Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Operasi Bariatrik: Jenis, Manfaat, Efek Samping, dan Proses Pemulihan
Kembali ke Artikel & Berita

Operasi Bariatrik: Jenis, Manfaat, Efek Samping, dan Proses Pemulihan

SBAOthers

Saat berat badan terus bertambah, aktivitas sederhana seperti berjalan jauh, menaiki tangga, atau tidur nyenyak terkadang menjadi sesuatu yang sulit. Beragam cara menurunkan berat badan mungkin telah Anda coba, tetapi hasilnya masih belum optimal. Pada kondisi tersebut, operasi bariatrik bisa menjadi opsi terbaik.

Operasi ini bukan sekadar prosedur menurunkan berat badan, melainkan bagian dari penanganan obesitas yang membutuhkan evaluasi dokter, perubahan pola hidup, dan pemantauan kesehatan secara jangka panjang. Memahami manfaat, jenis tindakan, dan risikonya bisa membantu Anda mempertimbangkan pilihan sesuai kondisi tubuh.

Apa itu Operasi Bariatrik?

Operasi bariatrik adalah prosedur bedah yang mengubah ukuran lambung maupun saluran pencernaan untuk membantu program penurunan berat badan. Beberapa jenis operasi ini juga bisa memengaruhi hormon yang mengatur rasa kenyang, rasa lapar, dan metabolisme tubuh.

Umumnya, prosedur ini dipertimbangkan untuk orang yang memiliki kondisi obesitas dan memerlukan penanganan lebih intensif. Pasalnya, obesitas termasuk penyakit kronis yang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk metabolisme, genetik, aktivitas fisik, pola makan, dan lingkungan. Sehingga, penanganannya tidak cukup jika sekadar mengandalkan olahraga atau diet.

Jenis Operasi Bariatrik

Dokter biasanya akan menentukan jenis operasi sesuai indikasi massa tubuh (IMT), riwayat pengobatan, kondisi kesehatan, dan kebutuhan pasien. Beberapa prosedur yang umum dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Gastric Sleeve

Gastric Sleeve merujuk pada operasi yang dilakukan dengan mengangkat sebagian besar lambung, sehingga yang tersisa hanya bagian yang berbentuk tabung. Kapasitas lambung akan menjadi lebih kecil dan produksi hormon pemicu rasa lapar berkurang. Meski begitu, prosedur ini tidak membuat jalur utama makanan lewat usus berubah.

2. Gastric Bypass

Pada jenis operasi ini, dokter akan membuat kantong lambung berukuran kecil, lalu menghubungkannya secara langsung ke usus halus. Prosedur ini membuat jumlah makanan yang bisa ditampung oleh lambung berkurang dan penyerapan sebagian zat gizi berubah. Anda juga harus menjalani pemantauan nutrisi secara teratur.

3. Adjustable Gastric Band

Ini adalah prosedur operasi bariatrik dengan memasang pita khusus yang bisa disesuaikan di bagian atas lambung agar memberi batasan jumlah makanan yang masuk.

Kelebihannya, pita bisa diatur dan tidak mengharuskan pemotongan lambung. Namun, risiko pergeseran pita dan kebutuhan tindakan lanjutan membuat jenis operasi ini harus dipertimbangkan dengan cermat.

4. Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch

Prosedur operasi ini menggabungkan pengecilan lambung dengan cara pengalihan jalur khusus. Cara bisa menghasilkan penurunan berat badan secara signifikan. Akan tetapi, ada risiko yang berpotensi Anda alami, seperti kekurangan mineral, vitamin, dan protein yang lebih besar, sehingga membutuhkan pemantauan ketat.

Manfaat Operasi Bariatrik

Manfaat operasi bariatrik tidak sekadar berhubungan dengan angka timbangan. Ketika dilakukan secara tepat dan disertai perawatan berkelanjutan, prosedur ini bisa membantu. Berikut ini manfaat-manfaatnya.

  • Membantu menurunkan berat badan sekaligus mempertahankannya dalam jangka panjang.

  • Membantu mengontrol kadar gula darah tubuh sehingga bisa mencegah risiko diabetes tipe 2. Bahkan, pada beberapa pasien memungkinkan terjadinya remisi, atau kondisi saat kadar gula darah memenuhi kriteria tertentu tanpa menggunakan obat penurun gula.

  • Mengurangi risiko penyakit yang berkaitan dengan obesitas dengan cara mengontrol kolesterol, tekanan darah, dan gangguan tidur seperti henti napas atau sleep apnea berulang ketika tidur.

  • Meningkatkan mobilitas tubuh karena berat badan ideal bisa membuat aktivitas sehari-hari lebih nyaman.

  • Meningkatkan kualitas hidup, di mana sebagian pasien bisa merasakan perbaikan dalam kemampuan bergerak, kualitas tidur, dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Meski begitu, hasil setiap pasien bisa berbeda. Operasi bukan jaminan bahwa semua penyakit penyerta bisa sembuh, sehingga pengawasan dokter tetap dibutuhkan.

Prosedur dan Pemulihan Setelah Operasi Bariatrik

Berikut ini beberapa prosedur yang perlu Anda perhatikan, termasuk pasca melakukan operasi bariatrik.

1. Sebelum Operasi

Operasi ini tidak dilakukan hanya karena Anda ingin mempunyai tubuh lebih ramping. Dokter harus memastikan adanya indikasi medis dan menilai apakah manfaat prosedur yang Anda jalani lebih besar daripada risikonya. Kelayakan pasien pun ditentukan berdasarkan penyakit penyerta, indeks massa tubuh, riwayat diet, dan pedoman klinis yang digunakan.

Misalnya, National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menyatakan bahwa operasi bisa dipertimbangkan pada orang dewasa dengan indeks massa tubuh minimal 40 atau minimal 35 disertai masalah kesehatan serius berkaitan dengan obesitas. Kriteria tersebut bisa berbeda dengan pedoman lainnya karena menyesuaikan penilaian klinis terkini.

Sementara itu, sebelum tindakan, biasanya Anda harus menjalani pemeriksaan kesehatan, penilaian kondisi psikologis, evaluasi status gizi, dan konsultasi dengan tim medis. Dokter juga akan menjelaskan manfaat, risiko, perubahan pola makan, dan pilihan prosedur yang harus Anda jalani.

2. Setelah Operasi

Pada masa awal pemulihan, biasanya Anda harus menjalani pola makan bertahap, mulai dari cairan, lalu makanan lunak, sampai makanan padat sesuai arahan tim medis. Porsi makan juga harus kecil, lalu mengonsumsinya secara perlahan, dan disesuaikan dengan toleransi tubuh.

Anda juga harus memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral sesuai resep, dan mulai bergerak secara bertahap. Anda bisa melakukan aktivitas berat setelah dokter memberi izin.

Risiko dan Efek Samping Operasi Bariatrik

Seperti halnya prosedur bedah lainnya, operasi bariatrik adalah jenis operasi yang mempunyai risiko dan harus Anda pertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Efek sampingnya bisa muncul segera setelah tindakan atau beberapa bulan hingga tahun kemudian.

Risiko awal yang mungkin terjadi adalah infeksi, perdarahan, pembekuan darah, dan kebocoran pada sambungan jaringan pencernaan. Sementara itu, masalah jangka panjang bisa berupa mual, muntah, memiliki batu empedu, penyempitan saluran pernapasan, dan kekurangan gizi.

Selain itu, kekurangan vitamin B12, zat besi, dan vitamin D bisa terjadi ketika asupan maupun penyerapan nutrisi belum tercukupi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penyakit anemia atau masalah kesehatan jantung.

Apakah Berat Badan Bisa Naik Kembali Setelah Operasi Bariatrik?

Jawabannya adalah berat badan bisa naik kembali pasca operasi bariatrik. Prosedur ini bermanfaat untuk mengendalikan berat badan, tetapi tidak bisa menghilangkan semua faktor biologis dan kebiasaan yang bisa memengaruhi berat badan.

Kenaikan berat badan bisa berhubungan dengan perubahan pola makan, aktivitas fisik yang berkurang, konsumsi makanan tinggi kalori, perubahan hormon, dan kondisi medis tertentu. Hal ini bukan menjadi indikasi bahwa operasi gagal, melainkan menjadi alasan untuk melakukan evaluasi ulang rencana perawatan yang telah disiapkan.

Agar hasil operasi tetap optimal dalam mengontrol berat badan, Anda harus memahami cara menurunkan berat badan tanpa diet ketat. Anda bisa memulainya dengan menerapkan pola makan sesuai anjuran dokter, menjaga kualitas tidur, berolahraga sesuai kemampuan diri, dan melakukan check up kesehatan secara berkala.

Medical Check Up untuk Mendukung Pemantauan Kesehatan Pasca Operasi Bariatrik

Pemantauan kesehatan adalah bagian penting dalam penanganan obesitas, termasuk pasca operasi bariatrik. Pemeriksaan laboratorium bisa memberi Anda gambaran tentang kondisi tubuh dan mendukung evaluasi dokter, meskipun tidak bisa menggantikan pemeriksaan khusus yang diperlukan pascaoperasi.

Salah satu pilihan yang bisa Anda ipertimbangkan adalah Medical Check Up Plus dari Bumame. Paket ini sudah mencakup pemeriksaan darah lengkap, HbA1c, gula darah puasa, dan lain-lain. Hasil pemeriksaan bisa menjadi informasi penting untuk mendukung dan mendiskusikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter.

Kapan Harus ke Dokter?

Setelah rangkaian prosedur, beberapa keluhan yang sifatnya ringan bisa muncul selama pemulihan. Akan tetapi, jangan menunggu jadwal kontrol ketika muncul tanda-tanda bahaya berikut.

  • Nyeri perut hebat atau bahkan semakin memburuk.

  • Demam, menggigil, atau tubuh yang terasa semakin lemah.

  • Muntah berulang atau tidak bisa mempertahankan asupan cairan.

  • Perut membesar disertai kesulitan buang air kecil atau nyeri.

  • Muntah darah atau BAB berwarna hitam atau disertai darah.

  • Nyeri dada, sesak napas mendadak, atau pembengkakan pada salah satu kaki.

Gejala tersebut bisa menandakan komplikasi serius, misalnya kebocoran saluran pencernaan, perdarahan, pembekuan darah, atau dehidrasi berat. Segera cari pertolongan medis ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala berat, khususnya sesak napas atau nyeri dada secara mendadak.

Operasi Bariatrik Perlu Diiringi Perawatan Jangka Panjang

Operasi bariatrik bisa menjadi pilihan penanganan obesitas untuk Anda yang memang memenuhi indikasi medis. Manfaatnya berpotensi membantu menurunkan berat badan, tetapi hasil optimal tetap membutuhkan pemenuhan nutrisi, perubahan pola hidup, dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) — Bariatric Surgery

  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) — Weight-loss Surgery Side Effects

  3. Bumame — Medical Check Up Plus: Isi Paket, Harga & Prosedur

  4. Bumame — 5 Cara Mudah Menjaga Kesehatan Saluran Pencernaan

  5. World Health Organization (WHO) — Obesity and Overweight

  6. American Society for Metabolic and Bariatric Surgery (ASMBS) — Bariatric Surgery Procedures

  7. National Health Service (NHS) — Complications of Weight Loss Surgery

  8. Mayo Clinic — Weight-loss Surgery: Is It an Option for You?

Ditinjau secara medis oleh dr. Muhammad Reza Kurniawan

Frequently Asked Question

Apakah operasi bariatrik aman?

Operasi bariatrik dapat dilakukan pada pasien yang memenuhi indikasi medis setelah evaluasi menyeluruh. Namun, setiap prosedur memiliki risiko sehingga keputusan perlu dibuat bersama dokter.

Berapa lama pemulihan setelah operasi bariatrik?

Lama pemulihan bergantung pada kondisi pasien, jenis operasi, dan ada atau tidaknya komplikasi. Pasien biasanya menjalani pola makan bertahap dan meningkatkan aktivitas sesuai arahan tim medis.

Apakah operasi bariatrik bisa menyembuhkan diabetes?

Operasi bariatrik dapat membantu mengontrol gula darah dan memungkinkan remisi diabetes tipe 2 pada sebagian pasien. Hasilnya berbeda pada setiap orang sehingga pemantauan gula darah tetap diperlukan.

Apakah pasien harus mengonsumsi vitamin setelah operasi bariatrik?

Banyak pasien memerlukan suplemen vitamin dan mineral dalam jangka panjang untuk mencegah kekurangan nutrisi. Jenis dan dosisnya ditentukan berdasarkan prosedur, hasil pemeriksaan, dan rekomendasi dokter.

Apakah berat badan bisa naik kembali setelah operasi bariatrik?

Ya, berat badan dapat naik kembali akibat perubahan pola makan, aktivitas fisik, hormon, atau kondisi medis tertentu. Pemantauan berkala, pola makan sesuai anjuran, dan aktivitas fisik membantu mendukung pengelolaan berat badan jangka panjang.