajari pada sistem reproduksi, metabolisme, dan kelenjar tiroid, kelenjar yang mengatur hormon tiroid serta laju pembakaran energi. Risiko dari zat kimia tambahan sudah diteliti selama puluhan tahun, sementara efek partikel plastiknya sendiri merupakan pertanyaan yang lebih baru.

Organ

Temuan pada manusia

Kekuatan bukti saat ini

 

Paru-paru

Partikel ditemukan pada jaringan paru dalam pemeriksaan laboratorium

Keberadaan partikel terbukti, kaitan dengan penyakit masih diteliti

Saluran pencernaan

Jalur masuk utama, sebagian besar partikel keluar bersama tinja

WHO menilai bukti bahaya pada paparan saat ini masih terbatas

Hati

Partikel ditemukan pada jaringan hati pasien sirosis, tidak pada pembanding

Temuan awal dengan sampel kecil, arah sebab akibat belum jelas

Ginjal

Belum ada temuan langsung pada jaringan ginjal manusia yang mapan

Sebagian besar dari penelitian laboratorium dan hewan

Hormon

Zat tambahan plastik seperti bisfenol A dan ftalat terdeteksi pada manusia

Risiko zat kimianya sudah lama diteliti, efek partikelnya masih baru

Tabel ini membantu mengenali pola yang umum dan bukan alat diagnosis.

Bukti lain yang sedang diteliti. Penelitian yang terbit di jurnal kedokteran pada 2024 memeriksa plak aterosklerosis, yaitu timbunan lemak di dinding pembuluh darah, pada 304 pasien yang menjalani operasi pembuluh leher. Pasien dengan partikel plastik di dalam plak tercatat lebih sering mengalami serangan jantung dan stroke selama pemantauan sekitar tiga tahun. Hasil ini datang dari satu penelitian pada satu kelompok pasien, sehingga perlu dikonfirmasi penelitian lain.

Riset Terbaru tentang Mikroplastik pada Pasien Kanker Paru-Paru

Pada 4 September 2026, sebuah penelitian dipresentasikan di kongres European Respiratory Society di Barcelona. Peneliti dari University of Thessaly memeriksa 100 orang yang menjalani bronkoskopi, yaitu pemeriksaan saluran napas memakai kamera kecil, karena mengalami keluhan paru di University Hospital of Larissa, Yunani. Setelah proses diagnosis selesai, 50 orang dinyatakan mengidap kanker paru-paru dan 50 orang lainnya tidak.

Sebanyak 232 partikel mikroplastik ditemukan di seluruh sampel, dan 70 persen pasien memiliki partikel pada setidaknya satu sampel. Kelompok dengan kanker paru-paru lebih sering memiliki partikel yang terbaca dan mencatat jumlah partikel yang lebih tinggi secara keseluruhan. Pada sampel cairan bilasan paru, partikel ditemukan pada 66 persen pasien kanker dan 46 persen pasien tanpa kanker. Jenis yang umum muncul adalah polipropilena dan polietilena.

Angka ini perlu dibaca dengan tiga catatan. Pertama, hasil tersebut dipresentasikan di kongres ilmiah dan belum terbit sebagai artikel jurnal yang melalui telaah sejawat. Kedua, peneliti utamanya sendiri menyatakan penelitian ini belum menjelaskan alasan di balik temuan, dan paru yang sedang sakit bisa saja menahan partikel dengan cara yang berbeda. Ketiga, seorang ahli dari European Respiratory Society yang tidak terlibat dalam penelitian menilai riset tentang efek mikroplastik pada kesehatan masih berada di tahap sangat awal, dan merokok tetap menjadi penyebab utama kanker paru-paru dengan selisih yang jauh.

Untuk saat ini, faktor risiko yang sudah mapan tetap menjadi pegangan dokter ketika menilai gejala dan pengobatan kanker paru-paru pada seseorang.

Kelompok yang Lebih Rentan Terpapar Mikroplastik

Paparan mikroplastik terjadi pada hampir semua orang, dengan kadar berbeda menurut pekerjaan, pola makan, dan lingkungan tempat tinggal. Beberapa kelompok berikut menerima paparan lebih besar.

  • Pekerja di lingkungan plastik, tekstil, dan berdebu. Proses produksi, pemotongan, dan daur ulang plastik melepas partikel ke udara kerja dalam jumlah lebih tinggi. Durasi paparan harian yang panjang membuat kelompok ini berbeda dari populasi umum.

  • Orang yang sering makan kerang dan hasil laut bercangkang. Hewan laut bercangkang dimakan utuh bersama saluran cernanya, tempat partikel plastik cenderung menumpuk. Frekuensi konsumsi yang tinggi menaikkan jumlah partikel yang ikut tertelan.

  • Pengguna rutin makanan dan minuman kemasan plastik. Makanan panas yang dikemas plastik dan botol yang dipakai berulang melepas lebih banyak serpihan. Pola konsumsi harian membuat kontribusinya menumpuk dari waktu ke waktu.

  • Penduduk kawasan dengan polusi udara tinggi. Partikel ban dan debu perkotaan bercampur dengan polutan lain di udara yang dihirup setiap hari. Jalur pernapasan menjadi sumber paparan yang sulit dihindari di lingkungan seperti ini.

  • Anak usia dini. Kebiasaan memasukkan tangan dan benda ke mulut membuat anak menelan lebih banyak debu rumah. Ukuran tubuh yang kecil membuat paparan per berat badan menjadi lebih besar, meski angkanya belum terukur dengan baik.

Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik Sehari-hari

Menghilangkan paparan sepenuhnya sulit dilakukan karena plastik sudah tersebar luas. Langkah yang realistis adalah menurunkan paparan dari sumber yang berada dalam kendali rumah tangga.

  1. Kurangi plastik sekali pakai untuk makanan dan minuman. Botol isi ulang, wadah bekal, dan tas belanja kain memotong sumber serpihan yang sering bersentuhan dengan mulut. Perubahan ini juga menurunkan jumlah sampah kemasan dari rumah.

  2. Hindari memanaskan makanan di dalam wadah plastik. Panas mempercepat pelepasan partikel dan zat kimia tambahan dari dinding wadah. Pindahkan makanan ke piring kaca atau keramik sebelum dipanaskan.

  3. Simpan makanan dalam wadah kaca atau baja tahan karat. Bahan ini stabil terhadap panas, asam, dan minyak, sehingga permukaannya sulit terkikis. Harga awalnya lebih mahal, dan umur pakainya jauh lebih panjang.

  4. Kurangi debu rumah lewat pembersihan dan ventilasi. Mengepel dengan kain basah dan menyedot debu secara rutin menurunkan jumlah serat halus yang beterbangan. Membuka jendela beberapa saat setiap hari membantu menukar udara dalam ruangan.

  5. Pilih pakaian berbahan serat alami bila memungkinkan. Katun, linen, dan wol melepas serat yang lebih mudah terurai di lingkungan. Untuk pakaian sintetis, mencuci dengan air dingin dan muatan penuh mengurangi serat yang lepas.

  6. Perhatikan sumber air minum. Air keran yang direbus atau disaring bisa menjadi pilihan di daerah dengan kualitas air yang memadai. Air kemasan belum tentu lebih rendah kandungan partikel plastiknya.

  7. Cuci tangan sebelum makan. Debu rumah dan debu jalanan menempel di tangan lalu ikut tertelan bersama makanan. Kebiasaan sederhana ini sekaligus menurunkan risiko infeksi saluran cerna.

  8. Variasikan pilihan hasil laut. Mengganti kerang dengan ikan yang bagian dalamnya dibuang menurunkan jumlah partikel yang ikut termakan. Variasi juga menjaga asupan protein dan lemak sehat tetap seimbang.

Kapan Perlu Skrining Kesehatan?

Belum ada pemeriksaan rutin yang bisa mengukur jumlah partikel plastik di dalam tubuh seseorang. Penelitian yang menemukan partikel di jaringan paru, hati, dan darah memakai metode laboratorium khusus untuk keperluan riset. Metode itu berada di luar layanan pemeriksaan klinis sehari-hari.

Yang bisa diperiksa adalah kondisi organ yang menerima paparan lebih banyak, dan paru-paru berada di urutan depan. Pemeriksaan seperti ini relevan bagi orang yang juga membawa faktor risiko lain, seperti riwayat merokok, paparan panjang terhadap polusi udara atau debu di tempat kerja, serta riwayat kanker paru dalam keluarga. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan.

Untuk kebutuhan tersebut, Bumame menyediakan Paket MCU Paru Premium, pemeriksaan kesehatan yang fokusnya pada paru. Isinya mencakup konsultasi dokter umum, pemeriksaan fisik oleh dokter, rontgen thorax, spirometri atau tes fungsi paru, hematologi lengkap, CRP, tes IGRA untuk tuberkulosis, dan LungClear.

Bagi orang yang sudah mengetahui dirinya membawa faktor risiko kanker paru yang tinggi, Skrining Kanker LUNGClear tersedia tersendiri sebagai tes darah penanda risiko berbasis microRNA. Untuk menanyakan jadwal dan persiapan sebelum pemeriksaan, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.

Langkah Kecil Hari Ini Menurunkan Paparan Besok

Mikroplastik sudah menjadi bagian dari lingkungan modern, dan sebagian besar sumber paparan harian berada di wilayah yang bisa Anda atur sendiri. Mengganti wadah penyimpanan, memanaskan makanan di piring kaca, dan menjaga rumah bebas debu adalah perubahan kecil yang berjalan setiap hari.

Di sisi kesehatan, pemeriksaan berkala menjaga gambaran kondisi organ tetap jelas, terutama bagi orang dengan faktor risiko paru. Untuk mencari jadwal dan lokasi klinik yang sesuai, chat CS Bumame kapan saja.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

Referensi

  1. European Respiratory Society. Patients diagnosed with lung cancer found to have more microplastic in their lungs. Retrieved 14 September 2026 from https://www.ersnet.org/news-and-features/news/patients-diagnosed-with-lung-cancer-found-to-have-more-micorplastic/

  2. World Health Organization. Dietary and inhalation exposure to nano- and microplastic particles and potential implications for human health. Retrieved 14 September 2026 from https://www.who.int/publications/i/item/9789240054608

  3. Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Mikroplastik: Wujudnya Tak Nampak dan Dampaknya Tak Terduga. Retrieved 14 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/mikroplastik--wujudnya-tak-nampak-dan-dampaknya-tak-terduga

  4. Jenner LC, et al. Detection of microplastics in human lung tissue using μFTIR spectroscopy. Science of the Total Environment. Retrieved 14 September 2026 from https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0048969722020009

  5. Leslie HA, et al. Discovery and quantification of plastic particle pollution in human blood. Environment International. Retrieved 14 September 2026 from https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0160412022001258

  6. Marfella R, et al. Microplastics and Nanoplastics in Atheromas and Cardiovascular Events. New England Journal of Medicine. Retrieved 14 September 2026 from https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2309822

  7. Horvatits T, et al. Microplastics detected in cirrhotic liver tissue. eBioMedicine. Retrieved 14 September 2026 from https://www.thelancet.com/journals/ebiom/article/PIIS2352-3964(22)00328-0/fulltext

  8. Endocrine Society. Endocrine-Disrupting Chemicals. Retrieved 14 September 2026 from https://www.endocrine.org/topics/edc

  9. Augey L, et al. Effects of microplastics and nanoplastics on the kidneys. Nephrology Dialysis Transplantation. Retrieved 14 September 2026 from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41733440/

Ditinjau secara medis oleh dr. Denizha Irfani

Frequently Asked Question

Apa itu mikroplastik?
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, baik yang sengaja diproduksi kecil maupun yang terbentuk dari pecahan plastik besar. Fraksi yang lebih kecil lagi disebut nanoplastik.
Bagaimana mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia?
Jalur utamanya adalah tertelan bersama makanan dan minuman, serta terhirup dari udara dalam maupun luar ruangan. Kontak kulit disebut sebagai kemungkinan ketiga dengan bukti yang masih terbatas.
Apakah mikroplastik berhubungan dengan kanker paru-paru?
Satu penelitian yang dipresentasikan pada September 2026 menemukan partikel plastik lebih sering pada pasien kanker paru-paru, dan penelitian itu belum menunjukkan hubungan sebab akibat. Merokok tetap menjadi penyebab utama kanker paru-paru.
Apakah air minum dalam kemasan mengandung mikroplastik?
Partikel plastik pernah ditemukan pada air minum dalam kemasan di sejumlah penelitian. WHO menilai bukti risikonya pada tingkat paparan saat ini masih terbatas dan meminta penelitian lanjutan.
Bagaimana cara mengurangi paparan mikroplastik di rumah?
Kurangi plastik sekali pakai, hindari memanaskan makanan di wadah plastik, dan simpan makanan dalam wadah kaca atau baja tahan karat. Membersihkan debu secara rutin serta mencuci tangan sebelum makan juga membantu.