Nyeri sendi, kaku saat bangun tidur, atau bunyi “krek” sering kali dianggap sepele. Padahal, gejala tersebut dapat menjadi pertanda osteoarthritis. Osteoarthritis adalah penyakit pengapuran sendi yang terjadi akibat kerusakan pada tulang rawan, yang berkembang secara perlahan dengan tingkat keparahan bervariasi pada setiap orang.
Kerusakan pada bantalan di ujung tulang ini dapat membuat sendi terasa nyeri dan kaku saat digerakkan. Aktivitas sehari-hari, seperti berjalan jauh hingga naik tangga, dapat memicu rasa nyeri yang semakin mengganggu. Bila melakukan deteksi dini, gejala osteoarthritis dapat dicegah sebelum memburuk
Apa Itu Osteoarthritis atau Pengapuran Sendi?
Osteoarthritis adalah gangguan sendi akibat penipisan dan kerusakan bertahap pada tulang rawan. Tulang rawan bertindak sebagai bantalan licin yang membantu ujung tulang bergerak sekaligus mengurangi gesekan. Kondisi ini membuat fungsi bantalan menurun sehingga membuat pergerakan sendi menimbulkan rasa nyeri.
Seiring waktu, tulang rawan dapat mengalami perubahan dan menjadi semakin tipis. Ketika bantalan tersebut berkurang, permukaan tulang di dalam sendi dapat mengalami lebih banyak gesekan. Kondisi ini dapat memicu kaku dan keterbatasan gerak.
Osteoarthritis sering menyerang sendi yang banyak digunakan, seperti lutut, panggul, tulang belakang, dan tangan. Istilah pengapuran sendi memang umum digunakan, tetapi osteoarthritis bukan disebabkan oleh penumpukan kapur di dalam sendi.
Sebaliknya, kondisi tersebut terjadi akibat perubahan pada struktur sendi, termasuk kerusakan tulang rawan. Perubahan pada tulang dan terbentuknya tonjolan tulang juga dapat terjadi sebagai bagian dari proses osteoarthritis.
Penyebab Osteoarthritis
Salah satu penyebab utama osteoarthritis adalah proses penuaan yang umumnya mulai mengintai individu saat memasuki usia paruh baya, yaitu pada rentang usia 45 hingga 60 tahun ke atas. Pada fase ini, proses penuaan alami mulai menurunkan fungsi fisiologis seluruh jaringan tubuh manusia secara progresif.
Jaringan tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan pelindung sendi mengalami penurunan kadar air dan elastisitas yang cukup drastis. Akibatnya, permukaan sendi menjadi lebih rapuh, menipis, dan sangat rentan mengalami kerusakan struktural akibat gesekan sehari-hari.
Faktor beban mekanis yang berlebih, terutama pada orang berusia di atas 50 tahun dengan berat badan berlebih atau obesitas, bisa mempercepat proses ini. Sendi penumpu utama seperti lutut dan panggul harus bekerja ekstra menopang massa tubuh yang berat setiap detik.
Selain itu, aktivitas fisik berat atau riwayat cedera sendi di masa muda juga dapat memicu keausan dini pada kelompok usia 40 tahunan. Tekanan berulang tanpa istirahat yang cukup membuat sendi kehilangan kemampuan regenerasi alaminya.
Gejala Osteoarthritis yang Perlu Diperhatikan
Gejala osteoarthritis bisa muncul secara perlahan sehingga terkadang tidak langsung disadari. Beberapa orang bahkan baru mencari pertolongan ketika rasa nyeri sudah mulai mengganggu pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Berikut beberapa keluhan yang umum terjadi.
1. Nyeri Sendi
Salah satu gejala utama osteoarthritis adalah nyeri sendi. Pada awalnya, nyeri dapat muncul ketika sendi digunakan untuk beraktivitas, misalnya setelah berjalan jauh, naik tangga, atau melakukan aktivitas tertentu. Keluhan biasanya dapat membaik setelah beristirahat, terutama pada tahap awal.
Seiring kondisi berkembang, nyeri dapat muncul lebih sering dan berlangsung lebih lama. Aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan pun dapat terasa semakin berat dan mengganggu mobilitas. Jika nyeri menetap, semakin sering muncul, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, keluhan sebaiknya tidak diabaikan.
2. Kaku pada Sendi
Sendi dapat terasa kaku setelah lama tidak bergerak dalam waktu tertentu. Keluhan ini sering dirasakan ketika baru bangun tidur pada pagi hari atau setelah duduk cukup lama dalam posisi yang sama. Biasanya, rasa kaku akan berkurang setelah tubuh mulai bergerak dan sendi kembali digunakan.
Pada osteoarthritis, kekakuan dapat membuat sendi terasa kurang leluasa saat digerakkan. Gerakan sederhana dapat terasa lebih lambat atau membutuhkan usaha lebih dari biasanya. Jika kekakuan berlangsung terus-menerus atau semakin sering terjadi, sebaiknya lakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.
3. Bunyi “Krek” Saat Bergerak
Osteoarthritis adalah kondisi yang kerap ditandai dengan bunyi “krek”, “klik”, atau gemeretak saat sendi digerakkan pada sebagian orang. Bunyi tersebut dapat berkaitan dengan perubahan pada permukaan dan struktur sendi. Keluhan biasanya lebih terasa ketika sendi digunakan untuk melakukan gerakan tertentu.
Namun, bunyi pada sendi tidak selalu berarti seseorang mengalami kondisi tersebut. Jika tidak disertai nyeri, bengkak, atau keterbatasan gerak, bunyi sendi bisa saja tidak menunjukkan masalah serius. Meski begitu, jika muncul bersama gejala lain atau semakin mengganggu, keluhan sebaiknya diperiksakan.
4. Gerak Menjadi Terbatas
Seiring kondisi semakin berkembang, pergerakan sendi dapat menjadi lebih terbatas. Seseorang mungkin merasa lebih sulit menekuk atau meluruskan sendi, seperti lutut yang sulit ditekuk atau tangan yang kurang leluasa saat menggenggam. Kondisi ini dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih sulit dilakukan.
Keterbatasan gerak dapat berkembang perlahan dan semakin terasa dari waktu ke waktu. Jika keluhan berlangsung terus-menerus atau semakin mengganggu, sebaiknya lakukan pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Faktor Risiko Osteoarthritis
Osteoarthritis adalah gangguan sendi yang risikonya tidak dirasakan sama oleh setiap orang. Selain faktor usia, terdapat berbagai kondisi lain yang dapat memicu masalah ini. Berikut adalah beberapa faktor pemicunya.
Usia, risiko osteoarthritis cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Berat badan berlebih, karena dapat memberikan tekanan lebih besar pada sendi yang menopang tubuh, terutama lutut dan panggul.
Cedera sendi sebelumnya, entah itu cedera akibat olahraga, kecelakaan, atau aktivitas lainnya karena dapat meningkatkan risiko masalah sendi di kemudian hari.
Aktivitas tertentu, karena pekerjaan atau olahraga yang memberikan tekanan berulang pada sendi dapat menjadi salah satu faktor risiko osteoarthritis.
Riwayat keluarga, faktor genetik dapat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami osteoarthritis.
Kelainan struktur sendi, kondisi tertentu yang memengaruhi bentuk atau fungsi sendi dapat membuat tekanan pada sendi menjadi tidak merata.
Memiliki satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti seseorang pasti mengalami osteoarthritis. Faktor-faktor tersebut lebih tepat dipahami sebagai hal yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi tersebut.
Diagnosis Osteoarthritis: Apakah Harus Rontgen Sendi?
Ketika mengalami nyeri atau kaku pada sendi, dokter biasanya akan menanyakan keluhan, aktivitas, riwayat cedera, serta memeriksa kondisi dan pergerakan sendi. Salah satu pemeriksaan untuk membantu mengevaluasi osteoarthritis adalah rontgen atau X-ray sendi.
Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat melihat perubahan pada struktur tulang dan ruang sendi yang dapat membantu mendukung diagnosis. Namun, rontgen bukan satu-satunya pertimbangan. Dokter akan menggabungkan hasil pemeriksaan dengan gejala dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan gambaran kondisi lebih menyeluruh.
Cek Kesehatan Tulang dengan Paket MCU Kesehatan Tulang
Menjaga kesehatan tulang dapat menjadi bagian dari upaya menjaga sistem gerak secara keseluruhan. Salah satu pilihan pemeriksaan tulang untuk mencegah osteoarthritis adalah Paket MCU Kesehatan Tulang dari Bumame yang tersedia dalam bentuk layanan home care maupun walk-in, dan dengan harga mulai dari Rp430.000,00. Paket ini dirancang untuk mengevaluasi status vitamin D dan kalsium dalam darah yang keduanya memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tulang.
Isi pemeriksaannya meliputi:
Vitamin D 25-OH Total: mengukur kadar vitamin D dalam darah yang berperan penting dalam penyerapan kalsium.
Kalsium (Ca): mengukur kadar kalsium dalam darah sebagai salah satu mineral penting untuk tulang.
Konsultasi dokter yang tersedia sebagai pilihan tambahan.
Selain osteoarthritis, pemeriksaan ini juga dapat membantu mendeteksi risiko osteoporosis, osteopenia, dan gangguan metabolisme tulang tertentu. Hasil pemeriksaan juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya bersama dokter.
Beberapa manfaat pemeriksaan yang ditawarkan antara lain:
Mengetahui status vitamin D dalam tubuh.
Mengidentifikasi ketidakseimbangan kadar kalsium.
Membantu memantau kesehatan tulang.
Menjadi bagian dari upaya deteksi dini gangguan metabolisme tulang.
Membantu menentukan langkah nutrisi dan gaya hidup yang sesuai.
Untuk pemeriksaannya tidak diperlukan persiapan khusus. Namun, sebaiknya beritahu dokter jika sedang mengonsumsi suplemen vitamin D atau kalsium. Pengecekan status kesehatan tulang ini dilakukan dengan pengambilan sampel darah yang berlangsung sekitar 5–10 menit dan hasilnya dapat Anda terima dalam rentang sekitar 1×24 jam setelah pengambilan sampel.
Kapan Harus ke Dokter Ortopedi?
Tidak semua rasa pegal atau bunyi pada sendi berarti harus segera diperiksakan ke dokter ortopedi. Namun, jika keluhan berlangsung terus-menerus, semakin sering muncul, atau mulai mengganggu aktivitas, sebaiknya jangan hanya mengandalkan istirahat atau menganggapnya sebagai bagian normal dari bertambahnya usia.
Anda dapat berkonsultasi ke dokter, termasuk dokter ortopedi, jika mengalami:
Nyeri sendi yang terus berulang atau semakin berat.
Sendi terasa kaku dan sulit digerakkan.
Gerakan sendi mulai terbatas.
Nyeri membuat aktivitas sehari-hari terganggu.
Sendi mengalami pembengkakan.
Keluhan muncul atau menetap setelah mengalami cedera.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mencari tahu penyebab keluhan dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan, seperti rontgen atau X-ray.
Kenali, Cegah, dan Tangani Osteoarthritis
Berusaha memahami osteoarthritis adalah langkah awal untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh sendiri. Nyeri atau kaku pada sendi memang bisa terjadi seiring bertambahnya usia, tetapi bukan berarti semua keluhan harus dianggap wajar dan dibiarkan begitu saja.
Diharapkan untuk selalu menjaga berat badan ideal, tetap aktif sesuai kemampuan, berikan perhatikan lebih pada jenis aktivitas yang membebani sendi, serta lakukan pemeriksaan ketika muncul keluhan yang menetap agar kesehatan sendi dapat lebih terjaga. Tidak perlu menunggu sampai rasa sakit benar-benar mengganggu rutinitas untuk mulai memerhatikannya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
Signal Transduction and Targeted Therapy. (2026). Osteoarthritis: molecular pathogenesis and potential therapeutic options.
CoMPHI Journal. (2023). Analisis Faktor Risiko Terjadinya Osteoarthritis.
Indonesian Journal of Medicine. (2026). Association Between Obesity and Severe Knee Osteoarthritis.
NPJ Women's Health. (2025). The intersection of aging and estrogen in osteoarthritis.
European Journal of Medical Research. (2026). Management of early-onset knee osteoarthritis in athletes: current concepts.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
.jpg&w=3840&q=75)