Sebagai orang tua, Anda perlu mewaspadai anak yang tiba-tiba demam, lemas, atau kehilangan nafsu dan tidak menganggapnya sebagai keluhan biasa. Pasalnya, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal masalah kesehatan, termasuk gejala tifus pada anak yang terkadang sulit dikenali sejak awal.
Tifus bisa berkembang secara bertahap sehingga gejalanya sering kali menyerupai infeksi lain. Dengan mengenali tanda-tandanya lebih dini, Anda bisa menentukan langkah yang tepat dan membawa anak untuk mendapatkan pemeriksaan medis bila diperlukan.
Apa Itu Tifus (Demam Tifoid) pada Anak?
Masyarakat luas lebih familiar dengan istilah “tipes” daripada “tifus. Namun, dalam dunia medis, nama resminya adalah demam tifoid (typhoid fever). Tifus adalah tipe infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Sasaran utama bakteri ini adalah saluran pencernaan.
Gangguan infeksi ini memiliki ciri-ciri yang hampir mirip dengan reaksi peradangan dalam tubuh, terutama pada bagian demamnya. Sehingga, pada banyak kasus, penanganannya sering kali terlambat karena awalnya dianggap sebagai demam biasa. Sebab itu, penting untuk mengenali gejalanya dengan baik.
Gejala Tifus pada Anak
Adapun beberapa gejala khusus yang memudahkan identifikasi tipes pada anak secara non medis adalah sebagai berikut.
Demam tinggi yang memiliki pola tertentu, yaitu suhu tubuh baik secara bertahap setiap harinya. Namun, biasanya mencapai suhu puncak 39–40°C pada sore hingga malam hari.
Anak mengalami gangguan pencernaan yang ditandai dengan keluhan sakit perut bagian tengah, mual, muntah, sembelit atau diare cair.
Tubuh terasa lemas disertai keluhan sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan terus menerus padahal berbaring di ranjang sepanjang hari.
Bagian tengah lidah tampak memutih, sementara tepian dan ujung lidah memerah.
Nafsu makan anak turun drastis dan tidak mau minum, yang mana mengakibatkan berat badan merosot tajam dan dehidrasi.
Muncul bercak kemerahan halus di area dada dan perut.
Penyebab Tifus pada Anak dan Cara Penularannya
Gejala tifus pada anak sering terjadi secara tiba-tiba, padahal sebelumnya mereka tampak beraktivitas seperti biasa. Wajar bila Anda kemudian bertanya-tanya bagaimana infeksi satu ini bisa menyerang anak. Penyebab utamanya adalah serangan bakteri Salmonella typhi di dalam sistem pencernaan.
Namun, bagaimana tepatnya cara bakteri tersebut bisa masuk ke tubuh anak menjadi pertanyaan utama. Berikut ini beberapa skema yang mungkin membuat anak sampai terserang tipes.
Mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri pemicu. Contohnya makanan yang dimasak dengan cara dan di tempat tidak higienis atau minuman yang menggunakan es batu dari air mentah.
Tidak terbiasa mencuci tangan dengan sabun sebelum makan sehingga bakteri mudah masuk ke tubuh lewat makanan.
Kontak langsung dengan pasien tipes, termasuk mengonsumsi makanan dan memakai alat makan yang sama dengan pasien. Hal ini menyebabkan penularan langsung karena bakteri Salmonella typhi sangat mudah bermigrasi.
Selain itu, ada beberapa faktor risiko juga yang membuat gejala tifus pada anak lebih besar dari orang dewasa, yaitu:
Sistem kekebalan tubuh yang masih rentan karena belum terbentuk sempurna, sehingga bakteri lebih mudah menembusnya;
Hasrat atau kebiasaan jajan sembarangan yang tidak terbendung, sehingga asal membeli makanan dan minuman tanpa memikirkan risiko; serta
Sanitasi lingkungan kurang memadai atau buruk sehingga banyak lalat dan serangga yang menjadi “kurir” bakteri pemicu tipes kepada anak.
Diagnosis Tifus pada Anak
Mengenali gejala tifus pada anak tentunya bertujuan untuk menyalakan “alarm peringatan”, namun tidak serta merta menegaskan diagnosis. Konfirmasi tentang apakah infeksi yang menyerang anak memanglah tipes atau bukan tetap membutuhkan pemeriksaan medis dari dokter. Berikut adalah tahapan pemeriksaannya.
1. Pemeriksaan Fisik
Pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan mengecek suhu tubuh anak. Dokter juga akan meraba area perut untuk mendeteksi pembesaran organ hati dan limpa. Bila perlu, pemeriksaan kondisi lidah pun dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda dehidrasi pada anak.
2. Tes Darah
Setelah pemeriksaan fisik, tahapan selanjutnya adalah tes darah (hematologi). Pemeriksaan melalui sampel darah ini bertujuan untuk melihat gambaran sel darah secara menyeluruh, seperti:
Penurunan jumlah sel darah putih (leukosit) yang menunjukkan sistem kekebalan tubuh melemah; dan
Peningkatan sel darah merah (eritrosit) yang menandakan dehidrasi hingga risiko penyumbatan pembuluh darah.
3. Tes Serologi (Widal atau Tubex)
Tes lainnya yang juga digunakan untuk memastikan gejala tifus pada anak adalah pemeriksaan serologi, yang mana terbagi menjadi dua macam pemeriksaan, yaitu Widal dan Tubex.
Tes Widal bertujuan untuk mengukur kadar antibodi dalam sampel darah terhadap antigen bakteri Salmonella typhi.
Tes Tubex memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan Widal, tapi dengan metode lebih modern dan waktu deteksi yang lebih cepat.
4. Kultur Darah atau Feses
Terakhir ada pemeriksaan feses atau kultur darah yang merupakan standar emas diagnosis tipes. Dalam praktiknya, sampel darah atau tinja anak akan diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi sekaligus mengamati pertumbuhan bakterinya. Hasil tes ini paling akurat untuk memastikan infeksi dan tingkat penyebarannya.
Cara Mengatasi Penyakit Tifus pada Anak
Penanganan gejala tifus pada anak tentu sedikit lebih berat dan penuh tantangan daripada pasien dewasa. Pada kasus infeksi yang menyerang anak-anak, fokus utama perawatannya adalah membasmi bakteri penyebab sekaligus pemulihan stamina fisik mereka. Berikut ini langkah-langkahnya.
Konsumsi antibiotik sesuai resep dokter dan harus diminum sampai habis agar tidak memicu resistensi.
Memberi obat pereda demam seperti paracetamol sesuai anjuran dokter.
Membatasi aktivitas fisik anak agar cadangan energi dan sistem kekebalan tubuhnya berfokus pada proses penyembuhan. Bila perlu, terapkan aturan istirahat total (bed rest).
Menyajikan makanan bertekstur lunak yang mudah dicerna, seperti bubur.
Mencukupi kebutuhan cairan tubuh anak dengan minum air putih atau kuah sup hangat.
Kenali Gejala, Pastikan dengan Pemeriksaan Tifus
Memahami gejala tifus pada anak sangatlah penting bagi orang tua, meskipun memicu rasa cemas hingga kepanikan. Namun, langkah bijak yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua saat menyadari sinyal-sinyal tipes tersebut adalah secepatnya melakukan pemeriksaan medis.
Sebagai solusi pemeriksaan yang aman dan nyaman, Anda bisa percayakan kebutuhan analisis laboratorium pada layanan pemeriksaan tifus Bumame. Ada dua jenis pemeriksaan yang kami lakukan, yaitu tes hematologi (darah) lengkap dan deteksi antibodi Salmonella typhi.
Laporan tes akan menampilkan tingkat keparahan infeksi bakteri pada anak. Dengan begitu, dokter bisa menjadikannya sebagai acuan untuk menentukan metode penanganan medis yang tepat dan aman tanpa efek samping berbahaya.
Kapan Harus ke Dokter?
Melansir WHO, Anda harus segera bawa Si Kecil untuk berkonsultasi dengan dokter saat ia menunjukkan tanda-tanda berikut.
Demam tinggi lebih dari 3 hari disertai kejang, padahal sudah minum obat pereda panas.
Menunjukkan tanda-tanda dehidrasi berat, seperti bibir sangat kering, tidak ada air mata saat menangis, dan frekuensi buang air kecil berkurang drastis.
Muntah terus-menerus sehingga tidak ada makanan atau cairan yang bisa masuk sama sekali.
Tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau mengalami penurunan kesadaran secara bertahap.
Menjaga Kesehatan Buah Hati demi Tumbuh Kembang Optimal
Wajar apabila rangkaian gejala tifus pada anak menimbulkan kecemasan dan kepanikan bagi orang tua. Sebab, kondisi infeksi tersebut cenderung muncul secara tiba-tiba dan berkembang dengan cepat. Namun, langkah terbaik adalah bergegas membawa anak untuk mendapatkan penanganan medis.
Meskipun demikian, mengambil langkah pencegahan tetap menjadi pilihan utama. Salah satunya dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman yang anak konsumsi. Selain itu, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk seluruh anggota keluarga juga bisa meminimalisir risiko penularan infeksi.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
EMC Healthcare. (2026). Typhoid Fever in Children: Recognize the Symptoms, Causes, and How to Prevent It.
Siloam Hospitals. (2025). Recognizing Typhoid Fever Symptoms in Children and Its Treatment.
Pediatric EM Morsels. (2023). Typhoid Fever in Children.
Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Typhoid and Paratyphoid Fever.
Cloudnine Hospitals. (2025). Typhoid in Children: Common Symptoms in Kids and Toddlers.
Cleveland Clinic. (2026). Typhoid Fever.
WHO. (2023). Typhoid.
Ditinjau secara medis oleh dr. Talitha Amalia
