Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Mau pesan layanan Homecare Bumame? Klik disini.

Salmonella: Jenis, Gejala Infeksi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya
Kembali ke Artikel & Berita

Salmonella: Jenis, Gejala Infeksi, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

SBAOthers

Pernah tidak, sepulang makan malam di warung langganan, tiba-tiba perut melilit? Tak lama kemudian, Anda harus bolak-balik ke kamar mandi, badan terasa hangat, dan nafsu makan hilang. Banyak orang mengira ini cuma masuk angin atau salah makan biasa. Padahal, Salmonella adalah bakteri yang sering menjadi biang kerok di baliknya.

Ini adalah bakteri yang dapat membuat seseorang sakit setelah bakteri tersebut masuk ke tubuh lewat makanan, minuman, atau kontak dengan hewan. Bakteri ini menimbulkan penyakit yang disebut salmonellosis. Sebagian besar orang dapat sembuh tanpa masalah, tapi ada kelompok yang perlu lebih waspada. Yuk, kenali!

Apa Itu Salmonella?

Bakteri Salmonella adalah mikroba yang hidup di usus manusia, hewan ternak, hewan peliharaan, dan burung. Dari sana, bakteri ini berpindah ke makanan atau air yang tercemar kotoran dan jumlahnya pun tidak sedikit.

Para ahli telah mengidentifikasi lebih dari 2.500 jenis (serotipe), tetapi hanya kurang dari 100 jenis yang menyebabkan sebagian besar infeksi pada manusia. WHO bahkan mencatat bahwa Salmonella adalah salah satu dari empat penyebab utama penyakit diare di dunia.

Jenis Bakteri Salmonella dan Penyakit yang Ditimbulkan

Secara ilmiah, genus Salmonella terdiri dari dua spesies, yaitu Salmonella enterica dan Salmonella bongori. Di antara ratusan serotipenya, Enteritidis dan Typhimurium adalah paling sering menularkan penyakit dari hewan ke manusia. Secara garis besar, infeksinya terbagi dua, yaitu:

  • Salmonellosis non-tifoid: infeksi usus yang biasanya menimbulkan diare, demam, dan kram perut. Inilah yang paling sering orang maksudkan ketika berbicara soal keracunan makanan akibat Salmonella.

  • Demam tifoid dan paratifoid: Disebabkan oleh Salmonella jenis Typhi dan Paratyphi. Keduanya menyebabkan demam sebagai gejala utama dan bisa mengancam nyawa, jadi penderitanya perlu segera mendapat pertolongan medis.

Jadi, “penyakit tipes atau tifus” yang sering kita dengar sebenarnya juga berasal dari keluarga bakteri yang sama. Hanya saja, penyakitnya berbeda dengan diare akibat Salmonella pada umumnya.

Penyebab dan Cara Penularan Infeksi Salmonella

Infeksi Salmonella adalah adalah masalah yang terjadi ketika seseorang menelan bakteri ini. Sumber paling sering adalah makanan hewani yang kurang matang atau disimpan tidak semestinya, seperti daging, unggas, telur, dan susu mentah. Sayuran dan buah juga bisa terkontaminasi, misalnya lewat air atau pupuk kandang tercemar.

Di Amerika Serikat, ayam menjadi sumber utama penularan bakteri ini. Sekitar 1 dari 25 kemasan ayam di toko terkontaminasi Salmonella. Angka ini tentu tidak otomatis berlaku di Indonesia, tapi kita tetap harus berhati-hati. Selain lewat makanan, penularan juga bisa terjadi melalui.

  • Tangan yang belum bersih setelah dari toilet, mengganti popok, atau menyentuh daging mentah.

  • Kontak dengan hewan yang terinfeksi, kotorannya, atau lingkungan tempat hewan itu berada. Hewan yang tampak sehat pun bisa membawa bakteri ini.

  • Dari orang ke orang lewat jalur tinja ke mulut, terutama jika kebersihan tangan kurang terjaga.

Anak di bawah 5 tahun, lansia 65 tahun ke atas, orang dengan daya tahan tubuh lemah, serta pengguna obat penurun asam lambung punya risiko lebih tinggi terkena bakteri ini.

Gejala Infeksi yang Perlu Diwaspadai

Keluhan yang paling sering muncul biasanya diare (kadang disertai lendir atau darah), kram perut yang terasa cukup berat, dan demam. Sebagian orang juga merasakan sakit kepala, mual, muntah, atau hilangnya nafsu makan.

Gejala biasanya mulai terasa 6 jam sampai 6 hari setelah bakteri masuk, lalu berlangsung sekitar 4 sampai 7 hari. Karena gejalanya mirip gastroenteritis atau flu perut, banyak orang tidak menyadari penyebabnya sampai keluhan berlarut-larut. Untuk hal ini, Anda bisa mencari tahu gejala penyakit gastroenteritis dan membandingkannya.

Perlu diingat, tidak semua orang merasakan gejala yang sama. Ada yang hanya mengalami diare ringan selama sehari dua hari, ada pula yang demam dan lemas cukup lama. Pada sebagian orang, gejala bahkan baru muncul beberapa minggu setelah terinfeksi.

Perhatikan juga tanda dehidrasi (kekurangan cairan), terutama pada anak kecil, seperti:

  • Buang air kecil sedikit dengan warna urine sangat pekat.

  • Sangat haus, mulut dan tenggorokan kering.

  • Pusing atau terasa melayang.

  • Anak menangis tanpa air mata.

Diagnosis Infeksi Salmonella

Dari gejalanya, infeksi Salmonella adalah masalah yang sulit dibedakan dari penyebab diare lain. Kepastian baru didapat jika laboratorium menemukan bakteri Salmonella di sampel tinja, jaringan, atau cairan tubuh pasien. 

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hanya sekitar 1 dari 30 infeksi yang benar-benar terdiagnosis, karena banyak penderita sudah sembuh sebelum sempat diperiksa. Pada diare ringan, dokter biasanya tidak langsung meminta tes. 

Mereka baru mempertimbangkan pemeriksaan jika keluhannya berat, berlangsung lama, atau terjadi pada kelompok berisiko tinggi. Di sisi lain, pemeriksaan darah rutin bisa membantu memberi gambaran kondisi tubuh saat sedang sakit.

Untuk hal ini, Anda bisa melakukan pemeriksaan hematologi lengkap di Bumame. Tes ini menghitung sel darah merah, hemoglobin, hematokrit, sel darah putih, dan trombosit. Hasilnya bisa memberi petunjuk apakah Anda mengalami anemia atau ada tanda infeksi secara umum. Anda juga tidak perlu berpuasa untuk menjalaninya.

Pengobatan Infeksi Salmonella

Kabar baiknya, kebanyakan orang pulih dalam 4 sampai 7 hari tanpa antibiotik. Hal yang terpenting, ganti cairan tubuh yang hilang akibat diare. Untuk itu, oralit (campuran air bersih, garam, dan gula) dirancang khusus untuk menggantikan air dan elektrolit tubuh. Jika nafsu makan mulai kembali, pilih makanan khusus agar diare cepat sembuh.

Perlu diingat, antibiotik tidak dipakai untuk semua kasus. Dokter biasanya menganjurkan hanya untuk penderita yang sakit berat, bayi di bawah 12 bulan, lansia 65 tahun ke atas, orang dengan daya tahan tubuh lemah, serta orang dewasa di atas 50 tahun yang punya penyakit penyerta seperti penyakit jantung. 

WHO juga mengingatkan bahwa Salmonella yang kebal terhadap antibiotik dapat menjadi masalah, jadi obat ini sebaiknya hanya digunakan atas resep dokter.

Komplikasi Infeksi Salmonella

Ancaman yang paling sering muncul dari infeksi Salmonella adalah dehidrasi berat, terutama pada anak-anak dan lansia. Pada sebagian kecil orang, bakteri bisa keluar dari usus lalu masuk ke aliran darah (bakteremia), kemudian menyebar ke organ lain seperti tulang, sendi, selaput otak, atau katup jantung.

Komplikasi lain yang bisa muncul adalah artritis reaktif, yaitu nyeri sendi yang kadang disertai iritasi mata dan nyeri saat buang air kecil. Kondisi ini paling sering menyerang usia 15 sampai 35 tahun dan bisa berlangsung berbulan-bulan. Ada pula yang mengalami gangguan buang air besar selama beberapa bulan setelah sembuh.

Cara Mencegah Infeksi Salmonella

Pencegahannya sebenarnya cukup sederhana dan masuk akal. WHO merangkumnya dalam lima kunci makanan lebih aman dengan cara berikut.

  • Jaga kebersihan tangan, dapur, dan peralatan.

  • Pisahkan makanan mentah dari makanan matang.

  • Masak makanan sampai matang sempurna.

  • Simpan makanan pada suhu yang aman.

  • Gunakan air dan bahan makanan yang aman.

Beberapa kebiasaan kecil juga sangat membantu. Contohnya seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama sekitar 20 detik setelah dari toilet, mengganti popok, memegang daging mentah, atau menyentuh hewan.

Hindari telur mentah dan produk susu yang tidak dipasteurisasi, lalu segera simpan sisa makanan di lemari es. Mencuci tangan dengan sabun memang menjadi salah satu cara utama untuk mencegah diare secara umum, bersama dengan air minum yang aman dan sanitasi yang baik.

Kapan harus ke Dokter?

Segera periksakan diri atau anak Anda bila muncul gejala berikut.

  • Diare atau muntah berlangsung lebih dari 2 hari.

  • Demam tinggi di atas sekitar 38,9°C.

  • Tinja atau urine berdarah.

  • Tanda dehidrasi, misalnya sangat haus, jarang buang air kecil, atau lemas.

Bayi, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah sebaiknya diperiksa lebih cepat, bahkan jika keluhannya belum lama. WHO juga menyarankan untuk mencari bantuan medis bila diare berlangsung 14 hari atau lebih.

Kenali Gejalanya dan Perhatikan Konsumsi Makanan Anda!

Salmonella adalah kondisi yang bisa menjadi serius jika terjadi pada orang berisiko. Karena itu, Anda tidak boleh menyepelekannya. Jika ingin mengecek kesehatan secara menyeluruh, Anda juga bisa melakukan pemeriksaan hematologi lengkap di Bumame. 

Dalam pemeriksaan ini, Anda dapat melihat kondisi darah secara umum, mulai dari hemoglobin, sel darah putih, sampai trombosit. Yuk, hubungi untuk booking sekarang!

Lokasi Klinik Bumame

1.  Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310

2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550

3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610

4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160

5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention — How Salmonella Infections Happen

  2. World Health Organization — Salmonella (Non-Typhoidal)

  3. Mayo Clinic — Salmonella Infection: Symptoms and Causes

  4. Centers for Disease Control and Prevention — About Typhoid Fever and Paratyphoid Fever

  5. Centers for Disease Control and Prevention — Symptoms of Salmonella Infection

  6. Food Safety and Inspection Service — Salmonella Questions and Answers

  7. World Health Organization — Diarrhoeal Disease

Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila

Frequently Asked Question

Apakah Salmonella sama dengan tifus?

Tidak. Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella Typhi, sedangkan infeksi Salmonella non-tifoid umumnya menimbulkan diare, demam, dan kram perut.

Apakah infeksi Salmonella bisa sembuh sendiri?

Kebanyakan orang sehat dapat pulih dalam 4–7 hari tanpa antibiotik. Penting untuk mengganti cairan yang hilang akibat diare. Kasus berat atau kelompok berisiko mungkin memerlukan penanganan medis.

Apakah Salmonella menular dari orang ke orang?

Ya. Penularan dapat terjadi melalui jalur tinja ke mulut, misalnya ketika seseorang tidak mencuci tangan setelah dari toilet lalu menyiapkan makanan. Menjaga kebersihan tangan membantu mengurangi risiko penularan.

Apakah semua orang yang terinfeksi Salmonella pasti mengalami gejala?

Tidak. Sebagian orang yang terinfeksi Salmonella tidak menunjukkan gejala, sedangkan yang lain dapat mengalami diare, demam, kram perut, mual, atau muntah.

Mengapa diagnosis laboratorium penting untuk infeksi Salmonella?

Gejala infeksi Salmonella dapat menyerupai penyakit lain. Pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan sampel tinja, dapat membantu memastikan penyebab infeksi dan mendukung penentuan penanganan yang tepat.