Anda pernah lihat seseorang tersedak makanan hingga wajahnya memerah dan batuk terus-menerus? Atau menemukan kasus bayi baru lahir yang tidak langsung menangis? Kondisi ini bisa jadi tanda adanya asfiksia (asphyxia). Asfiksia adalah kondisi saat tubuh kekurangan oksigen akibat dari gangguan napas atau pasokannya ke jaringan terhambat.
Lantas apa saja gejalanya, penyebabnya, dan bagaimana cara menanganinya? Simak penjelasan lengkapnya di artikel berikut.
Apa Itu Asfiksia?
Asfiksia adalah kondisi saat tubuh tidak memperoleh cukup oksigen untuk menjalankan fungsinya secara normal, karena ada sumbatan di saluran napas atau gangguan di sistem pernapasan. Jika gangguan ini tidak segera ditangani maka bisa menimbulkan kerusakan organ, gangguan fungsi otak, kehilangan kesadaran, hingga kematian.
Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, termasuk bayi yang baru lahir, yang biasanya ditandai dengan bayi tidak menangis setelah lahir seperti pada umumnya.
Gejala Asfiksia dan Tanda-Tanda Peringatannya
Gejala gangguan ini tergantung dari level kekurangan oksigen, penyebab, dan durasinya. Adapun beberapa gejala asfiksia adalah:
1. Asfiksia Ringan
Pada kondisi ringan, seseorang mungkin akan mengalami gejala seperti:
Napas cepat atau terasa sesak.
Pusing dan sakit kepala.
Tubuh terasa lemas atau lelah.
Jantung berdebar lebih cepat.
Sulit konsentrasi atau terus merasa gelisah.
Warna kulit jadi kemerah-merahan pada bayi akibat dari kadar oksigen yang mulai turun.
2. Asfiksia Berat (Tanda Bahaya)
Pada level yang berat atau semakin parah, kekurangan oksigen ini bisa memunculkan gejala seperti:
Napas terengah-engah atau napas berat.
Bibir, kuku, atau kulit membiru.
Kebingungan yang berat.
Kesadaran menurun.
Kejang-kejang.
Detak jantung melambat atau tidak teratur.
Henti napas atau henti jantung.
Apa Penyebab Asfiksia?
Asfiksia adalah kondisi yang bisa terjadi saat pasokan oksigen ke tubuh terganggu karena ada penyumbatan di saluran napas, gangguan saat pertukaran oksigen, atau ketidakmampuan tubuh dalam memanfaatkan oksigen. Untuk lebih lengkapnya, berikut uraian sebab dari asfiksia yang biasanya terjadi.
Tercekik, karena adanya tekanan di leher yang bisa menyumbat saluran napas atau menghambat aliran darah ke otak, sehingga membuat pasokan oksigen ke jaringan tubuh menjadi turun.
Tersedak, karena makanan atau benda asing bisa menyumbat saluran napas atau menghambat masuknya udara ke paru-paru, sehingga tubuh jadi kekurangan oksigen.
Terpapar gas beracun seperti karbon monoksida dan sianida, karena gas karbon monoksida bisa mengganggu transportasi oksigen oleh darah, sedangkan sianida mengganggu kemampuan sel untuk menggunakan oksigen.
Tenggelam, karena bisa membuat air masuk ke saluran pernapasan yang kemudian bisa mengganggu pertukaran oksigen di paru-paru dan akhirnya menimbulkan gangguan ini.
Menghirup asap kebakaran, karena asap bisa beracun dan merusak saluran napas yang kemudian mengganggu proses pernapasan.
Reaksi alergi berat (anafilaksis), karena beberapa alergi bisa menimbulkan bengkak di tenggorokan yang kemudian mengganggu masuknya oksigen dari luar dan pada akhirnya tubuh jadi kekurangan oksigen.
Menderita asma berat, karena kondisi ini bisa menimbulkan peradangan dan penyempitan saluran napas.
Komplikasi selama persalinan, seperti gangguan aliran darah dari plasenta ke bayi atau terlepasnya plasenta sebelum waktunya yang bisa mengurangi pasokan oksigen kepada janin.
Faktor Risiko Asfiksia
Selain itu, beberapa kondisi juga bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan ini, seperti:
Usia bayi dan anak kecil, karena saluran napasnya yang lebih kecil serta kemampuan mengunyah dan menelan yang belum sempurna sehingga menaikkan risiko tersedak.
Usia lanjut, karena pada fase ini rentan mengalami gangguan menelan, refleks batuk yang melemah, serta kondisi kesehatan tertentu seperti stroke, penyakit Parkinson, dan demensia yang bisa meningkatkan risiko tersedak dan gangguan pernapasan.
Konsumsi alkohol atau obat penenang tertentu, karena kedua hal ini bisa berisiko menurunkan kesadaran dan refleks perlindungan saluran napas.
Paparan lingkungan berbahaya, seperti tinggal di ruang tertutup dengan ventilasi buruk atau di area kebakaran.
Bagaimana Cara Diagnosis Asfiksia?
Untuk mendiagnosis gangguan ini, biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan antara lain:
Wawancara medis, dilakukan dengan menanyakan kronologi kejadian, riwayat penyakit, serta obat yang dikonsumsi.
Cek fisik, dilakukan dengan cek jalan napas, frekuensi pernapasan, denyut jantung, tingkat kesadaran, dan warna kulit seseorang.
Oksimetri nadi, dilakukan dengan memasang alat kecil yang disebut pulse oximeter di ujung jari pasien untuk kemudian diukur saturasi oksigen dalam darahnya.
Analisis gas darah, dilakukan dengan mengambil sampel darah, umumnya dari arteri di pergelangan tangan, untuk kemudian dianalisis dan diukur kadar oksigen, karbon dioksida, dan pH-nya.
Cek dengan pencitraan seperti rontgen dada atau CT scan, dilakukan untuk mengidentifikasi kerusakan paru-paru atau kelainan lain yang mungkin bisa menyebabkan gangguan terkait asfiksia.
Bronkoskopi, dilakukan dengan memasukkan selang tipis berkamera melalui hidung atau mulut ke saluran napas lalu melihat bagian dalam saluran napas secara langsung. Jika ada sumbatan akibat dari benda asing maka bisa langsung diambil dan dikeluarkan.
Pada bayi baru lahir, diagnosis asfiksia biasanya juga akan mempertimbangkan riwayat kehamilan dan persalinan serta kondisi bayi segera setelah lahir. Untuk itulah, selama kehamilan, dokter biasanya akan menyarankan cek kesehatan janin secara rutin untuk bisa membantu mendeteksi faktor risiko gangguan ini.
Cara Menangani Asfiksia
Pengobatan gangguan ini berbeda tergantung dari sebab dan tingkat keparahannya. Adapun opsi penanganan untuk asfiksia adalah:
Membuka jalan napas, misalnya dengan mengeluarkan sumbatan jika penyebab gangguan karena tersedak melalui pertolongan pertama yang sesuai.
Resusitasi jantung paru (RJP/CPR), biasanya dilakukan saat seseorang tidak responsif dan tidak bisa bernapas normal, termasuk hanya terengah-engah. Tujuannya adalah untuk mempertahankan aliran darah ke organ vital sampai pertolongan medis lanjutan tersedia.
Memberikan oksigen bantuan, melalui kanula hidung, masker oksigen, atau ventilator sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasien untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuhnya yang kurang.
Konsumsi obat-obat tertentu, sesuai dengan penyebab asfiksia, misalnya bronkodilator untuk serangan asma atau epinefrin untuk anafilaksis.
Perawatan intensif hingga operasi jika cara biasa tidak ampuh, ada cedera saluran napas yang berat, atau sumbatan yang sudah sangat berat.
Cek kesehatan secara berkala untuk mengevaluasi respons terhadap pengobatan serta deteksi komplikasi lebih dini sehingga peluang untuk membaik menjadi lebih besar.
Cara Mencegah Asfiksia
Pencegahan asfiksia dilakukan dengan mengurangi risiko penyumbatan saluran napas, paparan zat beracun, dan kondisi lain yang bisa mengganggu pasokan oksigen ke tubuh. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Usahakan untuk memotong makanan menjadi ukuran kecil dan jauhkan benda kecil dari bayi atau anak untuk menghindari tersedak.
Awasi bayi dan anak-anak, terutama saat makan, mandi, atau bermain untuk mengurangi risiko tersedak atau pun tercekik.
Hindari paparan gas beracun, dengan menjaga ventilasi tetap optimal, memasang detektor karbon monoksida, serta tidak menyalakan alat pembakaran di ruang tertutup.
Hindari rokok dan hal-hal yang memunculkan alergi.
Batasi obat, terutama opioid, karena bisa menekan pernapasan dan memperburuk gangguan.
Pelajari pertolongan pertama, khususnya penanganan tersedak dan resusitasi jantung paru sehingga risiko asfiksia bisa diminimalkan.
Kelola penyakit-penyakit pernapasan dengan baik seperti asma dan PPOK, dengan mengikuti tindak penanganan dari dokter ahli untuk mengurangi risiko sesak yang berat.
Cek kehamilan secara rutin, untuk memonitor kesehatan ibu dan janin serta mendeteksi faktor risiko komplikasi yang mungkin bisa mengganggu pasokan oksigen ke bayi.
Kapan Harus Mendapatkan Pertolongan Medis?
Sebaiknya segera cari pertolongan medis jika Anda atau orang sekitar sudah mengalami gejala asfiksia. Apalagi jika mengalami kesulitan bernapas yang berat, serak, kulit membiru, nyeri dada, hingga hilang kesadaran, maka mencari pertolongan medis harus segera dilakukan. Pasalnya, ini termasuk komplikasi yang berat dan jika tidak ditangani, bisa mengancam nyawa.
Deteksi Risiko Komplikasi dengan Pemeriksaan Tepat
Asfiksia adalah kondisi saat tubuh mengalami kekurangan oksigen karena gangguan pernapasan akibat dari tersedak, paparan gas beracun, hingga gangguan pertukaran oksigen di paru-paru. Pada bayi baru lahir, asfiksia bisa terjadi saat bayi tidak bisa bernapas secara efektif atau pasokan oksigen dari plasenta terganggu sebelum atau selama persalinan.
Untuk itulah, cek kesehatan selama kehamilan sangat disarankan untuk mendeteksi kondisi janin selama kehamilan, sehingga jika ada masalah bisa langsung diatasi. Salah satu opsi pemeriksaan yang bisa dipilih adalah Paket Ibu Hamil Bumame.
Dalam satu paket ini sudah mencakup pemeriksaan hematologi lengkap, urine rutin, golongan darah, serum iron, glukosa puasa, serta skrining hepatitis B, sifilis, HIV, hingga infeksi TORCH. Dengan begitu, kondisi selama kehamilan pun bisa terevaluasi dengan baik.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi:
Siloam Hospitals — Apa Itu Asfiksia? Ini Penyebab, Gejala dan Penanganannya
Apollo Hospitals — Asphyxiation: Causes, Symptoms, Treatment, and Prevention
Siloam Hospitals — Asfiksia
Universitas Muhammadiyah Malang — Care Management in Infants with Asphyxia at Kanjuruhan Hospital, Malang Regency, East Java
Surat Dokter — Mengenal Asfiksia: Ketika Tubuh Kehilangan Akses Oksigen Secara Mendadak
Hudson Institute of Medical Research — Birth Asphyxia
Cleveland Clinic — Asphyxiation: Prevention, Causes, Symptoms & Treatment
WebMD — Asphyxia: Types, Causes, Symptoms
Ditinjau secara medis oleh dr. Arina Dyga Putri
Frequently Asked Question
Apa yang dimaksud dengan asfiksia?
Asfiksia adalah kondisi ketika tubuh tidak memperoleh cukup oksigen akibat gangguan pernapasan, sumbatan saluran napas, atau gangguan pengangkutan dan penggunaan oksigen. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengancam nyawa.
Apa perbedaan asfiksia ringan dan asfiksia berat?
Asfiksia ringan dapat ditandai dengan napas cepat, sesak, pusing, lemas, dan jantung berdebar. Asfiksia berat dapat menyebabkan kulit atau bibir membiru, kebingungan berat, penurunan kesadaran, kejang, hingga henti napas atau henti jantung.
Apa saja penyebab asfiksia?
Asfiksia dapat disebabkan oleh tersedak, tercekik, tenggelam, paparan gas beracun, menghirup asap kebakaran, reaksi alergi berat, asma berat, atau komplikasi selama persalinan yang mengganggu pasokan oksigen kepada bayi.
Bagaimana cara menangani asfiksia?
Penanganan bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya, meliputi pembukaan jalan napas, resusitasi jantung paru jika diperlukan, pemberian oksigen, obat-obatan tertentu, serta perawatan intensif. Jika seseorang mengalami kesulitan bernapas berat atau kehilangan kesadaran, segera cari pertolongan medis darurat.
Apakah asfiksia bisa menyebabkan kerusakan otak permanen?
Ya. Kekurangan oksigen yang berat atau berlangsung cukup lama dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan gangguan pada organ vital lainnya. Penanganan segera penting untuk mengurangi risiko komplikasi.
