Banyak orang mengira kembung berkepanjangan, perubahan siklus haid, dan nyeri perut bawah hanya masalah pencernaan biasa. Padahal, gejala tersebut bisa saja berkaitan tumor ovarium. Walaupun istilah tumor sering kali memicu rasa cemas, tidak semua pertumbuhan jaringan ini berstatus sebagai kanker ganas yang berbahaya.
Sebagian besar kasus bersifat jinak dan tidak menyebar, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi risiko yang lebih buruk. Kenali berbagai tanda-tanda awal kemunculan tumor secara cermat agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat.
Apa Itu Tumor Ovarium?
Ovarium adalah dua organ kecil di sisi kanan dan kiri rahim yang berperan dalam sistem reproduksi perempuan dengan menghasilkan sel telur serta hormon seperti estrogen dan progesteron. Tumor ovarium merupakan pertumbuhan sel atau jaringan yang tidak normal pada ovarium, yang dapat bersifat jinak maupun ganas.
Tumor ovarium tidak selalu langsung menimbulkan keluhan. Pada beberapa kasus, tumor ditemukan secara tidak sengaja ketika seseorang menjalani USG untuk keperluan lain. Sebagian lainnya baru diketahui setelah muncul keluhan seperti perut terasa penuh, nyeri panggul, atau perubahan siklus menstruasi.
Ketika tubuh menunjukkan perubahan yang menetap atau terasa berbeda dari biasanya, sebaiknya jangan langsung menyimpulkan penyebabnya sendiri. Banyak kondisi lain yang juga dapat menimbulkan gejala serupa, sehingga pemeriksaan dokter tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Jenis Tumor Ovarium
Secara sederhana, tumor ovarium dapat dibedakan menjadi tumor jinak dan tumor ganas atau kanker. Berikut penjelasan mengenai perbedaan tumor dan kanker ovarium.
1. Tumor Ovarium Jinak
Tumor jinak bukan kanker. Pertumbuhannya umumnya tidak menyerang jaringan di sekitarnya dan tidak menyebar ke organ lain. Salah satu bentuk benjolan jinak yang sering dijumpai adalah kista, seperti kista ovarium. Benjolan ini kerap terbentuk sebagai bagian dari proses menstruasi alami dan bahkan dapat menghilang dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.
Meski begitu, bukan berarti semua tumor jinak boleh diabaikan. Ukuran yang besar dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau komplikasi tertentu, sehingga dokter mungkin menyarankan pemantauan berkala atau tindakan sesuai kondisi.
2. Tumor Ovarium Ganas
Tumor ganas atau kanker ovarium terjadi ketika sel-sel abnormal tumbuh secara tidak terkendali dan dapat menyebar ke jaringan atau organ lain. Gejalanya pada tahap awal sering kali mirip dengan keluhan sehari-hari, sehingga perubahan tubuh yang menetap sebaiknya tidak diabaikan dan segera diperiksakan.
Penyebab dan Faktor Risiko Tumor Ovarium
Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus tumor ovarium. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko, antara lain:
Usia, terutama ketika seseorang semakin bertambah usia.
Riwayat keluarga, khususnya keluarga dengan kanker ovarium atau kanker payudara tertentu.
Perubahan atau mutasi gen tertentu, seperti BRCA1 dan BRCA2, yang menjadi penyebab kanker ovarium dan kanker payudara.
Riwayat kanker tertentu dalam diri sendiri.
Faktor reproduksi dan hormonal tertentu juga dapat berhubungan dengan risiko pada sebagian perempuan.
Memiliki salah satu faktor risiko tersebut bukan berarti seseorang pasti mengalami tumor ovarium atau kanker ovarium. Faktor risiko hanya menunjukkan bahwa seseorang memiliki kemungkinan lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak memiliki faktor tersebut.
Sebaliknya, seseorang tanpa faktor risiko yang jelas tetap dapat mengalami masalah pada ovarium. Jadi, jangan merasa terlalu aman hanya karena tidak memiliki riwayat keluarga dan tetap rutin melakukan pemeriksaan sebagai pencegahan.
Gejala Tumor Ovarium yang Perlu Diperhatikan
Pada tahap awal, tumor ovarium dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas. Ketika keluhan muncul, gejalanya pun sering kali tidak spesifik. Berikut beberapa perubahan yang patut diperhatikan.
1. Nyeri Panggul
Nyeri atau rasa tidak nyaman di area panggul, terutama jika berlangsung berulang, kronis, atau tidak kunjung membaik, merupakan salah satu gejala kanker ovarium yang sebaiknya tidak diabaikan begitu saja. Rasa sakit ini umumnya dapat dirasakan di sekitar bagian bawah perut, panggul, atau bahkan menjalar hingga ke area punggung bawah.
Kendati demikian, nyeri panggul tidak selalu berkaitan dengan kondisi serius, sebab sering kali dipicu oleh proses menstruasi, kista ovarium jinak, infeksi saluran kemih, endometriosis, atau gangguan pencernaan. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan medis untuk menelusuri sumber nyeri yang sebenarnya secara akurat.
2. Perut Kembung atau Terasa Penuh
Perut yang terasa lebih sering kembung, begah, atau cepat merasa kenyang meskipun hanya mengonsumsi sedikit makanan juga dapat menjadi salah satu gejala.
Mengalami kembung sesekali tentu merupakan hal yang wajar dan lazim. Namun, yang patut mendapat perhatian khusus adalah apabila perubahan fisik tersebut berbeda dari pola kebiasaan sehari-hari, cenderung menetap, dan tidak kunjung hilang meskipun sudah mengubah gaya hidup atau pola makan.
3. Siklus Menstruasi Tidak Teratur
Perubahan pada pola atau siklus haid kerap terjadi karena berbagai macam alasan fisiologis maupun gaya hidup. Contohnya stres tinggi, fluktuasi berat badan yang drastis, kelelahan, gangguan ketidakseimbangan hormon, hingga masalah kesehatan pada organ reproduksi.
Apabila menstruasi tiba-tiba menjadi sangat tidak teratur, volume darah haid menjadi jauh lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya, atau disertai dengan keluhan penyerta seperti nyeri panggul yang menetap, maka kondisi ini sudah waktunya untuk dikonsultasikan secara langsung dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
Cegah Penyakit Ganas dengan Pemeriksaan Kesehatan di Bumame
Tumor ovarium sering kali berkaitan dengan faktor genetik tertentu, terutama mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 yang bertugas mengontrol pertumbuhan sel. Perubahan pada gen tersebut juga dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap tumor dan kanker payudara, sehingga kewaspadaan dini sangat penting.
Sebagai langkah antisipasi dan pemantauan kesehatan menyeluruh, Bumame menyediakan berbagai pilihan skrining klinis. Salah satunya adalah Paket Skrining Kanker Payudara dengan harga Rp1.010.000 dengan pemeriksaan biomarker darah.
Melalui paket tersebut, pemeriksaan melibatkan protein CA 15-3 dan penanda biologis CEA (Carcinoembryonic Antigen) untuk memberikan informasi tambahan mengenai kondisi tubuh. Kendati demikian, kedua penanda ini tidak dapat dijadikan alat diagnosis tunggal dan tetap memerlukan evaluasi lanjutan.
Prosedur pengambilan sampel darah untuk skrining ini tergolong cepat dan praktis karena hanya memakan waktu sekitar 10 hingga 15 menit tanpa persiapan khusus. Selain itu, hasil tes akan keluar dalam kurun waktu 1×24 jam lengkap dengan sesi pembacaan bersama dokter.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa paket tersebut difokuskan untuk kesehatan payudara dan bukan alat untuk mendiagnosis tumor ovarium. Jika Anda memiliki kekhawatiran khusus seputar ovarium, langkah terbaik adalah berkonsultasi langsung dengan dokter untuk menentukan jenis pemeriksaan lanjutan yang paling tepat.
Bagaimana Tumor Ovarium Didiagnosis?
Ketika dokter mencurigai adanya masalah pada ovarium, pemeriksaan biasanya dimulai dengan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan lain di antaranya sebagai berikut.
1. USG
USG atau ultrasonography merupakan salah satu pemeriksaan yang umum digunakan untuk melihat kondisi rahim dan ovarium. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran organ reproduksi.
Melalui USG, dokter dapat melihat adanya kista atau massa pada ovarium, termasuk ukuran dan bentuknya. Informasi ini membantu dokter menilai kondisi ovarium dengan lebih jelas.
Pemeriksaan USG dapat dilakukan melalui perut atau melalui vagina, tergantung kebutuhan dan kondisi pasien. Hasilnya kemudian dapat digunakan dokter untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.
2. Tes Tumor Marker CA-125
Dokter juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan darah untuk mengukur CA-125, yaitu salah satu penanda biologis yang dapat meningkat pada kondisi tertentu, termasuk beberapa jenis kanker ovarium.
Namun, CA-125 bukan berarti tes pasti tumor ovarium. Kadarnya juga dapat meningkat akibat kondisi non-kanker, seperti menstruasi, endometriosis, atau beberapa gangguan lainnya. Sebaliknya, kadar CA-125 yang normal juga tidak selalu menyingkirkan kanker ovarium.
Karena itu, hasil CA-125 perlu dibaca bersama kondisi klinis dan pemeriksaan lain, bukan dijadikan dasar diagnosis sendirian. Pada kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan tambahan atau pengambilan sampel jaringan untuk memastikan diagnosis.
Kapan Harus ke Dokter Kandungan?
Tidak perlu menunggu sampai rasa sakit menjadi berat, karena salah satu langkah awal untuk mencegah kanker ovarium adalah mempertimbangkan membuat janji dengan dokter kandungan jika mengalami:
Nyeri panggul yang berulang atau menetap.
Perut sering kembung atau terasa penuh tanpa penyebab yang jelas.
Siklus menstruasi berubah secara signifikan dan berlangsung terus.
Perut membesar tanpa alasan yang jelas.
Cepat kenyang atau nafsu makan berubah secara menetap.
Memiliki riwayat keluarga kanker ovarium atau kanker payudara.
Menemukan kelainan pada ovarium saat pemeriksaan sebelumnya.
Jika nyeri perut atau panggul muncul secara tiba-tiba dan sangat berat, terutama disertai muntah, pingsan, perdarahan hebat, atau kondisi tubuh yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Peduli pada Diri Sendiri Dimulai dari Langkah Kecil
Tumor ovarium tidak selalu berarti kanker. Ada kondisi jinak yang dapat dipantau dan ditangani sesuai kebutuhan. Yang terpenting adalah tidak mengabaikan perubahan tubuh yang menetap dan tidak mencoba mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan satu gejala atau hasil pemeriksaan.
Menjaga kesehatan reproduksi bukan berarti harus selalu merasa khawatir. Justru, memahami tubuh dan memeriksakannya ketika ada perubahan adalah bentuk perhatian kepada diri sendiri.
Jika ada keluhan yang membuat Anda tidak tenang, berbicara dengan dokter kandungan dapat menjadi langkah sederhana untuk mendapatkan jawaban yang lebih jelas dan menentukan pemeriksaan yang memang dibutuhkan.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
References:
Indonesian Journal of Cancer. (2024). The Characteristics of Sociodemography, Histopathologic Features, Stage, and Management of Ovarian Cancer in Dr. Ramelan Navy Hospital Surabaya.
National Library of Medicine. (2023). Epidemiology and risk factors for ovarian cancer.
Health Technology Assessment. (2025). Ovarian cancer symptoms, routes to diagnosis and survival population cohort study in the 'no screen' arm of the UK Collaborative Trial of Ovarian Cancer Screening (UKCTOCS).
Discover Oncology. (2025). Integrative approach for enhanced ovarian cancer diagnosis: cytology and biomarkers.
National Library of Medicine. (2023). A case of simultaneous breast cancer and ovarian cancer based on a hereditary breast and ovarian cancer syndrome.
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
Frequently Asked Question
Apa itu tumor ovarium?
Tumor ovarium adalah pertumbuhan sel atau jaringan yang tidak normal pada ovarium, yang dapat bersifat jinak maupun ganas. Kondisi ini terkadang tidak menimbulkan gejala dan dapat ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan USG.
.jpg&w=3840&q=75)