Memiliki bayi tentu menjadi momen indah bagi para ibu. Wajah mereka yang lucu, rambut mereka yang lembut, tentu tak bosan untuk kita pandangi dan elus. Tapi, apakah Anda tahu bahwa rambut bayi rontok seperti orang dewasa?
Untuk orang tua baru, kerontokan rambut pada bayi bisa membuat khawatir. Berbagai cara kerap dilakukan untuk mencegah kerontokan, termasuk mengoleskan minyak penumbuh rambut yang mesti dihindari bila dilakukan tanpa saran dokter. Karena itu, orang tua perlu mengetahui penyebabnya agar dapat memberikan perawatan yang tepat, dan mengetahui kapan perlu mengkonsultasikan kepada dokter.
Kenapa Rambut Bayi Rontok?
Rambut bayi rontok di usia 0–6 bulan adalah kondisi yang normal. Bayi yang lahir membawa rambut lanugo (rambut atau bulu halus yang tumbuh selama masa perkembangan dalam kandungan) yang kemudian berganti menjadi rambut vellus, lalu berganti lagi dengan rambut yang lebih tebal di usia sekitar 1–2 tahun. Selain karena proses alami, terdapat pula beberapa kondisi yang menyebabkan hal itu terjadi.
1. Perubahan Hormon
Rambut bayi sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak masih berada di dalam kandungan. Selama kehamilan, hormon seperti estrogen dan progesteron yang diproduksi tubuh ibu turut memengaruhi siklus pertumbuhan rambut bayi.
Setelah bayi lahir, kadar hormon yang sebelumnya diperoleh selama kehamilan mengalami perubahan sehingga siklus pertumbuhan rambut ikut beradaptasi. Perubahan hormonal tersebut dapat membuat sebagian folikel rambut bayi memasuki fase istirahat atau telogen.
Akibatnya, rambut yang berada pada fase tersebut dapat mengalami kerontokan secara alami sebelum folikel kembali memasuki fase pertumbuhan dan menghasilkan rambut baru. Kondisi serupa juga dapat dialami ibu setelah melahirkan karena perubahan kadar hormon, sehingga kerontokan rambut pascapersalinan pada ibu juga merupakan kondisi yang cukup umum.
2. Gesekan Kepala
Orang tua mungkin melihat rambut bayi menipis atau mengalami kebotakan pada area tertentu, terutama di bagian belakang kepala. Kondisi ini dapat terjadi karena bayi lebih sering tidur telentang sehingga bagian belakang kepala terus bergesekan dengan kasur, bantal, atau permukaan lainnya.
Rambut bayi rontok akibat gesekan tersebut dikenal sebagai friction alopecia dan umumnya tidak berbahaya. Kebotakan lokal pada bayi biasanya bersifat sementara dan rambut akan tumbuh kembali seiring berjalannya waktu.
Ketika bayi mulai lebih aktif bergerak dan tidak terus-menerus berada dalam posisi yang sama, gesekan pada kulit kepala juga berkurang sehingga pertumbuhan rambut dapat kembali secara bertahap. Namun, jika kebotakan disertai kulit kepala kemerahan, bersisik, luka, atau tidak menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan kembali, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.
3. Rambut Diikat Terlalu Kencang
Kerontokan rambut pada bayi bisa diakibatkan oleh ikatan rambut yang terlalu kencang. Selain karena diikat terlalu kencang, kerontokan rambut bayi juga bisa diakibatkan dari kebiasaan menarik-narik rambut.
4. Infeksi Jamur
Orang tua perlu waspada bila melihat adanya kebotakan pada bayi dengan bentuk lingkaran kecil, melingkar, bersisik, dan kemerahan. Terkadang disertai titik hitam tanda rambut tercerabut. Hal ini bisa terindikasi sebagai infeksi jamur pada kulit kepala (tinea capitis) yang biasa disebut kurap atau ringworm.
5. Kerak Kepala
Kerak kepala pada bayi disebut juga dermatitis seboroik infantil, yaitu berupa lapisan bersisik, berwarna kuning, dan berminyak. Saat kerak tersebut dibersihkan, biasanya rambut di sekitar area tersebut ikut tercabut.
Kerak kepala disebabkan kombinasi minyak berlebih (sebum) yang diproduksi hormon pasca melahirkan oleh sang ibu dan jamur yang dipicu oleh produksi minyak berlebih pada kulit kepala bayi.
6. Kondisi Medis
Stres fisik, pasca operasi, demam tinggi, atau kondisi medis berat lain juga menyebabkan rambut bayi rontok. Hal ini disebabkan oleh tubuh yang mengutamakan pemulihan organ vital dan mengistirahatkan sementara pertumbuhan rambut. Hal ini perlu dikonsultasikan oleh dokter agar dapat mengoptimalkan penyerapan nutrisi pada bayi untuk membantu kerontokan rambut tidak makin parah.
Kapan Rambut Bayi Rontok Perlu Diwaspadai?
Dari penyebab-penyebab rambut bayi rontok yang sudah dijelaskan, memang secara alami rambut yang rontok akan digantikan dengan yang baru. Namun, tidak semua kondisi bisa berjalan secara alami, karena ada beberapa kondisi kerontokan rambut pada bayi yang perlu diberi penanganan ahli, di antaranya adalah:
Kebotakan lokal yang lokasinya acak setelah bayi berusia di atas 6 bulan, hal ini bisa diindikasikan sebagai alopecia areata yang disebabkan oleh gangguan imun;
Infeksi jamur yang tak kunjung sembuh setelah diberi sampo khusus bayi sehingga butuh penanganan dari dokter;
Kerontokan rambut parah setelah stres fisik karena sakit berat, hal ini membutuhkan intervensi dokter untuk membantu penyerapan nutrisi agar kerontokan segera pulih;
Kerontokan rambut pada bayi tidak berhenti setelah anak berusia 1 tahun karena hipotiroid; dan
Kerak kepala yang menjadi luka terbuka yang bila dibiarkan akan berpotensi menjadi kerontokan permanen.
Cara Mengatasi Rambut Rontok pada Bayi
Secara umum, rambut rontok pada bayi berusia 0–6 bulan akan digantikan dengan rambut yang baru dan tidak membutuhkan penanganan medis. Namun, bila kondisi-kondisi berat seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya dialami oleh bayi, maka berkonsultasi dengan dokter akan sangat membantu. Di sisi lain, untuk perawatan sederhana, berikut ini cara mengatasi rambut rontok pada bayi.
1. Pakai Sampo Khusus Bayi
Sebenarnya, menggunakan sampo bayi tidak bisa menghalangi kerontokan alami yang dialami bayi di bulan-bulan awal kehidupannya. Namun, sampo bayi bisa membantu membersihkan kerak kepala dan menjaga kelembapan kulit kepala.
Gunakan sampo bayi dengan kandungan pH seimbang, tanpa bahan kimia keras seperti paraben, pewarna, parfum, non-SLS, dan minyak alami akan membantu kulit kepala bayi tetap lembut dan bersih. Bersihkan rambut bayi dengan air hangat kuku (37–38° Celcius), pijat kulit kepala dengan lembut dan keringkan dengan handuk berbahan lembut.
2. Kurangi Gesekan Kepala
Salah satu cara yang membantu mengurangi rambut bayi rontok di area belakang adalah kurangi membaringkan bayi dengan posisi telentang dan perbanyak tummy time dengan pengawasan orang tua. Dengan mengurangi gesekan pada kepala, kebotakan lokal yang dialami bayi dapat membuat rambut tumbuh kembali.
3. Sisir Rambut dengan Lembut
Mengingat kulit kepala bayi yang masih rentan dan rambut yang masih tipis, gunakan sisir berbentuk sikat berbulu halus agar tidak ada rambut yang tertarik paksa saat disisir. Jangan gunakan sisir yang kasar atau menggaruk dengan kencang.
4. Jangan Menarik Rambut Terlalu Keras
Hindari mengikat rambut terlalu keras atau memakaikan aksesoris yang menekan kulit kepala bayi dengan kencang. Folikel rambut bayi yang masih tipis akan cepat rusak jika sering mendapat tarikan dan tekanan pada rambut.
5. Jangan Gunakan Hair Dryer
Tidak direkomendasikan menggunakan hair dryer dengan suhu panas pada bayi karena akan merusak rambut bayi yang masih tipis.
Kenali Kondisi Tubuh Lewat Pemeriksaan Kesehatan
Kerontokan rambut pada bayi secara umum tidak perlu membuat orang tua khawatir karena proses yang terjadi alami. Yang mesti diingat adalah tumbuh kembang anak sama pentingnya dengan kesehatan orang tua yang mengasuh. Jangan sampai kesibukan merawat anak membuat pemeriksaan kesehatan diri sendiri menjadi terabaikan.
Orang tua bisa mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih menyeluruh. Medical Check Up Plus dari Bumame mencakup pemeriksaan hematologi lengkap, fungsi hati dan ginjal, profil lemak, gula darah, HbA1c, Vitamin D 25-OH, dan urine lengkap. Layanan ini tersedia melalui Home Care maupun Walk-In.
Rambut Bayi Rontok? Tak Perlu Panik!
Rambut bayi yang rontok pada bulan-bulan pertama kehidupannya umumnya merupakan bagian dari proses alami pertumbuhan rambut bayi. Gesekan pada bagian belakang kepala juga dapat membuat rambut bayi terlihat lebih tipis untuk sementara.
Meski begitu, Anda sebagai orang tua tetap perlu memperhatikan pola kerontokan dan kondisi kulit kepala. Jika muncul kebotakan yang tidak biasa atau tanda peradangan, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
American Academy of Pediatrics. (2024). Hair Loss (Alopecia) in Children.
BabyCenter. (n.d.). Hair Loss in Babies.
Live Science. (n.d.). Why Do Babies Lose Their Hair?
American Academy of Pediatrics. (2025). Bathing Your Baby.
Ditinjau secara medis oleh dr. Andika Yusuf Ramadhan, M.Biomed
_(2).jpg&w=3840&q=75)