Baru sembuh dari pilek, beberapa minggu kemudian si kecil batuk lagi. Situasi seperti ini membuat banyak orang tua bertanya apakah daya tahan tubuh anaknya lemah.
Pada bayi dan balita, sakit ringan yang datang dan pergi umumnya masih bagian dari proses tubuh mengenal kuman. Meski begitu, kebiasaan sehari-hari di rumah ikut menentukan seberapa baik daya tahan tubuh anak bekerja. Ada juga pola sakit tertentu yang sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Artikel ini membahas cara menjaga imun anak lewat delapan kebiasaan yang bisa dimulai dari rumah, kesalahan yang sering terjadi, serta tanda kapan anak perlu dibawa ke dokter anak.
Bagaimana Daya Tahan Tubuh Anak Terbentuk?
Sistem imun, atau daya tahan tubuh, adalah sistem pertahanan yang mengenali dan melawan kuman penyebab penyakit. Pada anak, sistem ini masih terus belajar. Setiap kali bertemu kuman, tubuh membentuk antibodi, yaitu protein yang membantu tubuh mengenali dan melawan kuman yang sama saat datang lagi.
Imunisasi memanfaatkan cara kerja yang serupa. Menurut WHO, vaksin melatih daya tahan tubuh membentuk antibodi seperti saat tubuh terpapar penyakit, sehingga membantu menurunkan risiko anak tertular penyakit tersebut.
Asupan gizi juga ikut berperan. Kementerian Kesehatan menyebut status gizi anak berpengaruh terhadap daya tahan tubuhnya. Anak dengan gizi kurang cenderung lebih mudah terkena infeksi.
Sakit yang Masih Wajar dan Pola yang Perlu Diperhatikan
Bayi dan balita bisa mengalami batuk pilek beberapa kali dalam setahun. Frekuensinya sering bertambah saat anak mulai bertemu banyak anak lain, misalnya di tempat penitipan anak, kelompok bermain, atau sekolah. Sebagian besar keluhan ini berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan dengan gejala hidung berair, bersin, dan batuk.
Pola ini umumnya masih wajar jika anak tetap aktif di sela sakitnya, mau makan dan minum, pulih dengan baik, dan berat badannya terus naik. Batas kapan sakit dianggap terlalu sering berbeda pada tiap anak, dan ambang diagnosis ditentukan oleh dokter.
Banyak orang tua juga memperhatikan anak lebih sering sakit selama atau setelah liburan. Perjalanan jauh serta bandara dan tempat wisata yang ramai membuat anak bertemu lebih banyak kuman baru, sementara jam tidur dan jam makannya ikut bergeser.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan polanya. Sakit yang makin sering, makin berat, lebih lama sembuh, atau disertai berat badan yang tidak naik menjadi tanda anak perlu diperiksa lebih lanjut.
Baca Juga: Cara Membedakan Flu dan Pilek
8 Cara Menjaga Imun Anak Setiap Hari
Daya tahan tubuh anak dipengaruhi banyak kebiasaan kecil yang berjalan bersamaan. Delapan langkah berikut mendukung daya tahan tubuh anak bekerja normal, dan sebagian besar bisa dijalankan bersama seluruh keluarga.
1. Lengkapi Imunisasi Sesuai Jadwal
Imunisasi yang lengkap membantu menurunkan risiko anak tertular sejumlah penyakit menular. Simpan buku KIA atau catatan imunisasi di tempat yang mudah dijangkau, tandai jadwal berikutnya di kalender ponsel, dan tanyakan ke dokter atau petugas posyandu jika ada jadwal yang terlewat.
2. Berikan ASI untuk Bayi
ASI mengandung zat gizi dan antibodi dari ibu yang mendukung daya tahan tubuh bayi di awal kehidupannya. Susui bayi sesuai keinginannya, siang maupun malam, dan minta bantuan konselor menyusui atau tenaga kesehatan jika proses menyusui terasa sulit.
3. Sajikan Makanan Beragam dengan Buah dan Sayur
Daya tahan tubuh butuh beragam zat gizi, seperti protein, vitamin, dan mineral, yang bisa dipenuhi dari makanan sehat bergizi, dengan makanan pokok, lauk, sayur, dan buah dalam satu piring. Ajak anak memilih sayur dan buah dengan warna berbeda saat berbelanja, lalu sajikan dalam potongan kecil sebagai camilan agar ia terbiasa dengan rasanya.
4. Jaga Waktu Tidur Sesuai Usianya
Menurut IDAI, kebutuhan tidur bayi, balita, dan anak usia sekolah berbeda-beda, dan tidur yang cukup serta teratur mendukung tumbuh kembang anak. Tetapkan jam tidur dan bangun yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan, lalu redupkan lampu dan jauhkan gawai dari kamar menjelang waktu tidur.
5. Ajak Anak Bermain Aktif di Luar Rumah
Panduan NHS menganjurkan anak usia sekolah bergerak aktif setiap hari dengan berbagai jenis aktivitas untuk melatih otot dan tulang, serta mengurangi waktu duduk yang terlalu lama. Jadwalkan waktu bermain di taman, bersepeda, atau main kejar-kejaran bersama orang tua, dan selingi waktu menonton layar dengan aktivitas yang membuat anak bergerak.
6. Biasakan Cuci Tangan Pakai Sabun
Menurut CDC, cuci tangan membantu mencegah penyebaran infeksi usus penyebab diare dan infeksi saluran napas dari satu orang ke orang lain. Ajari anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah bersin atau membersihkan hidung, sambil menggosok seluruh bagian tangan selama ia menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dua kali.
7. Jauhkan Anak dari Asap Rokok
Asap rokok yang terhirup anak bisa mengiritasi saluran napasnya. Minta anggota keluarga dan tamu merokok di luar rumah dan jauh dari anak, serta jadikan mobil dan kamar anak area bebas asap rokok.
8. Jaga Rutinitas Saat Liburan dan Bepergian
Selama liburan, usahakan jam tidur dan jam makan anak tetap mendekati kebiasaan di rumah, dan bawa bekal camilan sehat serta air minum agar anak tidak melewatkan waktu makan. Siapkan sabun atau pembersih tangan di tas, cek kembali catatan imunisasi sebelum perjalanan jauh, dan beri anak waktu istirahat di sela jadwal wisata yang padat.
Kesalahan Umum Saat Ingin Menjaga Daya Tahan Anak
Niat baik orang tua kadang berujung pada kebiasaan yang kurang tepat. Tiga kesalahan berikut cukup sering terjadi:
Memberi suplemen tanpa anjuran dokter. Anak yang makan beragam umumnya sudah mendapat vitamin dan mineral dari makanannya. Suplemen diberikan jika dokter menemukan kebutuhan khusus, dengan jenis dan takaran yang ditentukan dokter.
Memberi antibiotik untuk batuk pilek. Batuk pilek pada anak umumnya disebabkan virus, sementara antibiotik bekerja melawan bakteri. Keputusan memberi antibiotik ada di tangan dokter setelah memeriksa anak, sedangkan perawatan batuk kering akibat pilek di rumah biasanya berupa istirahat dan cukup minum.
Menjaga anak terlalu steril. Sebagian orang tua menyemprot disinfektan ke semua benda atau melarang anak bermain di luar agar tidak tertular. Kebiasaan ini mengurangi waktu anak untuk bergerak dan bersosialisasi. Cuci tangan pada waktu-waktu kunci, seperti sebelum makan dan setelah dari toilet, sudah menjadi inti kebersihan sehari-hari.
Kebiasaan yang Mendukung Daya Tahan Anak dan yang Perlu Dikurangi
Tabel berikut merangkum kebiasaan sehari-hari yang mendukung daya tahan tubuh anak bekerja normal, berdampingan dengan kebiasaan yang sebaiknya dikurangi.
Tabel ini merangkum gambaran umum. Kebutuhan tiap orang bisa berbeda, jadi bicarakan dengan dokter.
Kapan Perlu ke Dokter Anak?
Sebagian besar sakit ringan bisa dirawat di rumah dengan istirahat. Bawa anak ke dokter anak jika Anda melihat tanda-tanda berikut:
Infeksi yang berat atau sering berulang. Contohnya infeksi yang sampai membutuhkan rawat inap, lama sembuh, atau datang lagi sebelum anak benar-benar pulih. Dokter akan mencari penyebabnya, termasuk menilai kelengkapan imunisasi dan status gizi anak.
Berat badan tidak naik. Berat badan yang tidak naik atau justru turun berkaitan dengan status gizi dan tumbuh kembang anak. Kondisi ini perlu dinilai dokter karena gizi yang kurang juga membuat anak lebih mudah sakit.
Demam yang membuat anak sangat lemas. Perhatikan kondisi anak secara keseluruhan, misalnya sulit dibangunkan, tidak mau minum, atau jauh lebih rewel dari biasanya. Anak yang mengalami kejang demam, yaitu kejang yang dipicu demam, juga perlu segera diperiksa dokter.
Batuk dengan napas cepat atau sesak. Batuk pada anak yang disertai napas cepat atau tampak sesak perlu segera diperiksa. Hal yang sama berlaku jika batuk berlangsung lama dan tidak kunjung membaik.
Bangun Kebiasaan Sehat Bersama Anak Mulai Hari Ini
Cara menjaga imun anak berangkat dari hal sederhana yang dijalankan terus-menerus, yaitu imunisasi lengkap, makan beragam, tidur cukup, bermain aktif, dan tangan yang bersih. Kebiasaan ini juga lebih mudah dijalankan jika seluruh keluarga ikut melakukannya.
Anak yang sering sakit bisa diperiksa oleh dokter anak untuk mencari penyebabnya dan menentukan langkah yang sesuai. Deteksi dini memberi lebih banyak pilihan. Jika Anda punya pertanyaan seputar layanan dan jadwal klinik Bumame, hubungi CS Bumame lewat WhatsApp.
Lokasi Klinik Bumame
1. Klinik Bumame BSD
Ruko Northridge B1 No.16, Rw. Mekar Jaya, Kecamatan Serpong, Tangerang, Banten 15310
2. Klinik Bumame TB Simatupang
Jl. TB Simatupang No.33, RT.1/RW.5, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12550
3.Klinik Bumame Puri
Ruko Sentra Niaga Puri Indah Blok T6/23 RT.1/RW.2, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11610
4. Klinik Bumame Cideng
JAC Building, Jl. Jati Baru Raya No.28 5, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10160
5. Klinik Bumame Kelapa Gading
Ruko Mall of Indonesia, Italian Walk Blok C 15-16, RT.18/RW.8, Klp. Gading Bar., Kec. Klp. Gading, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240
Referensi
Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Tips Agar Anak Tidak Sakit. Retrieved 23 September 2026 from https://ayosehat.kemkes.go.id/tips-agar-anak-tidak-sakit
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Status Gizi Anak Berpengaruh Terhadap Imun Anak. Retrieved 23 September 2026 from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3667/status-gizi-anak-berpengaruh-terhadap-imun-anak
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pola Tidur Pada Anak. Retrieved 23 September 2026 from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pola-tidur-pada-anak
World Health Organization. Vaccines and immunization. Retrieved 23 September 2026 from https://www.who.int/health-topics/vaccines-and-immunization
Centers for Disease Control and Prevention. About Handwashing. Retrieved 23 September 2026 from https://www.cdc.gov/clean-hands/about/index.html
NHS. Physical activity guidelines for children and young people. Retrieved 23 September 2026 from https://www.nhs.uk/live-well/exercise/physical-activity-guidelines-children-and-young-people/
Ditinjau secara medis oleh dr. Reycha Nabila
