Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Polifagia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Kembali ke Artikel & Berita

Polifagia: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

SBAOthers

Sudah makan dengan porsi yang cukup tapi beberapa lama kemudian perut mudah merasa lapar lagi? Atau sering merasa ingin terus-menerus makan walaupun baru saja selesai makan? Kondisi ini bisa dialami siapapun dan dalam dunia medis disebut dengan polifagia atau hyperphagia. Polifagia adalah rasa lapar berlebih atau keinginan makan yang susah untuk dikendalikan.

Polifagia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari peningkatan aktivitas fisik hingga kondisi medis tertentu, seperti diabetes dan gangguan hormon tiroid. 

Untuk lebih jelasnya, berikut akan diuraikan gejala polifagia, penyebab dan faktor risikonya, cara diagnosis, pilihan pengobatan, hingga strategi pencegahan, sehingga Anda bisa lebih siap menghadapinya. 

Apa Itu Polifagia? 

Hiperfagia atau polifagia adalah kondisi saat seseorang merasa lapar berlebihan dan terjadi terus-menerus, bahkan sehabis makan dalam porsi yang cukup sekalipun. Polifagia bukanlah penyakit, tapi merupakan gejala dari gangguan medis tertentu seperti diabetes melitus, gangguan psikologis, hingga kelainan gen.

Mengapa Polifagia Bisa Terjadi?

Polifagia bukanlah penyakit, tapi gejala yang bisa muncul karena berbagai kondisi kesehatan. Adapun penyebabnya antara lain:

  • Diabetes melitus, yaitu masalah kesehatan yang terjadi saat tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin atau tidak bisa memanfaatkan insulin secara baik. Dampaknya, glukosa yang dikonsumsi menjadi lebih susah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Gangguan ini bisa ditandai saat tubuh kerap memberikan sinyal lapar, meskipun kadar gula di dalam darah sebenarnya sangat tinggi.

  • Hipoglikemia, yaitu kondisi saat gula darah tubuh berada dibawah normalnya, sehingga tubuh jadi kekurangan sumber energi dan akhirnya memunculkan rasa lapar.

  • Hipertiroidisme, yaitu kondisi saat kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan, yang membuat metabolisme tubuh menjadi naik sehingga membuat tubuh menggunakan energi lebih cepat daripada biasanya dan pada akhirnya membuat rasa lapar pun menjadi cepat.

  • Sindrom Cushing, yaitu kondisi saat tubuh terlalu banyak terpapar hormon kortisol dalam waktu yang lama. Hormon ini bisa menstimulasi otak untuk meningkatkan nafsu makan dan mengganggu kerja hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. 

  • Menderita stres, depresi, dan gangguan kecemasan, karena ini bisa berefek pada terganggunya mekanisme otak dalam mengatur nafsu makan sehingga bisa meningkatkan rasa lapar atau dorongan makan sebagai respons dari emosi yang dialami. 

  • Gangguan di otak, seperti kerusakan atau gangguan pada hipotalamus, yaitu bagian otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang, akibat dari cedera, tumor, stroke, atau peradangan tertentu.

  • Kondisi genetik langka seperti Sindrom Prader-Willi dan sindrom Bardet-Biedl, karena kedua kondisi ini bisa memengaruhi mekanisme pengaturan rasa lapar dan kenyang sehingga seseorang bisa saja mengalami dorongan makan berlebihan.

  • Efek samping obat-obat tertentu seperti kortikosteroid, beberapa obat antipsikotik, antidepresan, dan obat-obat anti kejang tertentu karena bisa  meningkatkan nafsu makan sehingga seseorang lebih sering merasa lapar.

Gejala Polifagia Berdasarkan Penyebabnya

Gangguan ini umumnya ditandai dengan rasa lapar terus-menerus walaupun baru selesai makan dan porsi makan tercukupi. Namun, polifagia juga bisa disertai dengan gejala lainnya tergantung dari sebab yang mendasarinya. Berikut beberapa gejala penyerta polifagia.

  • Diabetes: rasa lapar berlebih dapat disertai sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, penglihatan kabur, dan luka yang sulit sembuh.

  • Hipoglikemia: selain lapar, penderita dapat mengalami tubuh gemetar, berkeringat, jantung berdebar, dan pusing.

  • Hipertiroidisme: rasa lapar berlebih dapat disertai mudah merasa kepanasan, berat badan menurun, jantung berdebar, dan suasana hati mudah berubah.

  • Sindrom Cushing: kondisi ini dapat menyebabkan rasa lapar berlebih, kenaikan berat badan, penumpukan lemak di perut dan wajah, serta munculnya stretch mark berwarna keunguan.

  • Gangguan metabolisme: polifagia dapat disertai perubahan berat badan tanpa sebab yang jelas dan tubuh mudah lelah.

  • Gangguan psikologis dan otak: rasa lapar berlebih dapat muncul bersamaan dengan sakit kepala hingga perubahan perilaku.

Bagaimana Polifagia Didiagnosis?

Dalam mendiagnosis gangguan ini, dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang bisa meliputi: 

  • Wawancara medis, dilakukan dengan menanyakan gejala yang dialami pasien, kapan gejala mulai muncul, serta riwayat kesehatan pribadi dan keluarga untuk membantu dokter menentukan kemungkinan penyebab dan pemeriksaan lebih lanjut yang diperlukan. 

  • Cek fisik, dilakukan dengan memeriksa kondisi tubuh pasien, termasuk berat badan dan tanda-tanda fisik lainnya terkait gangguan ini.

  • Tes darah, seperti pemeriksaan glukosa darah dan HbA1c untuk mendeteksi diabetes, serta TSH dan T4 bebas untuk mengevaluasi fungsi tiroid, guna membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab polifagia yang dialami. 

  • Tes urine, untuk mendeteksi keberadaan glukosa atau keton dalam urine sehingga bisa membantu dokter mengevaluasi kemungkinan diabetes atau gangguan metabolisme lainnya.

  • Pemeriksaan pencitraan seperti MRI otak atau USG organ tertentu, dilakukan jika dokter curiga ada kelainan di otak atau organ lain yang berperan dalam pengaturan nafsu makan.

Selain pemeriksaan tersebut, dokter mungkin menyarankan tes tambahan sesuai dengan gejala dan dugaan penyebab polifagia yang dialami. Untuk itulah, sebaiknya Anda pilih paket pemeriksaan yang mencakup banyak pemeriksaan seperti MCU Metabolisme Tubuh Bumame, untuk membantu mengevaluasi kondisi metabolisme tubuh dan mendeteksi faktor risiko gangguan kesehatan tertentu.

Cara Mengatasi Polifagia

Cara mengatasinya umumnya bergantung pada penyebabnya dan biasanya berbeda-beda pada setiap orang. Tapi, biasanya cara mengobati polifagia adalah:

  • Kelola stres dan jaga kualitas tidur dengan baik, karena stres dan kurang tidur bisa memengaruhi nafsu makan serta meningkatkan keinginan untuk makan.

  • Mengelola diabetes dengan menghindari makanan tinggi gula, aktivitas fisik, pemantauan gula darah, serta penggunaan obat sesuai anjuran dokter. 

  • Menangani gangguan hormon seperti hipertiroidisme dengan obat antitiroid atau terapi lain sesuai rekomendasi dokter untuk membantu mengendalikan gejala, termasuk rasa lapar berlebihan.

  • Menyesuaikan penggunaan obat yang bisa meningkatkan nafsu makan berdasarkan anjuran dokter jika gangguan ini memang diduga merupakan efek samping pengobatan tertentu. 

  • Menjalani terapi psikologis atau perilaku jika rasa lapar berlebihan berhubungan dengan masalah stres, kecemasan, atau gangguan makan. 

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang dengan protein, serat, dan lemak sehat yang cukup untuk membantu menyokong proses penyembuhan gangguan makan.  

  • Memperbaiki jadwal makan agar lebih teratur dan pastikan kebutuhan cairan tetap tercukupi untuk membantu menjaga pola makan dan hidrasi tubuh.

  • Cek kesehatan secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan dan meningkatkan peluang untuk sembuh.

Cara Mencegah Polifagia

Polifagia tidak selalu bisa dicegah karena bisa berkaitan dengan kondisi medis tertentu. Tapi dengan menerapkan pola hidup sehat bisa membantu menjaga nafsu makan dan kesehatan metabolisme. Selengkapnya, berikut cara mencegah gangguan ini.

  • Menjaga pola makan tetap seimbang dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks, protein, dan makanan tinggi serat agar kenyang lebih lama, serta membatasi makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan untuk menghindari diabetes. 

  • Makan pelan-pelan dan teratur agar tubuh punya waktu yang cukup untuk mengenali sinyal kenyang dan membantu mengontrol porsi makan.

  • Mencukupi kebutuhan tidur dengan membuat jadwal istirahat yang teratur, mengingat kurang tidur bisa memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

  • Kelola stres dengan baik melalui relaksasi, meditasi, atau aktivitas yang menyenangkan untuk membantu mengurangi keinginan makan akibat tekanan emosional.

  • Olahraga secara teratur dan sesuai kemampuan untuk mendukung sensitivitas insulin, kesehatan metabolisme, dan pengelolaan nafsu makan.

  • Cek kesehatan secara rutin, sehingga jika ada risiko gangguan yang bisa memengaruhi pola makan bisa langsung dideteksi dan diatasi demi mencegah komplikasi.

Kapan Rasa Lapar Berlebihan Perlu Diperiksakan?

Rasa lapar berlebihan yang terus-menerus, meski sudah makan cukup, sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter karena bisa berkaitan dengan kondisi medis seperti diabetes, hipoglikemia, atau hipertiroidisme.

Apalagi jika rasa lapar berlebihan sudah disertai dengan sering haus, sering buang air kecil, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, maka mencari bantuan medis tidak Anda tunda karena ini bisa jadi gejala komplikasi yang butuh penanganan segera.

Sering Lapar Berlebihan? Periksa Kesehatan Anda Sekarang!

Polifagia adalah kondisi saat tubuh merasakan lapar berlebihan atau keinginan makan terus-menerus, bahkan setelah makan dengan porsi yang cukup. Kondisi ini tidak selalu berbahaya, tapi juga bisa jadi tanda gangguan kesehatan seperti  diabetes dan gangguan hormon tiroid. 

Untuk itu, sebaiknya Anda langsung periksa kesehatan jika mengalami gejala ini untuk mengenali pasti penyebab gangguannya dan mencari penanganan yang tepat. 

Salah satu pemeriksaan yang direkomendasikan adalah MCU Metabolisme Tubuh Bumame. Ini adalah layanan cek kesehatan komprehensif yang dirancang khusus untuk mengevaluasi kesehatan metabolik secara menyeluruh, mulai dari pengecekan kesehatan jantung, fungsi hati, fungsi ginjal, gula darah, metabolisme, hingga sistem pencernaan. 

Jadi, Anda pun bisa tahu kondisi kesehatan secara menyeluruh dan mengetahui secara pasti penyebab dari polifagia yang dialami, apakah karena kadar gula darah yang tinggi atau gangguan lain. 

Selengkapnya, hubungi Bumame untuk booking layanan atau konsultasi seputar detail pemeriksaan.

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. The Obesity Advisor — What Is Polyphagia (Hyperphagia)?

  2. African Journal of Diabetes Medicine — Polyphagia Can Be a Side Effect of Diabetes

  3. Apollo Hospitals — Polyphagia

  4. Cleveland Clinic — Polyphagia (Hyperphagia)

  5. Apollo 24|7 — Polyphagia and Hyperphagia: Overview and Management

  6. AskDocDoc — Polyphagia

  7. RS Al Irsyad Surabaya — Polifagia: Kondisi Rasa Lapar Berlebihan Meski Sudah Makan

  8. Dr. Mohan's Diabetes Specialities Centre — Do You Have Polyphagia (Excessive Hunger)?

Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia

Frequently Asked Question

Apa hubungan polifagia dengan diabetes?

Pada diabetes, insulin tidak bekerja secara optimal atau jumlahnya tidak mencukupi sehingga glukosa sulit digunakan sel sebagai energi. Akibatnya, tubuh dapat memicu rasa lapar berlebihan meskipun sudah makan.

Apakah polifagia bisa sembuh?

Polifagia dapat membaik jika penyebabnya ditangani dengan tepat. Penanganan bergantung pada faktor pemicu, seperti diabetes, gangguan hormon, efek samping obat, atau masalah psikologis.

Apa perbedaan rasa lapar normal dan polifagia?

Rasa lapar normal biasanya muncul saat tubuh membutuhkan energi dan mereda setelah makan. Polifagia ditandai rasa lapar berlebihan atau keinginan makan terus-menerus meskipun sudah makan cukup.

Apakah polifagia bisa menyebabkan kenaikan berat badan?

Ya, polifagia dapat menyebabkan kenaikan berat badan jika asupan kalori meningkat. Namun, pada diabetes yang tidak terkontrol, kondisi ini juga dapat disertai penurunan berat badan.

Kapan rasa lapar berlebihan perlu diperiksakan ke dokter?

Periksakan diri ke dokter jika rasa lapar berlebihan berlangsung terus-menerus, terutama jika disertai sering haus, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.